Translate

Selasa, 06 Desember 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian IV (Leonardo da Vinci)

Manusia pengukir kontroversi berikutnya adalah maestro seni lukis yang "haus" akan ilmu pengetahuan. Terkenal sebagai seorang jenius, seniman yang kali ini tak hanya mendedikasikan lukisan-lukisannya untuk dunia seni. Pemikiran dan idenya jauh merambah bidang-bidang lain yang juga dituangkan lewat lukisan. Sebut saja bidang teknologi, anatomi, astronomi, bahkan kuliner. Dialah Leonardo da Vinci, si jenius yang selalu memulai karya dengan "berkobar-kobar" namun tak banyak yang dirampungkan sebagaimana mestinya.


D. Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci bernama lengkap Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci. Kepalanya diloloskan bidan dari rahim sang ibu tahun 1452 dekat kota Florence, Italia. Dan kepalanya dimasukkan ke liang kubur tahun 1519. The Last Supper, Monalisa, Virgin of the Rocks, dan Virtuvian Man adalah beberapa dari segudang karyanya yang masih jadi misteri. Misteri yang kian belum terpecahkan itulah yang mengundang kontroversi dan perdebatan, utamanya selepas kepergian da Vinci.

Maestro seni yang selalu berambisi mencipta mahakarya ini nampaknya memang "hobi" pula mencipta kontroversi dalam hidupnya. Dimulai dari penyimpangan seksual, yakni dituduhnya ia sebagai gay, hingga indikasi keterlibatannya dengan organisasi "bawah tangan", Priory of Sion yang menggemparkan. Kasus homoseksualnya dengan seorang model laki-laki berusia belasan tahun bernama Jacopo Saltarelli, sedikit tidak "mencoreng" kehidupan sosialnya, mengingat kehidupan gay masih dianggap sebagai aib di masyarakat. Adapun organisasi Priory of Sion yang disinyalir ikut diketuainya adalah organisasi rahasia yang menjaga ketat sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Pandangannya mencakup pemahaman keagaman yang lebih bebas dan mendewakan rasionalitas dan logika. Organisasi yang kemudian dipandang miring karena berlawanan dengan otoritas yang ada pada masa itu.

Beranjak dari kontroversi dalam hidupnya, satu per satu karya seni ciptaannya pun demikian adanya. Keistimewaan yang secara jenius tergores di atas kanvas memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di balik setiap karya itu masih menyimpan banyak pertanyaan secara historis. Semua karyanya dikatakannya sendiri sebagai persembahan yang setinggi-tingginya kepada Tuhan. Setiap karya memiliki komposisi warna yang begitu indah dengan detail yang nyaris sempurna seperti aslinya, sehingga semua yang melihatnya terpesona dan tersentuh hatinya. Begitu indahnya, sampai seakan-akan Tuhan pun akan senang hati melihatnya. Uniknya lagi, tak hanya mengenai seni, lukisan-lukisannya juga banyak menggambarkan ide-ide brilian di otaknya tentang teknologi, anatomi, dan ilmu-ilmu lain yang "digilainya".


Lukisannya yang paling terkenal adalah Monalisa, yang menurut beberapa kalangan merupakan citra wajah da Vinci sendiri. Menjadi tanda tanya karena Monalisa secara jelas terlihat seperti sesosok wanita. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang. Namun pandangan yang lebih serius mengungkapkan bahwa Monalisa berkaitan dengan ideologi Biarawan Sion, organisasi rahasianya itu. Menggambarkan sintesis antara lelaki dan wanita, dewa Amon dan dewi Isis, atau yang lebih umum lagi, gabungan sikap maskulin dan feminin, juga yin dan yang, yang merupakan sifat-sifat ketuhanan. Makna ideologis serupa yang juga ditangkap pada The Last Supper yang terlihat menggambarkan suasana jamuan terakhir Yesus dengan kedua belas murid-Nya.

Sementara itu, paradoks dengan pro kontra yang besar tentang makna lukisan itu sendiri, dalam seninya, Monalisa merupakan puncak dari segala ilmunya tentang pewarnaan, cahaya, perspektif, dan tidak lupa anatomi tubuh manusia. Pada lukisan itu, ia menggunakan teknik melukis yang sangat tinggi dan sulit ditiru. Sfumato, sebuah teknik yang membuat lukisan terlihat seperti berkabut, tidak fokus, dengan transisi antarwarna yang luar biasa lembut dan halus. Dengan menggunakan X-ray fluorescence (XRF) spektrometri untuk menentukan komposisi dan ketebalan setiap lapisan cat, para ilmuwan menemukan ada beberapa lapisan tipis, satu atau dua mikrometer dan bahwa peningkatan ketebalan lapisan untuk 3-40 mikrometer di bagian-bagian yang lebih gelap dari lukisan itu, yang menyebabkan hampir tidak kelihatan perubahan warna dari terang ke gelap. Hal ini juga menandai adanya satu teknik lukisan yang menggunakan lapisan es, memiliki lapisan yang sangat tipis, untuk membangun bayangan di wajah.

Lukisan da Vinci yang terkenal lainnya adalah Virtuvian Man, masterpiece yang membuktikan kedalaman pengetahuan da Vinci dalam hal anatomi. Gambaran tubuh manusia yang dibuatnya begitu presisi. Bahkan disebutkan bahwa dialah yang menemukan bilangan phi (berbeda dengan pi) yang dikenal sebagai proporsi agung (1.618), bilangan hasil penemuannya dari penelusuran tentang komposisi rangka makhluk hidup. Namun di balik penemuan cemerlangnya itu, ada suatu proses tidak biasa yang berkali-kali dilakukannya. Saat mempelajari anatomi, ia suka pergi malam-malam, membongkar kuburan, dan mengambil mayat orang tidak dikenal yang sudah hampir busuk dan mem­bedahnya. Kadang ia melakukannya di rumah sakit yang memberinya izin. Ia benar-benar ingin tahu mengapa tubuh manusia berbentuk seperti itu. Dengan begitu, ia bisa makin detail dalam membuat lukisannya.

Tak hanya tentang anatomi, dari lukisan-lukisannya, banyak penemuan di bidang keilmuan lain yang dihasilkannya. Sebut saja mesin terbang seperti helikopter, kendaraan dengan pelindung besi (tank), atau kapal yang bisa bergerak di bawah laut. Ia bahkan mendesain manusia mekanik yang dikenal sebagai Robot Leonardo, rancangan “robot” yang sering dianggap robot pertama dalam sejarah. Namun ironi di balik segala kegemilangan penemuan itu, bahwa semuanya hanya sebatas konsep pemikiran, yang kemudian dirancangnya dalam sebuah sketsa dan lukisan. Tak ada satu pun dari konsep-konsep itu yang berhasil diwujudkan secara konkrit. Dia gagal melaksanakan rancangannya, gagal membuat imajinasi yang digagasnya menjadi sebuah realita.

Satu lagi karya besar da Vinci yang tak kalah kontroversialnya, Virgin of the Rocks. Lukisan tersebut merupakan gubahan ulang dari lukisan bertajuk Madonna of the Rocks yang berada di Museum Louvre Paris. Tugas utama da Vinci membuat Madonna of the Rocks datang dari himpunan Confraternity of the Immaculate Conception yang memerlukan lukisan tersebut sebagai penghias bagian tengah altar gereja mereka, San Francesco di Milan. Namun karena hasil akhir Madonna of the Rocks lebih mewakili ide da Vinci yang sedikit "mengganggu" pandangan gereja mereka yang ortodoks, maka lukisan serupa tapi tak sama dibuat ulang, dengan judul Virgin of the Rocks. Lukisan versi kedua itu tentunya dibuat lebih "halus" sesuai dengan kehendak pemesannya.

Masih banyak mahakarya-mahakarya sang maestro yang gemilang dan tak lepas dari kontroversi. Pastinya takkan ada habisnya bila dibahas dan ditelisik lebih dalam. Kekaguman akan selalu menyeruak di tiap sisi kehidupan serta karyanya. Nilai seni yang sangat mendalam, dibalut dengan balutan pemikiran yang luas, dan dibumbui kontroversi-kontroversi yang membuatnya selalu jadi buah bibir. Itulah sang maestro, yang besar dan menginspirasi banyak orang pada generasi-generasi berikutnya, terlepas dari hitam putih kehidupan dan hasil karyanya.

*Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar