Buat saya, seni itu universal. Tak terbatas pada musik, lukisan, atau syair. Seni adalah segala kreativitas yang menghasilkan keindahan. Maka selain seniman musik dan penyair yang telah kita bahas kontroversinya, kini ada seniman lapangan yang tak kalah menggemparkan dunia. Baik dari prestasi maupun kontroversi.
C. Maradona
Siapa yang tak kenal pemain bola yang satu ini. Seniman lapangan hijau yang lahir di Buenos Aires, Argentina, 30 Oktober 1960 dengan nama Diego Armando Maradona. Sejak usia 10 tahun, bakat sepak bolanya sudah terlihat. Dimulai dengan bergabung di klub Argentinos Juniors, ia pun menjadi maskot klub tersebut dan diberi julukan Los Cebollitas (Bawang Kecil). Sejak itu prestasinya terus meningkat hingga pada tahun 1981, ia dibeli klub Boca Juniors seharga 1 juta poundsterling di mana klubnya menjadi juara liga untuk pertama kalinya.
Setelah Piala Dunia 1982, ia kemudian ditransfer ke FC Barcelona dengan harga 5 juta pounsterling, yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Di sana bersama pelatih César Luis Menotti, Maradona memenangkan Copa del Rey, mengalahkan musuh bebuyutan Barcelona, Real Madrid, dan Piala Super Spanyol, mengalahkan Athletic de Bilbao. Pada tahun 1984 Maradona ditransfer ke SSC Napoli dan mencapai puncak kariernya dalam sepak bola di mana ia membawa tim tersebut menjadi juara Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah Napoli. Musim 1988-1989, Napoli mengalahkan VFB Stuttgart untuk menjadi juara Piala UEFA. Maradona menjadi pencetak gol terbanyak dalam Liga Italia Serie A dengan 15 gol. Maradona juga meraih penghargaan Guerin d'Oro sebagai pemain dengan rating terbaik menurut majalah Italia, Guerin Sportivo.
Di kancah internasional, Maradona memulai debutnya pada usia 16 tahun saat Argentina melawan Hongaria pada 27 Februari 1977. Pada usia 18 tahun Maradona berpartisipasi dalam Piala Dunia Junior yang diselenggarakan di Jepang, di mana Argentina sempat berhadapan dengan Indonesia dan menang dengan hasil 5-0. Maradona mencetak 2 gol bersama Ramón Díaz yang mencetak hattrick. Pertunjukan kehebatan Maradona yang ketika itu ditunjuk menjadi kapten tim adalah pada saat berlangsungnya Piala Dunia 1986 di Meksiko, di mana hampir sendirian ia mengantarkan Argentina keluar sebagai Juara Dunia untuk kedua kalinya, setelah yang pertama pada tahun 1978 di Argentina sendiri. Pada Piala Dunia di Meksiko tersebut, Maradona membuat gol terbaik sepanjang masa versi FIFA yaitu ketika Argentina bertemu Inggris di babak perempat final. Pada saat itu Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati 5 orang pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Semua itu dilakukan Maradona hanya dalam rentang waktu kurang lebih 10 detik.
Prestasi gilang gemilangnya berimbang dengan catatan-catatan buruknya. Kebiasaannya mengonsumsi kokain dan doping menyebabkan kariernya menurun di tahun 1990-an. Bahkan di saat Piala Dunia 1994 sedang berlangsung, ia diberi sanksi larangan bertanding selama 15 bulan karena diketahui doping. Maradona kemudian sempat menyangkal dirinya sengaja memakai doping dan menuduh adanya konspirasi melawan dirinya oleh Amerika Serikat. Keluarnya Maradona secara tak hormat berimbas buruk pula pada prestasi Argentina pada waktu itu. Raksasa sepak bola tersebut hanya mampu bertahan di turnamen hingga putaran kedua, setelah dikalahkan Rumania dengan skor 3-2. Dengan serangkaian prestasi buruk di akhir-akhir karier sepak bolanya, pemain eksentrik itu akhirnya gantung sepatu pada 30 Oktober 1997.
C. Maradona
Siapa yang tak kenal pemain bola yang satu ini. Seniman lapangan hijau yang lahir di Buenos Aires, Argentina, 30 Oktober 1960 dengan nama Diego Armando Maradona. Sejak usia 10 tahun, bakat sepak bolanya sudah terlihat. Dimulai dengan bergabung di klub Argentinos Juniors, ia pun menjadi maskot klub tersebut dan diberi julukan Los Cebollitas (Bawang Kecil). Sejak itu prestasinya terus meningkat hingga pada tahun 1981, ia dibeli klub Boca Juniors seharga 1 juta poundsterling di mana klubnya menjadi juara liga untuk pertama kalinya.
Setelah Piala Dunia 1982, ia kemudian ditransfer ke FC Barcelona dengan harga 5 juta pounsterling, yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Di sana bersama pelatih César Luis Menotti, Maradona memenangkan Copa del Rey, mengalahkan musuh bebuyutan Barcelona, Real Madrid, dan Piala Super Spanyol, mengalahkan Athletic de Bilbao. Pada tahun 1984 Maradona ditransfer ke SSC Napoli dan mencapai puncak kariernya dalam sepak bola di mana ia membawa tim tersebut menjadi juara Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah Napoli. Musim 1988-1989, Napoli mengalahkan VFB Stuttgart untuk menjadi juara Piala UEFA. Maradona menjadi pencetak gol terbanyak dalam Liga Italia Serie A dengan 15 gol. Maradona juga meraih penghargaan Guerin d'Oro sebagai pemain dengan rating terbaik menurut majalah Italia, Guerin Sportivo.
Di kancah internasional, Maradona memulai debutnya pada usia 16 tahun saat Argentina melawan Hongaria pada 27 Februari 1977. Pada usia 18 tahun Maradona berpartisipasi dalam Piala Dunia Junior yang diselenggarakan di Jepang, di mana Argentina sempat berhadapan dengan Indonesia dan menang dengan hasil 5-0. Maradona mencetak 2 gol bersama Ramón Díaz yang mencetak hattrick. Pertunjukan kehebatan Maradona yang ketika itu ditunjuk menjadi kapten tim adalah pada saat berlangsungnya Piala Dunia 1986 di Meksiko, di mana hampir sendirian ia mengantarkan Argentina keluar sebagai Juara Dunia untuk kedua kalinya, setelah yang pertama pada tahun 1978 di Argentina sendiri. Pada Piala Dunia di Meksiko tersebut, Maradona membuat gol terbaik sepanjang masa versi FIFA yaitu ketika Argentina bertemu Inggris di babak perempat final. Pada saat itu Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati 5 orang pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Semua itu dilakukan Maradona hanya dalam rentang waktu kurang lebih 10 detik.
Prestasi gilang gemilangnya berimbang dengan catatan-catatan buruknya. Kebiasaannya mengonsumsi kokain dan doping menyebabkan kariernya menurun di tahun 1990-an. Bahkan di saat Piala Dunia 1994 sedang berlangsung, ia diberi sanksi larangan bertanding selama 15 bulan karena diketahui doping. Maradona kemudian sempat menyangkal dirinya sengaja memakai doping dan menuduh adanya konspirasi melawan dirinya oleh Amerika Serikat. Keluarnya Maradona secara tak hormat berimbas buruk pula pada prestasi Argentina pada waktu itu. Raksasa sepak bola tersebut hanya mampu bertahan di turnamen hingga putaran kedua, setelah dikalahkan Rumania dengan skor 3-2. Dengan serangkaian prestasi buruk di akhir-akhir karier sepak bolanya, pemain eksentrik itu akhirnya gantung sepatu pada 30 Oktober 1997.
Namun dari sekian banyaknya buah bibir yang heboh atas ulahnya, peristiwa "Gol Tangan Tuhan" adalah yang paling fenomenal. Sampai-sampai di setiap perhelatan Piala Dunia, peristiwa itu tetap saja jadi perbincangan. Gol kontroversial yang disarangkan Maradona ke gawang Inggris pada pertandingan perempat final, 22 Juni di Piala Dunia Meksiko 1986. Gol yang dicetak dengan menggunakan tangan itu terjadi di Estadio Azteca, Mexico City. Gol tersebut tercipta di menit ke-51 pada pertandingan yang sama ketika dia mencatatkan gol terbaik sepanjang masa. Sungguh ironis karena prestasinya dengan gol terbaik beriringan dengan kontroversi gol tangan Tuhannya. Sayangnya, teknologi saat itu belum secanggih sekarang, sehingga golnya kurang teramati dengan jelas. Wasit asal Tunisia yang memimpin pertandingan pun mengesahkan gol meski beberapa pemain Inggris memprotes masalah ini.
Berkat keajaibannya itu, El Pibe de Oro alias The Golden Boy (julukannya) sangat dielu-elukan oleh para pengagumnya. Bahkan untuk sebagian yang fanatik terhadapnya, tak jarang pemain bertubuh gempal yang kerap dipanggil El Diego ini, disebut sebagai Tuhan Diego. Hingga saat ini begitu banyak kontroversi yang menyelingi pencapaiannya di dunia sepak bola. Prestasinya paripurna dengan terpilihnya ia bersama Pele sebagai pemain terbaik abad ini. Dalam jajak pendapat, Maradona unggul dengan 53,60% sedang Pele di posisi kedua dengan 18,53%. Namun tetap saja, prestasi luar biasanya itu diikuti pro konta atas dirinya yang menolak Pele dimenangkan bersama-sama dengannya. Atas unggulnya Maradona di jajak pendapat, FIFA kemudian memutuskan membentuk Komite Sepak Bola yang menetapkan Pele juga sebagai juara. Maradona yang tak terima langsung meninggalkan acara penghargaan itu setelah menerima trofi dan sebelum Pele naik ke podium.
Di atas segala kekurangan dan kelebihannya, Diego Maradona telah dan memang layak dicatat sebagai legenda dalam sejarah, khususnya di bidang olah raga. Pencapaiannya yang fenomenal bisa jadi pelajaran dan inspirasi generasi penerusnya. Di balik itu, segala kontroversinya dapat dijadikan cerita yang tak pernah menjemukan sebagai warna lain dalam euforia sepak bola dunia.
*Bersambung...



