Translate

Jumat, 09 Januari 2015

Manusia

Konon alam ini terdiri dari empat elemen, yaitu tanah, air, angin, dan api. Bumi, batu, debu, pasir, itu wujud tanah. Udara, asap, langit masuk dalam elemen angin. Hujan, salju, darah, mewakili air. Dan cahaya itu representasi api. Begitu juga manusia. Disebutkan bahwa tanah itu adalah unsur ragawi manusia. Air adalah darah. Angin adalah rongga tubuh manusia. Api adalah jiwa manusia.

Tidak hanya berkaitan dengan ihwal fisik, keempat elemen yang mewakili alam semesta itu juga punya arti secara filosofis. Bahwa dalam hidup ini, sebagai manusia, kita dibekali dengan empat hal. Empat hal yang bisa kita pergunakan untuk menjalani hidup agar lebih baik. Modal yang dapat membuat kita selamat apabila kita mampu memanfaatkannya dengan tepat. Keempat hal itu pun merupakan ejawantah dari unsur tanah, air, angin, serta api.


Kita tahu bahwa tanah adalah tempat berpijak, tempat berdiri, bersifat menopang. Demikian juga kita seharusnya. Yaitu mampu berpijak dengan kuat atau berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri yang disbut dengan mandiri, dan untung-untung bila kita mampu menopang orang lain selain diri kita sendiri. Di sana ada tanggung jawab dan karakter seorang pemimpin. Ada ketegasan, karakter yang kukuh pendirian layaknya batu yang merupakan unsur pembentuk tanah.

Di samping tipekal yang "keras" dari tanah, ada pula tipekal "lembut"nya yang mengajarkan kita untuk rendah hati dan tidak sombong.  Sebab paradoksnya, selain sebagai tempat berpijak, tanah sekaligus merupakan bagian yang diinjak-injak, rendah, dan kotor. Tanah pun lambat laun menjadi debu, yang notabene kecil dan mudah terombang-ambing diterbangkan angin. Oleh sebab itu, kita pun semestinya punya karakter rendah hati dan tidak sombong.

Air mengajarkan kita kesabaran. Kesabaran tanpa batas. Sebenarnya dalam tiap diri manusia ada bibit "air", bibit kesabaran tersebut. Hanya saja ada yang mampu menggalinya lebih dalam, ada yang hanya sekadar di permukaan. Air menetes satu demi satu, mengalir lembut, bergerak perlahan, namun lambat laun mampu mengikis, membolongkan, bahkan melebur batuan yang keras sekalipun. Itu adalah buah dari kesabaran.

Tidak cuma mampu bersabar tanpa upaya, air adalah karakter yang berupaya tanpa henti, berusaha tanpa akhir, bekerja maksimal. Bayangkan saja air yang menetes satu per satu bisa menjadi berjuta-juta tetesan. Dalam bentuk hujan lebat yang menenggelamkan segalanya. Air yang mengalir perlahan kadang berubah jadi arus deras yang mampu menghempas apapun yang menghalangi alirannya. Pergerakan air yang tenang justru mampu menghanyutkan, menyeret semua yang ada di alirannya.

Manusia juga secara filosofis punya sifat-sifat angin. Angin yang berhembus sedang, menghasilkan udara sejuk. Begitu pun manusia, selayaknya mengedepankan sifat-sifat kesejukan. Berkata baik sehingga menimbulkan kesejukan untuk sesama. Angin yang bertiup pelan, menciptakan kenyamanan. Begitu pun manusia, semestinya berlaku baik sehingga membuat nyaman sekelilingnya.

Dalam sejuknya, dalam keramahannya, angin menyimpan kekuatan yang besar, energi yang dahsyat. Angin mampu menumbangkan pohon-pohon besar nan kokoh. Angin sanggup meluluhlantakkan berbagai bangunan, hingga bangunan pencakar langit sekalipun. Hal tersebut bisa kita petik pengertian bahwa manusia hendaknya memiliki kekuatan sebesar-besarnya seperti angin. Memiliki energi positif yang dahsyat, namun tidak jumawa, tidak angkuh, melainkan justru melindungi siapapun yang ada di sekitar dengan ramah dan sikap yang menyejukkan.

Yang terakhir adalah unsur api. Api memiliki tiga prilaku, yakni panas, membakar, dan menerangi sebagai cahaya. Dalam diri manusia, unsur api itu adalah jiwa yang berkobar-kobar, jiwa yang menyulut semangat. Tentunya semangat untuk maju, semangat yang membakar, penuh perjuangan. Itulah api, yang punya karakteristik progresif, bersemangat, dan membakar.

Selain menyulut panas dan membakar, api punya karakteristik lain, yaitu menerangi. Dalam bentuk kerlap lilin-lilin yang tulus memberi secercah cahaya di kegelapan malam, api menunjukkan sifatnya yang lain. Hal tersebut dapat kita adaptasi dalam kehidupan kita. Cahaya tersebut adalah lambang pencerahan. Titik-titik terang yang kita peroleh dari kesadaran diri yang utuh. Adapun kesadaran penuh itu merupakan buah dari introspeksi, mengkoreksi diri sendiri, perenungan, kontemplasi. Itu semua kita dapatkan dari lilin-lilin kecil yang apinya memberi cahaya.

Hikmah dari semuanya adalah bahwa kita sebagai manusia dianugerahi kelebihan yang luar biasa oleh Tuhan. Itu akan menjadi mahadahsyat bila kita mampu mengembangkannya. Kita adalah pemimpin, pemimpin diri sendiri maupun pemimpin masyarakat. Kita adalah makhluk pekerja keras, yang terlahir dan ditakdirkan untuk berjuang. Kita punya potensi besar, energi yang mempuni, berupa kecerdasan, kemampuan, serta kreativitas. Dan kita pun punya semangat juang untuk menghimpun semua anugerah yang diberi oleh Tuhan tersebut.

Tapi satu yang tidak boleh kita lupa, bahwa kita hidup di dunia ini mengemban tugas mulia, yaitu menebar kebaikan. Potensi dan kelebihan yang kita punya jangan sampai membuat kita lupa sehingga malah mengedepankan ego sebagai penghancur peradaban. Sebaliknya, kita harus rendah hati meski diberi keistimewaan. Kita harus bersabar dalam melaksanakan kebaikan yang telah kita pilih sebagai jalan kehidupan. Kita harus mampu membawa kebaikan itu untuk sesama, dalam bentuk kesejukan dan perdamaian. Serta kita harus tetap introspeksi diri, terus memperbaiki diri dalam proses menjalani tugas mulia tersebut. Sebab betapapun hebatnya kita, bagaimanapun baiknya niat kita, kita takkan pernah terlepas dari kesalahan sebagai manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar