Translate

Senin, 02 Maret 2015

Hidup untuk Senang-senang

Kita lahir di atas dunia yang sudah miliaran tahun ada. Ngga seberapa lama kita bakal pergi meninggalkan dunia. Orang-orang menyebutnya, "mati". Sementara kehidupan dunia ini terus berlanjut, jutaan, mungkin miliaran tahun lagi setelah kita ngga ada. Apa guna kita di dunia ini, yang cuma hidup sesingkat suara burung "kecepreeett" kalo dibandingkan dengan umur dunia? Susah senang bergiliran menghampiri kita, kayak piala dunia yang diraih bergiliran oleh negara Eropa dan Amerika. Lantas ada yang bertanya lagi, apa gunanya kita hidup kalo sekadar dijadikan "piala bergilir"? Banyak yang jadi putus asa lantaran merasa hidupnya susah terus. Terus mereka terus terusan bertanya, apa gunanya kita hidup kalo terus susah? Lebih baik mati saja.

Mereka putus asa, padahal susah dan senang datang pasti giliran kok. Setelah susah pasti ada senang. Setelah senang tentu ada susah. Begitu seterusnya. Susah, senang, susah, senang, susah, senang. Hanya saja, orang-orang putus asa tersebut terlalu menghayati ketika mereka sedang susah. Sementara ketika senang, waktu terasa bergulir lebih cepat. Itu yang disebut Einstein dengan hukum relativitas waktu. Ngga heran kalo banyak yang merasa hidup mereka lebih banyak susahnya. Sebenarnya itu cuma masalah cara pandang dan pola pikir seseorang dalam merespon susah senang dalam hidupnya.

Ketika susah, cobalah untuk bersabar dan bersyukur. Tapi bukan sabar dalam meratapi kegagalan atau kesusahan itu lho. Ya bakal susah terus. Maksudnya sabar dalam berjuang memperbaiki kegagalan yang bikin susah itu. Itu baru layak dikatakan kesabaran yang tiada batasnya. Sebab kalo berbatas, itu bukan sabar namanya, melainkan maksa untuk sabar. Wal hasil, nyesek sendiri pastinya. Kalo sabar yang sebenarnya, ya bakal terus berjuang tanpa batasan.

Setelah berusaha dengan sabar, berjuang maksimal, ngga akan menjadi beban. Sebab setelah upaya sampe maksimal, hasilnya tentu sebanding. Nah, di situlah diperlukan sifat syukur. Bagaimanapun hasil yang kita dapat patut kita syukuri karena pasti sesuai dengan upaya yang kita lakukan. Kalo istilah bulenya, "what you've given, you get back". Itulah pentingnya sabar dan syukur dalam menghadapi kesusahan hidup. Setelah sabar, tentu tumbuh sifat syukur. Kemudian seiring terbiasa, akan lahir rasa ikhlas dalam diri untuk menghadapi apapun yang terjadi. Waduh, ngomong-ngomong saya udah lagak kayak motivator aja, hehehe..

Oya, satu hal yang juga perlu, ketika kita sedang susah, jangan lupa siapkan catatan kecil. Tulis nama (segelintir) orang yang ada bersama kita. Itu penting sebab saat kita senang nanti, orang-orang tersebut adalah yang pertama akan kita panggil untuk berbagi kebahagiaan. Mengingat setelah ada susah pasti ada senang. Nah, ketika masa-masa senang itu tiba, nikmatilah, tapi jangan terlalu euforia sampai lupa waktu. Agar kita tidak terjerumus dalam teori Mbah Einstein yang bisa membuat kita merasa rasa bahagia itu cuma melintas sekejap seperti suara burung "kecepreeett". Buntut-buntutnya, kita lagi-lagi menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, menyalahkan hidup, pengen mati aja. Karena yang dirasa hanya susahnya saja, yang diingat cuma derita semata. Hmm, merasa jadi pujangga deehh, wkwkwk..


Kita kembali ke perihal hidup kita yang hanya sejenak di atas dunia, yang jika dibandingkan dengan umur dunia, usia hidup kita kira-kira sesingkat suara apa???? "Kecepreeett". Yak, pinter anak-anak, heuheuheu. Hidup yang singkat itu membuat banyak manusia bertanya, apa guna kita di dunia ini? Seperti saya kemukakan di awal, pertanyaan tersebut merupakan keputusasaan. Adapun untuk menghindari hal tersebut, para filosof membuat mahakarya yang "menyelamatkan" kita dari sindrom putus asa. Bahwa kita hidup di dunia ini bukan tanpa alasan, apalagi tanpa guna. Itu kata filosof. Dilanjutkan bahwa kita hidup di dunia ini diciptakan langsung oleh Tuhan. Bukan main dan bukan sekadar diciptakan begitu saja oleh Tuhan, tapi juga diciptakan untuk mewarisi dunia beserta isinya, mengelolanya, dan menjaganya.

Benar atau salah pendapat filosof itu, setidaknya itu telah membuat jutaan orang yang putus asa, jadi punya harapan hidup, punya gairah untuk berupaya baik, dan punya semangat untuk berbuat baik. Kita menciptakan Tuhan atau Tuhan yang menciptakan kita, yang penting dalam hidup ini, kita sebagai manusia, terus menebar kebajikan untuk sesama dan seisi alam ini. Toh kebaikan itu juga berguna untuk diri kita sendiri. Bukankah "what you've given, you get back"? Itu kata bule.

Secara universal, kebajikan itu membahagiakan sesama, menebar kebahagiaan untuk seluruh alam, dan pada akhirnya itu akan membuat kita bahagia ketika itu semua dilakukan dengan sabar dan syukur yang berbuah keikhlasan dalam berbuat. Puncak dari semua itu, kita akan senang membuat orang lain senang, kita senang berbagi kesenangan dan berbuat untuk alam sekitar kita. Dengan ada atau tidak adanya Tuhan yang menciptakan kita, kita akan gemar berbuat kebaikan. Dengan ada atau tidak adanya iming-iming imbalan atau bahasa bulenya, "what you've given, you get back", kita tetap senang menjalani hidup yang sesingkat suara burung "kecepreeett" ini.

Akhirnya, hidup kita pun selalu penuh dengan kesenangan, diisi dengan senang dan senang, bersenang-senang. So, berarti hidup ini sejatinya diciptakan untuk senang-senang. Senang membuat orang lain senang, orang lain senang membuat kita senang. Selamat bersenang-senang (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar