Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi makhluk hidup. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan air, masyarakat pun mengeksploitasinya dengan cara membuat sumur-sumur aquifer. Namun tingginya intensitas pemompaan air tanah dengan pembuatan sumur-sumur aquifer dapat berdampak buruk juga bagi masyarakat dan lingkungannya. Secara teknis dampak pemompaan air tanah yang berlebihan adalah terjadinya intrusi air laut, penurunan tanah, penurunan muka air tanah, kekeringan, dan penurunan kualitas air tanah.
Oleh karena itu, pemakaian air tanah haruslah dibarengi dengan konservasi atau pelestarian sumber daya air tanah tersebut. Upaya pelestarian tersebut dapat dilakukan lewat dua arah. Masyarakat sebagai pengguna maupun air tanah itu sendiri sebagai objeknya. Pemakaian air tanah oleh masyarakat mesti dilakukan secara hemat dan efisien. Adapun ketersediaan air tanah juga harus dijaga dari kelangkaan.
Pada dasarnya, konservasi untuk menjaga ketersediaan air tanah ini dilakukan dengan meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah. Cepat lambatnya infiltrasi air oleh oleh tanah dipengaruhi oleh beberapa hal sebagaai berikut:
1. Tekstur Tanah
Semakin halus tekstur tanah (tekstur liat) maka semakin banyak air yang diadsorpsi oleh tanah. Dan sebaliknya semakin kasar tekstur tanah (tekstur pasir) maka semakin sedikit air yang diadsorpsi. Hal ini disebabkan karena makin halusnya tekstur tanah, semakin luas permukaannya sehingga kapasitas simpan airnya bertambah banyak.
2. Struktur Tanah
Tanah yang berstruktur granular atau lebih terbuka akan menyerap air lebih cepat daripada tanah yang berstruktur lebih rapat (liat). Hal ini terjadi karena tanah yang lebih terbuka memiliki luas permukaan lebih besar sehingga kapasitas simpanan airnya lebih banyak.
3. Kedalaman Tanah (Solum)
Kedalaman tanah menentukan banyaknya air yang dapat diserap tanah. Makin dalam kedalaman tanah maka akan semakin banyak jumlah air yang dapat diserap. Sebaliknya bila kedalaman tanah dangkal maka jumlah air yang dapat diserap semakin sedikit. Ini berkaitan pula dengan luas permukaan tanah sebagai bidang penyerapan air.
4. Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air yang tinggi. Bahan organik dapat menyerap air sebesar dua sampai tiga kali beratnya. Pengaruh bahan organik ini dapat mengurangi aliran permukaan, peningkatan infiltrasi, dan pemantapan agregat tanah.
Berdasarkan poin-poin di atas maka dapat disimpulkan bahwa secara umum, laju infiltrasi (penyerapan) air ke dalam tanah dipengaruhi oleh luas permukaan tanah dan kandungan bahan organik tanah. Maka dalam upaya mempercepat penyerapan air dalam rangka konservasi air tanah, perlu dibuat sebuah sistem yang setidaknya mengakomodir kedua hal tersebut.
Salah satu hal yang dapat dilakukan yakni dengan membuat sistem drainase berpori. Khususnya di daerah perkotaan yang lahan hijau untuk penyerapan airnya terbatas, sistem ini dapat diaplikasikan. Drainase berpori ini sama seperti saluran drainase biasa. Namun di tengah-tengah saluran diberi lubang kecil yang langsung ditembuskan ke dalam tanah. Lubang dibuat dengan diameter kurang lebih 10 cm dengan kedalaman sekitar 1 m. Hal tersebut dilakukan untuk memperluas permukaan tanah dan sekaligus memperluas bidang penyerapan pada tanah.
Setiap jarak 1 m sampai 2 m pada saluran drainase, dibuat lubang yang sama. Setiap lubang diisi dengan bahan organik secara berkala. Bahan organik sebagai pengisinya dapat berupa kompos yang dibentuk dari dedaunan dan alang-alang yang tentunya mudah diperoleh. Kompos berguna sebagai katalisator penyerapan air. Kemudian lubang tersebut diberi tutup dari kawat kasa yang dapat dibuka sewaktu-waktu. Hal ini dilakukan agar lubang tidak kemasukan sampah.
Dengan adanya lubang-lubang peresapan di saluran drainase diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air tanah. Sistem saluran drainase berpori ini selain berguna untuk menambah kandungan air di dalam tanah, juga dapat bermanfaat sebagai pengendali banjir. Di mana banjir biasanya disebabkan oleh luapan air dari saluran yang tak dapat tertampung secara optimal. Maka dengan melubangi saluran sampai tembus ke tanah, selain berfungsi mengalirkan air, saluran tersebut akan berfungsi juga sebagai tempat peresapan air. Dengan demikian, laju infiltrasi dan perkolasi air tanah dapat ditingkatkan.
Note:
Tulisan itu sebenarnya tugas kuliah yang saya posting ke blog. Tujuan awalnya sih buat nge-rame-in blog aja. Syukur-syukur kalau ada manfaatnya buat yang baca :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar