Translate

Jumat, 14 September 2012

Masalah Galau

Guru saya pernah bilang, "Masalah terjadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan." Ketika kita berharap nilai A namun ternyata hasilnya B, itu masalah. Ketika kita ingin makan nasi, sementara yang ada hanya roti, itu juga masalah. Kemudian masalah biasanya berbuntut pada ratapan atau kegalauan. Padahal kalo kata motivator-motivator di TV, masalah itu ada ya untuk dituntaskan, dihadapi, dicari jalan penyelesaiannya. Itu dapat menaikkan kelas kita lho. Bukannya malah diratapi (digalaukan). Tapi nyatanya???

Banyak ABG zaman sekarang, yang lagi-lagi kata motivator, harusnya penuh semangat dalam menjalani hidup, eh malah pada galau karena hal-hal remeh. Putus cinta... galau... Diselingkuhi... galau... Apa-apa serba galau. Di rumah... galau... Di Socmed... galau... Semua kompak galau. Sebagian besar curhatan galau ya memang karena cinta. Padahal seperti yang saya sampaikan tadi, masalah harus dicari jalan untuk menuntaskannya. Itu salah satu cara untuk mengalihkan rasa galau, sekaligus mencegah penyakit galau itu datang lagi. *Sok-sokan jadi motivator, hehe..

Kasus galau sebagian terjadi pada perempuan. Misalnya ada perempuan diselingkuhi yang ujung-ujungnya, putus cinta, bikin galau. Itu harusnya ga perlu digalaukan oleh si perempuan. Kita kembalikan aja pada prinsip dasar dari guru saya tadi. Kenyataan tidak sesuai harapan. Perempuan harus merubah pola pikirnya. Bukankah selama ini perempuan hanya berharap dapat pasangan yang baik. Tapi - tanpa sadar atau sadar - namun tetap enggan untuk berusaha. Lantas bagaimana bisa hasil yang mereka dapat sesuai harapan??? Pola pikir kuno itu yang mesti di-move on. Pola pikir seperti itu masih menjamur di otak para perempuan yang berpikiran kolot. Dari yang cantik sampai yang manis, dari yang seksi sampai yang tajir, pada dasarnya, perempuan itu pasif. Itu inti masalahnya.


Sementara perempuan asyik dengan kepasifannya, laki-laki lebih variatif sikapnya. Ada yang aktif, ada juga yang pasif. Yang aktif tentunya sudah terbiasa dengan permainan cinta, mulai dari trik merebut hati perempuan idaman (dengan sekadar tipu daya hingga kebohongan) sampai pada taktik-taktik perselingkuhan. Lelaki lugu, polos, jujur, dan setia layaknya yang didambakan para perempuan justru kebanyakan pasif karena lebih suka percintaan yang serius, tak ingin ribet dengan permainan-permainannya cinta.

Di sini letak ketidaksinkronannya, antara kenyataan dengan harapan. Di mana wanita yang hanya pasif menunggu mengharapkan datangnya lelaki jujur dan setia menghampiri, tapi kenyataannya?? Ternyata oh ternyata tidak demikian. Yang maju justru laki-laki yang aktif tadi tentunya, dengan seabreg sifat mereka yang justru tidak diidamkan (pembual, tidak setia, dsb). Alhasil, para wanita yang sudah lelah dalam penantian menunggu datangnya sang idaman, mudah saya dipengaruhi muslihat para lelaki itu, yang sebenarnya tak diharapkan. Maklum lah, perempuan kan lemah di "pendengaran", hehehe..

Itulah kenapa kebanyakan perempuan cantik yang kisah cintanya memilukan. Kebanyakan perempuan manis yang cerita asmaranya menyedihkan. Karena tentu saja laki-laki aktif tadi (atau kita sebut saja pejuang cinta) bakal mencari mangsa perempuan-perempuan cantik, manis, tajir, atau paling tidak, seksi laah. Ngapaen juga mereka cari yang jelek, padahal mereka sudah susah payah berjuang. Nah, sekarang problemnya sudah terurai. Tinggal bagaimana para perempuan membenahi pola pikirnya saja untuk sesekali aktif mencari laki-laki idaman, supaya tak keburu jadi mangsa lelaki pejuang cinta itu lagi. Kalau memang ingin serius dan lepas dari wabah galau tentunya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar