Translate

Sabtu, 14 Maret 2015

Salah Kaprah II

Kita diajarkan bahwa asal kehidupan yaitu dari kehidupan sebelumnya. Anak berasal dari ayah dan ibu. Ayah dan ibu berasal dari kakek dan nenek. Begitu seterusnya. Hewan dan tumbuhan berasal dari hewan dan tumbuhan sebelumnya. Teori tersebut disimpulkan menjadi omne vivum ex vivo, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Memang benar bila kita pahami secara umum. Sebab manusia tidak mungkin melahirkan kucing, kucing tidak mungkin beranak ular, dan ular tidak mungkin bertelurkan batu, atau batu tidak mungkin bereproduksi menjadi buaya. Jadi, untuk tataran keadaan normal, teori biogenesis yang ditemukan oleh Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur itu benar sekali.

Akan tetapi, saat kita tarik pemikiran yang jauh lebih global, kita akan menemukan permasalahan mendasar dari teori biogenesis. Masalahnya adalah, jika makhluk hidup pasti berasal dari makhluk hidup, maka dari manakah asal muasal makhluk hidup yang pertama? Apapun bentuk dari makhluk hidup yang pertama itu, tentu ia pun memiliki asal usul. Nah, dari manakah ia berasal? Harold Urey, seorang ilmuan penemu evolusi kimia menyatakan bahwa pada periode tertentu, atmosfer bumi mengandung molekul metana (CH4), amonia (NH4), air (H2O), dan karbon dioksida (CO2). Karena pengaruh dari energi petir dan sinar kosmis, zat-zat tadi bereaksi. Hasil reaksi tersebut menghasilkan suatu zat hidup yang diduga virus. Zat hidup tersebut berkembang selama jutaan tahun membentuk makhluk hidup. Evolusi kimia itu kemudian berlanjut dengan evolusi biologi, di mana makhluk hidup perintis tersebut lambat laun berevolusi menjadi beragam makhluk hidup hingga saat ini.

Maka walau benar bahwa kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya, tapi mestinya kita tidak lantas menutup mata bahwa kehidupan awalnya berasal dari benda mati, yakni dari molekul-molekul kimia yang bereaksi. Dan meski benar bahwa dalam tataran normal, makhluk hidup berasal dari makhluk hidup, itu bukan berarti menutup keterbukaan pikiran kita terhadap teori mengenai hakikat awal kehidupan yang berasal dari benda mati. Jadi, seyogyanya ditekankan bahwa omne vivum generaliter (umumnya) ex vivo, bukannya omne vivum ex vivo.


Kita diajarkan bahwa matematika adalah ilmu pasti. Bahwa 1 meter di Antartika pasti sama dengan 1 meter di Australia. Bahwa 1 kilo gram di Eropa sama dengan 1 kilo gram di Asia. Bahwa 1 detik di Amerika sama dengan 1 detik di Afrika. Padahal sebenarnya 1 meter standar adalah 1.650.763,73 kali panjang gelombang radiasi oranye merah dalam vakum yang dipancarkan oleh isotop Krypton Kr86 dalam peristiwa lucutan listrik yang secara spektroskopi dinyatakan dengan 2p10-5d5. Juga 1 meter standar adalah Jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa dalam waktu 1 per 299.792.458 detik. Adapun 1 kilo gram standar adalah massa yang dimiliki 1 liter air murni pada suhu 4 derajat celcius. Juga 1 kilo gram standar adalah massa sebuah silinder platina-iridium yang disimpan di International Bureau of Weights and Measures di Sevres, dekat Paris, Perancis. Dan 1 sekon standar adalah 1 per 86.400 hari rata-rata gerak semu matahari mengelilingi bumi. Juga 1 sekon standar adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan vibrasi sebanyak 9.192.631.770 kali dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.

Maka memang benar bahwa 1 meter di Antartika sama dengan 1 meter di Australia. Bahwa 1 kilo gram di Eropa sama dengan 1 kilo gram di Asia. Bahwa 1 detik di Amerika sama dengan 1 detik di Afrika. Akan tetapi kesamaan-kesamaan yang sekarang ini terlanjur kita percaya sebagai kepastian itu adalah hasil dari kesepakatan. Kesepakatan itulah yang membentuk standar-standar yang sama dalam ilmu matematika, sehingga saat ini matematika disebut dengan ilmu pasti. Padahal ilmu matematika dibuat berdasarkan kesepakatan. Jadi, seharusnya matematika kita sebut sebagai ilmu kesepakatan, bukan serta merta ilmu pasti.

Banyak lagi hal-hal dalam matematika yang dibentuk berdasar kesepakatan, seperti aljabar, limit, geometri, dan lain sebagainya. Jika tidak dapat dikatakan bahwa semua hal dalam matematika adalah kesepakatan, karena saya pribadi bukan ahli matematika yang pernah membedah semua rumusan matematika, paling tidak bisa dikatakan bahwa sebagian besar basis yang membentuk ilmu matematika disusun berdasarkan kesepakatan, bukan kepastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar