Translate

Selasa, 03 Mei 2011

Mesin Waktu

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi sudah membuat ruang kehidupan kita terasa lebih sempit. Kita bisa ke mana saja dengan mudah, seolah tak ada jarak yang begitu jauh. Sebab teknologi ciptaan manusia sudah memberi fasilitas untuk itu. Maka keluangan waktu pun kian besar. Semua bisa dikerjakan dengan singkat oleh bantuan teknologi. Ke mana saja, dari yang dulunya jauh, kini terasa dekat. Dari yang dulunya membuang banyak waktu, kini lebih singkat. Semua bergantung pada perbandingan antara kecepatan cahaya dengan kecepatan medium yang kita pakai.

Menurut teori Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya. Jadi, seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300.000 km/detik maka ruang bisa diperpendek dan waktu bisa diperlambat. Semakin dekat kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya maka semakin pendek pula ruang dan waktu yang ada. Maka bukan mustahil bila waktu justru akan berputar ke belakang jika suatu saat ada medium yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya, bukan? Lalu yang jadi pertanyaan selanjutnya, "apakah mungkin media seperti itu diciptakan?" Jika kita berkeyakinan bahwa tak ada yang tak mungkin (nothing is impossible) maka jawaban yang pasti adalah, "mungkin saja".

Berdasarkan info yang saya dapat dari berbagai sumber, secara teori, waktu yang berputar kembali atau kembali ke masa lalu bukan tidak memungkinkan. Seorang fisikawan dari California of University menuturkan hal terkait, setelah mengkalkulasinya. Manusia perlu waktu 200 ribu tahun untuk bisa tiba di Andromeda dari bumi, sedangkan di atas kapal dengan kecepatan cahaya hanya perlu 20 tahun. Para ilmuwan pun sudah menemukan partikel "gaib" yang terdapat di alam semesta yang bahkan jauh lebih cepat dibanding dengan kecepatan cahaya. Dalam penelitiannya para ilmuwan mendapati, ketika pesawat antariksa melewati gravitasi, gaya tarik medan gravitasi diubah menjadi tenaga pendorong, maka dalam waktu itu, pesawat antariksa bisa terbang dengan kecepatan cahaya bahkan dengan kecepatan cahaya ultra.

Para ahli dari Badan Antariksa Nasional Amerika telah membentuk “teori resonansi medan waktu”. Teori ini dibentuk berdasarkan “teori medan kesatuan” Einstein dan fisikawan asal Jerman sebagai dasar teori. Intinya adalah, dengan bantuan elastisitas perkembangan bersama elektromagnet, gravitasi, kecepatan cahaya, dan ruang, sesaat melintasi ruang antarbintang. Sampai saat itu, waktu berputar kembali tidak lagi merupakan sebuah misteri yang ditunggu pemecahannya. Terbetik berita, bahwa apabila kecepatan melampaui kecepatan cahaya, maka waktu akan berputar kembali.


Lalu apakah bisa teori-teori di atas diaplikasikan untuk saat ini? Dengan menimbang bahwa tubuh manusia tidak bisa menerima dorongan dengan kecepatan yang terlampau tinggi (sampai melebihi kecepatan cahaya) maka mutlak dibutuhkan kajian yang lebih mendalam tentang penciptaan wahana mesin waktu ini. Bukan hanya yang terkait kemampuannya, tapi juga keamanannya bagi manusia. So, walaupun bukan saat ini, mungkin di masa yang akan datang mesin waktu bisa saja diwujudkan, demi pemanfaatannya untuk keperluan manusia.

Semoga saja kita yang hidup sekarang ini bisa menikmati teknologi mesin waktu (bila memang ada) suatu saat nanti. Dan meskipun penuh kontroversi di kalangan publik bahkan ilmuwan, tapi asyik juga kalau mesin waktu suatu saat benar-benar terwujud. Kita semua bisa dengan mudah jadi penjelajah waktu. Hmm....
*Sambil membayangkan kalau-kalau ada mesin waktu, mau ke mana dan ke zaman apa yaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar