Translate

Kamis, 19 Januari 2012

Trilogi Evolusi - Bagian III (Evolusi Spiritual)

Ada ungkapan yang mengatakan, “Tak ada yang abadi, kecuali perubahan.” Saya menghayati benar ungkapan itu, apalagi setelah tahu bahwa dalam religiusitas pun, yang diklaim sebagai suatu yang mutlak, toh nyatanya mengalami perubahan. Tak bisa dipungkiri, spiritualitas manusia dari masa ke masa, berubah. Bahkan walau dipropagandakan sebagai suatu ketetapan yang abadi hingga akhir zaman, dan bersumber langsung dari Tuhan, perubahan sedikit demi sedikit menggerus sistem spiritualitas umat manusia, dibawa pada suatu kenyataan, bernama PERUBAHAN.

Perubahan tentu bukan tanpa alasan, karena tentunya pula tak ada satu hal pun yang terjadi tanpa sebab musabab, termasuk dalam hal perubahan spiritual, atau yang kemudian akan saya sebut dengan evolusi spiritual. Selama ratusan ribu tahun manusia hidup di dunia, selama itu pula sistem spiritual manusia selalu berubah. Dipengaruhi oleh cara pandang manusia terhadap lingkungannya dan tingkat peradaban manusia itu sendiri, persepsi manusia terhadap Tuhan pun berubah-ubah, dan berujung pada perubahan sistem spiritual dan beragama.

Pada masa berburu, masa di mana manusia masih nomaden, “bekal” mereka hanyalah insting dan kekuatan fisik, tanpa akal yang memadai. Manusia hidup dari satu hutan ke hutan lainnya, tinggal dari satu goa ke goa yang lain. Mereka rentan bersentuhan dengan kejadian alam yang menakutkan. Tanpa kemampuan berpikir untuk mencerna fenomena alam yang terjadi, ketakutan membuat mereka menganggap kejadian-kejadian itu sebagai Tuhan yang sedang marah. Petir, hujan, badai, dan gelombang adalah Tuhan pada masa itu. Sungai sebagai sumber penghidupan mereka juga dianggap sebagai Tuhan yang sedang pemurah. Pohon-pohon besar adalah Tuhan yang pengasih karena memeberi keteduhan buat mereka, di samping buahnya. Singkat kata, setiap elemen alam yang memberi manfaat adalah Tuhan yang pemurah, dan yang menakutkan dianggap Tuhan yang sedang marah.

Memasuki masa beternak, cara pandang manusia terhadap lingkungan berubah, Tuhan mereka pun berubah. Tuhan pada masa tersebut kebanyakan disimbolkan dengan hewan. Masyarakat yang hidup dengan beternak tentunya menggantungkan nasib mereka pada ternak-ternak mereka. Dengan pikiran yang sederhana, mereka merasa bahwa hidup mati mereka ditentukan oleh keadaan hewan ternak mereka. Oleh karena itulah, pada banyak tempat di belahan dunia ini, sapi, domba, kambing, dan burung disembah sebagai Tuhan. Hingga tak jarang kita lihat sampai saat ini di berbagai belahan dunia terdapat patung-patung peninggalan zaman kuno yang berbentuk hewan untuk disembah, seperti burung, kambing, dan bahkan domba emas.

Beranjak maju, puluhan ribu tahun dari masa beternak, manusia memasuki zaman pertanian. Dari ketergantungan pada hewan ternak, pada era pertanian ketergantungan manusia bergeser pada hasil pertanian. Namun dengan pemikiran yang lebih maju, mereka tak menyembah hasil pertanian sebagai Tuhan layaknya yang terjadi pada masa beternak, di mana manusia menyembah hasil ternaknya. Adapun di masa bertani tersebut, Tuhan umat manusia berupa dewa dan dewi. Dewa dan dewi dianggap sebagai pemberi berkat dari langit, berupa cahaya serta menurunkan hujan, membuat lahan pertanian subur.  Hingga pada masa itu dikenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, dan Dewa Matahari sebagai dewa yang tertinggi. Kepercayaan kepada dewa dewi adalah kebenaran pada masa itu, sampai-sampai ketika masih ada segelintir yang menyembah patung hewan, dianggap suatu yang sesat.


Evolusi spiritual pun terus berlangsung, hingga memasuki masa teknologi sederhana, di mana ilmu pengetahuan berperan lebih banyak. Cara pandang manusia dalam memandang lingkungan sekitarnya berbeda, dari yang sebelumnya mengkultuskan hal-hal yang dapat dijamah secara fisik, (elemen alam, binatang ternak, ataupun dewa dewi yang dipersonifikasi) berubah perlahan. Pola spiritual pada masa tersebut adalah menuhankan hal-hal yang gaib, maya, dan tak tersentuh. Hal tersebut dikarenakan akal manusia tak lagi dapat menerima Tuhan yang berbentuk fisik, layaknya manusia. Kebenaran pun berubah. Yang dahulunya diyakini sebagai sebuah kebenaran, kini diklaim sebagai sebuah kesesatan, sebab asumsi pada masa tersebut bahwa Tuhan sesuai dengan akal pikiran manusia ketika itu, yakni tak tersentuh, tak terjamah.

Hingga kini, keyakinan akan Tuhan yang gaib itu masih dipegang teguh sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian besar umat manusia. Namun pada belahan-belahan dunia tertentu, di mana teknologi kian majunya, ada indikasi bahwa kepercayaan pada Tuhan yang gaib itu mulai terlepas. Teknologi yang semakin mutakhir membuat alam pikiran manusia berubah dalam menilai alam sekitarnya, bahkan Tuhan. Dewasa ini, segalanya seolah bisa diciptakan manusia. Hujan, satelit, bahkan kloning manusia, bisa dibuat. Tak mudah mungkin untuk diterima orang yang masih hidup dalam alam pikiran bahwa Tuhan itu gaib, tapi untuk negara-negara teknologi maju, Tuhan tak lagi merupakan suatu yang berada di luar diri manusia. Gamblangnya, manusia itu adalah Tuhan itu sendiri, karena manusialah yang membuat Tuhan-tuhan mereka. Begitulah garis besar pemikirannya.

Entah pada abad-abad ke depan, seiring perkembangan pemikiran manusia, kepercayaan seperti apa lagi yang terlahir dari peradaban manusia. Yang pasti, spiritualitas akan terus ber-evolusi. Spiritualitas baru menghadirkan sistem ketuhanan yang baru pula. Adapun yang baru akan menggulingkan yang lama, yang mayor akan menilai sesat yang minor, begitu seterusnya. Di sini terlihat jelas relativitas kebenaran. Maka setiap kita yang hidup pada masa kini tak perlu kaget jika suatu saat nanti kita menemui kenyataan bahwa apa yang kita yakini benar saat ini tak lagi dianggap benar oleh pandangan di masa mendatang. Melihat realitas yang terjadi itu, selayaknya kita insyafi bahwa kita boleh saja mengaku benar, namun kita pun harus menghargai kebenaran yang diyakini orang lain. Dan mestinya kita mengerti bahwa kebenaran tak selalu sama buat semua orang. Kebenaran untuk masa ini adalah kebenaran yang masing-masing kita yakini di masa kini, dan kan terus berubah, seiring bergulirnya waktu.

Sabtu, 14 Januari 2012

Trilogi Evolusi - Bagian II (Evolusi Fisik)

Bayangkan jika kita yang hidup pada masa ini, era teknologi informasi, atau ada yang menyebutnya zaman atom, zaman nuklir, dibawa pada kehidupan jutaan tahun lalu. Perbedaan pertama yang pasti terasa adalah lingkungan sekitar. Di masa kini hampir semua sektor dalam hidup kita telah dijamah oleh yang namanya teknologi. Melihat ke sekitar, ada bangunan-bangunan pencakar langit yang serba megah. Di atas, berlalu lalang pesawat terbang bikinan kecerdasan manusia, bahkan kita pun bisa melihat jauh ke bawah kita dengan penginderaan jarak jauh menembus bumi melalui teknologi satelit. Kontan saja aktivitas kita, dari yang paling berat hingga yang sekecil-kecilnya terbantu oleh teknologi. Jarang kita temui aktivitas besar-besaran secara fisik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa fisik jadi tergolong manja, atau bahkan lemah. Dengan fisik lemah seperti itu, dapat dibayangkan betapa kerepotannya kita bila serta merta mengalami time travel ke kehidupan jutaan tahun lalu yang serba keras, serba manual, bersentuhan langsung dengan keganasan alam.  Di mana pada zaman tersebut, sejauh mata memandang hanya ada hutan belantara. Di langit hanya ada burung yang beterbangan serta lapis-lapis langit yang kadang cerah dan tak jarang mencekam. Tak ada tempat tinggal yang terlalu aman dari gangguan alam.

Lantas terpikirkankah oleh kita, manusia seperti apa yang bisa bertahan hidup pada lingkungan yang kejam (kejam untuk ukuran manusia masa kini) seperti itu? Tentunya bukan manusia-manusia seperti yang ada pada era sekarang ini. Karena seiring tempaan alam, tuntutan kebutuhan, dan berkembangnya pengalaman hidup dari masa lalu, manusia pun semakin berpikir, semakin pintar dari masa ke masa. Peningkatan intelektual manusia masa kini otomatis membuat fisik diistirahatkan dari fungsinya sebab adanya bantuan teknologi. Maka kecerdasan yang semakin meningkat, secara tidak langsung menjadikan fisik kian lemah. Itulah korelasi keadaan fisik dengan kecerdasan manusia seiring waktu. Alhasil, untuk menjawab pertanyaan di awal tadi, yakni manusia seperti apa yang bisa hidup pada lingkungan berjuta-juta tahun lalu, tentunya hanya tinggal merunut balik konsep di atas. Adapun manusia yang hidup pada masa itu adalah manusia yang otaknya belum berkembang, bahkan mungkin bila ditarik jauh lebih ke belakang lagi, manusia belum memiliki pemikiran sama sekali. Manusia pada masa - jika boleh dikatakan - superprimitif itu merupakan manusia yang hanya bergerak dan bertindak dengan insting, tanpa kemampuan otak. Namun tentunya, fisik manusia superprimitif itu jauh lebih kuat daripada manusia modern zaman sekarang. Hal tersebut berkaitan dengan tempaan alam yang dialaminya. Badan lebih berotot, tubuh  lebih keras, dan perawakan lebih besar, itu gambaran umumnya. Lebih spesifik lagi, tentunya cara hidup dan gerak gerik yang jauh beda dengan manusia modern.


Tetap disebut dengan manusia, hanya saja belum memiliki kemampuan berpikir, belum menjadi manusia cerdas, malah belum punya daya ingat sama sekali. Masa-masa itu manusia masih berburu, tinggal di hutan-hutan, berlindung di goa-goa. Tak punya kemampuan mencipta pakaian, kulitnya sendirilah yang jadi pelindung dari cuaca luar. Tak salah jika tubuhnya keras sebab kontak langsung dengan alam sekitar. Zaman pun bergerak maju. Dari berburu lalu beternak, dari beternak kemudian bertani. Tentunya perubahan dari zaman yang satu menuju zaman lainnya bukanlah sebuah waktu yang singkat, melainkan dalam rentang waktu puluhan ribu tahun. Sampai pada suatu ketika pemikiran manusia makin berkembang, tentunya dalam jangka waktu ratusan ribu tahun dari masa berburu itu, manusia pun dapat mencipta benda-benda.  Itulah manusia pertama yang mampu mengenali benda-benda, yakni mengenali benda-benda yang diciptakannya, juga segala yang ada di lingkungan sekitarnya dengan pemberian nama. Benda-benda diberi nama untuk kemudian dengan mudah dikenali. Lantas manusia zaman itu dikategorikan sebagai manusia cerdas, yang menjadi cikal bakal manusia modern. Hal tersebut disebabkan oleh adanya benang merah antara manusia pada masa itu dengan manusia masa kini, yakni adanya benih-benih daya pikir tingkat awal dari manusia pada masa itu yang kini berkembang pada manusia masa kini.

Perkembangan kecerdasan manusia perlahan tapi pasti mereduksi peran fisik, seperti yang telah dikatakan di awal. Kecerdasan tersebut berkembang saling menyesuaikan dengan keadaan lingkungan manusia pada masanya masing-masing. Jutaan tahun lalu, tanpa sentuhan pemikiran, manusia hanya hidup alamiah, bersandingkan alam. Mereka menyesuaikan diri dengan alamnya lewat kemampuan fisik. Adapun pengalaman makin membuat manusia kian berkembang dari segi pemikiran dan kecerdasannya, alam pun berubah. Dapat dikatakan bahwa alam semakin terjamah oleh hasil olah pikir manusia. Secara bertahap dan dalam mata rantai yang panjang, alam pun menemukan bentuknya seperti keadaan yang kita huni saat ini. Serba canggih, serba mutakhir, itulah era ini, era di mana kita hidup. Kecanggihan itu tak lepas dari perkembangan kecerdasan umat manusia yang ber-evolusi hingga mencapai titik seperti sekarang ini. Bahkan mungkin akan terus berkembang di era-era mendatang. Namun tentunya lingkungan sekitar takkan pernah statis menanggapi evolusi fisik manusia ini. Lingkungan akan menemukan bentuknya yang jauh lebih mutakhir lagi, beradaptasi mengikuti taraf perkembangan manusia. Taraf pemikiran pun terus berkembang, beradaptasi dengan perkembangan permasalahan, implikasi dari berkembangnya lingkungan tersebut. Begitu seterusnya, pola pikir dan lingkungan saling mempengaruhi dalam satu daur yang evolusioner.