Translate

Jumat, 09 Desember 2011

Trilogi Evolusi - Bagian I (Evolusi Teknologi)

Manusia adalah makhluk yang dibekali dengan akal pikiran. Tapi ada yang bilang, manusia hanya menggunakan 1% dari kapasitas otaknya. Entah data itu valid atau tidak, pointnya adalah, selama ini manusia hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan berpikir yang dimilikinya. Mengapa demikian, karena permasalahan yang dihadapi manusia belum mencapai tingkat kompleksitasnya. Maklum, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang "mau enaknya saja", enggan berpikir bila belum berhadapan langsung dengan masalah. Semakin tinggi kompleksitas masalahnya, semakin besar tingkat pemikiran alias penggunaan akalnya.

Coba kita flash back ke zaman dulu, saat masalah yang dihadapi manusia hanya berkutat pada urusan perut, manusia cuma bisa berburu saja. Kalau lapar, makan, kalau haus, minum. Tak ada masalah lain.  Maka pikirannya pun "manja" serta sederhana. Untuk makan, cara paling mudah yang terpikirkan adalah mencari makan. Berhubung yang ada hanya hewan dan tumbuhan yang hidup secara liar, maka berburulah mereka. Tak pernah terpikirkan untuk mengolah atau membudidayakannya.

Akan tetapi, ketika timbul masalah baru, yakni berburu, berlari-larian mengejar binatang sepanjang hari ternyata melelahkan juga, maka timbul pula upaya pemikiran baru. Dengan upaya berpikir itu, ada ide dan pemikiran untuk membudidayakan hewan, yang sekarang kita sebut dengan beternak. Melalui usaha peternakan itu, manusia tak perlu lagi lari-larian di hutan untuk mencari hewan buruan. Cukup dengan menangkap sepasang saja, kemudian mengembangbiakkannya. Itulah hasil dari sebuah pemikiran. Manusia hanya tinggal mencari dedaunan di hutan untuk makanan ternaknya saja.

Kendati tak lagi berburu, berlari-larian, tapi lama-kelamaan, keliling hutan untuk mencari pakan ternak pun dirasa cukup melelahkan. maklum lah, semakin maju peradabannya, fisik manusia jadi semakin manja. Masalah baru lagi. Masalah baru menuntut pemecahan baru. Maka selain beternak, terbersit pemikiran untuk membudidayakan tumbuhan, atau yang sekarang dikenal dengan bercocok tanam. Awalnya bercocok tanam hanya untuk makanan ternak, tapi setelah lama, manusia merasa masih "buang-buang tenaga" jika harus bercocok tanam hanya untuk ternaknya saja. Timbullah ide menyandingkan tanaman bagi ternak dengan tanaman untuk dikonsumsi sehari-hari oleh manusia itu sendiri. Sejak itu, pertanian pun berkembang, malah dengan berbagai variasinya. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Yang dulunya bertani di lahan terbatas, seiring waktu, kian meluas, karena memang sifat dasar manusia yang tak pernah puas. Namun dengan meluasnya lahan pertanian dan banyaknya tanaman yang diusahakan, timbul lagi masalah baru. Lahan yang dulunya sempit dan bisa digarap secara manual by hands, kini meluas hingga sangat melelahkan jika tetap diberlakukan cara-cara lama. Solusi baru mutlak perlu. Karenanya manusia kembali mendayagunakan pikirannya. Wal hasil, ditemukan teknik-teknik membuat perkakas guna mempermudah aktivitas manusia. Diawali dengan perkakas pertanian, kemudian semakin mahir hingga menciptakan peralatan-peralatan rumah tangga, bahkan alat-alat untuk hiburan sehari-hari. Itulah awal dari adanya teknologi, walau dalam taraf yang paling sederhana.


Dengan semakin luasnya bidang pekerjaan manusia, secara fisik, kemampuannya tak mampu lagi mengakomodir semuanya, dari beternak, bertani, hingga membuat perkakas sehari-hari. Lalu terpikirkan ide spesialisasi pekerjaan. Jadi, tak semua dilakukan oleh setiap orang, namun sebaliknya, satu bidang pekerjaan ditekuni oleh sekelompok orang saja. Maka ada sekelompok peternak, sekelompok petani, dan sebagainya. Dengan demikian, kondisi membuat kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, saling membutuhkan. Peternak butuh hasil pertanian untuk pakan ternaknya, petani butuh pembuat perkakas untuk memperlancar aktivitas pertanian, dan pembuat perkakas butuh peternak demi memperoleh makanan, demikian sebaliknya dan seterusnya.

Mau tak mau sistem tukar menukar alat dan kebutuhan sehari-hari bertumbuh pesat pada keadaan seperti itu. Inilah permulaan dari sistem barter yang kita kenal sekarang. Tetapi seiring berjalannya waktu, sistem barter jadi merepotkan, karena berat dan kadang besarnya barang-barang yang dibawa membuatnya tidak praktis. Timbul lagi ide untuk membuat alat tukar yang lebih simpel namun tetap berharga. Maka diupayakanlah perbuatan uang dari logam, berukuran kecil, mudah dibawa ke mana-mana, namun tetap berharga. Pada kondisi itulah, perdagangan dan pertambangan mulai dikenal.

Dengan pesatnya pertambangan, logam tak hanya dibuat untuk alat tukar (uang) saja. Seiring makin banyak kebutuhan hidup manusia, makin diperluas pula usaha memenuhinya. Hasil tambang pun diolah untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan manusia, tentunya dengan skala yang lebih besar. Mesin dibuat, pabrik dibangun, dan akhirnya berpuncak pada suatu peristiwa yang dinamakan Revolusi Industri.

Revolusi Industri sebuah titik tolak di mana berbagai penemuan kian membeludak di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski bernama Revolusi Industri, namun proses sebelumnya sesungguhnya tidak singkat. Revolusi Industri hanyalah sebuah ujung persinggahan sementara dari proses yang saya namakan Evolusi Teknologi, yang begitu panjang, jutaan tahun. Yang karenanya, sekarang kita bisa menikmati penciptaan di dunia teknologi yang bermanfaat. Teknologi yang kian berkembang seiring berkembangnya pemikiran manusia. Di mana pemikiran itu pun berkembang beriringan dengan meningkatnya permasalahan yang dihadapi.

Entah sampai kapan penggunaan pikiran manusia itu bisa benar-benar dimaksimalkan. Tak terbayangkan betapa luar biasanya wajah masa depan kala penggunaan otak manusia sudah benar-benar maksimal seperti itu, hehe. Tapi paling tidak, untuk saat ini saja, berkat proses Evolusi Teknologi itu, hidup kita jadi sedemikian mudahnya. Kita bisa ke mana saja dalam waktu singkat karena ada pesawat terbang. Kita bisa bertatap muka dengan siapa saja di muka bumi ini, sebab adanya satelit. Akhirnya yang terpenting, karena ada teknologi internet, saya bisa mempublikasikan tulisan ini kepada pembaca semua, hehe..

Semoga bermanfaat :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar