Translate

Jumat, 14 September 2012

Filsafat dan Seni

Filsafat dan seni adalah ilmu terpenting yang ada di bumi. Keduanya sama penting, sekaligus saling melengkapi. Filsafat adalah basic segala pengetahuan, sementara seni adalah pengembangannya, aplikasinya. Tanpa filsafat, semua ilmu kehilangan makna, latar belakang, dan tujuan. Sedang pengetahuan tanpa seni sama dengan mengerti sesuatu namun tak tahu bagaimana menjalaninya, bagaimana metodenya.

Jika dimasukkan ke dalam kerangka pemecahan masalah, filsafat adalah WHY dan seni merupakan HOW. Segala ilmu pengetahuan butuh WHY dan HOW tersebut dalam memecahkan setiap permasalahannya. Contoh sehari-hari yang dapat kita lihat misalnya permasalahan sederhana: kempesnya ban sepeda. Untuk memecahkan permasalahan ban kempes tersebut, kita perlu tahu dulu filsafat alias WHY, kenapa ban bisa kempes. Setelah tahu jawabannya bahwa ban kempes karena kekurangan angin, maka kita harus dapat mengaplikasikan  seni atau HOW, yakni bagaimana cara memulihkannya.


Dalam kasus-kasus akademis, di mana setiap ilmu pengetahuan ambil bagian, filsafat dan seni mutlak perlu. Ketika penyusunan skripsi atau thesis misalnya. Kronologi dimulai dengan memahami filsafat bidang ilmu atau kasus yang dikaji itu sendiri, yang disebut juga dengan latar belakang. Setelah latar belakang dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya telah rampung, penulisan berlanjut pada metode. Metode itulah seni. Dibutuhkan kemampuan seni, yaitu kreativitas dan imajinasi dalam menyusun metode pemecahan masalah. Tentunya masih banyak lagi contoh penggunaan filsafat dan seni yang tak dapat saya tulis di sini.

Atas itu, cukup beralasan ketika pada postingan sebelumnya saya pernah bilang, “Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah.” Karena seni itu sendiri, dan juga filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Kedua hal itu adalah intinya. Setiap orang yang cukup memahami baik itu filsafat maupun seni akan dengan mudah pula memahami cabang-cabang ilmu apapun. Dan itulah sifat pemimpin, di mana pengetahuannya harus luas mencakup banyak cabang ilmu pengetahuan. Beda dengan mentri, layaknya profesor dan doktor yang pakar pada satu bidang ilmu, namun mendalam dan ahli.

Maka penting untuk memahami filsafat (esensi) dan seni (aplikasi). Kedua hal tersebut berguna di semua bidang. Tentunya filsafat yang tidak hanya diartikan secara kolot, yakni tentang perenungan, dan juga seni yang tidak melulu dipahami secara sempit, berupa musik, lukisan, tarian, dll. Karena orang yang mengerti substansi akan menyadari bahwa dalam politik, bahkan teknik, dan bidang lain-lainnya, terdapat seni, dibutuhkan seni untuk menjalaninya. Demikian juga halnya dengan filsafat.

Pemimpin Seiman

Tentang pemimpin yang seiman atau tidak seiman dengan warga yang dipimpinnya adalah soal prinsip, sikap, dan profesionalisme. Terlalu kecil membicarakan hal itu cuma pada lingkup Pilgub DKI. Menurut saya, Pilgub DKI bukan soal itu, tapi yang di belakang itu, yakni taktik politik. Pilgub DKI bukan lagi memainkan opsi pro-Foke atau Jokowi, bukan lagi status quo atau perubahan, tapi adu taktik memainkan isu SARA. It’s all about pro-SARA or not. Jika Foke bisa memainkan suara pendukung statement “Pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin” dia akan dengan mudah meraup pemilih, bahkan yang sebelumnya mendukung Jokowi tanpa embel-embel SARA tersebut. Sebaliknya jika Jokowi yang cerdas memutar dadu politik, menggerakkan masa anti-SARA, pendukung Foke pun akan dengan gampangnya beralih pilihan, hanya karena mereka tidak sependapat dengan ide yang mengatakan bahwa pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Itulah sekilas tentang Pilgub DKI, yang hakikinya tidak pure soal SARA, tapi menjadikan SARA sebagai alat. Jadi bisa-bisa pemenangnya adalah siapa yang lebih lihai memainkan “alat” tersebut.
 

Karena itu, yang kini saya tuliskan ngga ada sangkut paut dengan Pilgub DKI. Karena menurut saya tadi, kepemimpinan adalah tentang prinsip, sikap, dan profesionalisme. Tak hanya untuk DKI yang cuma sekelumit, tapi untuk segala aspek, segala bidang. Bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan kesehatan. Pemimpin ngga cuma gubernur DKI aja toh. Ada pemimpin perusahaan, ada pemimpin rapat, ada pemimpin kecamatan, desa, kelurahan. Seorang sopir pun adalah pemimpin untuk para penumpangnya. Penumpang mempercayakan keselamatan mereka di perjalanan kepada si sopir. Seorang dokter juga pastinya pemimpin untuk para pasiennya, dari ruang konsultasi sampai ruang operasi. Pasien mempercayakan keselamatan jiwa raganya kepada dokter tersebut. Dan masih banyak lagi contoh pemimpin yang kepadanya kita “menyerahkan” keadaan kita. Lantas apa iya pemimpin-pemimpin itu harus seiman dengan yang dipimpinnya??? Secara akal sehat, jelas TIDAK. Apa iya, ketika tersesat di suatu tempat, kita mesti bertanya dulu kepada guide yang memimpin kita mencari jalan keluar, “Apa keimanan Anda?”. Itu pula kenapa ayah saya tidak pernah menanyakan apa iman dokter yang memimpin operasi pembedahannya. Karena ayah saya paham benar, pemimpin ngga mesti seiman dengan yang dipimpin. Yang jelas, pemimpin harus kapabel, walau ngga seiman. Itu baru tepat. NB: Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah, hehe..

Sekali lagi, tak masuk akal kalo pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Pemimpin ngga harus seiman dengan yang dipimpin. Hal tersebut adalah prinsip dan sikap yang tepat dalam kenyataan kehidupan sosial ini. Buat saya, hanya pemimpin agama (kepercayaan/keimanan) yang harus seiman dengan yang dipimpinnya. Itu logis, karena gimana mau mengajarkan agamanya (kepercayaan/keimanan) kepada umatnya kalo iman si pemimpin tersebut beda dengan umatnya sendiri. Terakhir, saya ingin berucap syukur atas suksesnya operasi pembedahan ayah saya. Tak hanya kesyukuran pribadi yang luar biasa besarnya karena ayah saya menjadi sehat kembali seperti sedia kala. Tetapi juga itu sukses membuktikan bahwa untuk beroleh hasil terbaik, pemimpin (dalam hal ini dokter) tak harus seiman dengan yang dipimpin.

Obrolan Sinar yang Jadi Bias

Intro: Uddin dan Markus bersahabat sejak kecil. Belakangan keduanya tau ternyata mereka masih ada hubungan saudara sepupu, walaupun sepupu jauh. Uddin punya sahabat lain, bernama Ketut, sementara Markus punya sahabat lagi, namanya Chentong. Sewaktu SMA, Uddin maupun Markus saling kenalkan sahabat mereka tersebut. Sejak itu Uddin, Markus, Ketut, dan Chentong pun jadi sahabat hingga kini. Mereka berempat almost kompak. Suatu ketika, istri Markus melahirkan anak pertamanya....
 
 
"Din, istriku baru ngelahirin. Kira-kira bagusnya anakku kukasih nama apa ya?" tanya Markus kepada Uddin.

"Waa, selamet Kus. Akhirnya yang ditunggu-tunggu mbrojol juga, haha.. Anakmu cewek? Cowok Kus?" kata Uddin menimpali.

Markus jawab, "Cewek Din."

"Kalo menurutku seh, Nur bagus tuh Kus." saran Uddin.

Sambil menggeleng, Markus berkata, "Oalaahh, aku kan bukan orang Arab Din." "Nur itu dari bahasa Arab kan?" lanjutnya.

Uddin pun menyindir, "Jadi, mau sok-sokan pake nama British kamu Kus??"

"Ngga juga laahh. Yang pribumi aja, hihi." pinta Markus.

Tiba-tiba Chentong ikut nimbrung dan langsung bilang, "Ya udah, kasih nama Sinar aja. Itu kan Indonesia banget."

"Waah, banyak amat sarannya, hehe." kata Markus berbasa-basi.

"Sebutannya aja yang banyak. Artinya kan sama. Nur kalo dibule-bulein jadi light ato ray. Kalo di sini sinar, cahaya." ujar Chentong.

"Menurutmu kenapa harus sinar? Apa bagusnya?" tanya Markus lagi.

Uddin menjawab dengan antusias, "Sinar itu satu-satunya yang bikin terang Kus. Tiada terang selain sinar." "Bagaimana menurutmu Tut?" lanjut Uddin sambil tiba-tiba bertanya kepada Ketut yang datang ke hadapan mereka.

"Waah ada apa ini? Aku ngga ngerti apa-apa kok sekonyong-konyong ditanya." Ketut heran.

"Itu Tut, masak si Uddin bilang kalo sinar cuma satu." sahut Chentong.

"Owh, ngebahas sinar toh. Tumben banget, wkwk" ucap Ketut. "Tapi kalo menurutku seh, sinar itu banyak loh. Malah ngga bisa terhitung. Tak terhingga." terus Ketut.

"Kenapa bisa gitu Tut?" Chentong menelisik.

"Iya toh. Lampu aja sekali nyala, apa bisa kamu itung sinarnya? Belum lagi sinar yang laen-laen. Pantulan sinar bulan, apalagi sinar matahari. Wuih ga terhingga tuh." Ketut coba menjelaskan.

Markus heran terhadap arah pembicaraan kawan-kawannya yang sudah mulai ngalor ngidul ngulon wetan.

"Lingkupnya yang ngga terbatas. Kalo wujudnya ya tunggal, ya cahaya itu sendiri." timpal Uddin.

"Sinar itu juga kosong lho." sahut Chentong lagi.

Markus ikut saja obrolan yang mulai berpindah haluan itu. Layaknya pembalap moto GP yang tergelincir keluar track balapan. "Awalnya ngomongin nama. Kok sekarang malah bicara tentang sinar.." gumamnya dalam hati.

"Kosong???" sergah Ketut.

"Selama ini kita kan cuma liat benda yang memantulkan sinar itu. Tapi sinar itu sendiri pada dasarnya kosong. Tanpa media yang bisa memantulkan, sinar ga bisa kita alami, apalagi keliatan, ga bisaa.. Hampa bro.." Chentong meneruskan.

Lama kelamaan, Markus yang mulai ngga sabaran, akhirnya menyela pembicaraan. Sontak Markus berkata, "Aduuhh, tadinya kan aku minta saran nama buat anakku. Kok malah sekarang ngobrolin sinar??? Jadi, nama anakku apa nih??"

"Oh, kamu minta pendapat untuk nama anakmu ya kus? Kenapa ga bilang dari tadi, ckckck." kata Ketut.

"Capeekk deehh.." Markus menimpali.

"Hahahaaa, abisnya obrolan kita terlalu seru Kus. Jadi ga terasa ngelanturnya." tukas Uddin.

"Bener tuh Din. So, kalo menurutmu, mana yang bener Kus. Sinar itu satu, ngga terhingga, atau kosong?" sambung Chentong.

Berpikir sejenak, Markus pun menjawab. "Hmm, sinar itu ya tiga." jawab Markus ringan.

"Lho kok?" Uddin dan Chentong heran.

"Wujudnya satu. Ya kan Din?" ujar Markus.

Uddin mengangguk.

"Lingkupnya tak terhingga, seperti yang dibilang Ketut. Tapi keberadaannya kosong. Bukan begitu Tong?" tanya Markus minta kesepakatan.

"Jadi, sinar itu ya tiga." lanjutnya. "Tiga juga sifatnya. Bahwa sinar itu bisa menerangi dan bisa menghangatkan. Membakar juga bisa, jika sinar itu difokuskan. Bener ngga?"

"Haha, ngga ada yang salah Kus. Hanya aja, persepsi kita yang berlainan. Sudut pandang kita beda-beda buat mendefinisikan sinar." ujar Ketut sambil tertawa kecil.

"Chentong menelaah dari segi keberadaannya, kamu ngeliat ruang lingkupnya, sementara aku dari wujudnya. Dan Markus, menilai karakteristik dari sinar itu, hehehe." sambut Uddin kepada Ketut.

"Mungkin karena dari tadi pembicaraan kita ngga ada fokusnya, jadi persepsinya juga bias ke mana-mana." lanjut Chentong.

"Padahal awalnya kita ngomongin nama ya :p" sambung Markus nyindir.

"Ooohhh iyyaaaaa.. Jadiii, nama anakmu bakalan apa Kus???" tanya Uddin, Ketut, dan Chentong serius sambil kelabakan.

"Ga jadi :/" tegas Markus sebel.

Corong Hati Nurani Umat Manusia













Kau manusia
Tapi tak layaknya manusia
Kau tak membenci musuhmu
Seperti manusia membenci musuhnya
Kau mencintai dia
Yang mengakhiri hidupmu
Kau memaafkan

Kau hidup di bumi
Persembahan untuk langit dan bumi
Tuk bumi dengan segala penjurunya
Langit dengan segala dimensinya
Kau bentangkan tubuhmu
Perisai memeluk bumi
Kau abdikan jiwamu
Sebagai tabir penyeka langit

Terlahir dari manusia
Mati demi kemanusiaan
Kau jadikan dirimu
Manusia segala golongan
Manusia segala lapisan
Manusia segala manusia
Kaulah corong hati nurani
Umat manusia

(Tulisan ini saya buat atas kekaguman saya kepada Mahatma Gandhi "Corong Hati Nurani Umat Manusia")

Masalah Galau

Guru saya pernah bilang, "Masalah terjadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan." Ketika kita berharap nilai A namun ternyata hasilnya B, itu masalah. Ketika kita ingin makan nasi, sementara yang ada hanya roti, itu juga masalah. Kemudian masalah biasanya berbuntut pada ratapan atau kegalauan. Padahal kalo kata motivator-motivator di TV, masalah itu ada ya untuk dituntaskan, dihadapi, dicari jalan penyelesaiannya. Itu dapat menaikkan kelas kita lho. Bukannya malah diratapi (digalaukan). Tapi nyatanya???

Banyak ABG zaman sekarang, yang lagi-lagi kata motivator, harusnya penuh semangat dalam menjalani hidup, eh malah pada galau karena hal-hal remeh. Putus cinta... galau... Diselingkuhi... galau... Apa-apa serba galau. Di rumah... galau... Di Socmed... galau... Semua kompak galau. Sebagian besar curhatan galau ya memang karena cinta. Padahal seperti yang saya sampaikan tadi, masalah harus dicari jalan untuk menuntaskannya. Itu salah satu cara untuk mengalihkan rasa galau, sekaligus mencegah penyakit galau itu datang lagi. *Sok-sokan jadi motivator, hehe..

Kasus galau sebagian terjadi pada perempuan. Misalnya ada perempuan diselingkuhi yang ujung-ujungnya, putus cinta, bikin galau. Itu harusnya ga perlu digalaukan oleh si perempuan. Kita kembalikan aja pada prinsip dasar dari guru saya tadi. Kenyataan tidak sesuai harapan. Perempuan harus merubah pola pikirnya. Bukankah selama ini perempuan hanya berharap dapat pasangan yang baik. Tapi - tanpa sadar atau sadar - namun tetap enggan untuk berusaha. Lantas bagaimana bisa hasil yang mereka dapat sesuai harapan??? Pola pikir kuno itu yang mesti di-move on. Pola pikir seperti itu masih menjamur di otak para perempuan yang berpikiran kolot. Dari yang cantik sampai yang manis, dari yang seksi sampai yang tajir, pada dasarnya, perempuan itu pasif. Itu inti masalahnya.


Sementara perempuan asyik dengan kepasifannya, laki-laki lebih variatif sikapnya. Ada yang aktif, ada juga yang pasif. Yang aktif tentunya sudah terbiasa dengan permainan cinta, mulai dari trik merebut hati perempuan idaman (dengan sekadar tipu daya hingga kebohongan) sampai pada taktik-taktik perselingkuhan. Lelaki lugu, polos, jujur, dan setia layaknya yang didambakan para perempuan justru kebanyakan pasif karena lebih suka percintaan yang serius, tak ingin ribet dengan permainan-permainannya cinta.

Di sini letak ketidaksinkronannya, antara kenyataan dengan harapan. Di mana wanita yang hanya pasif menunggu mengharapkan datangnya lelaki jujur dan setia menghampiri, tapi kenyataannya?? Ternyata oh ternyata tidak demikian. Yang maju justru laki-laki yang aktif tadi tentunya, dengan seabreg sifat mereka yang justru tidak diidamkan (pembual, tidak setia, dsb). Alhasil, para wanita yang sudah lelah dalam penantian menunggu datangnya sang idaman, mudah saya dipengaruhi muslihat para lelaki itu, yang sebenarnya tak diharapkan. Maklum lah, perempuan kan lemah di "pendengaran", hehehe..

Itulah kenapa kebanyakan perempuan cantik yang kisah cintanya memilukan. Kebanyakan perempuan manis yang cerita asmaranya menyedihkan. Karena tentu saja laki-laki aktif tadi (atau kita sebut saja pejuang cinta) bakal mencari mangsa perempuan-perempuan cantik, manis, tajir, atau paling tidak, seksi laah. Ngapaen juga mereka cari yang jelek, padahal mereka sudah susah payah berjuang. Nah, sekarang problemnya sudah terurai. Tinggal bagaimana para perempuan membenahi pola pikirnya saja untuk sesekali aktif mencari laki-laki idaman, supaya tak keburu jadi mangsa lelaki pejuang cinta itu lagi. Kalau memang ingin serius dan lepas dari wabah galau tentunya :)

Karakter Bangsa di Plank SPBU

Setiap masuk ke area SPBU saya selalu lihat plank bertuliskan “DILARANG KERAS MEROKOK”. Tulisannya besar dengan “huruf besar” pula. Hingga dari jauh pun pasti terbaca oleh orang yang hanya melihat sepintas sekalipun (asalkan orang tersebut udah bisa membaca lho ya..)

Mungkin orang lain merasa biasa aja dengan larangan seperti itu, sehingga kadang tidak terlalu perhatikan secara detail lagi. Tapi buat saya, larangan seperti demikian perlu dapat perhatian lebih. Sangking perhatiannya, suatu ketika saya sempatkan diri datang ke SPBU cuma untuk memotret plank larangan tersebut. Bukan apa-apa, tapi larangan semacam itu menurut saya mencerminkan buruknya karakter bangsa kita, mencerminkan ketidaktegasan bangsa Indonesia dalam menjalankan peraturan.


Kalo udah ada peraturan “DILARANG” seharusnya pembuat aturan tegas dengan larangan itu. DILARANG ya DILARANG aja. Logikanya, kalo ada istilah “DILARANG KERAS” untuk suatu hal, berarti ada “DILARANG AGAK KERAS” untuk hal lainnya. Ada lagi “DILARANG KURANG KERAS.. AGAK LEMAH.. LEMAH.. bahkan LEMAH SEKALI..” donk untuk hal lain-lainnya. Itu kan ngga tegas namanya. Bila pembuat aturan mau tegas, atau bisa tegas, ya kalo sudah DILARANG,, DILARANG aja. Buntut dari ketidaktegasan aturan “DILARANG” itulah yang buat muncul aturan “DILARANG KERAS”. Bila saja aturan DILARANG bisa dijalankan dengan tegas, tak mungkin (dan buat apa juga) keluar aturan tambahan (DILARANG KERAS) seperti itu. Karakter bangsa yang buruk bukan???

Bila pun pembuat aturan tersebut mengadakan pembelaan, bahwa bukan aturannya yang tidak tegas, tapi yang diatur yang keras kepala, berhati batu, ga mau nurut, ya tetap saja kita bangsa yang berkarakter buruk. Sudah ada aturan, dilanggar.. Dibuat aturan baru lagi, dilanggar.. Ada juga aturan yang lebih keras, dilanggar pula. Sementara itu, ngatur diri sendiri ngga bisa. Jadi leader ngga bisa, jadi follower ga mau. Ada LARANGAN, dilanggar, ada LARANGAN AGAK KERAS, dilanggar pula, timbullah LARANGAN KERAS itu (yang kini menyadarkan saya tentang lemahnya karakter kita sebagai bangsa). Itu pun masih dilanggar.

Padahal di Negara ini masih banyak anak bangsa yang ngga bisa ngatur diri sendiri, ngga bisa memimpin diri sendiri. Tapi anehnya, mereka-mereka pun ngga mau diatur, yang secara tidak langsung ngga mau dipimpin. So, kalo ngga mau diatur, ngga mau dipimpin, buat apa milih pemimpin, buat apa pemilu. Bukankah pemimpin hanya perlu untuk orang-orang yang ngga bisa memimpin diri sendiri??? Orang yang sudah bisa memimpin diri sendiri dengan baik jelas ngga perlu yang namanya pemimpin *logika*. Jika memang sudah merasa atau bener-bener bisa memimpin diri sendiri secara baik, pemimpin pastinya tak dibutuhkan lagi. Tapi apa iya, mereka sudah sanggup memimpin diri sendiri dengan baik? *untuk direnungkan* *ngelantur*

Kamis, 13 September 2012

Berdoa dengan Social Media

Di zaman gaul ini, social media (Socmed) sudah ibarat doa. Di tengah gerombolan jejaring sosial yang ada, misalnya Netlog, Google+, Tagged, dan lain-lain, Facebook dan Twitter masih jadi Socmed terdepan. Kalau ibarat doa tadi, kedua social network tersebutlah yang paling banyak dilantunkan, dipanjatkan. Layaknya doa, bangun tidur, online, mau mandi, ngetwit, mau makan, update status. Di sekolah, update, lagi jalan, ngetag. Lagi susah, mention, lagi seneng, ngefav, ngapaen aja, like this. Pokoknya TL banget deh…

Ngomong-ngomong jejaring sosial, menurut saya Facebook itu Socmed paling beradab. Tiap berdoa (baca: online) kita selalu ditanya “What is in your mind?” “Apa yang ada dalam pikiran Anda?” atau “Apa yang Anda pikirkan?” Dibanding Twitter yang selalu nanya “What’s happening?” “Apa yang sedang terjadi?” Facebook lebih menghargai yang namanya pemikiran. Bahwa manusia itu makhluk yang selalu berpikir, paling ngga, punya pikiran laah. Jadi, siapa aja cocok kalo berdoa di Facebook.

Masih berkutat dengan pemikiran, Facebook ngasih ruang lebih luas buat penggunanya yang mau berdoa menuangkan isi pikiran mereka di status. Dibanding Twitter yang membatasi status hanya 140 karakter, status Facebook bisa nampung lebih dari itu. Malah di Facebook, “isi otak” dapat ditulis dalam bentuk note yang panjang. Selain menghargai pemikiran alias “isi otak”, Facebook juga menghargai kesetaraan umat manusia. Facebook pake istilah friend (teman), ngga seperti Twitter yang pake sebutan follower (pengikut).


Tapi kalo dalam hal proaktif, Twitter-lah yang lebih nuntut atau tepatnya mendidik penggunanya untuk proaktif. Karena di Twitter ngga ada notification (pemberitahuan) seperti di Facebook. Di Twitter kalo mau tau mentions, jumlah followers, DM, dan lain-lain, harus lihat sendiri. Singkatnya, berdoa di Twitter harus diimbangi dengan usaha juga, hehe. Mendidik kan? Beda dengan Facebook yang semuanya ada notification, yang bisa-bisa menimbulkan benih kemanjaan buat penggunanya, hoho.. Satu lagi nilai plus dari Twitter, yaitu bisa retweet quote ke para follower dan bisa nyimpen semua tweet di favorite. Sementara Facebook ngga nyimpen status-status yang di-like. Jadi, sewaktu-waktu saat berdoa di Twitter, bisa juga sambil baca quote-quote favorit.

Lepas dari itu semua, ada suatu yang menarik dari maraknya fenomena “Berdoa dengan Social Media” antara Facebook dengan Twitter. Facebook nge-booming lebih dulu daripada Twitter. Sebelum ada Twitter, mayoritas penghuni dunia maya berdoa pake Facobook. Tapi entah karena bosan atau ngerasa Twitter lebih baik, sekarang para pengguna Facebook yang punya Twitter lebih suka berdoa via Twitter alias Twitteran. Karena ngga mungkin cari yang kedua kalo yang pertama masih lebih baik bukan... Ga mungkin exodus ke Twitter jika Facebook dirasa masih lebih baik. So, meaning-nya adalah: Anda tak perlu berkecil hati ketika jadi yang kedua. Karena itu menandakan Anda lebih baik daripada yang pertama.

The last sayings in this note buat tweeps and facebookers: Selamat melantunkan doa-doa Anda, baik Anda memilih menggunakan Facebook atau Twitter ketika berdoa, baik itu Anda lebih suka dengan yang kedua ataupun setia pada yang pertama. Salkomsel, heuheuheu… *Keceplosan pake ketawa khasnya Mbah Jiwo Presiden Jancukers yang saban hari ngetwit. Moga si mbah ngga marah :D