Sejak dahulu kala umat manusia secara alamiah sebenarnya sudah menemukan tatanan sosial yang tepat dengan nalurinya. Setiap manusia memang terlahir dengan membawa sikap dasar yang sama dalam dirinya masing-masing. Manusia ingin bebas, bebas menyalurkan keinginan-keinginanya. bebas berbicara, bebas berkreasi, dan bebas melakukan apa saja. Maka sistem-sistem sosial yang diterapkan dalam komunitasnya pun dirancang untuk mengakomodir sifat-sifat itu. Sistem tersebut berkembang dari masa ke masa, semakin maju dan beradab seiring perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Namun tetap, tujuannya satu yaitu untuk mengakomodir kebutuhan manusia akan kebebasannya.
Pada awal peradabannya, manusia menerapkan sistem rimba antarsesama manusia. Yang kuat memangsa yang lemah secara fisik. Kanibalisme adalah cara yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perut sehari-hari. Namun karena adanya kesadaran diri dalam proses perkembangan emosional manusia, sistem kanibal pun digantikan dengan berburu untuk memenuhi kebutuhan akan pangan. Tetap dengan hanya mengandalkan fisik dan naluri, pada saat itu manusia memangsa segalanya. Berburu dilakukan terhadap hewan apa saja dengan cara apa saja.
Seiring pengetahuan yang bertambah, manusia pun mengerti akan cara bercocok tanam. Sistem berburu dan memangsa apa saja sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Manusia pada masa itu makan dari hasil usaha cocok tanamnya. Pada saat itu, peradaban manusia semakin halus dan tidak hanya mengandalkan fisik. Dengan kata lain, pengetahuan manusia sudah mengalihkan naluri kebebasan manusia ke arah yang lebih beradab. Demikianlah yang terus terjadi hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan membawa manusia ke arah kehidupan yang lebih beradab. Peran fisik semakin berkurang, kecuali dalam bidang-bidang tertentu.
Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan akan materi saja yang berkembang dalam sistem sosial manusia. Dalam tatanan organisasi pun mengalami perkembangan. Selama hampir seribu tahun umat manusia mengalami masa-masa penaklukan dalam sistem organisasi politiknya. Kebebasan masih demikian tak ada batasnya, hingga segalanya diselesaikan dengan perang. Untuk perluasan wilayah kekuasaan maupun untuk memenuhi kebutuhan akan materi. Manusia memadukan antara keberanian dan kemampuan militernya untuk menguasai zamannya.
Di abad-abad pertengahan atau zaman akal budi, berbagai monarki/kerajaan bermunculan di seluruh dunia. Di mana kekuasaan dijalankan secara turun temurun. Kebebasan sudah lebih dibatasi namun hanya pada tataran rakyat. Masa tersebut setahap lebih maju dibanding zaman penaklukan. Karena ketika itu banyak kemajuan dalam seni dan budaya yang berperan penting dalam memperhalus karakter manusia.
Kemudian berlanjut ke masa revolusi. Zaman penjajahan dan pendudukan menyebabkan manusia cenderung untuk memberontak. Maka revolusi pun bermunculan di wilayah-wilayah negara yang terjajah. Keadaan yang memaksa untuk meraih kemerdekaan dengan cara yang keras itu menyebabkan para pemimpin di masa itu bersikap otoriter untuk mempertahankan kekuasaannya. Di sini dapat kita lihat bahwa naluri kebebasan manusia belum diatur dengan baik. Pemimpim yang otoriter bebas melakukan apa saja, sementara kebebasan rakyat dibungkam.
Seiring perkembangan pengetahuan akan HAM, muncul lagi tatanan baru dalam dunia politik manusia. Aktivis kemanusiaan dan para diplomat bermunculan di mana-mana. Negara-negara pun telah mengadopsi sistem demokrasi. Sistem yang mengatur kebebasan umat manusia secara lebih baik. Di mana hak dasar setiap manusia tetap terjaga tanpa melanggar hak manusia yang lainnya. Akan tetapi, walaupun telah mencapai sistem sosial politik yang paling sesuai untuk keadaan saat ini, yakni sistem demokrasi, tetap masih ada permasalahan yang timbul, khususnya pada masa-masa transisi. Kekerasan antarmasyarakat berkecamuk. Selain itu demonstrasi anarkis pun terjadi di mana-mana, khususnya di negara berkembang yang mungkin belum siap menerima perubahan sistem ini.
Mungkin demokrasi dengan segala instrumennya saja tidak cukup. Demokrasi sudah baik dari segi penjaminan kebebasan masyarakat. Namun instrumen hukum yang melengkapinya tak bisa selalu diandalkan untuk menjamin ketertiban. Karena hukum hanya berupa penindakan atas kekacauan yang telah terjadi. kekacauan yang terlanjur ada akibat dari kesalahpahaman seseorang tentang kebebasan. Sementara untuk perdamaian, yang lebih mendasar diperlukan langkah preventif agar anarkisme dan kekerasan tidak terpicu lagi.
Maka selain istilah "demokrasi", tatanan kemasyarakatan perlu ditambah dengan istilah "cinta". Tak hanya sebatas istilah, namun "demokrasi cinta" ini, selain mampu menjamin terpenuhinya naluri alamiah manusia akan kebebasan, juga menawarkan solusi pencegahan dari paham radikal pemicu kekerasan dan anarki di masyarakat. Tentunya dengan pendekatan cinta kasih. Adapun pendidikan yang baik serta propaganda damai secara global itu penting untuk mencapainya. Melalui bangku sekolah, pesan-pesan dalam karya seni, dialog lintas paham dan agama, dan lain sebagainya. Itu mesti dikembangkan untuk menumbuhkan rasa cinta itu sendiri. Dengan cinta, perdamaian dan demokrasi yang sehat akan mudah terwujud.
Lalu hal-hal apa yang bisa kita perbuat untuk mewujudkan cinta itu dalam lingkungan sekitar kita, yang mudah dilakukan siapa saja?
Dalam lingkup terbatas, mungkin di keluarga dan pergaulan sosial kita, upaya sederhananya bisa kita mulai dengan melatih diri untuk berinteraksi dengan perbedaan. Bergaul secara baik dengan teman-teman yang berbeda paham, berbeda suku, agama, dan status itu penting. Karena dengan berinteraksi dengan perbedaan, selain menambah wawasan, kita juga akan saling memahami dan akhirnya akan menumbuhkan rasa cinta perbedaan.
Hal-hal tersebut memang perlu dibiasakan dan ditumbuhkan sejak dini. Anak-anak harus diperkenalkan dengan toleransi dan saling menghargai. Juga harus diperkenankan untuk bermain dengan teman-teman yang berbada. Dan itu bisa dengan mudah kita mulai dari keluarga kita atau lingkungan sekitar kita. Dengan itu diharapkan semua bermuara pada sistem demokrasi yang berjalan dengan baik di kemudian hari, dan perdamaian akan tumbuh seiring berkembangnya cinta kasih di antara sesama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar