Translate

Jumat, 03 Juni 2011

Tuhan Adalah Tuhan

Tuhan adalah Tuhan. Sebenarnya tak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan apa itu Tuhan. Sebab dengan memberi definisi, kita hanya akan membatasi Tuhan itu sendiri dengan definisi yang kita buat. Maka pencarian akan Tuhan belum juga usai sejak dulu sampai kini, dan entah mau sampai kapan lagi. Mungkin takkan pernah usai.

Memang kita hanya bisa mencari tanpa bisa menemukan-Nya. Kita hanya mampu mendekati tanpa mampu menyentuh-Nya. Karena Dia di luar kata-kata, di luar materi, dan di luar segala yang terpikirkan. Pikiran yang tertuang (salah satunya dalam tulisan ini) hanya sekadar untuk mendekati-Nya lewat logika manusia saja. Karena manusia dibekali dengan logika, manusia bisa saja membuat pendekatannya masing-masing.


Ada sebagian yang menggunakan logika sederhana untuk memahami Tuhan. Mereka menggambarkan Tuhan layaknya manusia, yang memiliki bentuk fisik, bisa terlihat, dan bertempat di ruang yang tinggi layaknya pemimpin. Analoginya bisa dipahami karena memang Tuhan adalah Pemimpin di atas pemimpin. Ada juga yang mendekati-Nya dengan logika yang lebih rumit. Bahwa Tuhan adalah konsep dari sebuah mekanisme alam semesta (fisik maupun nonfisik) yang melingkupi segala sesuatu dan terejawantahkan di dalamnya. Pemahamannya karena Tuhan itu tidak mungkin terbatasi oleh ruang dan waktu.

Dalam konteks pemahaman Tuhan yang layaknya manusia (secara fisik), maka dikatakan bahwa Dia bukanlah laki-laki dan bukan pula perempuan. Di lain pihak, lewat kacamata yang lebih spiritual, Tuhan dihayati sebagai integrasi dari segala dualisme kehidupan ini. Dia bersifat mutlak.

Dari kedua pendekatan itu, kita bisa melihat semangat yang sama, roh yang sama, spirit yang sama. Bahwa Tuhan tidak terbagi dalam pihak-pihak. Yang diwakilkan dalam pernyataan bahwa Tuhan bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Kalimat simbolis yang kemudian menyiratkan makna bahwa Tuhan bukan juga kanan bukan kiri, bukan juga hitam bukan putih, bukan juga nyata bukan maya, selain bukan laki-laki dan bukan perempuan tadi. Pada dasarnya kalimat itu adalah pesan umum bahwa Tuhan bukanlah bagian dari segala dualisme.

Berangkat dari inti pemahaman yang sama pula maka para mistikus melalui pandangan spiritualnya menyatakan bahwa Tuhan adalah integrasi dari segala dualisme. Penyatuan dari segala yang mendua (berpihak-pihak). Maka dalam Tuhan, tak ada lagi kanan tak ada lagi kiri, tak ada hitam tak ada putih, tak ada nyata tak ada maya, pun tak ada laki-laki dan perempuan. Pada hakikatnya, dalam Tuhan tak ada lagi segala dualisme. Semua tercerap dalam satu. Bahwa Tuhan itu mutlak. Maka jelas bahwa dari pola pikir yang berbeda itu ditemukan pengertian yang sama, kendati dengan penyampaian yang berlainan.

Inilah mungkin maksud dari petuah bijak yang mengatakan bahwa ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada, kita akan senantiasa kembali kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali. Baik jiwa raga, maupun dalam pola pikir dan pemahaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar