Translate

Sabtu, 14 Januari 2012

Trilogi Evolusi - Bagian II (Evolusi Fisik)

Bayangkan jika kita yang hidup pada masa ini, era teknologi informasi, atau ada yang menyebutnya zaman atom, zaman nuklir, dibawa pada kehidupan jutaan tahun lalu. Perbedaan pertama yang pasti terasa adalah lingkungan sekitar. Di masa kini hampir semua sektor dalam hidup kita telah dijamah oleh yang namanya teknologi. Melihat ke sekitar, ada bangunan-bangunan pencakar langit yang serba megah. Di atas, berlalu lalang pesawat terbang bikinan kecerdasan manusia, bahkan kita pun bisa melihat jauh ke bawah kita dengan penginderaan jarak jauh menembus bumi melalui teknologi satelit. Kontan saja aktivitas kita, dari yang paling berat hingga yang sekecil-kecilnya terbantu oleh teknologi. Jarang kita temui aktivitas besar-besaran secara fisik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa fisik jadi tergolong manja, atau bahkan lemah. Dengan fisik lemah seperti itu, dapat dibayangkan betapa kerepotannya kita bila serta merta mengalami time travel ke kehidupan jutaan tahun lalu yang serba keras, serba manual, bersentuhan langsung dengan keganasan alam.  Di mana pada zaman tersebut, sejauh mata memandang hanya ada hutan belantara. Di langit hanya ada burung yang beterbangan serta lapis-lapis langit yang kadang cerah dan tak jarang mencekam. Tak ada tempat tinggal yang terlalu aman dari gangguan alam.

Lantas terpikirkankah oleh kita, manusia seperti apa yang bisa bertahan hidup pada lingkungan yang kejam (kejam untuk ukuran manusia masa kini) seperti itu? Tentunya bukan manusia-manusia seperti yang ada pada era sekarang ini. Karena seiring tempaan alam, tuntutan kebutuhan, dan berkembangnya pengalaman hidup dari masa lalu, manusia pun semakin berpikir, semakin pintar dari masa ke masa. Peningkatan intelektual manusia masa kini otomatis membuat fisik diistirahatkan dari fungsinya sebab adanya bantuan teknologi. Maka kecerdasan yang semakin meningkat, secara tidak langsung menjadikan fisik kian lemah. Itulah korelasi keadaan fisik dengan kecerdasan manusia seiring waktu. Alhasil, untuk menjawab pertanyaan di awal tadi, yakni manusia seperti apa yang bisa hidup pada lingkungan berjuta-juta tahun lalu, tentunya hanya tinggal merunut balik konsep di atas. Adapun manusia yang hidup pada masa itu adalah manusia yang otaknya belum berkembang, bahkan mungkin bila ditarik jauh lebih ke belakang lagi, manusia belum memiliki pemikiran sama sekali. Manusia pada masa - jika boleh dikatakan - superprimitif itu merupakan manusia yang hanya bergerak dan bertindak dengan insting, tanpa kemampuan otak. Namun tentunya, fisik manusia superprimitif itu jauh lebih kuat daripada manusia modern zaman sekarang. Hal tersebut berkaitan dengan tempaan alam yang dialaminya. Badan lebih berotot, tubuh  lebih keras, dan perawakan lebih besar, itu gambaran umumnya. Lebih spesifik lagi, tentunya cara hidup dan gerak gerik yang jauh beda dengan manusia modern.


Tetap disebut dengan manusia, hanya saja belum memiliki kemampuan berpikir, belum menjadi manusia cerdas, malah belum punya daya ingat sama sekali. Masa-masa itu manusia masih berburu, tinggal di hutan-hutan, berlindung di goa-goa. Tak punya kemampuan mencipta pakaian, kulitnya sendirilah yang jadi pelindung dari cuaca luar. Tak salah jika tubuhnya keras sebab kontak langsung dengan alam sekitar. Zaman pun bergerak maju. Dari berburu lalu beternak, dari beternak kemudian bertani. Tentunya perubahan dari zaman yang satu menuju zaman lainnya bukanlah sebuah waktu yang singkat, melainkan dalam rentang waktu puluhan ribu tahun. Sampai pada suatu ketika pemikiran manusia makin berkembang, tentunya dalam jangka waktu ratusan ribu tahun dari masa berburu itu, manusia pun dapat mencipta benda-benda.  Itulah manusia pertama yang mampu mengenali benda-benda, yakni mengenali benda-benda yang diciptakannya, juga segala yang ada di lingkungan sekitarnya dengan pemberian nama. Benda-benda diberi nama untuk kemudian dengan mudah dikenali. Lantas manusia zaman itu dikategorikan sebagai manusia cerdas, yang menjadi cikal bakal manusia modern. Hal tersebut disebabkan oleh adanya benang merah antara manusia pada masa itu dengan manusia masa kini, yakni adanya benih-benih daya pikir tingkat awal dari manusia pada masa itu yang kini berkembang pada manusia masa kini.

Perkembangan kecerdasan manusia perlahan tapi pasti mereduksi peran fisik, seperti yang telah dikatakan di awal. Kecerdasan tersebut berkembang saling menyesuaikan dengan keadaan lingkungan manusia pada masanya masing-masing. Jutaan tahun lalu, tanpa sentuhan pemikiran, manusia hanya hidup alamiah, bersandingkan alam. Mereka menyesuaikan diri dengan alamnya lewat kemampuan fisik. Adapun pengalaman makin membuat manusia kian berkembang dari segi pemikiran dan kecerdasannya, alam pun berubah. Dapat dikatakan bahwa alam semakin terjamah oleh hasil olah pikir manusia. Secara bertahap dan dalam mata rantai yang panjang, alam pun menemukan bentuknya seperti keadaan yang kita huni saat ini. Serba canggih, serba mutakhir, itulah era ini, era di mana kita hidup. Kecanggihan itu tak lepas dari perkembangan kecerdasan umat manusia yang ber-evolusi hingga mencapai titik seperti sekarang ini. Bahkan mungkin akan terus berkembang di era-era mendatang. Namun tentunya lingkungan sekitar takkan pernah statis menanggapi evolusi fisik manusia ini. Lingkungan akan menemukan bentuknya yang jauh lebih mutakhir lagi, beradaptasi mengikuti taraf perkembangan manusia. Taraf pemikiran pun terus berkembang, beradaptasi dengan perkembangan permasalahan, implikasi dari berkembangnya lingkungan tersebut. Begitu seterusnya, pola pikir dan lingkungan saling mempengaruhi dalam satu daur yang evolusioner.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar