Translate

Jumat, 29 April 2011

Ketuhanan yang Maha-Esa

Ketuhanan yang Maha-Esa merupakan sisi spiritual dari filsafat Pancasila, yang menjadi dasar negara Indonesia. Ini umum dimaknai sebagai keyakinan akan Tuhan yang Tunggal atau satu Tuhan (Monotheisme). Butir pertama dalam Pancasila ini tentunya bukan sekadar paham yang diperoleh begitu saja. Semua agama besar di dunia, lebih khusus lagi di Indonesia meyakini bahwa hanya ada satu Zat atau Hal yang menjadi awal atau sumber dari alam semesta. Itulah yang disebut dengan Tuhan. Maka sudah merupakan sebuah kewajaran jika filsafat bangsa Indonesia, yang notabene heterogen (dalam hal ini dari segi agama) mengangkat suatu format paham spiritual yang sudah diyakini bersama, untuk dijadikan salah satu dasar negara.

Seperti yang kita ketahui bersama, Ketuhanan yang Maha-Esa diambil dari khasanah spiritual bangsa Indonesia. Ideologi ini mengakomodir semua keyakinan dan agama yang ada di Indonesia dengan menarik persamaan di antara kesemuanya. Dengan demikian sila yang dilambangkan dengan "bintang berwarna kuning emas" ini telah menjadi benang merah dari segala paham keagamaan di negeri ini. Tak hanya sampai di situ, sila tentang ketuhanan ini pun bisa menjawab tantangan perkembangan zaman. Atas dasar penafsiran filsafatnya yang tidak kaku, ideologi Ketuhanan yang Maha-Esa memungkinkan semua agama boleh hidup dengan aman, damai, dan bebas di negeri ini ke depannya.




Kendati demikian, masih ada saja golongan yang menganggap dasar negara ini tidak dilandaskan atas nilai-nilai agama. Padahal dalam kitab-kitab suci semua agama besar, apalagi yang tumbuh di Indonesia sudah jelas mendukung eksistensi dasar negara ini. Maka untuk menambah rasa nasionalisme dan membuka pikiran kita untuk melihat dasar negara secara lebih objektif, di bawah ini saya kutipkan ayat-ayat dari kitab suci, konsep, dan beberapa catatan berbagai agama besar di Indonesia dan di dunia yang justru memperkuat alasan mengapa dasar negara yang berazaskan Ketuhanan yang Maha-Esa ini harus dipertahankan demi kepentingan bersama.


A. Islam

Dikutip dari terjemahan ayat-ayat dalam Al-Quran:

"Katakanlah, Dialah Allah yang Maha-Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."
[Al-Ikhlas 112: 1-4]

"Tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku."
[Al-Anbiya 21: 35]

"Katakanlah bahwa saya diperintahkan, hendaklah saya menyembah pada Allah dan saya tidak menyekutukan-Nya. Saya mengajak kepada-Nya dan kepada-Nya tempat kembali. Katakanlah bahwasanya diwahyukan kepadaku, sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, maka apakah kamu taslim (pada hak)?
[Ar-Rad 13: 36]

"Apakah ada Tuhan (yang benar) selain Allah? Maha-Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Apakah ada Tuhan (yang benar) selain Allah? Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.'"
[An-Naml 27: 63-64]

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui."
[Al-Baqarah 2: 22]


B. Kristen

Dikutip dari terjemahan ayat-ayat Alkitab Perjanjian Baru:

"Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama adalah, 'Dengarlah, hai Israel, adapun Allah Tuhan kita, adalah Tuhan yang esa."
[Markus 12: 29]

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."
[Yohanes 17: 3]

"Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus."
[1 Timotius 2: 5]

"Ada seorang datang kepada Yesus dan berkata: 'Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?' Jawab Yesus: 'Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaku tentang apa yang baik. Hanya satu yang baik, itulah Tuhan.'"
[Matius 19: 16-17]

"Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu. Dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti."
[Matius 4: 10]


C. Hindu

Dikutip dari terjemahan ayat-ayat (mantra-mantra) dalam Veda:

"Mereka menyebut-Nya dengan Indra, Mitra, Varuna, dan Agni. Beliau yang bersayap keemasan Garutman. Beliau esa, orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama: Indra, Yama, Marisvan."
[Rg. Veda I. 64. 46]

"Bapak kami, Pencipta kami, Penguasa kami, Yang mengetahui semua tempat, segala yang ada. Dialah satu-satunya, memakai nama dewa yang berbeda-beda. Dialah yang dicari oleh semua makhluk dengan renungan."
[Rg. Veda X. 82-3: Yajur dan Atharvaved II. 1. 3]

"Tuhan yang Maha-Esa, Engkau adalah guru agung, penuh kebijaksanaan, menganugerahkan karunia kepada mereka yang bersinar cemerlang. Semoga para pencari pengetahuan spiritual mengetahui rahasia 33 dewa."
[Rg. Veda]

"Tuhan adalah satu."
[Chandogya Upanishad, pasal 6 bagian 2 ayat 1]

"Dia yang tidak memiliki ibu bapak dan tidak memiliki tuan. Tidak ada yang serupa dengan-Nya."
[Sweta Sutara Upanishad, pasal 6 ayat 9 dan pasal 4 ayat 19]


D. Buddha

Dikutip dari terjemahan sabda Sang Buddha dan catatan agama Buddha lainnya:
 
"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang tidak dilahirkan, Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang tidak dilahirkan, Yang tidak menjelma, Yang tidak diciptakan, Yang mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang tidak dilahirkan, Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tuhan adalah suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan yang mutlak."
[Sutta Pitaka, Udana VIII : 3]

"Yang Tunggal tidak lain dari semuanya, dan semuanya tidak lain dari Yang Tunggal. Peganglah ini dan yang lainnya akan ikut dengan sendirinya."
[Syair "Kepercayaan dalam Hati" yang ditulis oleh Seng Tsan]


E. Konghucu

Konsep Ketuhanan menurut Konghucu yang telah diterjemahkan:
1. Sepenuh Iman kepada Tuhan yang Maha-Esa
2. Sepenuh Iman Menjunjung Kebajikan
3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang
4. Sepenuh Iman Percaya Adanya Nyawa dan Roh
5. Sepenuh Iman Memupuk Cita Berbakti


Selain kelima agama besar yang ada di Indonesia itu, agama-agama besar dunia lainnya pun meyakini akan Ketuhanan yang Mahaesa. Berikut dituliskan beberapa di antaranya, beserta ayat dan sumber yang mendukungnya:


F.  Sikh

Dikutip dari terjemahan Kitab Sri Guru Granth Shahib vol. 1 pasal 1 ayat 1 yang disebut Japoji mul Mantra:
"Hanya ada satu Tuhan yang eksis. Tuhan yang tidak tampak wujud-Nya atau Ek Omkara."


G. Bahai

Dikutip dari terjemahan sabda Bahaullah, pendiri agama Bahai:

"Tiada keraguan apapun bahwa semua manusia di dunia, dari bangsa dan agama apapun, memperoleh ilmu mereka dari satu Sumber Surgawi, dan merupakan hamba dari satu Tuhan."

"Katakanlah wahai engkau para kekasih Tuhan yang Maha-Esa! Berupayalah agar engkau sungguh-sungguh mengenal dan mengetahui Dia dan menjalankan perintah-perintah-Nya dengan benar."

"Tujuan Tuhan yang Maha-Esa - diluhurkanlah kemuliaan-Nya - dalam menyatakan diri-Nya kepada manusia adalah untuk memunculkan permata-permata yang tersembunyi dalam tambang diri sejati dan inti manusia. Pada hari ini hakikat keyakinan dan agama Tuhan adalah agar bermacam-macam umat beragama di bumi dan berbagai sistem kepercayaan keagamaan tidak dibiarkan memupuk rasa permusuhan di antara umat manusia. Azas-azas dan hukum-hukum semua agama, sistem-sistem-Nya yang teguh dan agung, berasal dari satu Sumber dan merupakan sinar-sinar dari satu Cahaya."


H. Tao

Dikutip dari terjemahan Kitab Tao Te Ching bab XXV:
"Ada satu kehidupan, mengagumkan, sempurna. Ia ada sebelum langit dan bumi ada. Alangkah tenangnya! Alangkah rohaninya! Ia mandiri dan tidak berubah. Ia berputar terus menerus, tetapi tidak menderita karenanya. Semua kehidupan bersumber dari diri-Nya. Ia menyelimuti segalanya dengan cinta-Nya ibarat jubah."


I. Yahudi

Dikutip dari terjemahan ayat-ayat Kitab Perjanjian Lama:

"Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Jangan buat patung yang menyerupai apa pun yg ada di langit dan di bumi dan di dalam air. Jangan menyembah pada patung-patung itu karena Aku adalah Tuhan yang cemburu."
[Keluaran 20: 1-5]

"Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa!"
[Ulangan 6: 4]

"Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh."
[Maleakhi 2: 15]

"Supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan, dan tidak ada juru selamat selain Aku."
[Yesaya 43: 10-11]

"Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain Aku."
[Yesaya 44: 6]


J. Majusi

Dikutip dari terjemahan Kitab Awesta, Buku Kitab Yasna pasal 31 ayat 7-11:
"Tuhan adalah Sang Pecipta Maha-Besar, tidak memiliki anak dan orang tua."


Semoga beberapa kutipan ayat di atas bisa membuka pandangan kita untuk berpikir lebih jernih bahwa Ketuhanan yang Maha-Esa adalah azas kita bersama. Azas agama kita, yang juga azas negara kita. Tak ada alasan yang tepat buat siapa pun untuk menggantinya, apalagi hanya dengan alasan 'tidak sesuai dengan nilai agama'. Bukankah sudah jelas bahwa agama pun berdasarkan pada prinsip yang sama, Ketuhanan yang Maha-Esa.

Note:
Tulisan ini saya buat akibat maraknya penolakan terhadap dasar negara oleh beberapa golongan. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar