Ada ungkapan yang mengatakan, “Tak ada yang abadi, kecuali perubahan.” Saya menghayati benar ungkapan itu, apalagi setelah tahu bahwa dalam religiusitas pun, yang diklaim sebagai suatu yang mutlak, toh nyatanya mengalami perubahan. Tak bisa dipungkiri, spiritualitas manusia dari masa ke masa, berubah. Bahkan walau dipropagandakan sebagai suatu ketetapan yang abadi hingga akhir zaman, dan bersumber langsung dari Tuhan, perubahan sedikit demi sedikit menggerus sistem spiritualitas umat manusia, dibawa pada suatu kenyataan, bernama PERUBAHAN.
Perubahan tentu bukan tanpa alasan, karena tentunya pula tak ada satu hal pun yang terjadi tanpa sebab musabab, termasuk dalam hal perubahan spiritual, atau yang kemudian akan saya sebut dengan evolusi spiritual. Selama ratusan ribu tahun manusia hidup di dunia, selama itu pula sistem spiritual manusia selalu berubah. Dipengaruhi oleh cara pandang manusia terhadap lingkungannya dan tingkat peradaban manusia itu sendiri, persepsi manusia terhadap Tuhan pun berubah-ubah, dan berujung pada perubahan sistem spiritual dan beragama.
Pada masa berburu, masa di mana manusia masih nomaden, “bekal” mereka hanyalah insting dan kekuatan fisik, tanpa akal yang memadai. Manusia hidup dari satu hutan ke hutan lainnya, tinggal dari satu goa ke goa yang lain. Mereka rentan bersentuhan dengan kejadian alam yang menakutkan. Tanpa kemampuan berpikir untuk mencerna fenomena alam yang terjadi, ketakutan membuat mereka menganggap kejadian-kejadian itu sebagai Tuhan yang sedang marah. Petir, hujan, badai, dan gelombang adalah Tuhan pada masa itu. Sungai sebagai sumber penghidupan mereka juga dianggap sebagai Tuhan yang sedang pemurah. Pohon-pohon besar adalah Tuhan yang pengasih karena memeberi keteduhan buat mereka, di samping buahnya. Singkat kata, setiap elemen alam yang memberi manfaat adalah Tuhan yang pemurah, dan yang menakutkan dianggap Tuhan yang sedang marah.
Memasuki masa beternak, cara pandang manusia terhadap lingkungan berubah, Tuhan mereka pun berubah. Tuhan pada masa tersebut kebanyakan disimbolkan dengan hewan. Masyarakat yang hidup dengan beternak tentunya menggantungkan nasib mereka pada ternak-ternak mereka. Dengan pikiran yang sederhana, mereka merasa bahwa hidup mati mereka ditentukan oleh keadaan hewan ternak mereka. Oleh karena itulah, pada banyak tempat di belahan dunia ini, sapi, domba, kambing, dan burung disembah sebagai Tuhan. Hingga tak jarang kita lihat sampai saat ini di berbagai belahan dunia terdapat patung-patung peninggalan zaman kuno yang berbentuk hewan untuk disembah, seperti burung, kambing, dan bahkan domba emas.
Beranjak maju, puluhan ribu tahun dari masa beternak, manusia memasuki zaman pertanian. Dari ketergantungan pada hewan ternak, pada era pertanian ketergantungan manusia bergeser pada hasil pertanian. Namun dengan pemikiran yang lebih maju, mereka tak menyembah hasil pertanian sebagai Tuhan layaknya yang terjadi pada masa beternak, di mana manusia menyembah hasil ternaknya. Adapun di masa bertani tersebut, Tuhan umat manusia berupa dewa dan dewi. Dewa dan dewi dianggap sebagai pemberi berkat dari langit, berupa cahaya serta menurunkan hujan, membuat lahan pertanian subur. Hingga pada masa itu dikenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, dan Dewa Matahari sebagai dewa yang tertinggi. Kepercayaan kepada dewa dewi adalah kebenaran pada masa itu, sampai-sampai ketika masih ada segelintir yang menyembah patung hewan, dianggap suatu yang sesat.
Evolusi spiritual pun terus berlangsung, hingga memasuki masa teknologi sederhana, di mana ilmu pengetahuan berperan lebih banyak. Cara pandang manusia dalam memandang lingkungan sekitarnya berbeda, dari yang sebelumnya mengkultuskan hal-hal yang dapat dijamah secara fisik, (elemen alam, binatang ternak, ataupun dewa dewi yang dipersonifikasi) berubah perlahan. Pola spiritual pada masa tersebut adalah menuhankan hal-hal yang gaib, maya, dan tak tersentuh. Hal tersebut dikarenakan akal manusia tak lagi dapat menerima Tuhan yang berbentuk fisik, layaknya manusia. Kebenaran pun berubah. Yang dahulunya diyakini sebagai sebuah kebenaran, kini diklaim sebagai sebuah kesesatan, sebab asumsi pada masa tersebut bahwa Tuhan sesuai dengan akal pikiran manusia ketika itu, yakni tak tersentuh, tak terjamah.
Hingga kini, keyakinan akan Tuhan yang gaib itu masih dipegang teguh sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian besar umat manusia. Namun pada belahan-belahan dunia tertentu, di mana teknologi kian majunya, ada indikasi bahwa kepercayaan pada Tuhan yang gaib itu mulai terlepas. Teknologi yang semakin mutakhir membuat alam pikiran manusia berubah dalam menilai alam sekitarnya, bahkan Tuhan. Dewasa ini, segalanya seolah bisa diciptakan manusia. Hujan, satelit, bahkan kloning manusia, bisa dibuat. Tak mudah mungkin untuk diterima orang yang masih hidup dalam alam pikiran bahwa Tuhan itu gaib, tapi untuk negara-negara teknologi maju, Tuhan tak lagi merupakan suatu yang berada di luar diri manusia. Gamblangnya, manusia itu adalah Tuhan itu sendiri, karena manusialah yang membuat Tuhan-tuhan mereka. Begitulah garis besar pemikirannya.
Entah pada abad-abad ke depan, seiring perkembangan pemikiran manusia, kepercayaan seperti apa lagi yang terlahir dari peradaban manusia. Yang pasti, spiritualitas akan terus ber-evolusi. Spiritualitas baru menghadirkan sistem ketuhanan yang baru pula. Adapun yang baru akan menggulingkan yang lama, yang mayor akan menilai sesat yang minor, begitu seterusnya. Di sini terlihat jelas relativitas kebenaran. Maka setiap kita yang hidup pada masa kini tak perlu kaget jika suatu saat nanti kita menemui kenyataan bahwa apa yang kita yakini benar saat ini tak lagi dianggap benar oleh pandangan di masa mendatang. Melihat realitas yang terjadi itu, selayaknya kita insyafi bahwa kita boleh saja mengaku benar, namun kita pun harus menghargai kebenaran yang diyakini orang lain. Dan mestinya kita mengerti bahwa kebenaran tak selalu sama buat semua orang. Kebenaran untuk masa ini adalah kebenaran yang masing-masing kita yakini di masa kini, dan kan terus berubah, seiring bergulirnya waktu.

