ANALISIS KINERJA OPERASIONAL CIDOMO DAN ANGKUTAN PEDESAAN
(Studi kasus pada wilayah operasional cidomo dan trayek angkutan pedesaan
Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S – 1 Jurusan Teknik Sipil
oleh:
WIRA ADINATA
F1A 008 066
JURUSAN TEKNIK SIPIL
2012
INTISARI
Tingkat kehidupan masyarakat yang kian berkembang menuntut pula perkembangan sistem pengangkutan. Permasalahan tersebut juga terjadi di Kabupaten Lombok Barat, sehingga berimbas pada menurunnya jumlah armada cidomo dan angkutan pedesaan dari tahun ke tahun. Analisis kebutuhan jumlah armada serta kinerja cidomo dan angkutan pedesaan perlu dilakukan, dengan mengetahui load factor dan demand masing-masing moda.
Untuk tujuan tersebut, dilakukan beberapa survei, yaitu survei statis, survei dinamis, dan survei wawancara. Survei statis meliputi survei waktu antara untuk menentukan frekuensi dan survei waktu menunggu keberangkatan yang dilakukan pada titik-titik pemberhentian angkutan. Survei dinamis meliputi survei jumlah penumpang untuk menentukan load factor dan survei waktu operasional serta jarak perjalanan yang dilakukan terhadap angkutan sepanjang rute yang dilalui. Survei wawancara dilakukan terhadap pengguna angkutan untuk mengetahui jarak jalan kaki ke shelter, jumlah pergantian moda, dan biaya perjalanan. Data hasil survei tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh nilai rata-rata dari masing-masing variabel.
Berdasarkan analisis data hasil survei, diperoleh load factor cidomo dan angkutan pedesaan pada semua rute tidak memenuhi standar. Demand cidomo rute Gunungsari-Midang, Midang-Sesela, Gunungsari-Sandik, dan Gunungsari-Kekait, secara berturut-turut adalah 57, 8, 17, dan 7 orang/jam. Demand angkutan pedesaan rute Sidemen-Gunungsari-Rembiga-Ampenan adalah 36 orang/jam dan rute Ampenan-Rembiga-Gunungsari-Sidemen adalah 49 orang/jam. Jumlah armada yang ada pada masing-masing rute untuk kedua jenis angkutan lebih banyak daripada jumlah yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, load factor, kecepatan perjalanan, waktu mununggu, dan frekuensi cidomo tidak memenuhi standar. Kinerja angkutan pedesaan tidak memenuhi standar hanya dari segi load factor.
Kata kunci: cidomo, angkutan pedesaan, load factor, demand, jumlah armada, kinerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar