Translate

Rabu, 28 Maret 2012

Benci Tanda Cinta

Cinta datang tanpa pesan
Dia tiba kemudian hinggap
Tak peduli kau sendiri atau berdua
Pun tak pernah pikir dirimu siapa

Cinta datangkan harapan
Hari-hari yang penuh semangat
Walau perjuangan kadang berat
Cinta buat semuanya tiada arti

Cinta adalah membangkitkan
Angan-angan, khayalan, dan impian
Malam yang sepi, manis dalam rindu
Hampa yang toreh keindahan

Cinta kadang datang kadang pergi
Dalam harap yang kosong cinta lebur
Tak jarang dalam wajah kebencian
Cinta hadir bermuka muram

Cinta selalu terpendar
Dalam dada bahkan di angkasa
Tak pernah hilang, dia selalu ada
Bahkan benci, itulah pertanda cinta

Curhatku

Sing: Kuterbangun dari tidur panjang yang lelahkanku....

Tiba-tiba saja saya dengar Indonesia ribut-ribut soal wacana kenaikan harga BBM. Saya lihat para ahli berseliweran di televisi dengan berbagai analisisnya. Mahasiswa turun ke jalan, demo menolak kenaikan harga BBM. Yang pro mendukung dengan argumennya, yang kontra juga demikian, menolak dengan argumen mereka masing-masing. Ada yang bilang menaikkan harga BBM merupakan suatu yang wajib dilakukan kalau tak ingin melihat perekonomian negara ini terpuruk, berhubung meningkatnya harga minyak dunia. Subsidi BBM harus dikurangi sebab APBN yang selama ini digunakan untuk subsidi BBM mesti dialihkan pada hal-hal yang lebih urgen untuk masyarakat banyak, khususnya golongan menengah ke bawah. Berseberangan dengan itu, yang menolak beralasan bahwa kenaikan harga BBM justru akan menyusahkan golongan bawah, sebab dengan naiknya harga BBM, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, semisal sandang dan pangan, akan ikut naik. Hmmm....


Sebenarnya penjelasan dari para ahli, baik yang pro maupun yang kontra, lebih panjang, lebar, dalam, dan luas sekaleee... Tapi yang saya tuliskan di atas hanya inti sarinya saja. Karena sejatinya pokok dari uraian saya kali ini bukanlah pada perdebatan yang panjang, lebar, dalam, dan luas oleh para pakar itu. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit keluh kesah saja, atau kalau dalam bahasa gaul disebut curhat... Presiden aja curhat, masak seh rakyat kecil kayak saya ngga boleh curhat, begitu pikir saya. Karena saya berpikir itulah maka saya memberanikan diri untuk curhat kali ini. Dan lagi-lagi karena saya berpikirlah maka curhatan saya bukan sekadar curhatan dari hati layaknya ABG alay zaman sekarang. Curhatan ini murni dari logika hasil pikir-pikir saya tadi, hehe...

Logikanya sederhana saja, kalau harga BBM dinaikkan dengan alasan untuk mengalihkan subsidi BBM kepada hal-hal yang lebih penting buat rakyat banyak, bukankah lebih baik kita fokus dalam pemberantasan korupsi?? Sebab jika korupsi diberantas, kita tak perlu lagi gembar-gembor menaikkan harga BBM. Uang rakyat yang dikorup dan/atau bakal jadi sasaran korup harusnya diamankan untuk kepentingan rakyat. Di sini perlu ketegasan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya, dan tentunya juga bantuan para ahli dalam penetapan sistem maupun regulasinya. Saya pribadi tak terlalu ambil pusing dengan kenaikan harga BBM. Bukannya bermaksud sok tajir, tapi saya pikir, jika memang korupsi yang banyak merugikan APBN sudah benar-benar diberantas, dan lantas APBN belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan urgen rakyat kecil, BBM tak lagi disubsidi pun tak masalah.

Intinya, saya ingin negara ini bersih-bersih dulu. Sebab jika rakyat melihat negara telah bersih, kebijakan pemerintah akan dinilai positif oleh rakyat itu sendiri. Sejatinya rakyat geram, rakyat marah, dan tersulut emosi kali ini bukan hanya karena kenaikan harga BBM, namun oleh sebab kekesalan bertumpuk-tumpuk terhadap pemerintahan yang tidak bersih. Bahkan mungkin rakyat tak melihat iktikat pemerintah untuk membersihkan itu. Jika dinilai dari sudut pandang itu, wajar jika rakyat mengeraskan suara, sarkatis dalam berdemo. Namun yang harus digarisbawahi yakni demo harus dilakukan tanpa kekerasan, tanpa anarkis, tanpa vandalis...

Sing: Kau biarkan mimpi tetap mimpi yang melengkapi khayalmu. Kau terhenyak dan terbangunkan, dan harapkan keajaiban datang hadir di pundakmu...

Selasa, 27 Maret 2012

Satu Indonesia dalam Indonesia Saja

Lirik lagu yang satu ini sarat akan pesan persatuan. Diciptakan oleh Ahmad Dhani untuk album Dewa 19 yang bertajuk Laskar Cinta di pengujung tahun 2004. Dari judulnya (Indonesia Saja) dapat dilihat suatu semangat pernyataan sikap bahwa dalam berbangsa bernegara tak ada yang lain yang harus dijunjung selain Indonesia. Di atas segala perbedaan yang ada, Indonesia harus tetap dalam kesatuan, baik sosial, politik, maupun spirit.

Aku bukan orang Jawa
Aku juga bukan Sunda

Jawa dan Sunda mewakili suku-suku di Indonesia. Dalam berbangsa bernegara, identitas suku bangsa harus dilepas sejenak demi persatuan. Tak pandang orang Jawa, Sunda, atau apapun juga, semua adalah putra putri Indonesia yang harus diperlakukan sama.

Aku bukan orang Aceh
Aku juga bukan Ambon


Semangat kedaerahan yang kental pada masing-masing daerah harus dibendung ketika kita mulai bicara tentang Indonesia. Orang Aceh, orang Ambon, orang Bali, orang Papua, orang Jakarta, dan semua orang di seluruh Indonesia harus satu suara dalam ke-Indonesia-an.

Aku bukan orang Cina
Aku juga bukan Arab


Budaya Cina dan Arab adalah dua dari beberapa budaya luar yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Indonesia. Maka dalam wawasan kebangsaan, budaya-budaya luar harus dijadikan jalan untuk memperkaya khasanah budaya bangsa, bukan justru untuk saling buruk sangka yang kemudian menimbulkan perpecahan.

Aku bukan hijau
Aku juga bukan merah


Dalam politik, hijau biasanya melambangkan partai Islam (Religius), dan merah melambangkan Nasionalisme. Adapun dalam membangun negara, dikotomi Nasionalis dan Religius itu harus dihilangkan. Bahwa partai yang Nasionalis harus bersatu dengan yang Religius dan bersama-sama membangun bangsa dengan semangat yang sama besarnya.

Aku bukan kiri
Aku juga bukan kanan


Kiri adalah sebutan buat haluan politik sosialis dan komunis, sementara paham liberal dan kapitalis disebut dengan haluan kanan. Tapi apapun paham politiknya, apapun ideologinya, dan bagaimanapun perbedaan di dalamnya, kesemuanya harus satu padu dalam jenjang yang lebih tinggi, yakni kebangsaan Indonesia.


Semua perbedaan, dari suku, daerah, budaya, agama, maupun ideologi, secara tegas mesti dikesampingkan ketika kita sudah berada dalam taraf bangsa dan negara (apapun itu). Demi kepentingan bersama, segala perbedaan mesti dibuang sejenak. Dan dalam hal Bangsa Indonesia, tak ada kata lain selain Indonesia Saja.

Diringkas dalam refrain dan sekaligus menjadi klimaks dari isi lagu tersebut:

Aku hanya merasa
Aku orang Indonesia Saja