Translate

Sabtu, 29 November 2014

Batik

Saya dengar di berita salah satu media, dikatakan bahwa kita bangga sebab Santana mengenakan batik di video klip terbarunya. Menurut saya itu redaksi yang salah. Sebenarnya Santana lah yang mesti bangga karena menggunakan batik pada video klipnya. Jangankan Santana, Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo saja bangga mengenakan batik. Buktinya beliau menjadikan batik sebagai dress code di prosesi pelantikan menteri kabinet kerja.

Memang mental kita sebagai bangsa perlu direvolusi supaya melihat suatu peristiwa dengan cara pandang yang lebih optimis, progresif, dan superior. Kita tidak boleh memiliki mindset atau berpola pikir minder, lemah, dan pesimis. Kita harus bangga memiliki originalitas budaya. Hal yang tidak semua bangsa memilikinya. Dan kita pun harus bangga menjadi original, tampil sebagai jati diri kita sendiri. Tentunya kebanggaan itu harus diwujudkan dengan  perbuatan.

Kembali kita ambil permisalan batik. Batik telah menjadi warisan budaya asli bangsa Indonesia. Tak cukup sampai di situ perjuangan kita terhadap batik. Semestinya apa yang telah kita perjuangkan itu lantas kita pertahankan dengan berbuat nyata. Pada tataran rakyat, menggunakan batik dalam keseharian adalah wujud nyatanya. Peran pemerintah pun diperlukan untuk membudayakan batik dengan menjadikan pakaian batik sebagai baju resmi dalam kegiatan atau pertemuan kenegaraan. Pakaian batik semestinya menjadi busana nasional kita.

Perlu kita ingat bahwa busana pada kegiatan-kegiatan resmi di negara ini didominasi dengan penggunaan pakaian yang bersumber dari asing. Di Indonesia, kita meniru Amerika yang menggunakan jas hitam full dress. Padahal di sini iklim tropis, sementara di Amerika dingin. Memang cocok bila di Amerika dipergunakan jas yang notabene tebal guna mereduksi dinginnya cuaca. Namun sayangnya Indonesia meniru itu mentah-mentah. Padahal jas hitam tebal berlengan panjang itu kian menambah hawa panas bagi pemakai pribumi, apalagi warna hitam memang warna yang menyerap panas.

Alih-alih sadar akan itu, pemimpin-pemimpin kita sejak presiden kedua menggunakan jas tersebut dalam foto resmi presiden dan wakil presiden. Rapat-rapat anggota dewan perwakilan kita pun berlangsung dibalut busana asal barat tersebut. Celakanya, panas yang mereka rasakan saat rapat menggunakan jas, yang membuat badan, otak, dan hati mereka panas, dan akhirnya menimbulkan adu caci maki serta adu jotos itu tidak menyadarkan mereka untuk membuka jas. Malah kekeliruan kian bertambah-tambah. Bukannya berhenti mengenakan jas, malah panas-panas tersebut dikurangi dengan menggunakan AC. Betapa besarnya kebocoran uang negara dengan pengadaan AC-AC yang sebenarnya tidak perlu bila kita mau melepas jas, menggunakan batik, dan menjadi jati diri kita sendiri. Padahal pemakaian jas tersebut sudah merupakan pemborosan, setidaknya pemborosan uang pribadi.



Pemborosan juga terjadi ketika kita di Indonesia mencontoh Romawi dengan menggunakan toga hitam besar pada prosesi wisuda. Panas yang sama saat menggunakan jas pun kita rasakan. Pengeluaran yang tak bermanfaat lagi-lagi kita lakukan sebab menanggulangi panas akibat toga tersebut dengan mendinginkan udara memakai AC. Seandainya kita budayakan penggunaan batik di prosesi wisuda, mungkin tidak ada pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Selain itu, kepribadian kita sebagai individu dan sebagai bangsa akan semakin kokoh dengan penggunaan batik yang notabene busana asli Indonesia.

Pemakaian batik, selain tepat guna terhadap iklim dan keadaan alam di Indonesia, juga mampu membantu secara ekonomi. Sebab dengan semaraknya penggunaan batik, pengerajin batik yang merupakan masyarakat tradisional Indonesia, khususnya masyarakat kelas bawah akan mendapatkan keuntungan dengan penjualan komoditas batik mereka. Maka secara rasional berdasarkan pendekatan bahwa iklim kita tropis, batik tepat untuk digunakan di Indonesia secara menyeluruh. Dan dari sudut pandang ekonomi, penggunaan batik akan menghidupkan industri batik dalam negeri, baik yang kecil, menengah, maupun besar. Sebab batik adalah produk asli dalam negeri. Dengan demikian diharapkan program ekonomi pemerintah jadi terbantu.

Dalam hal kebudayaan, bila kita ingin mewujudkan trisakti, yakni dari segi berkepribadian dalam budaya, penggunaan batik adalah suatu yang tepat. Sebab sekali lagi diulangi bahwa batik merupakan warisan budaya asli bangsa Indonesia, original milik kita. Maka tidak tepat pula ketika marak penggunaan sorban, jubah, bahkan cadar, yang sebenarnya merupakan budaya timur tengah, pakaian Arab. Padahal di Arab, kegunaan pakaian jubah beserta cadar itu jelas, yakni untuk mengantisipasi udara gurun yang berdebu. Adapun di Indonesia, keadaan alam jauh berbeda. Maka tak beralasan bila kita ikut-ikutan menggunakan pakaian Arab tersebut. Jadi, secara budaya, ekonomi, dan rasionalitas berpikir, batik adalah pakaian yang paling tepat untuk digunakan di Indonesia.