Translate

Sabtu, 06 Juni 2020

Alam Harmoni

Lingkungan alami menciptakan suasana harmoni. Kita sebagai makhluk ekonomi, terutama di era milenial ini tak bisa secara total dijauhkan dari kota. Sebab kota adalah pusat aktivitas, perkantoran, industri, dan lain sebagainya. Sederhananya, kota adalah tempat di mana sumber penghasilan kita ada. Tapi dilemanya, kota identik dengan ruang yang padat, suasana panas, dan rutinitas yang membosankan. Itu menyebabkan kita, di lain pihak ingin jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota untuk mencari suasana yang harmoni dan menenangkan jiwa.

Banyak di antara kita pada week day bekerja di kota dan pada week end berlibur ke luar kota. Demi mencari lingkungan yang alami, itu memang perlu dilakukan. Namun menjadi tidak praktis dan sangat melelahkan bila itu terus menerus dilakukan. Karena perjalanan jauh yang ditempuh, kadang saat kembali bekerja ke kota, kita mengalami kelelahan. Sehingga bekerja pun tidak maksimal. Selain itu juga perlu biaya ekstra untuk merealisasikan liburan tersebut setiap akhir pekannya.

Lantas bagaimana agar kita dapat tetap dekat dengan pusat aktivitas di kota namun tetap juga bisa menenangkan jiwa setiap saat, terhindar dari polusi, dan suasana kota yang membosankan dalam keseharian kita? Hunian di pinggiran kota adalah solusinya. Kita dapat menjangkau pusat kota dalam waktu 10 sampai 20 menit dan setiap hari bahkan setiap saat bisa menikmati lingkungan yang alami ketika berada di rumah. Keuntungan lain, tentunya biaya hunian di pinggiran kota tidak sebesar hunian di pusat kota. Malah setiap hari kita bisa refreshing ke tempat-tempat wisata alam dengan jarak yang tidak jauh dari rumah. Tidak perlu mengeluarkan banyak energi, waktu, dan biaya untuk berwisata.


Di Jalan Muhajirin, Dusun Belencong Bagek, Desa Midang, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB terdapat Kontrakan Alam Harmoni. Hunian tersebut didesain dengan suasana lingkungan alam. Suasana yang dibentuk tersebut mendukung lokasinya yang memang berada di wilayah yang masih alami namun tidak jauh dari pusat Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB. Dekat dengan kota, dekat pula dengan berbagai tempat wisata unggulan di Pulau Lombok, seperti Pantai Senggigi, Pantai Kerandangan, hutan wisata Pusuk, Pasar Seni Sesela, dan lain sebagainya. Dalam waktu paling lama 20 menit kita bisa menjangkau tempat-tempat tersebut dari Kontrakan Alam Harmoni.

Dalam hal bangunan, ruang, dan fasilitas, Kontrakan Alam Harmoni cukup lengkap. Jalan akses menuju kontrakan selebar 5 meter dengan perkerasan hotmix. Terdapat 4 unit kontrakan yang masing-masing berukuran cukup besar, yaitu 30 meter persegi dalam area seluas 300 meter persegi. Berarti terdapat ruang terbuka yang sangat luas, sekitar 180 meter persegi untuk mendukung suasana yang fresh dan alami. Pada setiap unit terdapat sebuah kamar, selasar, kamar mandi, dan dapur yang dilengkapi dengan meja dapur. Fasilitas lainnya dalam area Kontrakan Alam Harmoni adalah area parkir yang aman karena terletak di belakang bangunan. Kontrakan itu sendiri diamankan oleh tembok halaman keliling setinggi 4 meter dengan pintu gerbang setinggi 3 meter.

Kontrakan Alam Harmoni sangat cocok bagi kita yang memiliki visi berkehidupan yang harmoni dengan lingkungan alami namun tetap modern dalam aktivitas sehari-hari. Karena lingkungan alami menciptakan suasana harmoni. Jadi, marilah ke mari, datang ke tempat kami, Kontrakan Alam Harmoni.

Contact person: 081916039100 (Wira Adinata)
Instagram: @kontrakanalamharmoni
Facebook: www.facebook.com/KontrakanAlamHarmoni

Kaosmu Itu Kamu


Kamu pasti kenal tokoh di gambar ini.



Begitu juga dengan tokoh ini,



dan ini.


Mereka hanya beberapa dari banyak tokoh besar di dunia yang pencapaiannya tidak perlu lagi dijelaskan. Beberapa di antara kamu bahkan mungkin adalah penggemar mereka atau tokoh-tokoh besar lainnya. Sebagai penggemar tentu kamu terinspirasi oleh mereka, bahkan ingin seperti mereka, atau minimal mendekati jejak langkah mereka. Jangan khawatir. Kamu bisa jadi seperti mereka.

Jika kamu sering mendengar ungkapan, "Kamu adalah apa yang kamu makan", di sini kami katakan, "Kamu adalah apa yang kamu pakai". Sebab pakaian yang kamu pilih untuk gunakan mencerminkan seleramu. Dan seleramu mencerminkan seperti apa dirimu. Bahkan lebih kuat daripada makanan, pakaian yang kamu pakai secara langsung tampak bagi orang-orang di sekitar kamu. Itu artinya, pakaian secara langsung menggambarkan siapa dirimu sesungguhnya kepada orang-orang di sekitar yang melihatmu. Jadi, pakaianmu itulah kamu. Bajumu itu kamu. Kaosmu itu kamu.

Berkaitan dengan tokoh-tokoh besar, menggemari mereka merupakan hal yang biasa. Oleh karena itu, berharap menjadi seperti mereka bukan pula hal yang luar biasa. Kamu pasti bisa. Ketika tokoh-tokoh besar itu terpampang dalam kaos yang kamu pakai, itu merepresentasikan dirimu. Seperti doa yang secara ajaib memberi dampak berupa kekuatan dan keyakinan padamu untuk meraih apa yang kamu mohon dalam doa tersebut. Begitu juga dengan kaosmu. Selain memberi kenyamanan, kaosmu memberi sumbangsih positif berupa kepercayaan diri dan kekuatan bagi pemakainya. Ingat, kaosmu itu kamu.

Ada ungkapan populer yang mengatakan bahwa sebuah gambar dapat bercerita lebih dari seribu kata. Lewat kaos bergambar tokoh-tokoh besar dunia, kami berupaya mendeskripsikan tentang siapa kamu sesungguhnya dengan cara yang lebih efisien daripada menyampaikan ribuan kata. Tanpa harus menjelaskannya, orang-orang bisa memahami siapa kamu, bahkan seberapa besar kamu sesungguhnya. Bukan rahasia lagi, di era dengan kehidupan yang serba kompleks ini, suatu hal tidak hanya terbatas pada satu fungsi saja. Ruang publik yang semakin terbuka dengan kecanggihan teknologi dan media sosial saat ini bahkan membuat suatu hal tidak hanya diperlukan lantaran fungsinya saja. Begitu pula dengan kaosmu, tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh. Di luar aspek fungsionalnya, kaosmu juga memiliki aspek estetis, bahkan komunikatif.

Kita sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Sehebat apapun seorang tokoh, selalu ada kesalahan yang dilakukan dalam hidupnya. Bung Karno, Sang Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia yang juga menginspirasi negara-negara Asia-Afrika pun, tak luput dari pro dan kontra di akhir-akhir masa jabatannya sebagai presiden. Gus Dur, Bapak Pluralisme dan ikon toleransi di Indonesia, dalam karier politiknya dibumbui kontroversi, terutama saat menjabat sebagai presiden. Albert Einstein, di tengah kejeniusan dan kehebatannya dalam bidang sains, justru kehidupan pribadinya jauh dari kata sempurna. Tokoh-tokoh besar lainnya juga memiliki kekurangan. Akan tetapi dengan menggunakan gambar tokoh-tokoh tersebut, bukan berarti kita ingin meniru pula kesalahan-kesalahan mereka. Kita terinspirasi hanya pada pencapaian-pencapaian positif mereka.


Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan persepsi yang liar dari orang-orang yang melihatnya, kaos bergambar tokoh yang kami produksi dilengkapi dengan quote dari tokoh-tokoh tersebut. Hal itu bertujuan memperjelas konteks dari penggunaan gambar tokoh, yaitu pada sisi apa kita menginspirasi dan mengikuti jejak langkah mereka. Quote-quote yang kami pilih adalah quote iconic dan fenomenal dari masing-masing tokoh. Dengan adanya quote pada kaosmu, kamu dapat berbagi motivasi kepada keluarga, pacar, sahabat, bahkan kepada setiap orang yang kamu temui. Tentunya juga kamu secara langsung menjadi bagian yang berkontribusi menyebarkan inspirasi positif. Sebab kaosmu itu kamu. Maka siapa yang melihat kaosmu akan terinspirasi olehmu.


Kami punya ratusan tokoh dunia dengan ratusan quote yang siap membuatmu menginspirasi banyak orang. Tidak hanya itu, secara fungsional kaos kami sudah tentu memberi kenyamanan bagi kamu. Bahan kaos kami adalah cotton combed dengan jenis bervariasi dan berbagai pilihan ukuran, sebagai berikut:
A.      Cotton Combed 20s
1.   Ukuran S         : 38 cm x 58 cm : Harga Rp. 85.000
2.   Ukuran M       : 41 cm x 63 cm : Harga Rp. 95.000
3.   Ukuran ML     : 44 cm x 68 cm : Harga Rp. 105.000
4.   Ukuran L         : 50 cm x 69 cm : Harga Rp. 115.000
5.   Ukuran XL      : 52 cm x 71 cm : Harga Rp. 125.000
6.   Ukuran XXL   : 56 cm x 76 cm : Harga Rp. 135.000
7.   Ukuran XXXL: 65 cm x 85 cm : Harga Rp. 145.000
B.      Cotton Combed 24s
1.   Ukuran S         : 38 cm x 58 cm : Harga Rp. 80.000
2.   Ukuran M       : 41 cm x 63 cm : Harga Rp. 90.000
3.   Ukuran ML     : 44 cm x 68 cm : Harga Rp. 100.000
4.   Ukuran L         : 50 cm x 69 cm : Harga Rp. 110.000
5.   Ukuran XL      : 52 cm x 71 cm : Harga Rp. 120.000
6.   Ukuran XXL   : 56 cm x 76 cm : Harga Rp. 130.000
7.   Ukuran XXXL: 65 cm x 85 cm : Harga Rp. 140.000
C.      Cotton Combed 30s
1.   Ukuran S         : 38 cm x 58 cm : Harga Rp. 75.000
2.   Ukuran M       : 41 cm x 63 cm : Harga Rp. 85.000
3.   Ukuran ML     : 44 cm x 68 cm : Harga Rp. 95.000
4.   Ukuran L         : 50 cm x 69 cm : Harga Rp. 105.000
5.   Ukuran XL      : 52 cm x 71 cm : Harga Rp. 115.000
6.   Ukuran XXL   : 56 cm x 76 cm : Harga Rp. 125.000
7.   Ukuran XXXL: 65 cm x 85 cm : Harga Rp. 135.000
D.      Cotton Combed 40s
1.   Ukuran S         : 38 cm x 58 cm : Harga Rp. 70.000
2.   Ukuran M       : 41 cm x 63 cm : Harga Rp. 80.000
3.   Ukuran ML     : 44 cm x 68 cm : Harga Rp. 90.000
4.   Ukuran L         : 50 cm x 69 cm : Harga Rp. 100.000
5.   Ukuran XL      : 52 cm x 71 cm : Harga Rp. 110.000
6.   Ukuran XXL   : 56 cm x 76 cm : Harga Rp. 120.000
7.   Ukuran XXXL: 65 cm x 85 cm : Harga Rp. 130.000


Ragam desain dan warna kaos kami dapat kamu lihat langsung di Toko Kaosmu, Jalan Trunojoyo, Gang Punglor Nomor 13, Dusun Suka Maju, Desa Midang, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat atau dapat kamu cek di akun instagram  @kaosmuitukamu. Jika kamu perlu informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di nomor telepon 081916039100. Kami bangga melayani kamu. Sebab kamu adalah orang yang akan menginspirasi banyak orang dengan kaosmu. Karena kaosmu itu kamu.

Sabtu, 14 Maret 2015

Salah Kaprah II

Kita diajarkan bahwa asal kehidupan yaitu dari kehidupan sebelumnya. Anak berasal dari ayah dan ibu. Ayah dan ibu berasal dari kakek dan nenek. Begitu seterusnya. Hewan dan tumbuhan berasal dari hewan dan tumbuhan sebelumnya. Teori tersebut disimpulkan menjadi omne vivum ex vivo, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Memang benar bila kita pahami secara umum. Sebab manusia tidak mungkin melahirkan kucing, kucing tidak mungkin beranak ular, dan ular tidak mungkin bertelurkan batu, atau batu tidak mungkin bereproduksi menjadi buaya. Jadi, untuk tataran keadaan normal, teori biogenesis yang ditemukan oleh Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur itu benar sekali.

Akan tetapi, saat kita tarik pemikiran yang jauh lebih global, kita akan menemukan permasalahan mendasar dari teori biogenesis. Masalahnya adalah, jika makhluk hidup pasti berasal dari makhluk hidup, maka dari manakah asal muasal makhluk hidup yang pertama? Apapun bentuk dari makhluk hidup yang pertama itu, tentu ia pun memiliki asal usul. Nah, dari manakah ia berasal? Harold Urey, seorang ilmuan penemu evolusi kimia menyatakan bahwa pada periode tertentu, atmosfer bumi mengandung molekul metana (CH4), amonia (NH4), air (H2O), dan karbon dioksida (CO2). Karena pengaruh dari energi petir dan sinar kosmis, zat-zat tadi bereaksi. Hasil reaksi tersebut menghasilkan suatu zat hidup yang diduga virus. Zat hidup tersebut berkembang selama jutaan tahun membentuk makhluk hidup. Evolusi kimia itu kemudian berlanjut dengan evolusi biologi, di mana makhluk hidup perintis tersebut lambat laun berevolusi menjadi beragam makhluk hidup hingga saat ini.

Maka walau benar bahwa kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya, tapi mestinya kita tidak lantas menutup mata bahwa kehidupan awalnya berasal dari benda mati, yakni dari molekul-molekul kimia yang bereaksi. Dan meski benar bahwa dalam tataran normal, makhluk hidup berasal dari makhluk hidup, itu bukan berarti menutup keterbukaan pikiran kita terhadap teori mengenai hakikat awal kehidupan yang berasal dari benda mati. Jadi, seyogyanya ditekankan bahwa omne vivum generaliter (umumnya) ex vivo, bukannya omne vivum ex vivo.


Kita diajarkan bahwa matematika adalah ilmu pasti. Bahwa 1 meter di Antartika pasti sama dengan 1 meter di Australia. Bahwa 1 kilo gram di Eropa sama dengan 1 kilo gram di Asia. Bahwa 1 detik di Amerika sama dengan 1 detik di Afrika. Padahal sebenarnya 1 meter standar adalah 1.650.763,73 kali panjang gelombang radiasi oranye merah dalam vakum yang dipancarkan oleh isotop Krypton Kr86 dalam peristiwa lucutan listrik yang secara spektroskopi dinyatakan dengan 2p10-5d5. Juga 1 meter standar adalah Jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa dalam waktu 1 per 299.792.458 detik. Adapun 1 kilo gram standar adalah massa yang dimiliki 1 liter air murni pada suhu 4 derajat celcius. Juga 1 kilo gram standar adalah massa sebuah silinder platina-iridium yang disimpan di International Bureau of Weights and Measures di Sevres, dekat Paris, Perancis. Dan 1 sekon standar adalah 1 per 86.400 hari rata-rata gerak semu matahari mengelilingi bumi. Juga 1 sekon standar adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan vibrasi sebanyak 9.192.631.770 kali dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.

Maka memang benar bahwa 1 meter di Antartika sama dengan 1 meter di Australia. Bahwa 1 kilo gram di Eropa sama dengan 1 kilo gram di Asia. Bahwa 1 detik di Amerika sama dengan 1 detik di Afrika. Akan tetapi kesamaan-kesamaan yang sekarang ini terlanjur kita percaya sebagai kepastian itu adalah hasil dari kesepakatan. Kesepakatan itulah yang membentuk standar-standar yang sama dalam ilmu matematika, sehingga saat ini matematika disebut dengan ilmu pasti. Padahal ilmu matematika dibuat berdasarkan kesepakatan. Jadi, seharusnya matematika kita sebut sebagai ilmu kesepakatan, bukan serta merta ilmu pasti.

Banyak lagi hal-hal dalam matematika yang dibentuk berdasar kesepakatan, seperti aljabar, limit, geometri, dan lain sebagainya. Jika tidak dapat dikatakan bahwa semua hal dalam matematika adalah kesepakatan, karena saya pribadi bukan ahli matematika yang pernah membedah semua rumusan matematika, paling tidak bisa dikatakan bahwa sebagian besar basis yang membentuk ilmu matematika disusun berdasarkan kesepakatan, bukan kepastian.

Senin, 02 Maret 2015

Hidup untuk Senang-senang

Kita lahir di atas dunia yang sudah miliaran tahun ada. Ngga seberapa lama kita bakal pergi meninggalkan dunia. Orang-orang menyebutnya, "mati". Sementara kehidupan dunia ini terus berlanjut, jutaan, mungkin miliaran tahun lagi setelah kita ngga ada. Apa guna kita di dunia ini, yang cuma hidup sesingkat suara burung "kecepreeett" kalo dibandingkan dengan umur dunia? Susah senang bergiliran menghampiri kita, kayak piala dunia yang diraih bergiliran oleh negara Eropa dan Amerika. Lantas ada yang bertanya lagi, apa gunanya kita hidup kalo sekadar dijadikan "piala bergilir"? Banyak yang jadi putus asa lantaran merasa hidupnya susah terus. Terus mereka terus terusan bertanya, apa gunanya kita hidup kalo terus susah? Lebih baik mati saja.

Mereka putus asa, padahal susah dan senang datang pasti giliran kok. Setelah susah pasti ada senang. Setelah senang tentu ada susah. Begitu seterusnya. Susah, senang, susah, senang, susah, senang. Hanya saja, orang-orang putus asa tersebut terlalu menghayati ketika mereka sedang susah. Sementara ketika senang, waktu terasa bergulir lebih cepat. Itu yang disebut Einstein dengan hukum relativitas waktu. Ngga heran kalo banyak yang merasa hidup mereka lebih banyak susahnya. Sebenarnya itu cuma masalah cara pandang dan pola pikir seseorang dalam merespon susah senang dalam hidupnya.

Ketika susah, cobalah untuk bersabar dan bersyukur. Tapi bukan sabar dalam meratapi kegagalan atau kesusahan itu lho. Ya bakal susah terus. Maksudnya sabar dalam berjuang memperbaiki kegagalan yang bikin susah itu. Itu baru layak dikatakan kesabaran yang tiada batasnya. Sebab kalo berbatas, itu bukan sabar namanya, melainkan maksa untuk sabar. Wal hasil, nyesek sendiri pastinya. Kalo sabar yang sebenarnya, ya bakal terus berjuang tanpa batasan.

Setelah berusaha dengan sabar, berjuang maksimal, ngga akan menjadi beban. Sebab setelah upaya sampe maksimal, hasilnya tentu sebanding. Nah, di situlah diperlukan sifat syukur. Bagaimanapun hasil yang kita dapat patut kita syukuri karena pasti sesuai dengan upaya yang kita lakukan. Kalo istilah bulenya, "what you've given, you get back". Itulah pentingnya sabar dan syukur dalam menghadapi kesusahan hidup. Setelah sabar, tentu tumbuh sifat syukur. Kemudian seiring terbiasa, akan lahir rasa ikhlas dalam diri untuk menghadapi apapun yang terjadi. Waduh, ngomong-ngomong saya udah lagak kayak motivator aja, hehehe..

Oya, satu hal yang juga perlu, ketika kita sedang susah, jangan lupa siapkan catatan kecil. Tulis nama (segelintir) orang yang ada bersama kita. Itu penting sebab saat kita senang nanti, orang-orang tersebut adalah yang pertama akan kita panggil untuk berbagi kebahagiaan. Mengingat setelah ada susah pasti ada senang. Nah, ketika masa-masa senang itu tiba, nikmatilah, tapi jangan terlalu euforia sampai lupa waktu. Agar kita tidak terjerumus dalam teori Mbah Einstein yang bisa membuat kita merasa rasa bahagia itu cuma melintas sekejap seperti suara burung "kecepreeett". Buntut-buntutnya, kita lagi-lagi menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, menyalahkan hidup, pengen mati aja. Karena yang dirasa hanya susahnya saja, yang diingat cuma derita semata. Hmm, merasa jadi pujangga deehh, wkwkwk..


Kita kembali ke perihal hidup kita yang hanya sejenak di atas dunia, yang jika dibandingkan dengan umur dunia, usia hidup kita kira-kira sesingkat suara apa???? "Kecepreeett". Yak, pinter anak-anak, heuheuheu. Hidup yang singkat itu membuat banyak manusia bertanya, apa guna kita di dunia ini? Seperti saya kemukakan di awal, pertanyaan tersebut merupakan keputusasaan. Adapun untuk menghindari hal tersebut, para filosof membuat mahakarya yang "menyelamatkan" kita dari sindrom putus asa. Bahwa kita hidup di dunia ini bukan tanpa alasan, apalagi tanpa guna. Itu kata filosof. Dilanjutkan bahwa kita hidup di dunia ini diciptakan langsung oleh Tuhan. Bukan main dan bukan sekadar diciptakan begitu saja oleh Tuhan, tapi juga diciptakan untuk mewarisi dunia beserta isinya, mengelolanya, dan menjaganya.

Benar atau salah pendapat filosof itu, setidaknya itu telah membuat jutaan orang yang putus asa, jadi punya harapan hidup, punya gairah untuk berupaya baik, dan punya semangat untuk berbuat baik. Kita menciptakan Tuhan atau Tuhan yang menciptakan kita, yang penting dalam hidup ini, kita sebagai manusia, terus menebar kebajikan untuk sesama dan seisi alam ini. Toh kebaikan itu juga berguna untuk diri kita sendiri. Bukankah "what you've given, you get back"? Itu kata bule.

Secara universal, kebajikan itu membahagiakan sesama, menebar kebahagiaan untuk seluruh alam, dan pada akhirnya itu akan membuat kita bahagia ketika itu semua dilakukan dengan sabar dan syukur yang berbuah keikhlasan dalam berbuat. Puncak dari semua itu, kita akan senang membuat orang lain senang, kita senang berbagi kesenangan dan berbuat untuk alam sekitar kita. Dengan ada atau tidak adanya Tuhan yang menciptakan kita, kita akan gemar berbuat kebaikan. Dengan ada atau tidak adanya iming-iming imbalan atau bahasa bulenya, "what you've given, you get back", kita tetap senang menjalani hidup yang sesingkat suara burung "kecepreeett" ini.

Akhirnya, hidup kita pun selalu penuh dengan kesenangan, diisi dengan senang dan senang, bersenang-senang. So, berarti hidup ini sejatinya diciptakan untuk senang-senang. Senang membuat orang lain senang, orang lain senang membuat kita senang. Selamat bersenang-senang (^_^)v

Minggu, 15 Februari 2015

Skripsi

ANALISIS KINERJA OPERASIONAL CIDOMO DAN ANGKUTAN PEDESAAN
(Studi kasus pada wilayah operasional cidomo dan trayek angkutan pedesaan

Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S – 1 Jurusan Teknik Sipil

oleh:

WIRA ADINATA
F1A 008 066

JURUSAN TEKNIK SIPIL
2012


INTISARI

Tingkat kehidupan masyarakat yang kian berkembang menuntut pula perkembangan sistem pengangkutan. Permasalahan tersebut juga terjadi di Kabupaten Lombok Barat, sehingga berimbas pada menurunnya jumlah armada cidomo dan angkutan pedesaan dari tahun ke tahun. Analisis kebutuhan jumlah armada serta kinerja cidomo dan angkutan pedesaan perlu dilakukan, dengan mengetahui load factor dan demand masing-masing moda.

Untuk tujuan tersebut, dilakukan beberapa survei, yaitu survei statis, survei dinamis, dan survei wawancara. Survei statis meliputi survei waktu antara untuk menentukan frekuensi dan survei waktu menunggu keberangkatan yang dilakukan pada titik-titik pemberhentian angkutan. Survei dinamis meliputi survei jumlah penumpang untuk menentukan load factor dan survei waktu operasional serta jarak perjalanan yang dilakukan terhadap angkutan sepanjang rute yang dilalui. Survei wawancara dilakukan terhadap pengguna angkutan untuk mengetahui jarak jalan kaki ke shelter, jumlah pergantian moda, dan biaya perjalanan. Data hasil survei tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh nilai rata-rata dari masing-masing variabel.

Berdasarkan analisis data hasil survei, diperoleh load factor cidomo dan angkutan pedesaan pada semua rute tidak memenuhi standar. Demand cidomo rute Gunungsari-Midang, Midang-Sesela, Gunungsari-Sandik, dan Gunungsari-Kekait, secara berturut-turut adalah 57, 8, 17, dan 7 orang/jam. Demand angkutan pedesaan rute Sidemen-Gunungsari-Rembiga-Ampenan adalah 36 orang/jam dan rute Ampenan-Rembiga-Gunungsari-Sidemen adalah 49 orang/jam. Jumlah armada yang ada pada masing-masing rute untuk kedua jenis angkutan lebih banyak daripada jumlah yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, load factor, kecepatan perjalanan, waktu mununggu, dan frekuensi cidomo tidak memenuhi standar. Kinerja angkutan pedesaan tidak memenuhi standar hanya dari segi load factor.


Kata kunci: cidomo, angkutan pedesaan, load factor, demand, jumlah armada, kinerja.

Jumat, 09 Januari 2015

Manusia

Konon alam ini terdiri dari empat elemen, yaitu tanah, air, angin, dan api. Bumi, batu, debu, pasir, itu wujud tanah. Udara, asap, langit masuk dalam elemen angin. Hujan, salju, darah, mewakili air. Dan cahaya itu representasi api. Begitu juga manusia. Disebutkan bahwa tanah itu adalah unsur ragawi manusia. Air adalah darah. Angin adalah rongga tubuh manusia. Api adalah jiwa manusia.

Tidak hanya berkaitan dengan ihwal fisik, keempat elemen yang mewakili alam semesta itu juga punya arti secara filosofis. Bahwa dalam hidup ini, sebagai manusia, kita dibekali dengan empat hal. Empat hal yang bisa kita pergunakan untuk menjalani hidup agar lebih baik. Modal yang dapat membuat kita selamat apabila kita mampu memanfaatkannya dengan tepat. Keempat hal itu pun merupakan ejawantah dari unsur tanah, air, angin, serta api.


Kita tahu bahwa tanah adalah tempat berpijak, tempat berdiri, bersifat menopang. Demikian juga kita seharusnya. Yaitu mampu berpijak dengan kuat atau berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri yang disbut dengan mandiri, dan untung-untung bila kita mampu menopang orang lain selain diri kita sendiri. Di sana ada tanggung jawab dan karakter seorang pemimpin. Ada ketegasan, karakter yang kukuh pendirian layaknya batu yang merupakan unsur pembentuk tanah.

Di samping tipekal yang "keras" dari tanah, ada pula tipekal "lembut"nya yang mengajarkan kita untuk rendah hati dan tidak sombong.  Sebab paradoksnya, selain sebagai tempat berpijak, tanah sekaligus merupakan bagian yang diinjak-injak, rendah, dan kotor. Tanah pun lambat laun menjadi debu, yang notabene kecil dan mudah terombang-ambing diterbangkan angin. Oleh sebab itu, kita pun semestinya punya karakter rendah hati dan tidak sombong.

Air mengajarkan kita kesabaran. Kesabaran tanpa batas. Sebenarnya dalam tiap diri manusia ada bibit "air", bibit kesabaran tersebut. Hanya saja ada yang mampu menggalinya lebih dalam, ada yang hanya sekadar di permukaan. Air menetes satu demi satu, mengalir lembut, bergerak perlahan, namun lambat laun mampu mengikis, membolongkan, bahkan melebur batuan yang keras sekalipun. Itu adalah buah dari kesabaran.

Tidak cuma mampu bersabar tanpa upaya, air adalah karakter yang berupaya tanpa henti, berusaha tanpa akhir, bekerja maksimal. Bayangkan saja air yang menetes satu per satu bisa menjadi berjuta-juta tetesan. Dalam bentuk hujan lebat yang menenggelamkan segalanya. Air yang mengalir perlahan kadang berubah jadi arus deras yang mampu menghempas apapun yang menghalangi alirannya. Pergerakan air yang tenang justru mampu menghanyutkan, menyeret semua yang ada di alirannya.

Manusia juga secara filosofis punya sifat-sifat angin. Angin yang berhembus sedang, menghasilkan udara sejuk. Begitu pun manusia, selayaknya mengedepankan sifat-sifat kesejukan. Berkata baik sehingga menimbulkan kesejukan untuk sesama. Angin yang bertiup pelan, menciptakan kenyamanan. Begitu pun manusia, semestinya berlaku baik sehingga membuat nyaman sekelilingnya.

Dalam sejuknya, dalam keramahannya, angin menyimpan kekuatan yang besar, energi yang dahsyat. Angin mampu menumbangkan pohon-pohon besar nan kokoh. Angin sanggup meluluhlantakkan berbagai bangunan, hingga bangunan pencakar langit sekalipun. Hal tersebut bisa kita petik pengertian bahwa manusia hendaknya memiliki kekuatan sebesar-besarnya seperti angin. Memiliki energi positif yang dahsyat, namun tidak jumawa, tidak angkuh, melainkan justru melindungi siapapun yang ada di sekitar dengan ramah dan sikap yang menyejukkan.

Yang terakhir adalah unsur api. Api memiliki tiga prilaku, yakni panas, membakar, dan menerangi sebagai cahaya. Dalam diri manusia, unsur api itu adalah jiwa yang berkobar-kobar, jiwa yang menyulut semangat. Tentunya semangat untuk maju, semangat yang membakar, penuh perjuangan. Itulah api, yang punya karakteristik progresif, bersemangat, dan membakar.

Selain menyulut panas dan membakar, api punya karakteristik lain, yaitu menerangi. Dalam bentuk kerlap lilin-lilin yang tulus memberi secercah cahaya di kegelapan malam, api menunjukkan sifatnya yang lain. Hal tersebut dapat kita adaptasi dalam kehidupan kita. Cahaya tersebut adalah lambang pencerahan. Titik-titik terang yang kita peroleh dari kesadaran diri yang utuh. Adapun kesadaran penuh itu merupakan buah dari introspeksi, mengkoreksi diri sendiri, perenungan, kontemplasi. Itu semua kita dapatkan dari lilin-lilin kecil yang apinya memberi cahaya.

Hikmah dari semuanya adalah bahwa kita sebagai manusia dianugerahi kelebihan yang luar biasa oleh Tuhan. Itu akan menjadi mahadahsyat bila kita mampu mengembangkannya. Kita adalah pemimpin, pemimpin diri sendiri maupun pemimpin masyarakat. Kita adalah makhluk pekerja keras, yang terlahir dan ditakdirkan untuk berjuang. Kita punya potensi besar, energi yang mempuni, berupa kecerdasan, kemampuan, serta kreativitas. Dan kita pun punya semangat juang untuk menghimpun semua anugerah yang diberi oleh Tuhan tersebut.

Tapi satu yang tidak boleh kita lupa, bahwa kita hidup di dunia ini mengemban tugas mulia, yaitu menebar kebaikan. Potensi dan kelebihan yang kita punya jangan sampai membuat kita lupa sehingga malah mengedepankan ego sebagai penghancur peradaban. Sebaliknya, kita harus rendah hati meski diberi keistimewaan. Kita harus bersabar dalam melaksanakan kebaikan yang telah kita pilih sebagai jalan kehidupan. Kita harus mampu membawa kebaikan itu untuk sesama, dalam bentuk kesejukan dan perdamaian. Serta kita harus tetap introspeksi diri, terus memperbaiki diri dalam proses menjalani tugas mulia tersebut. Sebab betapapun hebatnya kita, bagaimanapun baiknya niat kita, kita takkan pernah terlepas dari kesalahan sebagai manusia.

Kamis, 01 Januari 2015

Kaleidoskop di Halaman Pertama 2015

Tuhan, puji syukur saya ucapkan atas anugerah-Mu yang selalu bertambah dari tahun ke tahun. Dan terima kasih untuk anugerah yang telah Engkau persiapkan tuk saya beserta keluarga di tahun 2015 dan seterusnya.


Membayangkan tahun-tahun yang sudah lalu dalam frame kaleidoskop, tak ada ungkapan lain yang bisa mewakili selain rasa syukur. Wisuda di 2012 setelah melewati perjuangan yang tidak mudah di bangku kuliah adalah anugerah yang tidak mungkin saya lupakan. Sebelum wisuda, sempat risau mengenai pekerjaan. Tuhan menjawab kerisauan itu dengan memberi saya pekerjaan bahkan sebelum saya wisuda. Tepat sehari sebelum wisuda, yakni tanggal 25 Desember 2012 saya diterima bekerja di Perusahaan Apraisal.


Memang hukum alam bahwa kebahagiaan dan kesedihan akan digilir dalam kehidupan kita. Awal Januari 2013 keluarga saya menerima musibah yang tidak akan saya ceritakan di sini. Tapi intinya, musibah itu kami maknai sebagai cara Tuhan untuk membuat kami semakin kuat dan tetap eling.


Di pengujung 2013, saya mulai bekerja di ranah yang lebih sesuai dengan bidang ilmu saya, yaitu sebagai Asisten Fasilitator Teknik PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Seolah menemukan dunia saya, walaupun ditempatkan jauh di pelosok desa, namun saya menikmati itu semua. Sampai pada awal 2014 saya dinyatakan lulus sebagai Aparatur Sipil Negara setelah bersaing dengan ribuan orang lainnya. Menurut saya itu anugerah yang luar biasa. Sebab dari ribuan orang yang punya mimpi yang sama, saya termasuk satu orang yang terpilih. Saya pun ditempatkan di Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan Dan Energi Kabupaten Lombok Utara terhitung sejak Maret 2014.


Di Lombok Utara saya bertemu teman lama yang juga lulus bersamaan dengan saya. Tulus Sugiarto namanya. Walau baru bertemu lagi setelah masa SMP, kami merasa sangat dekat, seperti saudara. Dari mulai makan, berangkat kerja, jalan-jalan, sampai kos, kami bersama. Tapi lagi-lagi di sini kita lihat bahwa kebahagiaan dan kesedihan terus digilir. Teman yang begitu akrabnya tiba-tiba dipanggil Tuhan dengan cara yang mengejutkan. 13 September 2014.


Selepas peristiwa itu, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Sebab teman terdekat sekaligus teman seperjuangan saya di Lombok Utara sudah pergi. Saya meninggalkan kos kami yang penuh kenangan, di mana kami tinggal bersama dan sering berkumpul dengan banyak teman yang lain. Saya membeli rumah pada Desember 2014 dan berencana menempatinya di awal tahun 2015.


Pengujung 2014, kakak saya, Wira Patria menyusul saya lulus sebagai Aparatur Sipil Negara di Sekretariat Daerah Kabupaten Lombok Utara. Mungkin peruntungan kami memang ada di Lombok Utara. Semoga itu semua bisa menjadi berkat untuk keluarga kami ke depannya, disusul dengan berkat-berkat yang lain.


Begitu banyak pelajaran dan anugerah di tahun 2014 yang dapat saya rangkai menjadi sebuah kaleidoskop. Dari sekian banyak itu, ada beberapa yang memang tak terlupakan. Menjadi sejarah yang bisa dipetik hikmat, untuk menjalani hidup hari ini, dan menjadi bekal di tahun-tahun mendatang. Bahwa Tuhan tentu telah menyediakan anugerahnya-Nya untuk kita semua. Tinggal bagaimana kita berupaya meraihnya dengan penuh perjuangan dan keikhlasan, atas dasar cinta. Cinta kepada keluarga, cinta kepada sesama, kepada alam kita, dan kepada-Nya.


-------------------


Di halaman pertama tahun ini, Kau sebarkan huruf-huruf hingga berserak. Kupunguti satu-satu, kubersihkan. Namun ada lima yang tak kutemui. Sampai aku tersadar, telah Kau tanam yang lima itu di kedalaman hatiku. Mereka adalah C, I, N, T, dan,,, A.


~ Resolusi 2015


Sekelumit Cerita dari Kawah Teknik

Waktu kecil, kebanyakan anak bercita-cita jadi dokter, jadi pilot, atau jadi presiden. Mungkin cuma saya yang cita-citanya agak sedikit aneh, pengen jadi pelukis. Karena dulu saya hobi banget gambar, sampe-sampe sering ikut lomba dan gambaran saya masuk koran. Tapi itu dulu waktu kecil. Kata orang, ketika kita beranjak dewasa, cita-cita kita makin realistis dan impian masa kecil semakin terdegradasi. Itu ada benernya. Terbukti selepas SMA, cita-cita saya mulai berubah, yakni jadi dokter. Mengingat realitas kehidupan, bahwa profesi dokter yang cukup menjanjikan untuk masa depan. Namun jadi dokter belum cukup  relistis buat saya setelah melihat betapa besarnya biaya masuk Fakultas Kedokteran. Wal hasil saat memilih tempat kuliah, saya sempat mengalami kekosongan cita-cita. Di tengah kekosongan itu, saya teringat cita-cita masa lalu saya, yakni jadi pelukis. Didukung dengan kemampuan eksak yang cukup baik dan petunjuk dari orang-orang terdekat, maka saya mendaftar di Fakultas Teknik. Karena di Teknik mutlak perlu kemampuan eksak dan menggambar. Persis seperti kemampuan dan kemauan masa lalu saya.

Sebelum masuk Fakultas Teknik, saya dengar kata orang bahwa kuliah di Teknik itu berat, banyak tugasnya, dan jarang yang bisa lulus dengan waktu normal. Saya sempat ngga percaya. Saya berpikir, sebanyak-banyaknya tugas, kalo segera dikerjakan pasti selesai tepat waktu. Setelah mulai kuliah di Fakultas Teknik, mulai terasa bahwa kalo ada satu frasa yang tepat untuk mewakili Fakultas Teknik, ya itulah "Tugas Besar". Yaps, ternyata benar bahwa tugas di Teknik begitu bejibunnya. Tapi dalam menghadapi tugas demi tugas itu, saya punya prinsip bahwa seseorang akan lebih giat untuk menghindari apa yang ditakutinya daripada meraih apa yang diinginkannya. Misalnya, ketika kita ngantuk tapi ingin makan karena lapar, mungkin kita masih bisa menunda untuk makan, menunda untuk meraih apa yang kita inginkan dan memilih tidur saja. Tapi coba ketika kita ngantuk, lalu ada anjing yang mengejar ingin menerkam kita, saya yakin kita tanpa pikir-pikir langsung lompat lari menjauhi anjing yang kita takutkan itu. Bertolak dari pemikiran itu, di Fakultas Teknik, saya punya mindset untuk berusaha menghindari hal-hal buruk dan menakutkan yang sering dialami dan diceritakan oleh orang-orang sebelum saya. Bukannya jumawa untuk mengejar target-target seperti yang dilakukan kebanyakan teman seangkatan saya. Terbukti dengan resep menghindar dari hal-hal buruk itu, saya jadi lebih terpacu untuk bergerak cepat di "Kawah" Teknik.

Semester I adalah tonggak awal saya dengan modal IP tertinggi saat itu. Dengan start yang baik di semester awal, maka dengan mudah saya memperoleh keberhasilan yang sama di semester-semester berikutnya. IP tertinggi dan otomatis IPK tertinggi di angkatan saya. Itu berkat saya tidak meremehkan pelajaran-pelajaran yang tergolong mudah di awal-awal perkuliahan. Tidak terlena dengan target-target keberhasilan, melainkan berpacu belajar guna menjauhi bayangan kegagalan. Namun semester paling berat buat saya sekaligus paling berkesan yaitu semester IV di mana saat itu ada tugas besar terbanyak sepanjang masa kuliah. Kalo diibaratkan, semester IV itu puncaknya kawah teknik, puncaknya kesibukan mahasiswa teknik. Saat itu ada tugas besar Struktur Beton II yang membuat saya pusing seribu keliling, sampe-sampe hampir lepas tugas. Untungnya dosen asistensi memberi perpanjangan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan lebih untungnya lagi, saya punya teman-teman yang membantu mengerjakan tugas itu. Padahal mereka juga mendapatkan tugas yang sama. Tanpa mereka, mungkin saat itu saya ngga lulus tugas Beton II. Terima kasih Yonk yang udah bantu analisis SAP. Terima kasih juga buat Harry, Elprada, dan Yogi, teman seperjuangan di tugas Beton II. Itu sekelumit cerita di semester IV.


Bagian terbesar dari perjalanan menyusuri kawah teknik saya lewati bersama teman-teman yang diberi nama Para Sahabat oleh Elprada. Mereka antara lain, Elprada tentunya, Dinda, Euis, Yogi, Riank, Roem, Moel, Ade, dan Mia. Sering juga ikut gabung Yudha dan Agus. Belakangan ada juga senior kami, Mbak Esty yang gabung sehingga menambah warna  di grup itu. Dengan adanya Mbak Esty, grup diberi nama Color Grup. Artinya seh Grup Warna Warni. Tapi ada maksud yang lebih ektrim dari nama itu, hahaa. Bersama grup itu, banyak hal yang saya lakukan, mulai dari kumpul bareng, makan bareng, belajar bareng, jalan-jalan bareng, party bareng, sampe konflik bareng. Grup yang aneh.

Di pengujung masa kuliah, saya sempat menjadi asisten praktikum Mekanika Tanah, sekaligus sebagai koordinatornya. Ada kebanggaan tersendiri saat menjadi asisten praktikum (coas) sebab mahasiswa yang menjadi coas adalah mahasiswa-mahasiswa yang prestasi akademiknya baik. Gilang, Agus, Elprada, Harry, Toto, Dinda, Euis, Roem, Riank, dan Sirry adalah temen-temen coas saya yang termasuk dalam kategori tersebut. Kami juga langganan menerima beasiswa.


Selain temen belajar, temen jalan-jalan, dan rekan kerja di laboratorium, ada juga temen kongkow-kongkow di luar jam kuliah. Dalam kongkow-kongkow tersebut, banyak hal yang bisa kami bicarakan. Dari masalah kuliah, sampai masalah pribadi. Dari keadaan sekitar, sampai keadaan politik. Dari perihal alam, sampai perihal agama. Pokoknya banyak hal yang dibicarakan hingga jam terasa berputar lebih cepat, saking asyiknya. Mereka adalah temen-temen yang easy going, ada Kaspul, Isan, Panji, dan Indra. Selain kongkow bareng mereka ada juga grup informal yang kami buat dengan sebutan HB2P. Ngga perlu disebutkan apa kepanjangannya, sebab cukup ekstrim juga tuh kalo disebut, hehehe. Grupnya berisi cowok-cowok "gila" di angkatan kami. Adapun grup ceweknya kami namai Gank Bank.


Memang di kampus ada banyak grup, tapi buat saya, dari Sabang sampe Merauke, dari Gank Bank sampe HB2P, angkatan Sipil Genap 2008 harus bersatu. Maka kami juga punya grup yang menyatukan angkatan kelas genap 2008 yang kami beri nama SIGN'08 (Sipil Genap 2008). Grup yang membuat kami tetap solid walau punya karakter yang berbeda, punya hobi berlainan, bahkan perkumpulan masing-masing. Hingga pada akhirnya ketika saya wisuda di tahun 2012 sebagai lulusan pertama dari angkatan 2008 bersama Agus, Sirry, dan Elprada, momentum tersebut saya jadikan sebagai momentum berkumpulnya teman-teman seangkatan. Berkumpul sambil merayakan kelulusan sekaligus bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya selama ini. Baik anugerah berupa kelancaran studi dan prestasi yang baik, maupun anugerah berupa persahabatan yang tak terlupakan dari teman-teman yang luar biasa.

Itulah sekelumit cerita dari Kawah Teknik, dengan berbagai dinamikanya. Pendidikan yang tegas, perjuangan yang keras, dan persahabatan tanpa batas. SIGN'08, kalian memang istimewa.

Sabtu, 20 Desember 2014

Celotehku pada Sangsara

Cinta tak mengenalmu..
Dia logika meski semu..
Pengetahuan yang tak kutahu..
Pada sangsara, itu celotehku..

Kata orang cinta tak ada logika..
Kataku kita tak cukup cerdas memahaminya..
Dan kamu takkan mampu rintangi datangnya cinta..
Celotehku pada sangsara..

Walau seribu beda menghalangi..
Cinta bahkan menembus dimensi..
Ruang waktu tak ada lagi..
Itulah celotehku pada sangsara..


Salah Kaprah I

Kita diajarkan bahwa permukaan air selalu datar. Kalau kita cermati, di bumi, apalagi di langit, sebenarnya tidak demikian. Muka air di bumi ini tentunya mengikuti muka bumi. Coba perhatikan muka air laut! Di pantai adalah tempat paling mudah untuk melihatnya. Permukaan air laut di garis cakrawala sana melengkung mengikuti permukaan bumi yang juga melengkung, sebab bumi ini bundar. Hal yang sama juga bisa kita lihat ketika menaiki pesawat terbang yang berada di atas lautan. Garis batas antara kaki langit dengan permukaan laut yang luas membentuk lengkungan. Dan apabila kita lihat di seluruh permukaan bumi yang bundar ini, perairan laut yang saling sambung menyambung satu sama lain juga membentuk permukaan yang serupa muka bumi, yaitu berbentuk bundar. Sehingga apabila kita tarik ke dalam scope yang lebih kecil, misalnya air di sungai atau danau, tentu permukaan air tetaplah melengkung. Dalam kelengkungan yang lebih kecil tentunya, tidak sebesar kelengkungan permukaan air di laut. Begitu pula dengan muka air dalam bak, ember, bahkan gelas. Walau terlihat datar secara kasat mata, namun jika dilakukan pengukuran secara detail, muka air mengalami kelengkungan. Kendati dengan derajat kelengkungan yang sangat sangat kecil, karena lingkupnya semakin kecil pula, sesuai dengan tingkat kelengkungan permukaan bumi di mana air tersebut berada. Tapi pada intinya sifat muka air yang selalu mengikuti muka bumi menyebabkan muka air di manapun selalu melengkung.

Di langit pun demikian. Permukaan air tidak datar. Titik-titik air yang membentuk awan, jelas berbentuk gumpalan. Tidak datar. Kemudian awan berubah menjadi hujan, juga permukaannya tidak datar. Malah berbentuk tetesan-tetesan yang bundar. Maka sebaiknya pengajaran tentang teori bahwa permukaan air selalu datar itu harus direvisi. Karena permukaan air tidak pernah berbentuk datar. Kadang melengkung, kadang berbentuk bundar, malah kadang tidak beraturan.


Kita diajarkan bahwa langit berada di atas kita. Sementara jika kita terbang ke langit di luar angkasa seperti para astronot, kita akan dilingkupi oleh langit. Ke mana pun kita memandang, itulah langit. Atas, bawah, kiri, maupun kanan, semuanya langit. Maka sebelumnya, kita perlu perbaiki konsep kita mengenai apa itu atas, apa itu bawah. Bila kita mendefinisikan bahwa atas itu adalah tempat yang lebih tinggi, itu hanya bisa berlaku ketika kita berada di bumi atau tempat yang stabil. Sebab dengan menyatakan bahwa atas adalah tempat yang lebih tinggi, kita harus punya titik acuan ukur. Dan ketika kita berada di luar angkasa, tidak ada yang bisa dijadikan titik acuan ukur, sebab semua benda melayang dan terombang ambing. Termasuk semua benda langit berada pada posisi melayang dan bergerak di angkasa. Bila arah atas kita definisikan sebagai di atas kepala, maka ketika kita misalnya berada pada posisi berbaring, tentu arah atas kita akan berubah. Apalagi bila tubuh kita berada pada keadaan terbalik, bisa-bisa posisi bawah menjadi atas, atas menjadi bawah. Sungguh definisi yang tidak pas.

Maka posisi atas dan bawah perlu dikonsep atau didefinisikan secara tepat dulu. Menurut konsep saya, posisi atas itu adalah posisi yang berlawanan arah dengan arah gravitasi dominan. Sedangkan arah bawah adalah arah yang berbanding lurus dengan arah gravitasi dominan. Gravitasi yang dimaksud di sini tentu tidak hanya gravitasi bumi, tetapi juga gravitasi benda langit apapun itu, termasuk matahari, bumi, bulan, dan planet lainnya. Jadi, ketika kita berada di bumi, langit memang di atas kita dan bumi berada di bawah kita. Sebab arah langit berlawanan dengan gravitasi bumi, ketika kita berada di bumi. Saat kita berada di bulan, berada pada pengaruh gravitasi bulan, langit pun berada di atas kita sebab arahnya berlawanan dengan arah gravitasi bulan. Begitu pula apabila kita berada pada pengaruh gravitasi Mars, berada di Venus, di Merkurius, atau di Jupiter.

Ketika kita bicara pada ranah tata surya, arah atas adalah arah yang berlawanan dengan benda langit yang memiliki pengaruh gravitasi terbesar/dominan di sistem surya kita, yaitu sang surya itu sendiri (matahari). Jadi, arah atas adalah arah yang menjauhi matahari, dan arah bawah adalah arah yang mendekati matahari. Pada kondisi tersebut, langit bisa di atas kita, sekaligus bisa berada di bawah kita. Akan tetapi ketika kita bicara pada tataran alam semesta yang mencakup semua galaksi dan semua benda langit, tidak ada lagi istilah atas maupun bawah. Sebab pada ruang lingkup sebesar itu, belum diketahui titik mana yang menjadi poros gaya tarik terbesar alam semesta. Pada dasarnya, langit tidaklah selalu berada di posisi atas. Sebab semua benda langit, termasuk bumi ini dilingkupi oleh langit. Segala benda langit bercokol di langit, mengambang di langit.