Kalau istilah trinitas (trinity) dan trimurti sering kita dengar dalam bidang teologi, kali ini agak sedikit beda. Ternyata trinitas juga ada dalam kehidupan kita sehari-hari di dunia ini. Bukan hanya di awang-awang, di surga, di nirwana, di alam pikiran atau apa lah namanya. Tanpa kita sadari, kita sedang "bermain" dalam "aturan" trinitas duniawi ini. Saya sebut dengan trinitas duniawi karena trinitas yang ini berbeda dengan trinitas dalam agama dan teologi.
Sekadar info, trinitas dan trimurti yang mengacu pada konsep Tuhan dalam teologi pada dasarnya adalah tiga sifat/karakter/kepribadian/kekuatan Tuhan dalam satu kesatuan esensi-Nya. Ini adalah soal keyakinan, jadi boleh percaya, boleh tidak. Karena memang ada yang percaya dan ada yang tidak. Tapi bukan itu yang akan ditilik dalam postingan ini. Hanya saja, kata trinitas itu "dipinjam" untuk kebutuhan analogi. Berhubung kata itu sangat populer dan dikenal baik oleh masyarakat.
*Intinya biar postingan ini ikutan tenar alias untuk numpang tenar gitu deh, hehe..
Harta, Tahta, dan Wanita (ataupun Pria). Itulah tiga hal yang telah menjelma jadi trinitas dalam kehidupan manusia. Mungkin sejak dulu, sejak manusia pertama kali ada. Harta, tahta, dan wanita adalah istilah populernya. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan Materi, Prestise, dan Cinta. Karena menurut saya istilah itu lebih general. Menjadi sebuah kewajaran ketika manusia memang berlomba-lomba untuk mendapatkannya (sebanyak-banyaknya). Karena lagi-lagi memang manusia diciptakan dengan dilengkapi kebutuhan-kebutuhan akan ketiga hal itu.
Sekadar info, trinitas dan trimurti yang mengacu pada konsep Tuhan dalam teologi pada dasarnya adalah tiga sifat/karakter/kepribadian/kekuatan Tuhan dalam satu kesatuan esensi-Nya. Ini adalah soal keyakinan, jadi boleh percaya, boleh tidak. Karena memang ada yang percaya dan ada yang tidak. Tapi bukan itu yang akan ditilik dalam postingan ini. Hanya saja, kata trinitas itu "dipinjam" untuk kebutuhan analogi. Berhubung kata itu sangat populer dan dikenal baik oleh masyarakat.
*Intinya biar postingan ini ikutan tenar alias untuk numpang tenar gitu deh, hehe..
Harta, Tahta, dan Wanita (ataupun Pria). Itulah tiga hal yang telah menjelma jadi trinitas dalam kehidupan manusia. Mungkin sejak dulu, sejak manusia pertama kali ada. Harta, tahta, dan wanita adalah istilah populernya. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan Materi, Prestise, dan Cinta. Karena menurut saya istilah itu lebih general. Menjadi sebuah kewajaran ketika manusia memang berlomba-lomba untuk mendapatkannya (sebanyak-banyaknya). Karena lagi-lagi memang manusia diciptakan dengan dilengkapi kebutuhan-kebutuhan akan ketiga hal itu.
A. Materi
Untuk bertahan hidup, kita butuh materi berupa makanan, uang, dan sarana penunjang kehidupan. Kalau zaman dulu, makanan didapat dari berburu, bercocok tanam, dan saling barter. Malah untuk dapat makanan pun, semua membutuhkan benda/alat/materi (berupa senjata untuk berburu, peralatan untuk cocok tanam, ataupun benda lain untuk dibarter) dan begitu seterusnya.
*Mungkin ada juga seh orang-orang purba yang mungut makanan di hutan atau tinggal nyolong makanan tetangga, jadi ngga pake alat apa-apa, hehe.
Sekarang, karena "aturan permainannya" sudah beda, kita butuh uang untuk bisa makan. Untuk dapetin uang, kita perlu kerja menggunakan berbagai sarana (materi). Aturan mainnya memang beda tapi pada dasarnya, tetap, kita butuh materi untuk menghasilkan materi.
*Pengecualian untuk yang dapet uang dari hibah, sedekah, pemberian orang lain, ato ngemis ya, hehe. But basicly, materi adalah kebutuhan primer dalam hidup.
Ngga cuma sampai di situ. Materi ini juga banyak mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya. Meskipun memang ada parameter lainnya, tapi peran materi cukup dominan. Mulai dari memilih sekolah sampai memilih pekerjaan. Dan mungkin masih banyak lagi pilihan-pilihan manusia yang dipengaruhi oleh materi ini.
Selain untuk beroleh ilmu, sekolah juga diproyeksikan untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya (di masa depan). Bahkan mungkin lebih banyak orang yang sekolah hanya berorientasi untuk uang (materi) ya, hehe. Itu wajar lah karena manusia memang butuh yang namanya uang. Dalam hal memilih pekerjaan pun sudah jelas bahwa penghasilan (materi) yang akan didapat, menjadi salah satu hal utama yang berpengaruh. Itu juga wajar-wajar saja selama ngga kebablasan.
Materi ini sangat bermanfaat jika dijadikan sebagai motivasi positif. Orang jadi giat bekerja dan berdaya upaya untuk meningkatkan produktivitas dirinya. Tak hanya bermanfaat buat dirinya, tapi juga lingkungan kerja dan masyarakatnya. Orang-orang pun jadi lebih memilih sekolah ketimbang menganggur di rumah yang buntut-buntutnya cuma bisa jadi "sampah masyarakat" alias merugikan orang lain. Pilihan positif ini pun akhirnya akan meningkatkan kualitas dan taraf hidup seseorang. Karena bagaimana pun juga, bagi orang-orang yang berkecimpung di sekolah atau dunia kerja, selain mendapat output berupa materi, pasti ada juga ilmu yang "kecantol" di dalamnya.
Tapi materi ini pun bisa berbahaya. Untuk orang-orang yang ngga siap dengan tuntutan hidup, akan mudah tergoda untuk melakukan tindak pelanggaran. Mencuri dan merampok pun akhirnya jadi pilihan mereka. Waspadalah!! Waspadalah!! Selain itu, Sudah bukan rahasia lagi bahwa ijazah instan bisa diperoleh di beberapa sekolah atau perguruan tinggi. Bukan rahasia juga kalau orang berbondong-bondong untuk korupsi hanya demi uang. Dan masih banyak lagi bukan rahasia-bukan rahasia lainnya, hehehe. Itulah bahayanya bila keinginan yang berlebihan akan materi hingga menimbulkan sikap tamak. Hmm, itu baru ngga wajar..
B. Prestise
Setiap orang menginginkan kebanggaan dalam dirinya. Kebanggaan ini tak hanya yang terkait materi saja, tapi terlebih-lebih yang bersifat pengaruh. Tahta, pangkat, jabatan, gelar, dan kecerdasan merupakan beberapa kebanggaan yang diidam-idamkan setiap orang. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan gengsi dan percaya diri seseorang di hadapan orang lain.
Namun akan menjadi mudarat bila gengsi itu telah menjadi berlebihan sampai-sampai menyebabkan kesombongan. Di mana orang yang berpangkat dan jabatan tinggi akan menganggap rendah orang lain yang berada di bawahnya. Tak jarang ini berujung pada sikap sewenang-wenang terhadap orang lain. Tak heran jika timbul perpecahan antara golongan atas dan golongan bawah. Dan dalam hal bernegara, ini sering mengakibatkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin-pemimpinnya.
Orang-orang yang cerdas dan punya gelar tinggi pun kerap bersikap angkuh kepada orang lain. Tentu ini dikarenakan tidak cukup bijaknya seseorang dalam mengelola gengsinya itu. Mereka kadang memandang sebelah mata orang lain dan kerap dengan sengaja menunjukkan kehebatannya untuk tujuan pamer. Bukankah lebih baik jika kecerdasan seseorang itu disertai sikap rendah hati :)
Tak melulu berefek negatif, prestise ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya semua bergantung kepada kebijaksanaan dari si empunya prestise itu. Dengan kebijaksanaan, seseorang bisa mengarahkan prestise yang dimilikinya ke arah yang jauh lebih baik. Seorang pejabat yang bijak, misalnya, akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan orang banyak. Dengan itu, seorang yang menjabat sebagai pemegang kendali pemerintahan dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.
Masih banyak lagi contoh manfaat positif lain dari prestise yang diarahkan dengan baik. Misalkan prestise dalam bentuk kecerdasan. Dengan kecerdasannya, orang yang bijak tak akan lekas sombong. Justru dia akan meningkatkan penghidupan orang banyak dengan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dengan menyumbangkan penemuan atau pemikirannya, tanpa diberi embel-embel keangkuhan :)
C. Cinta
Cinta adalah hal ketiga yang paling berpengaruh dalam hidup manusia. Manusia terlahir karena adanya cinta antara sang ayah dengan sang ibu. Manusia mencari nafkah karena cinta, yakni untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang dicintainya. Karena cinta, apa saja bisa dilakukan. Sejarah pun sudah membuktikan bahwa banyak kejadian maha-dahsyat yang terjadi hanya karena alasan cinta. Taj Mahal di India dibangun oleh Mumtaz Mahal, Kaisar Shah Jahan atas dasar cinta kepada mendiang istrinya.
Tapi cinta bisa berbuah kebencian. Tak jarang kita temui perkelahian karena cinta. Misalnya cinta segitiga. Berita kriminal di koran maupun televisi pun sering memuat tindakan amoral yang terjadi karena cinta. Pemerkosaan, serta pembunuhan karena cinta yang ditolak. Contoh-contoh peristiwa tersebut menggambarkan betapa besarnya pengaruh cinta dalam hidup manusia. Bisa positif, bisa juga negatif.
Cinta adalah gabungan kasih sayang dan nafsu birahi. Dalam kasih sayangnya cinta ada keinginan untuk berbagi dan saling memberi. Dalam hal itulah cinta mengambil peran yang baik dalam kehidupan manusia. Cinta berbagi tanpa syarat terhadap apa yang dicintainya. Tanpa harap menerima apapun, cinta bahkan memberi segalanya demi sesuatu yang dicintainya. Salah satu contoh nyata yang telah terjadi adalah bahwa Kaisar Shah Jahan telah membangun Taj Mahal yang sampai kini menjadi salah satu keajaiban dunia. Atas dasar cinta, Taj Mahal berdiri. Maka karena cinta pula keajaiban itu tercipta.
Cinta pun bisa membangkitkan semangat yang tiada taranya. Semangat kerja orang tua untuk mencukupi nafkah bagi keluarga tercinta. Semangat belajar anak-anak untuk membahagiakan orang tua yang dicintainya. Dan semangat juang seorang kekasih untuk mendapatkan cinta dari pasangannya. Dalam banyak hal kekuatan cinta yang penuh kasih sayang telah memberi efek positif.
Namun jika cinta yang ada lebih dikuasai nafsu birahi maka contoh terakhirlah yang terjadi. Nafsu untuk menguasai orang lain menyebabkan adanya harapan yang membumbung tinggi dan tak terkendali. Dan sekali saja harapan yang dipenuhi nafsu itu tidak terpenuhi, maka implikasi negatif lah yang terjadi. Kebencian. Ketika seseorang tak kuasa mengontrol nafsu berlebihannya, sudah pasti tindakannya tak dilandasi akal sehat. Pada akhirnya, terjadilah tindakan keji yang sebenarnya tidak diinginkan oleh kesadaran seseorang.
Satu hal yang bisa diambil adalah bahwa Trinitas Duniawi (Materi, Prestise, dan Cinta) itu penting karena memang tak bisa dipungkiri bahwa itu merupakan kebutuhan hidup manusia. Namun penting juga bagi kita untuk mengetahui pengaruh positif maupun negatifnya. Dalam aplikasinya, kita harus bisa mengembangkan segi positif, sekaligus menekan sisi negatifnya. Agar materi yang kita punya dapat bermanfaat, prestise yang kita miliki bisa berguna, dan cinta yang ada selalu teratur, berimbang, dan berbuah kebaikan.
Untuk bertahan hidup, kita butuh materi berupa makanan, uang, dan sarana penunjang kehidupan. Kalau zaman dulu, makanan didapat dari berburu, bercocok tanam, dan saling barter. Malah untuk dapat makanan pun, semua membutuhkan benda/alat/materi (berupa senjata untuk berburu, peralatan untuk cocok tanam, ataupun benda lain untuk dibarter) dan begitu seterusnya.
*Mungkin ada juga seh orang-orang purba yang mungut makanan di hutan atau tinggal nyolong makanan tetangga, jadi ngga pake alat apa-apa, hehe.
