Translate

Kamis, 01 Januari 2015

Sekelumit Cerita dari Kawah Teknik

Waktu kecil, kebanyakan anak bercita-cita jadi dokter, jadi pilot, atau jadi presiden. Mungkin cuma saya yang cita-citanya agak sedikit aneh, pengen jadi pelukis. Karena dulu saya hobi banget gambar, sampe-sampe sering ikut lomba dan gambaran saya masuk koran. Tapi itu dulu waktu kecil. Kata orang, ketika kita beranjak dewasa, cita-cita kita makin realistis dan impian masa kecil semakin terdegradasi. Itu ada benernya. Terbukti selepas SMA, cita-cita saya mulai berubah, yakni jadi dokter. Mengingat realitas kehidupan, bahwa profesi dokter yang cukup menjanjikan untuk masa depan. Namun jadi dokter belum cukup  relistis buat saya setelah melihat betapa besarnya biaya masuk Fakultas Kedokteran. Wal hasil saat memilih tempat kuliah, saya sempat mengalami kekosongan cita-cita. Di tengah kekosongan itu, saya teringat cita-cita masa lalu saya, yakni jadi pelukis. Didukung dengan kemampuan eksak yang cukup baik dan petunjuk dari orang-orang terdekat, maka saya mendaftar di Fakultas Teknik. Karena di Teknik mutlak perlu kemampuan eksak dan menggambar. Persis seperti kemampuan dan kemauan masa lalu saya.

Sebelum masuk Fakultas Teknik, saya dengar kata orang bahwa kuliah di Teknik itu berat, banyak tugasnya, dan jarang yang bisa lulus dengan waktu normal. Saya sempat ngga percaya. Saya berpikir, sebanyak-banyaknya tugas, kalo segera dikerjakan pasti selesai tepat waktu. Setelah mulai kuliah di Fakultas Teknik, mulai terasa bahwa kalo ada satu frasa yang tepat untuk mewakili Fakultas Teknik, ya itulah "Tugas Besar". Yaps, ternyata benar bahwa tugas di Teknik begitu bejibunnya. Tapi dalam menghadapi tugas demi tugas itu, saya punya prinsip bahwa seseorang akan lebih giat untuk menghindari apa yang ditakutinya daripada meraih apa yang diinginkannya. Misalnya, ketika kita ngantuk tapi ingin makan karena lapar, mungkin kita masih bisa menunda untuk makan, menunda untuk meraih apa yang kita inginkan dan memilih tidur saja. Tapi coba ketika kita ngantuk, lalu ada anjing yang mengejar ingin menerkam kita, saya yakin kita tanpa pikir-pikir langsung lompat lari menjauhi anjing yang kita takutkan itu. Bertolak dari pemikiran itu, di Fakultas Teknik, saya punya mindset untuk berusaha menghindari hal-hal buruk dan menakutkan yang sering dialami dan diceritakan oleh orang-orang sebelum saya. Bukannya jumawa untuk mengejar target-target seperti yang dilakukan kebanyakan teman seangkatan saya. Terbukti dengan resep menghindar dari hal-hal buruk itu, saya jadi lebih terpacu untuk bergerak cepat di "Kawah" Teknik.

Semester I adalah tonggak awal saya dengan modal IP tertinggi saat itu. Dengan start yang baik di semester awal, maka dengan mudah saya memperoleh keberhasilan yang sama di semester-semester berikutnya. IP tertinggi dan otomatis IPK tertinggi di angkatan saya. Itu berkat saya tidak meremehkan pelajaran-pelajaran yang tergolong mudah di awal-awal perkuliahan. Tidak terlena dengan target-target keberhasilan, melainkan berpacu belajar guna menjauhi bayangan kegagalan. Namun semester paling berat buat saya sekaligus paling berkesan yaitu semester IV di mana saat itu ada tugas besar terbanyak sepanjang masa kuliah. Kalo diibaratkan, semester IV itu puncaknya kawah teknik, puncaknya kesibukan mahasiswa teknik. Saat itu ada tugas besar Struktur Beton II yang membuat saya pusing seribu keliling, sampe-sampe hampir lepas tugas. Untungnya dosen asistensi memberi perpanjangan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan lebih untungnya lagi, saya punya teman-teman yang membantu mengerjakan tugas itu. Padahal mereka juga mendapatkan tugas yang sama. Tanpa mereka, mungkin saat itu saya ngga lulus tugas Beton II. Terima kasih Yonk yang udah bantu analisis SAP. Terima kasih juga buat Harry, Elprada, dan Yogi, teman seperjuangan di tugas Beton II. Itu sekelumit cerita di semester IV.


Bagian terbesar dari perjalanan menyusuri kawah teknik saya lewati bersama teman-teman yang diberi nama Para Sahabat oleh Elprada. Mereka antara lain, Elprada tentunya, Dinda, Euis, Yogi, Riank, Roem, Moel, Ade, dan Mia. Sering juga ikut gabung Yudha dan Agus. Belakangan ada juga senior kami, Mbak Esty yang gabung sehingga menambah warna  di grup itu. Dengan adanya Mbak Esty, grup diberi nama Color Grup. Artinya seh Grup Warna Warni. Tapi ada maksud yang lebih ektrim dari nama itu, hahaa. Bersama grup itu, banyak hal yang saya lakukan, mulai dari kumpul bareng, makan bareng, belajar bareng, jalan-jalan bareng, party bareng, sampe konflik bareng. Grup yang aneh.

Di pengujung masa kuliah, saya sempat menjadi asisten praktikum Mekanika Tanah, sekaligus sebagai koordinatornya. Ada kebanggaan tersendiri saat menjadi asisten praktikum (coas) sebab mahasiswa yang menjadi coas adalah mahasiswa-mahasiswa yang prestasi akademiknya baik. Gilang, Agus, Elprada, Harry, Toto, Dinda, Euis, Roem, Riank, dan Sirry adalah temen-temen coas saya yang termasuk dalam kategori tersebut. Kami juga langganan menerima beasiswa.


Selain temen belajar, temen jalan-jalan, dan rekan kerja di laboratorium, ada juga temen kongkow-kongkow di luar jam kuliah. Dalam kongkow-kongkow tersebut, banyak hal yang bisa kami bicarakan. Dari masalah kuliah, sampai masalah pribadi. Dari keadaan sekitar, sampai keadaan politik. Dari perihal alam, sampai perihal agama. Pokoknya banyak hal yang dibicarakan hingga jam terasa berputar lebih cepat, saking asyiknya. Mereka adalah temen-temen yang easy going, ada Kaspul, Isan, Panji, dan Indra. Selain kongkow bareng mereka ada juga grup informal yang kami buat dengan sebutan HB2P. Ngga perlu disebutkan apa kepanjangannya, sebab cukup ekstrim juga tuh kalo disebut, hehehe. Grupnya berisi cowok-cowok "gila" di angkatan kami. Adapun grup ceweknya kami namai Gank Bank.


Memang di kampus ada banyak grup, tapi buat saya, dari Sabang sampe Merauke, dari Gank Bank sampe HB2P, angkatan Sipil Genap 2008 harus bersatu. Maka kami juga punya grup yang menyatukan angkatan kelas genap 2008 yang kami beri nama SIGN'08 (Sipil Genap 2008). Grup yang membuat kami tetap solid walau punya karakter yang berbeda, punya hobi berlainan, bahkan perkumpulan masing-masing. Hingga pada akhirnya ketika saya wisuda di tahun 2012 sebagai lulusan pertama dari angkatan 2008 bersama Agus, Sirry, dan Elprada, momentum tersebut saya jadikan sebagai momentum berkumpulnya teman-teman seangkatan. Berkumpul sambil merayakan kelulusan sekaligus bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya selama ini. Baik anugerah berupa kelancaran studi dan prestasi yang baik, maupun anugerah berupa persahabatan yang tak terlupakan dari teman-teman yang luar biasa.

Itulah sekelumit cerita dari Kawah Teknik, dengan berbagai dinamikanya. Pendidikan yang tegas, perjuangan yang keras, dan persahabatan tanpa batas. SIGN'08, kalian memang istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar