Translate

Minggu, 05 Oktober 2014

Nggerutu

Saya mau bilang sama kamu....

Cinta tak pernah percuma. Karena cuma cinta yang buat kita tahu bahwa segalanya adalah cuma-cuma. Maka cinta tak perlu pengorbanan. Karena ketika kita merasa berkorban, itu bukan lagi cinta. Bukankah pengorbanan sejati adalah ketika kita berkorban tanpa merasa bahwa pengorbanan itu adalah sebuah pengorbanan?

Mungkin itu pengorbanan bagi mereka yang melihatnya, tapi cinta bagi kita yang menjalaninya. Mereka melihat karena tidak menjalani cinta. Sementara yang menjalani terkadang buta, tak bisa melihat. Sebab logika kalah oleh gelora cinta. Sehingga ada yang bilang cinta tak kenal logika. Tetapi menurut saya, cinta itu logis, hanya saja kita terlalu bodoh untuk memahaminya. Maka kita perlu banyak belajar, termasuk dalam mengerti logika cinta.

Tentunya bukan belajar matematika. Karena cinta bukan seperti matematika yang bisa dibagi sama rata. Kita bisa punya dua, tiga, atau banyak cinta. Namun tak bisa kita bagi kadarnya. Ya terpaksa dibagi ala kadarnya. Bukan fisika juga yang perlu kita pelajari. Karena cinta bukan benda yang bisa dihitung satu, dua, tiga. Cinta itu unlimited.


Saking tak berhingganya, sehingga cinta menyebar di mana-mana. Siapa saja bisa jatuh cinta. Dari yang muda hingga yang tua. Dari yang biasa hingga tidak biasa. Untuk yang biasa, gejala cinta dirasa wajar. Namun pada kasus tidak biasa, yang mabuk cinta dianggap kena pelet. Padahal menurut saya pelet paling ampuh ya justru cinta itu sendiri. Hingga yang jatuh merasa melayang, yang mabuk dirasa wajar.

Bicara masalah rasa, memang cinta banyak rasa. Ada bahagia ketika memiliki, ada luka jika harus kehilangan. Untuk itu, satu yang perlu kita pahami. Jika belum siap kehilangan, jangan pernah berharap memiliki. Karena perpisahan lebih syahdu daripada kesendirian. Tapi banyak orang ngotot untuk mencita walau belum siap. Toh rasa cinta dirasa juga. Akhirnya kita cuma bisa berkata, jangan tanya kenapa, karena cinta memang begitu adanya. 'Mengapa' tanpa tahu 'Karena', itulah cinta.

Selain banyak rasa, cinta juga banyak macamnya. Tapi jangan macam-macam lho, cinta, apapun macamnya, tak bisa dibeli. Dengan uang, kamu bisa beli wanita, tapi bukan cinta. Bahkan ada pria yang bisa dibeli, tapi bukan cintanya. Dibeli untuk nafsu, atau sekadar kasihan. Namun kita semua harus ingat bahwa cinta itu mengasihi, bukan mengasihani.

Mengasihi itu wujud cinta. Mengasihani itu bisa jadi karena angkuh, sombong, atau minimal cuma sekadar untuk basa basi, ramah tamah. Memang sejatinya ramah tamah itu bukan pertanda cinta. Urakan, itulah wujud cinta, wujud kasih sayang yang sebenarnya. Karena kalo sekadar ramah tamah, sales-sales pun biasa ramah kepada semua pelanggannya.

Udah, gitu aja....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar