Translate

Jumat, 09 Desember 2011

Trilogi Evolusi - Bagian I (Evolusi Teknologi)

Manusia adalah makhluk yang dibekali dengan akal pikiran. Tapi ada yang bilang, manusia hanya menggunakan 1% dari kapasitas otaknya. Entah data itu valid atau tidak, pointnya adalah, selama ini manusia hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan berpikir yang dimilikinya. Mengapa demikian, karena permasalahan yang dihadapi manusia belum mencapai tingkat kompleksitasnya. Maklum, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang "mau enaknya saja", enggan berpikir bila belum berhadapan langsung dengan masalah. Semakin tinggi kompleksitas masalahnya, semakin besar tingkat pemikiran alias penggunaan akalnya.

Coba kita flash back ke zaman dulu, saat masalah yang dihadapi manusia hanya berkutat pada urusan perut, manusia cuma bisa berburu saja. Kalau lapar, makan, kalau haus, minum. Tak ada masalah lain.  Maka pikirannya pun "manja" serta sederhana. Untuk makan, cara paling mudah yang terpikirkan adalah mencari makan. Berhubung yang ada hanya hewan dan tumbuhan yang hidup secara liar, maka berburulah mereka. Tak pernah terpikirkan untuk mengolah atau membudidayakannya.

Akan tetapi, ketika timbul masalah baru, yakni berburu, berlari-larian mengejar binatang sepanjang hari ternyata melelahkan juga, maka timbul pula upaya pemikiran baru. Dengan upaya berpikir itu, ada ide dan pemikiran untuk membudidayakan hewan, yang sekarang kita sebut dengan beternak. Melalui usaha peternakan itu, manusia tak perlu lagi lari-larian di hutan untuk mencari hewan buruan. Cukup dengan menangkap sepasang saja, kemudian mengembangbiakkannya. Itulah hasil dari sebuah pemikiran. Manusia hanya tinggal mencari dedaunan di hutan untuk makanan ternaknya saja.

Kendati tak lagi berburu, berlari-larian, tapi lama-kelamaan, keliling hutan untuk mencari pakan ternak pun dirasa cukup melelahkan. maklum lah, semakin maju peradabannya, fisik manusia jadi semakin manja. Masalah baru lagi. Masalah baru menuntut pemecahan baru. Maka selain beternak, terbersit pemikiran untuk membudidayakan tumbuhan, atau yang sekarang dikenal dengan bercocok tanam. Awalnya bercocok tanam hanya untuk makanan ternak, tapi setelah lama, manusia merasa masih "buang-buang tenaga" jika harus bercocok tanam hanya untuk ternaknya saja. Timbullah ide menyandingkan tanaman bagi ternak dengan tanaman untuk dikonsumsi sehari-hari oleh manusia itu sendiri. Sejak itu, pertanian pun berkembang, malah dengan berbagai variasinya. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Yang dulunya bertani di lahan terbatas, seiring waktu, kian meluas, karena memang sifat dasar manusia yang tak pernah puas. Namun dengan meluasnya lahan pertanian dan banyaknya tanaman yang diusahakan, timbul lagi masalah baru. Lahan yang dulunya sempit dan bisa digarap secara manual by hands, kini meluas hingga sangat melelahkan jika tetap diberlakukan cara-cara lama. Solusi baru mutlak perlu. Karenanya manusia kembali mendayagunakan pikirannya. Wal hasil, ditemukan teknik-teknik membuat perkakas guna mempermudah aktivitas manusia. Diawali dengan perkakas pertanian, kemudian semakin mahir hingga menciptakan peralatan-peralatan rumah tangga, bahkan alat-alat untuk hiburan sehari-hari. Itulah awal dari adanya teknologi, walau dalam taraf yang paling sederhana.


Dengan semakin luasnya bidang pekerjaan manusia, secara fisik, kemampuannya tak mampu lagi mengakomodir semuanya, dari beternak, bertani, hingga membuat perkakas sehari-hari. Lalu terpikirkan ide spesialisasi pekerjaan. Jadi, tak semua dilakukan oleh setiap orang, namun sebaliknya, satu bidang pekerjaan ditekuni oleh sekelompok orang saja. Maka ada sekelompok peternak, sekelompok petani, dan sebagainya. Dengan demikian, kondisi membuat kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, saling membutuhkan. Peternak butuh hasil pertanian untuk pakan ternaknya, petani butuh pembuat perkakas untuk memperlancar aktivitas pertanian, dan pembuat perkakas butuh peternak demi memperoleh makanan, demikian sebaliknya dan seterusnya.

Mau tak mau sistem tukar menukar alat dan kebutuhan sehari-hari bertumbuh pesat pada keadaan seperti itu. Inilah permulaan dari sistem barter yang kita kenal sekarang. Tetapi seiring berjalannya waktu, sistem barter jadi merepotkan, karena berat dan kadang besarnya barang-barang yang dibawa membuatnya tidak praktis. Timbul lagi ide untuk membuat alat tukar yang lebih simpel namun tetap berharga. Maka diupayakanlah perbuatan uang dari logam, berukuran kecil, mudah dibawa ke mana-mana, namun tetap berharga. Pada kondisi itulah, perdagangan dan pertambangan mulai dikenal.

Dengan pesatnya pertambangan, logam tak hanya dibuat untuk alat tukar (uang) saja. Seiring makin banyak kebutuhan hidup manusia, makin diperluas pula usaha memenuhinya. Hasil tambang pun diolah untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan manusia, tentunya dengan skala yang lebih besar. Mesin dibuat, pabrik dibangun, dan akhirnya berpuncak pada suatu peristiwa yang dinamakan Revolusi Industri.

Revolusi Industri sebuah titik tolak di mana berbagai penemuan kian membeludak di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski bernama Revolusi Industri, namun proses sebelumnya sesungguhnya tidak singkat. Revolusi Industri hanyalah sebuah ujung persinggahan sementara dari proses yang saya namakan Evolusi Teknologi, yang begitu panjang, jutaan tahun. Yang karenanya, sekarang kita bisa menikmati penciptaan di dunia teknologi yang bermanfaat. Teknologi yang kian berkembang seiring berkembangnya pemikiran manusia. Di mana pemikiran itu pun berkembang beriringan dengan meningkatnya permasalahan yang dihadapi.

Entah sampai kapan penggunaan pikiran manusia itu bisa benar-benar dimaksimalkan. Tak terbayangkan betapa luar biasanya wajah masa depan kala penggunaan otak manusia sudah benar-benar maksimal seperti itu, hehe. Tapi paling tidak, untuk saat ini saja, berkat proses Evolusi Teknologi itu, hidup kita jadi sedemikian mudahnya. Kita bisa ke mana saja dalam waktu singkat karena ada pesawat terbang. Kita bisa bertatap muka dengan siapa saja di muka bumi ini, sebab adanya satelit. Akhirnya yang terpenting, karena ada teknologi internet, saya bisa mempublikasikan tulisan ini kepada pembaca semua, hehe..

Semoga bermanfaat :D

Rabu, 07 Desember 2011

Berkaca pada Hewan

Begitu banyak kekhasan sifat hewan yang menarik untuk diamati. Agaknya sederhana buat sebagian orang karena hampir semua orang tahu. Tapi saya yakin tidak semua orang benar-benar menghayatinya. Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa saya katakan tidak semua orang menghayatinya? Hmm, sebelum lanjut menjelaskan penghayatan apa yang saya maksud, lebih baik kita amati dulu keunikan apa seh yang dimiliki hewan-hewan, seperti berikut ini...



A. Anjing

Anjing adalah binatang yang cerdas dan punya rasa kesetiaan yang dalam pada pemiliknya. Anjing selalu mengutamakan kepentingan tuannya daripada kepentingannya sendiri. Ia akan bersikukuh pada orang yang dikasihinya. Meski termasuk binatang galak, anjing jarang menunjukkan amarahnya. Tidak semua anjing suka berkelahi. Mereka lebih tepat disebut sebagai tipe yang berpikiran awas. Umumnya, anjing menyukai hidup sederhana. Ia melihat sesuatu di balik motif orang yang dikenalnya. Dalam usia muda, anak anjing sudah mampu "mencium" mana orang yang baik dan mana orang yang jahat.


B. Kuda

Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Kuda adalah binatang yang banyak membantu manusia sepanjang sejarah. Kaki kuda diciptakan tidak hanya untuk dapat membawa beban berat tetapi juga untuk berlari cepat. Tidak seperti binatang-binatang lainnya, kuda tidak memiliki tulang selangka, suatu ciri yang memungkinkan mereka melangkah lebih lebar.


C. Gajah

Gajah mempunyai ingatan yang sangat baik dan jarang melupakan perintah–perintah yang telah diajarkan. Seekor gajah mampu mengingat 25 perintah atau aba–aba. Selain itu, gajah bersifat mandiri, mampu membuat alat untuk digunakan sendiri, sebagai contoh, gajah akan mematahkan tonggak kayu untuk menggaruk punggungnya.


D. Semut

Semut tahu apa artinya bekerja sama secara sinergis dalam sebuah team yang solid untuk mencapai sebuah tujuan. Mereka menyadari kekecilan dan keterbatasan tubuh mereka, sehingga salah satu cara untuk bertahan hidup adalah membangun sebuah koloni dengan struktur kepemimpinan yang jelas. Ada yang menjadi ratu atau pemimpin dan ada juga yang menjadi prajurit dan pekerja. Semuanya bekerja sama dan bertanggung jawab sesuai tugas dan porsinya masing-masing. Jiwa sosial semut juga sangat tinggi dan mereka juga solider dengan sesamanya.


E. Ular

Walaupun tergolong hewan yang mematikan, namun sifat ular secara umum tidak akan menyerang jika tidak merasa terpojok atau terdesak. Ular jarang sekali menyerang musuhnya tanpa mengambil ancang-ancang (peringatan terlebih dulu). Biasanya ular akan menegakkan lehernya dan mengembangkan tulang rusuknya hingga tingginya sepertiga badannya. Ular adalah hewan yang cekatan, ia mampu bergerak dengan cepat dan tanpa mengeluarkan suara. Kadang terlihat lemah dan tenang namun ia selalu siap untuk menyerang.


F. Ulat

Kadang orang merasa jijik dengan ulat, padahal justru ulat yang bermetamorfosis dari yang sebelumnya dianggap menjijikkan menjadi kupu-kupu indah yang malah banyak disukai orang. Kemudian kupu-kupu yang indah itu menjadi hewan penyerbuk tanaman, yang membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah. Sehingga bagi petani, dan orang pada umumnya, kupu-kupu ini sangat bermanfaat untuk membantu jalannya penyerbukan tanaman.


Itulah beberapa dari begitu banyaknya hewan yang punya sifat khas. Tak hanya khas, tapi juga memiliki nilai plus bila dihayati dengan baik. Ngomong-ngomong tentang penghayatan, seperti yang sudah saya "janjikan" di awal postingan, penghayatan yang saya maksudkan adalah supaya kita berkaca pada sifat-sifat hewan di atas. Jangan kira karena mereka hewan maka kita tak bisa mengambil pelajaran dari mereka. Ambillah hikmah walau dari seekor hewan sekalipun. Sebab sekalipun hewan nyatanya ada sisi-sisi positif yang dapat kita ambil manfaatnya, seperti sifat-sifat di atas (yang point-pointnya telah saya garis bawahi).

Hmm, akhir kata, selamat berkaca :D
*sambil memandangi diri di depan cermin...

Selasa, 06 Desember 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian IV (Leonardo da Vinci)

Manusia pengukir kontroversi berikutnya adalah maestro seni lukis yang "haus" akan ilmu pengetahuan. Terkenal sebagai seorang jenius, seniman yang kali ini tak hanya mendedikasikan lukisan-lukisannya untuk dunia seni. Pemikiran dan idenya jauh merambah bidang-bidang lain yang juga dituangkan lewat lukisan. Sebut saja bidang teknologi, anatomi, astronomi, bahkan kuliner. Dialah Leonardo da Vinci, si jenius yang selalu memulai karya dengan "berkobar-kobar" namun tak banyak yang dirampungkan sebagaimana mestinya.


D. Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci bernama lengkap Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci. Kepalanya diloloskan bidan dari rahim sang ibu tahun 1452 dekat kota Florence, Italia. Dan kepalanya dimasukkan ke liang kubur tahun 1519. The Last Supper, Monalisa, Virgin of the Rocks, dan Virtuvian Man adalah beberapa dari segudang karyanya yang masih jadi misteri. Misteri yang kian belum terpecahkan itulah yang mengundang kontroversi dan perdebatan, utamanya selepas kepergian da Vinci.

Maestro seni yang selalu berambisi mencipta mahakarya ini nampaknya memang "hobi" pula mencipta kontroversi dalam hidupnya. Dimulai dari penyimpangan seksual, yakni dituduhnya ia sebagai gay, hingga indikasi keterlibatannya dengan organisasi "bawah tangan", Priory of Sion yang menggemparkan. Kasus homoseksualnya dengan seorang model laki-laki berusia belasan tahun bernama Jacopo Saltarelli, sedikit tidak "mencoreng" kehidupan sosialnya, mengingat kehidupan gay masih dianggap sebagai aib di masyarakat. Adapun organisasi Priory of Sion yang disinyalir ikut diketuainya adalah organisasi rahasia yang menjaga ketat sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Pandangannya mencakup pemahaman keagaman yang lebih bebas dan mendewakan rasionalitas dan logika. Organisasi yang kemudian dipandang miring karena berlawanan dengan otoritas yang ada pada masa itu.

Beranjak dari kontroversi dalam hidupnya, satu per satu karya seni ciptaannya pun demikian adanya. Keistimewaan yang secara jenius tergores di atas kanvas memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di balik setiap karya itu masih menyimpan banyak pertanyaan secara historis. Semua karyanya dikatakannya sendiri sebagai persembahan yang setinggi-tingginya kepada Tuhan. Setiap karya memiliki komposisi warna yang begitu indah dengan detail yang nyaris sempurna seperti aslinya, sehingga semua yang melihatnya terpesona dan tersentuh hatinya. Begitu indahnya, sampai seakan-akan Tuhan pun akan senang hati melihatnya. Uniknya lagi, tak hanya mengenai seni, lukisan-lukisannya juga banyak menggambarkan ide-ide brilian di otaknya tentang teknologi, anatomi, dan ilmu-ilmu lain yang "digilainya".


Lukisannya yang paling terkenal adalah Monalisa, yang menurut beberapa kalangan merupakan citra wajah da Vinci sendiri. Menjadi tanda tanya karena Monalisa secara jelas terlihat seperti sesosok wanita. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang. Namun pandangan yang lebih serius mengungkapkan bahwa Monalisa berkaitan dengan ideologi Biarawan Sion, organisasi rahasianya itu. Menggambarkan sintesis antara lelaki dan wanita, dewa Amon dan dewi Isis, atau yang lebih umum lagi, gabungan sikap maskulin dan feminin, juga yin dan yang, yang merupakan sifat-sifat ketuhanan. Makna ideologis serupa yang juga ditangkap pada The Last Supper yang terlihat menggambarkan suasana jamuan terakhir Yesus dengan kedua belas murid-Nya.

Sementara itu, paradoks dengan pro kontra yang besar tentang makna lukisan itu sendiri, dalam seninya, Monalisa merupakan puncak dari segala ilmunya tentang pewarnaan, cahaya, perspektif, dan tidak lupa anatomi tubuh manusia. Pada lukisan itu, ia menggunakan teknik melukis yang sangat tinggi dan sulit ditiru. Sfumato, sebuah teknik yang membuat lukisan terlihat seperti berkabut, tidak fokus, dengan transisi antarwarna yang luar biasa lembut dan halus. Dengan menggunakan X-ray fluorescence (XRF) spektrometri untuk menentukan komposisi dan ketebalan setiap lapisan cat, para ilmuwan menemukan ada beberapa lapisan tipis, satu atau dua mikrometer dan bahwa peningkatan ketebalan lapisan untuk 3-40 mikrometer di bagian-bagian yang lebih gelap dari lukisan itu, yang menyebabkan hampir tidak kelihatan perubahan warna dari terang ke gelap. Hal ini juga menandai adanya satu teknik lukisan yang menggunakan lapisan es, memiliki lapisan yang sangat tipis, untuk membangun bayangan di wajah.

Lukisan da Vinci yang terkenal lainnya adalah Virtuvian Man, masterpiece yang membuktikan kedalaman pengetahuan da Vinci dalam hal anatomi. Gambaran tubuh manusia yang dibuatnya begitu presisi. Bahkan disebutkan bahwa dialah yang menemukan bilangan phi (berbeda dengan pi) yang dikenal sebagai proporsi agung (1.618), bilangan hasil penemuannya dari penelusuran tentang komposisi rangka makhluk hidup. Namun di balik penemuan cemerlangnya itu, ada suatu proses tidak biasa yang berkali-kali dilakukannya. Saat mempelajari anatomi, ia suka pergi malam-malam, membongkar kuburan, dan mengambil mayat orang tidak dikenal yang sudah hampir busuk dan mem­bedahnya. Kadang ia melakukannya di rumah sakit yang memberinya izin. Ia benar-benar ingin tahu mengapa tubuh manusia berbentuk seperti itu. Dengan begitu, ia bisa makin detail dalam membuat lukisannya.

Tak hanya tentang anatomi, dari lukisan-lukisannya, banyak penemuan di bidang keilmuan lain yang dihasilkannya. Sebut saja mesin terbang seperti helikopter, kendaraan dengan pelindung besi (tank), atau kapal yang bisa bergerak di bawah laut. Ia bahkan mendesain manusia mekanik yang dikenal sebagai Robot Leonardo, rancangan “robot” yang sering dianggap robot pertama dalam sejarah. Namun ironi di balik segala kegemilangan penemuan itu, bahwa semuanya hanya sebatas konsep pemikiran, yang kemudian dirancangnya dalam sebuah sketsa dan lukisan. Tak ada satu pun dari konsep-konsep itu yang berhasil diwujudkan secara konkrit. Dia gagal melaksanakan rancangannya, gagal membuat imajinasi yang digagasnya menjadi sebuah realita.

Satu lagi karya besar da Vinci yang tak kalah kontroversialnya, Virgin of the Rocks. Lukisan tersebut merupakan gubahan ulang dari lukisan bertajuk Madonna of the Rocks yang berada di Museum Louvre Paris. Tugas utama da Vinci membuat Madonna of the Rocks datang dari himpunan Confraternity of the Immaculate Conception yang memerlukan lukisan tersebut sebagai penghias bagian tengah altar gereja mereka, San Francesco di Milan. Namun karena hasil akhir Madonna of the Rocks lebih mewakili ide da Vinci yang sedikit "mengganggu" pandangan gereja mereka yang ortodoks, maka lukisan serupa tapi tak sama dibuat ulang, dengan judul Virgin of the Rocks. Lukisan versi kedua itu tentunya dibuat lebih "halus" sesuai dengan kehendak pemesannya.

Masih banyak mahakarya-mahakarya sang maestro yang gemilang dan tak lepas dari kontroversi. Pastinya takkan ada habisnya bila dibahas dan ditelisik lebih dalam. Kekaguman akan selalu menyeruak di tiap sisi kehidupan serta karyanya. Nilai seni yang sangat mendalam, dibalut dengan balutan pemikiran yang luas, dan dibumbui kontroversi-kontroversi yang membuatnya selalu jadi buah bibir. Itulah sang maestro, yang besar dan menginspirasi banyak orang pada generasi-generasi berikutnya, terlepas dari hitam putih kehidupan dan hasil karyanya.

*Bersambung...

Senin, 05 Desember 2011

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

“Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara, semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia adalah permusyawaratan, perwakilan.”

Itulah potongan isi pidato Bung Karno di Rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan pada 1 Juni 1945. Pidato yang diberi judul Lahirnya Pancasila itu menawarkan konsep dasar negara Indonesia merdeka. Konsep yang kemudian (pada tanggal 18 Agustus 1945) disahkan sebagai dasar negara dengan susunan yang sudah kita ketahui bersama. Kutipan di atas adalah potongan isi pidato pada bagian di mana Bung Karno sedang membahas tentang mufakat atau demokrasi. Sila tersebut sekarang dikenal dengan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Sila ini memberi jaminan demokrasi politik bagi setiap warga negara. Yang bila kita kupas lebih dalam lagi, sila ini didasari oleh semangat persamaan dan kebersamaan tiap-tiap warga negaranya. Semua golongan, baik yang nasionalis maupun religius, berhak mengutarakan tuntutan-tuntutannya melalui jalan musyawarah. Dan melalui perjuangan dari perwakilan masing-masing, tuntutan-tuntutan yang disuarakan itu bisa menjadi kenyataan dalam peraturan-peraturan negara yang real. Benarlah jika sistem permusyawaratan perwakilan ini merupakan sistem yang paling tepat untuk tata kenegaraan di Indonesia yang rakyatnya majemuk ini.


Kerakyatan...

Diawali dengan kata kerakyatan. Ini menyimbolkan bahwa negara Indonesia yang diangan-angankan oleh para pendiri bangsa adalah suatu negara dengan sistem kerakyatan, yang mengacu pada kepentingan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di mana semua punya hak bersuara yang sama secara demokratis. Dalam berusaha, semua berjuang bersama dan bersama pula dalam beroleh hasilnya. Semua dilakukan buat satu kepentingan, kepentingan rakyat. Semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.

...yang Dipimpin...

Rakyat Indonesia yang ratusan juta jumlahnya itu haruslah dipimpin. Dipimpin agar rakyat demokrasi yang begitu heterogen ini teratur dengan baik. Setiap golongan punya kepentingan berbeda-beda, bahkan setiap kepala punya keinginan yang berlainan pula. Maka untuk rakyat yang memang tak kuasa mengorganisir kepentingan yang satu dengan lainnya, pemimpin mutlak perlu. Di negara demokrasi, pemimpin ada untuk mewujudkan keteraturan, bukannya untuk mengatur secara otoriter. Untuk itu dalam memimpin, pemimpin harus punya yang namanya hikmat kebijaksanaan.

...oleh Hikmat Kebijaksanaan...

Hikmat Kebijaksanaan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki pemimpin (seharusnya). pemimpin harus cukup pengetahuan untuk melaksanakan penyelenggaraan negara dengan tepat sesuai dengan yang diamanatkan rakyat. Pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan demi kemaslahatan bangsa dan negara. Suatu syarat yang harus dimiliki pemimpin yang baik. Tentunya hanya rakyatlah yang pantas menilai. Atas dasar itulah maka Kepala Negara ditentukan secara demokratis, bukannya turun-temurun sebagaimana sistem monarki, yang hasilnya belum tentu dikehendaki rakyat umum.

...dalam Permusyawaratan...

Musyawarah adalah salah satu ciri kearifan lokal bangsa Indonesia.  Di mana putusan dihasilkan dari proses penyatuan pendapat bersama. Pembicaraan dengan kepala dingin dan hati yang hangat sehingga diperoleh kata mufakat. Sesuai sistem musyawarah, semua golongan berhak memperjuangkan pendapatnya "mati-matian". "Mati-matian" di sini bukan dengan kekerasan atau adu jotos, tetapi dengan argumen. Dengan hasil akhir berupa persetujuan paham, itulah permusyawaratan yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita.

...Perwakilan

Mengingat jumlah rakyat yang ratusan juta ini, sistem permusyawaratan yang dibangun tak mungkin dapat diaplikasikan jika hanya dengan permusyawaratan saja. Perlu ada sistem perwakilan sebagai ikutannya. Rakyat yang banyak ini harus diwakilkan guna mempermudah pelaksanaan permusyawaratannya. Namun wakil-wakil rakyat haruslah ditentukan oleh rakyat yang diwakilkan itu sendiri, yang sesuai dengan harapan rakyat, sesuai dengan hati nurani rakyat. Lagi-lagi harus ditentukan secara demokratis agar memenuhi syarat sebagaimana pemimpin, yakni memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Hanya rakyat yang berhak menentukan.

Itulah sistem politik yang paling pas dan fair alias adil untuk rakyat Indonesia. Seperti yang diamanatkan Bung Karno dalam pidato yang sama, “Dengan cara mufakat kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan dalam Badan Perwakilan Rakyat... Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi Badan Perwakilan Rakyat yang kita adakan diduduki oleh utusan-utusan Islam... Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari Badan Perwakilan Rakyat itu hukum Islam pula... Dalam perwakilan nanti ada perjuangan yang sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah candradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik dalam staat Islam maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada... Di dalam perwakilan rakyat, saudara-saudara Islam dan saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar daripada utusan yang masuk Badan Perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil – fair play!”

Cinta Telah Tiada

Cinta telah tiada
Ketika yang rumit tak mampu dihadapi
Bukankah cinta membuat kita kuat?
Bukankah masalah jadi mudah dijalani dengan cinta?

Cinta telah tiada
Ketika perbedaan tak lagi bersatu
Bukankah cinta tak pandang bulu?
Bukankah tak ada batasan untuk anugerah bernama cinta?

Cinta telah tiada
Ketika penderitaan membawa kesedihan
Bukankah cinta itu menerima apa adanya?
Bukankah keikhlasan hadir atas nama cinta?

Mungkinkah cinta memang benar-benar telah tiada?

(Kupersembahkan untuk sang pecinta)