Sekarang, karena "aturan permainannya" sudah beda, kita butuh uang untuk bisa makan. Untuk dapetin uang, kita perlu kerja menggunakan berbagai sarana (materi). Aturan mainnya memang beda tapi pada dasarnya, tetap, kita butuh materi untuk menghasilkan materi.
*Pengecualian untuk yang dapet uang dari hibah, sedekah, pemberian orang lain, ato ngemis ya, hehe. But basicly, materi adalah kebutuhan primer dalam hidup.
Ngga cuma sampai di situ. Materi ini juga banyak mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya. Meskipun memang ada parameter lainnya, tapi peran materi cukup dominan. Mulai dari memilih sekolah sampai memilih pekerjaan. Dan mungkin masih banyak lagi pilihan-pilihan manusia yang dipengaruhi oleh materi ini.
Selain untuk beroleh ilmu, sekolah juga diproyeksikan untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya (di masa depan). Bahkan mungkin lebih banyak orang yang sekolah hanya berorientasi untuk uang (materi) ya, hehe. Itu wajar lah karena manusia memang butuh yang namanya uang. Dalam hal memilih pekerjaan pun sudah jelas bahwa penghasilan (materi) yang akan didapat, menjadi salah satu hal utama yang berpengaruh. Itu juga wajar-wajar saja selama ngga kebablasan.
Materi ini sangat bermanfaat jika dijadikan sebagai motivasi positif. Orang jadi giat bekerja dan berdaya upaya untuk meningkatkan produktivitas dirinya. Tak hanya bermanfaat buat dirinya, tapi juga lingkungan kerja dan masyarakatnya. Orang-orang pun jadi lebih memilih sekolah ketimbang menganggur di rumah yang buntut-buntutnya cuma bisa jadi "sampah masyarakat" alias merugikan orang lain. Pilihan positif ini pun akhirnya akan meningkatkan kualitas dan taraf hidup seseorang. Karena bagaimana pun juga, bagi orang-orang yang berkecimpung di sekolah atau dunia kerja, selain mendapat output berupa materi, pasti ada juga ilmu yang "kecantol" di dalamnya.
Tapi materi ini pun bisa berbahaya. Untuk orang-orang yang ngga siap dengan tuntutan hidup, akan mudah tergoda untuk melakukan tindak pelanggaran. Mencuri dan merampok pun akhirnya jadi pilihan mereka. Waspadalah!! Waspadalah!! Selain itu, Sudah bukan rahasia lagi bahwa ijazah instan bisa diperoleh di beberapa sekolah atau perguruan tinggi. Bukan rahasia juga kalau orang berbondong-bondong untuk korupsi hanya demi uang. Dan masih banyak lagi bukan rahasia-bukan rahasia lainnya, hehehe. Itulah bahayanya bila keinginan yang berlebihan akan materi hingga menimbulkan sikap tamak. Hmm, itu baru ngga wajar..
B. Prestise
Setiap orang menginginkan kebanggaan dalam dirinya. Kebanggaan ini tak hanya yang terkait materi saja, tapi terlebih-lebih yang bersifat pengaruh. Tahta, pangkat, jabatan, gelar, dan kecerdasan merupakan beberapa kebanggaan yang diidam-idamkan setiap orang. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan gengsi dan percaya diri seseorang di hadapan orang lain.
Namun akan menjadi mudarat bila gengsi itu telah menjadi berlebihan sampai-sampai menyebabkan kesombongan. Di mana orang yang berpangkat dan jabatan tinggi akan menganggap rendah orang lain yang berada di bawahnya. Tak jarang ini berujung pada sikap sewenang-wenang terhadap orang lain. Tak heran jika timbul perpecahan antara golongan atas dan golongan bawah. Dan dalam hal bernegara, ini sering mengakibatkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin-pemimpinnya.
Orang-orang yang cerdas dan punya gelar tinggi pun kerap bersikap angkuh kepada orang lain. Tentu ini dikarenakan tidak cukup bijaknya seseorang dalam mengelola gengsinya itu. Mereka kadang memandang sebelah mata orang lain dan kerap dengan sengaja menunjukkan kehebatannya untuk tujuan pamer. Bukankah lebih baik jika kecerdasan seseorang itu disertai sikap rendah hati :)
Tak melulu berefek negatif, prestise ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya semua bergantung kepada kebijaksanaan dari si empunya prestise itu. Dengan kebijaksanaan, seseorang bisa mengarahkan prestise yang dimilikinya ke arah yang jauh lebih baik. Seorang pejabat yang bijak, misalnya, akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan orang banyak. Dengan itu, seorang yang menjabat sebagai pemegang kendali pemerintahan dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.
Masih banyak lagi contoh manfaat positif lain dari prestise yang diarahkan dengan baik. Misalkan prestise dalam bentuk kecerdasan. Dengan kecerdasannya, orang yang bijak tak akan lekas sombong. Justru dia akan meningkatkan penghidupan orang banyak dengan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dengan menyumbangkan penemuan atau pemikirannya, tanpa diberi embel-embel keangkuhan :)
C. Cinta
Cinta adalah hal ketiga yang paling berpengaruh dalam hidup manusia. Manusia terlahir karena adanya cinta antara sang ayah dengan sang ibu. Manusia mencari nafkah karena cinta, yakni untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang dicintainya. Karena cinta, apa saja bisa dilakukan. Sejarah pun sudah membuktikan bahwa banyak kejadian maha-dahsyat yang terjadi hanya karena alasan cinta. Taj Mahal di India dibangun oleh Mumtaz Mahal, Kaisar Shah Jahan atas dasar cinta kepada mendiang istrinya.
Tapi cinta bisa berbuah kebencian. Tak jarang kita temui perkelahian karena cinta. Misalnya cinta segitiga. Berita kriminal di koran maupun televisi pun sering memuat tindakan amoral yang terjadi karena cinta. Pemerkosaan, serta pembunuhan karena cinta yang ditolak. Contoh-contoh peristiwa tersebut menggambarkan betapa besarnya pengaruh cinta dalam hidup manusia. Bisa positif, bisa juga negatif.
Cinta adalah gabungan kasih sayang dan nafsu birahi. Dalam kasih sayangnya cinta ada keinginan untuk berbagi dan saling memberi. Dalam hal itulah cinta mengambil peran yang baik dalam kehidupan manusia. Cinta berbagi tanpa syarat terhadap apa yang dicintainya. Tanpa harap menerima apapun, cinta bahkan memberi segalanya demi sesuatu yang dicintainya. Salah satu contoh nyata yang telah terjadi adalah bahwa Kaisar Shah Jahan telah membangun Taj Mahal yang sampai kini menjadi salah satu keajaiban dunia. Atas dasar cinta, Taj Mahal berdiri. Maka karena cinta pula keajaiban itu tercipta.
Cinta pun bisa membangkitkan semangat yang tiada taranya. Semangat kerja orang tua untuk mencukupi nafkah bagi keluarga tercinta. Semangat belajar anak-anak untuk membahagiakan orang tua yang dicintainya. Dan semangat juang seorang kekasih untuk mendapatkan cinta dari pasangannya. Dalam banyak hal kekuatan cinta yang penuh kasih sayang telah memberi efek positif.
Namun jika cinta yang ada lebih dikuasai nafsu birahi maka contoh terakhirlah yang terjadi. Nafsu untuk menguasai orang lain menyebabkan adanya harapan yang membumbung tinggi dan tak terkendali. Dan sekali saja harapan yang dipenuhi nafsu itu tidak terpenuhi, maka implikasi negatif lah yang terjadi. Kebencian. Ketika seseorang tak kuasa mengontrol nafsu berlebihannya, sudah pasti tindakannya tak dilandasi akal sehat. Pada akhirnya, terjadilah tindakan keji yang sebenarnya tidak diinginkan oleh kesadaran seseorang.
Satu hal yang bisa diambil adalah bahwa Trinitas Duniawi (Materi, Prestise, dan Cinta) itu penting karena memang tak bisa dipungkiri bahwa itu merupakan kebutuhan hidup manusia. Namun penting juga bagi kita untuk mengetahui pengaruh positif maupun negatifnya. Dalam aplikasinya, kita harus bisa mengembangkan segi positif, sekaligus menekan sisi negatifnya. Agar materi yang kita punya dapat bermanfaat, prestise yang kita miliki bisa berguna, dan cinta yang ada selalu teratur, berimbang, dan berbuah kebaikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar