Setiap masuk ke area SPBU saya selalu lihat plank bertuliskan “DILARANG KERAS MEROKOK”. Tulisannya besar dengan “huruf besar” pula. Hingga dari jauh pun pasti terbaca oleh orang yang hanya melihat sepintas sekalipun (asalkan orang tersebut udah bisa membaca lho ya..)
Mungkin orang lain merasa biasa aja dengan larangan seperti itu, sehingga kadang tidak terlalu perhatikan secara detail lagi. Tapi buat saya, larangan seperti demikian perlu dapat perhatian lebih. Sangking perhatiannya, suatu ketika saya sempatkan diri datang ke SPBU cuma untuk memotret plank larangan tersebut. Bukan apa-apa, tapi larangan semacam itu menurut saya mencerminkan buruknya karakter bangsa kita, mencerminkan ketidaktegasan bangsa Indonesia dalam menjalankan peraturan.
Mungkin orang lain merasa biasa aja dengan larangan seperti itu, sehingga kadang tidak terlalu perhatikan secara detail lagi. Tapi buat saya, larangan seperti demikian perlu dapat perhatian lebih. Sangking perhatiannya, suatu ketika saya sempatkan diri datang ke SPBU cuma untuk memotret plank larangan tersebut. Bukan apa-apa, tapi larangan semacam itu menurut saya mencerminkan buruknya karakter bangsa kita, mencerminkan ketidaktegasan bangsa Indonesia dalam menjalankan peraturan.
Kalo udah ada peraturan “DILARANG” seharusnya pembuat aturan tegas dengan larangan itu. DILARANG ya DILARANG aja. Logikanya, kalo ada istilah “DILARANG KERAS” untuk suatu hal, berarti ada “DILARANG AGAK KERAS” untuk hal lainnya. Ada lagi “DILARANG KURANG KERAS.. AGAK LEMAH.. LEMAH.. bahkan LEMAH SEKALI..” donk untuk hal lain-lainnya. Itu kan ngga tegas namanya. Bila pembuat aturan mau tegas, atau bisa tegas, ya kalo sudah DILARANG,, DILARANG aja. Buntut dari ketidaktegasan aturan “DILARANG” itulah yang buat muncul aturan “DILARANG KERAS”. Bila saja aturan DILARANG bisa dijalankan dengan tegas, tak mungkin (dan buat apa juga) keluar aturan tambahan (DILARANG KERAS) seperti itu. Karakter bangsa yang buruk bukan???
Bila pun pembuat aturan tersebut mengadakan pembelaan, bahwa bukan aturannya yang tidak tegas, tapi yang diatur yang keras kepala, berhati batu, ga mau nurut, ya tetap saja kita bangsa yang berkarakter buruk. Sudah ada aturan, dilanggar.. Dibuat aturan baru lagi, dilanggar.. Ada juga aturan yang lebih keras, dilanggar pula. Sementara itu, ngatur diri sendiri ngga bisa. Jadi leader ngga bisa, jadi follower ga mau. Ada LARANGAN, dilanggar, ada LARANGAN AGAK KERAS, dilanggar pula, timbullah LARANGAN KERAS itu (yang kini menyadarkan saya tentang lemahnya karakter kita sebagai bangsa). Itu pun masih dilanggar.
Padahal di Negara ini masih banyak anak bangsa yang ngga bisa ngatur diri sendiri, ngga bisa memimpin diri sendiri. Tapi anehnya, mereka-mereka pun ngga mau diatur, yang secara tidak langsung ngga mau dipimpin. So, kalo ngga mau diatur, ngga mau dipimpin, buat apa milih pemimpin, buat apa pemilu. Bukankah pemimpin hanya perlu untuk orang-orang yang ngga bisa memimpin diri sendiri??? Orang yang sudah bisa memimpin diri sendiri dengan baik jelas ngga perlu yang namanya pemimpin *logika*. Jika memang sudah merasa atau bener-bener bisa memimpin diri sendiri secara baik, pemimpin pastinya tak dibutuhkan lagi. Tapi apa iya, mereka sudah sanggup memimpin diri sendiri dengan baik? *untuk direnungkan* *ngelantur*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar