Filsafat dan seni adalah ilmu terpenting yang ada di bumi. Keduanya sama penting, sekaligus saling melengkapi. Filsafat adalah basic segala pengetahuan, sementara seni adalah pengembangannya, aplikasinya. Tanpa filsafat, semua ilmu kehilangan makna, latar belakang, dan tujuan. Sedang pengetahuan tanpa seni sama dengan mengerti sesuatu namun tak tahu bagaimana menjalaninya, bagaimana metodenya.
Jika dimasukkan ke dalam kerangka pemecahan masalah, filsafat adalah WHY dan seni merupakan HOW. Segala ilmu pengetahuan butuh WHY dan HOW tersebut dalam memecahkan setiap permasalahannya. Contoh sehari-hari yang dapat kita lihat misalnya permasalahan sederhana: kempesnya ban sepeda. Untuk memecahkan permasalahan ban kempes tersebut, kita perlu tahu dulu filsafat alias WHY, kenapa ban bisa kempes. Setelah tahu jawabannya bahwa ban kempes karena kekurangan angin, maka kita harus dapat mengaplikasikan seni atau HOW, yakni bagaimana cara memulihkannya.
Jika dimasukkan ke dalam kerangka pemecahan masalah, filsafat adalah WHY dan seni merupakan HOW. Segala ilmu pengetahuan butuh WHY dan HOW tersebut dalam memecahkan setiap permasalahannya. Contoh sehari-hari yang dapat kita lihat misalnya permasalahan sederhana: kempesnya ban sepeda. Untuk memecahkan permasalahan ban kempes tersebut, kita perlu tahu dulu filsafat alias WHY, kenapa ban bisa kempes. Setelah tahu jawabannya bahwa ban kempes karena kekurangan angin, maka kita harus dapat mengaplikasikan seni atau HOW, yakni bagaimana cara memulihkannya.
Dalam kasus-kasus akademis, di mana setiap ilmu pengetahuan ambil bagian, filsafat dan seni mutlak perlu. Ketika penyusunan skripsi atau thesis misalnya. Kronologi dimulai dengan memahami filsafat bidang ilmu atau kasus yang dikaji itu sendiri, yang disebut juga dengan latar belakang. Setelah latar belakang dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya telah rampung, penulisan berlanjut pada metode. Metode itulah seni. Dibutuhkan kemampuan seni, yaitu kreativitas dan imajinasi dalam menyusun metode pemecahan masalah. Tentunya masih banyak lagi contoh penggunaan filsafat dan seni yang tak dapat saya tulis di sini.
Atas itu, cukup beralasan ketika pada postingan sebelumnya saya pernah bilang, “Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah.” Karena seni itu sendiri, dan juga filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Kedua hal itu adalah intinya. Setiap orang yang cukup memahami baik itu filsafat maupun seni akan dengan mudah pula memahami cabang-cabang ilmu apapun. Dan itulah sifat pemimpin, di mana pengetahuannya harus luas mencakup banyak cabang ilmu pengetahuan. Beda dengan mentri, layaknya profesor dan doktor yang pakar pada satu bidang ilmu, namun mendalam dan ahli.
Maka penting untuk memahami filsafat (esensi) dan seni (aplikasi). Kedua hal tersebut berguna di semua bidang. Tentunya filsafat yang tidak hanya diartikan secara kolot, yakni tentang perenungan, dan juga seni yang tidak melulu dipahami secara sempit, berupa musik, lukisan, tarian, dll. Karena orang yang mengerti substansi akan menyadari bahwa dalam politik, bahkan teknik, dan bidang lain-lainnya, terdapat seni, dibutuhkan seni untuk menjalaninya. Demikian juga halnya dengan filsafat.





