Postingan ini khusus buat anak-anak gaul. Jadi harap maklum sebelumnya, buat kalian yang ngerasa ngga gaul, hentikan membaca postingan ini, hehe..
Buat anak-anak gaul di mana pun anda berada, yang sering gaul di meja bareng kertas-kertas yang bejubel and kadang keliatan ngga karu-karuan, saya pengen curhat dikit nih ke kalian semua. Seperti biasa, buat anak-anak kuliahan, akhir-akhir semester itu adalah masa-masa suram. Dihadapkan dengan persiapan ujian yang ruwet sangat dan ditambah pula dengan deadline tugas-tugas yang serba dahsyat. Owh berat banget rasanya.
Nah, efek samping dari aktivitas yang full itu, selain kelelahan dan kejenuhan adalah tumpukan kertas bekas pekerjaan dan kertas-kertas arsip yang bergabung menjadi satu, berantakan di atas meja. Malah sampe-sampe berceceran di lantai dan memenuhi seluruh ruang kerja/kamar hingga ke sudut-sudutnya. Hehe, maaf ya, agak lebay, maklum lah, namanya juga curhat :D
Sesudah puas ngeluarin unek-unek di atas, curhatnya saya lanjutin nih. Setelah ngeliat tumpukan kertas yang beragam warna dan ukuran itu bertebaran di segala penjuru, saya sadar bahwa penyebab kejenuhan saya salah satunya karena hamburan kertas yang ngga teratur itu. Akhirnya setelah mikir-mikir semenit, dua menit, lima menit, delapan menit, dan akhirnya pada sembilan menit dua puluh tiga detik, saya dapat wangsit dari Mahaguru. Intinya si Mahaguru bilang, saya harus membuat aturan belajar yang baik termasuk juga mengatur kertas-kertas pekerjaan itu (baik yang berguna maupun ngga berguna).
Secara keseluruhan, hasil komunikasi saya dengan si Mahaguru yang berbuah wangsit ajaib itu saya rumuskan secara ringkas. Itung-itung agar saya bisa dengan mudah mempraktekkannya untuk tradisi bekerja yang lebih baik, agar mengurangi kejenuhan dan rasa penat dalam belajar. Sekalian juga untuk melengkapi rentetan curhat saya di hari ini. Maklum lah, anak gaul gitu loh, hehe :)
A. Cintai Pekerjaan
Bukankah kalau kita sudah cinta dengan seseorang atau sesuatu, apa saja pasti dapat kita lakukan dengan senang hati untuknya atau untuk mendapatkannya. Begitu juga dengan pekerjaan. Lalu bagaimana cara mudah untuk mencintai pekerjaan itu? Seperti kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta." Maka tentunya semua dimulai dengan mengenali lebih dekat pekerjaan tersebut dan membiasakan diri mengerjakannya. Pepatah pun pernah berkata, "Cinta datang karena terbiasa."
*emank pepatah bisa ngomong yak?! Au ah....
B. Rileks
Berikut ini saya kutipkan tiga kalimat bijak yang berkaitan dengan sikap rileks dalam bekerja. Semoga bermanfaat buat anak-anak gaul sekalian, hehe..
"Jika anda dapat meringankan otot-otot kedua mata anda, anda pasti dapat melupakan segala kelelahan anda." (Dr. Edmund Jacobson)
"Jika anda ingin mengetahui seni bersantai dengan baik, maka pelajarilah pengalaman kucing. Kucing termasuk hewan yang paling senang dan selalu bersantai." (Anonim)
"Biarlah badan anda berkembang apa adanya, tidak mengerut dan menegang." (Anonim)
So dengan rileks, pekerjaan akan terasa ringan dan tidak melelahkan.
C. Mulailah dengan yang Lebih Penting dan Mendesak
Ini bertujuan untuk membiasakan diri bekerja sistematis berdasarkan prioritas. Pekerjaan yang lebih penting dan mendesak tentunya memerlukan prioritas yang lebih dibandingkan pekerjaan yang urgensinya tidak terlalu penting.
D. Membersihkan Meja Kerja
Membersihkan meja kerja dari berbagai kertas selain kertas kerja yang sedang digarap dengan menjawab pertanyaan, sebagai berikut:
Membersihkan meja kerja dari berbagai kertas selain kertas kerja yang sedang digarap dengan menjawab pertanyaan, sebagai berikut:
1. Apakah saya wajib memelihara kertas ini?
2. Jika wajib, di manakah saya menyimpannya?
3. Sampai kapan saya mesti memelihara dan menyimpannya?
4. Bagaimana saya dapat menemukannya kembali?
Tindakan untuk menjawab pertanyaan tersebut:
1. Menghancurkan kertas-kertas yang tidak urgen/penting.
2. Menghindari mengeluarkan kertas yang tidak penting.
3. Menetapkan tempat kertas yang sudah tuntas.
4. Membuat aturan yang memudahkan untuk menemukan kertas secara mudah.
Setelah curhat panjang lebar, saya akan tutup postingan ini dengan mengutip kalimat bijak mengenai kebiasaan/tradisi bekerja dari seorang tokoh yang sudah kita kenal bersama.
“Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Kesempurnaan dengan demikian bukanlah tindakan tetapi kebiasaan.” (Aristoteles)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar