Sing: Kuterbangun dari tidur panjang yang lelahkanku....
Tiba-tiba saja saya dengar Indonesia ribut-ribut soal wacana kenaikan harga BBM. Saya lihat para ahli berseliweran di televisi dengan berbagai analisisnya. Mahasiswa turun ke jalan, demo menolak kenaikan harga BBM. Yang pro mendukung dengan argumennya, yang kontra juga demikian, menolak dengan argumen mereka masing-masing. Ada yang bilang menaikkan harga BBM merupakan suatu yang wajib dilakukan kalau tak ingin melihat perekonomian negara ini terpuruk, berhubung meningkatnya harga minyak dunia. Subsidi BBM harus dikurangi sebab APBN yang selama ini digunakan untuk subsidi BBM mesti dialihkan pada hal-hal yang lebih urgen untuk masyarakat banyak, khususnya golongan menengah ke bawah. Berseberangan dengan itu, yang menolak beralasan bahwa kenaikan harga BBM justru akan menyusahkan golongan bawah, sebab dengan naiknya harga BBM, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, semisal sandang dan pangan, akan ikut naik. Hmmm....
Sebenarnya penjelasan dari para ahli, baik yang pro maupun yang kontra, lebih panjang, lebar, dalam, dan luas sekaleee... Tapi yang saya tuliskan di atas hanya inti sarinya saja. Karena sejatinya pokok dari uraian saya kali ini bukanlah pada perdebatan yang panjang, lebar, dalam, dan luas oleh para pakar itu. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit keluh kesah saja, atau kalau dalam bahasa gaul disebut curhat... Presiden aja curhat, masak seh rakyat kecil kayak saya ngga boleh curhat, begitu pikir saya. Karena saya berpikir itulah maka saya memberanikan diri untuk curhat kali ini. Dan lagi-lagi karena saya berpikirlah maka curhatan saya bukan sekadar curhatan dari hati layaknya ABG alay zaman sekarang. Curhatan ini murni dari logika hasil pikir-pikir saya tadi, hehe...
Logikanya sederhana saja, kalau harga BBM dinaikkan dengan alasan untuk mengalihkan subsidi BBM kepada hal-hal yang lebih penting buat rakyat banyak, bukankah lebih baik kita fokus dalam pemberantasan korupsi?? Sebab jika korupsi diberantas, kita tak perlu lagi gembar-gembor menaikkan harga BBM. Uang rakyat yang dikorup dan/atau bakal jadi sasaran korup harusnya diamankan untuk kepentingan rakyat. Di sini perlu ketegasan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya, dan tentunya juga bantuan para ahli dalam penetapan sistem maupun regulasinya. Saya pribadi tak terlalu ambil pusing dengan kenaikan harga BBM. Bukannya bermaksud sok tajir, tapi saya pikir, jika memang korupsi yang banyak merugikan APBN sudah benar-benar diberantas, dan lantas APBN belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan urgen rakyat kecil, BBM tak lagi disubsidi pun tak masalah.
Intinya, saya ingin negara ini bersih-bersih dulu. Sebab jika rakyat melihat negara telah bersih, kebijakan pemerintah akan dinilai positif oleh rakyat itu sendiri. Sejatinya rakyat geram, rakyat marah, dan tersulut emosi kali ini bukan hanya karena kenaikan harga BBM, namun oleh sebab kekesalan bertumpuk-tumpuk terhadap pemerintahan yang tidak bersih. Bahkan mungkin rakyat tak melihat iktikat pemerintah untuk membersihkan itu. Jika dinilai dari sudut pandang itu, wajar jika rakyat mengeraskan suara, sarkatis dalam berdemo. Namun yang harus digarisbawahi yakni demo harus dilakukan tanpa kekerasan, tanpa anarkis, tanpa vandalis...
Sing: Kau biarkan mimpi tetap mimpi yang melengkapi khayalmu. Kau terhenyak dan terbangunkan, dan harapkan keajaiban datang hadir di pundakmu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar