Cinta tak mengenalmu..
Dia logika meski semu..
Pengetahuan yang tak kutahu..
Pada sangsara, itu celotehku..
Kata orang cinta tak ada logika..
Kataku kita tak cukup cerdas memahaminya..
Dan kamu takkan mampu rintangi datangnya cinta..
Celotehku pada sangsara..
Walau seribu beda menghalangi..
Cinta bahkan menembus dimensi..
Ruang waktu tak ada lagi..
Itulah celotehku pada sangsara..
Hidup layaknya sebuah perjalanan. Inilah mozaik kisahku yang kutulis di setiap perhentian selama mengarungi jalan ini.
Translate
Sabtu, 20 Desember 2014
Salah Kaprah I
Kita diajarkan bahwa permukaan air selalu datar. Kalau kita cermati, di bumi, apalagi di langit, sebenarnya tidak demikian. Muka air di bumi ini tentunya mengikuti muka bumi. Coba perhatikan muka air laut! Di pantai adalah tempat paling mudah untuk melihatnya. Permukaan air laut di garis cakrawala sana melengkung mengikuti permukaan bumi yang juga melengkung, sebab bumi ini bundar. Hal yang sama juga bisa kita lihat ketika menaiki pesawat terbang yang berada di atas lautan. Garis batas antara kaki langit dengan permukaan laut yang luas membentuk lengkungan. Dan apabila kita lihat di seluruh permukaan bumi yang bundar ini, perairan laut yang saling sambung menyambung satu sama lain juga membentuk permukaan yang serupa muka bumi, yaitu berbentuk bundar. Sehingga apabila kita tarik ke dalam scope yang lebih kecil, misalnya air di sungai atau danau, tentu permukaan air tetaplah melengkung. Dalam kelengkungan yang lebih kecil tentunya, tidak sebesar kelengkungan permukaan air di laut. Begitu pula dengan muka air dalam bak, ember, bahkan gelas. Walau terlihat datar secara kasat mata, namun jika dilakukan pengukuran secara detail, muka air mengalami kelengkungan. Kendati dengan derajat kelengkungan yang sangat sangat kecil, karena lingkupnya semakin kecil pula, sesuai dengan tingkat kelengkungan permukaan bumi di mana air tersebut berada. Tapi pada intinya sifat muka air yang selalu mengikuti muka bumi menyebabkan muka air di manapun selalu melengkung.
Di langit pun demikian. Permukaan air tidak datar. Titik-titik air yang membentuk awan, jelas berbentuk gumpalan. Tidak datar. Kemudian awan berubah menjadi hujan, juga permukaannya tidak datar. Malah berbentuk tetesan-tetesan yang bundar. Maka sebaiknya pengajaran tentang teori bahwa permukaan air selalu datar itu harus direvisi. Karena permukaan air tidak pernah berbentuk datar. Kadang melengkung, kadang berbentuk bundar, malah kadang tidak beraturan.
Kita diajarkan bahwa langit berada di atas kita. Sementara jika kita terbang ke langit di luar angkasa seperti para astronot, kita akan dilingkupi oleh langit. Ke mana pun kita memandang, itulah langit. Atas, bawah, kiri, maupun kanan, semuanya langit. Maka sebelumnya, kita perlu perbaiki konsep kita mengenai apa itu atas, apa itu bawah. Bila kita mendefinisikan bahwa atas itu adalah tempat yang lebih tinggi, itu hanya bisa berlaku ketika kita berada di bumi atau tempat yang stabil. Sebab dengan menyatakan bahwa atas adalah tempat yang lebih tinggi, kita harus punya titik acuan ukur. Dan ketika kita berada di luar angkasa, tidak ada yang bisa dijadikan titik acuan ukur, sebab semua benda melayang dan terombang ambing. Termasuk semua benda langit berada pada posisi melayang dan bergerak di angkasa. Bila arah atas kita definisikan sebagai di atas kepala, maka ketika kita misalnya berada pada posisi berbaring, tentu arah atas kita akan berubah. Apalagi bila tubuh kita berada pada keadaan terbalik, bisa-bisa posisi bawah menjadi atas, atas menjadi bawah. Sungguh definisi yang tidak pas.
Maka posisi atas dan bawah perlu dikonsep atau didefinisikan secara tepat dulu. Menurut konsep saya, posisi atas itu adalah posisi yang berlawanan arah dengan arah gravitasi dominan. Sedangkan arah bawah adalah arah yang berbanding lurus dengan arah gravitasi dominan. Gravitasi yang dimaksud di sini tentu tidak hanya gravitasi bumi, tetapi juga gravitasi benda langit apapun itu, termasuk matahari, bumi, bulan, dan planet lainnya. Jadi, ketika kita berada di bumi, langit memang di atas kita dan bumi berada di bawah kita. Sebab arah langit berlawanan dengan gravitasi bumi, ketika kita berada di bumi. Saat kita berada di bulan, berada pada pengaruh gravitasi bulan, langit pun berada di atas kita sebab arahnya berlawanan dengan arah gravitasi bulan. Begitu pula apabila kita berada pada pengaruh gravitasi Mars, berada di Venus, di Merkurius, atau di Jupiter.
Ketika kita bicara pada ranah tata surya, arah atas adalah arah yang berlawanan dengan benda langit yang memiliki pengaruh gravitasi terbesar/dominan di sistem surya kita, yaitu sang surya itu sendiri (matahari). Jadi, arah atas adalah arah yang menjauhi matahari, dan arah bawah adalah arah yang mendekati matahari. Pada kondisi tersebut, langit bisa di atas kita, sekaligus bisa berada di bawah kita. Akan tetapi ketika kita bicara pada tataran alam semesta yang mencakup semua galaksi dan semua benda langit, tidak ada lagi istilah atas maupun bawah. Sebab pada ruang lingkup sebesar itu, belum diketahui titik mana yang menjadi poros gaya tarik terbesar alam semesta. Pada dasarnya, langit tidaklah selalu berada di posisi atas. Sebab semua benda langit, termasuk bumi ini dilingkupi oleh langit. Segala benda langit bercokol di langit, mengambang di langit.
Langganan:
Komentar (Atom)
