Translate

Senin, 16 April 2012

Matemusika

Musik adalah bahasa universal. Itu ungkapan yang sangat sering kita dengar. Entah ungkapan itu bukinan siapa, yang pasti menurut saya ungkapan itu benar adanya. Di seluruh dunia, musik punya pakem yang sama. Pola jarak tangga nada mayor diatonis dalam satu oktaf di mana pun tetap sama, yakni 1 – 1 - ½ - 1 - 1 – 1 - ½ . Di mana pun, nada do jika dituliskan ke dalam not angka, dilambangkan dengan angka 1. Itu adalah kesepakatan yang tetap. Demikian juga dengan nada re, mi, fa, sol, la, dan si, secara berturut-turut tetap diwakilkan dengan angka 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Hal yang tak berbeda pun terjadi pada not balok. Bahkan jika manusia dengan pendengaran normal diperdengarkan suatu alunan nada, tiap-tiap orang akan mendengar bunyi yang sama, dan mengartikannya dengan sama pula. Musik juga selalu ada dalam kehidupan sehari-hari kita, di mana pun, kapan pun. Di tengah keramaian suasana jalanan di kota, suara bising kendaraan ialah musiknya. Dalam sunyinya alam pedesaan, suara hewan-hewan dan desiran angin jadi musik. Di senja yang sepi, ada musik. Di siang yang penuh hiruk pikuk pun ada musik. Itulah kenapa bahasa musik disebut universal.

Dengan label universal itu, musik memiliki kesamaan dengan matematika. Di mana matematika, seperti halnya musik, disepakati dengan aturan main yang sama di seluruh penjuru dunia. Di negara mana pun, semua sepakat bahwa angka dengan digit tunggal hanya ada sepuluh jumlahnya, yakni dari angka nol (0) sampai sembilan (9). Secara internasional, tanda tambah (+) bermaksud penjumlahan dan tanda kali (x) bermakna melipatgandakan. Selain itu masih banyak lagi kesepakatan-kesepakatan matematika, dari yang sederhana hingga yang serumit-rumitnya, persis sama dengan musik. Dengan itu, matematika pun adalah bahasa yang universal. Matematika pun senantiasa ada dalam tiap-tiap sendi kehidupan kita, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun keadaannya, matematika selalu menyertai. Mulai bangun tidur hingga tidur pulas lagi, kita tak bisa terpisah dari matematika, di mana ada waktu yang melingkupi kita. Kegiatan yang kita lakukan, mulai dari makan, minum, mandi, berpakaian, belajar, bekerja, istirahat, selalu terhitung dan terukur secara matematika. Makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, pekerjaan yang kita lakukan, dan semuanya punya ukuran matematika masing-masing.


Musik punya kesamaan dengan matematika dalam banyak hal. Walau sepintas tak sama dan dipahami dengan cara berbeda, matematika dan musik sejatinya saling bersisian. Hanya saja matematika dimengerti lewat otak kiri, bersifat analisis dalam penerapannya, sementara musik dimengerti lewat otak kanan, lebih imajinatif. Bilangan, dalam matematika tidak mengenal limitasi. Hal tersebut kemudian dikenal dengan istilah infinity (tak hingga). Begitu juga dengan musik, di mana rentetan nada dalam musik tidaklah terbatas (tak hingga). Persamaan tak hanya ada dalam matematika. Di musik pun ada persamaan. Jika dalam matematika persamaan disarikan ke dalam bentuk umum yang kemudian bersifat fleksibel bergantung variabelnya, musik juga demikian. Persamaan yang umum di musik, antara lain do = C. Karena do = C maka nada do, mi, dan sol pada tangga nada tersebut merupakan chord C (C = 1, 3, 5); nada fa, la, dan juga do di chord F; dan lain sebagainya. Ketika kita bicara dalam variabel C maka itulah penjabarannya. Namun dengan fleksibilitas yang dimiliki, serupa matematika, persamaan tersebut pun fleksibel bergantung variabel yang dipergunakan. Saat variabel C diubah menjadi E misalnya, maka persamaan tadi menjadi do = E hingga E = 1, 3, 5; A = 4, 6, 1; dan lain sebagainya. Begitu pun untuk varian-varian lain.

Bila dijabarkan hal-hal lainnya, memang tak habis-habisnya kesamaan antara musik dan matematika. Satu lagi kesamaan antara musik dan matematika, keduanya sama-sama bisa diintegralkan. Pada matematika, kumpulan garis terintegral menjadi bidang, dan kumpulan bidang terintegral jadi sebuah ruang. Semua berpangkal dari satu titik. Sedangkan dalam musik diawali dengan notasi tunggal. Susunan notasi menjadi sebuah melodi. Melodi yang satu dengan yang lainnya terintegrasi dalam sebuah ritme. Dan ritme-ritme terintegral menjadi beat. Jika keduanya sama-sama bisa diintegralkan, tentunya pula keduanya bisa didiferensiasikan (diturunkan) dengan merunut balik pernyataan di atas. Itulah segelintir dari banyaknya kesamaan antara musik dan matematika. Jika Anda peka, tentunya lebih banyak lagi kesamaan yang dapat Anda temui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar