Intro: Uddin dan Markus bersahabat sejak kecil. Belakangan keduanya tau ternyata mereka masih ada hubungan saudara sepupu, walaupun sepupu jauh. Uddin punya sahabat lain, bernama Ketut, sementara Markus punya sahabat lagi, namanya Chentong. Sewaktu SMA, Uddin maupun Markus saling kenalkan sahabat mereka tersebut. Sejak itu Uddin, Markus, Ketut, dan Chentong pun jadi sahabat hingga kini. Mereka berempat almost kompak. Suatu ketika, istri Markus melahirkan anak pertamanya....
"Din, istriku baru ngelahirin. Kira-kira bagusnya anakku kukasih nama apa ya?" tanya Markus kepada Uddin.
"Waa, selamet Kus. Akhirnya yang ditunggu-tunggu mbrojol juga, haha.. Anakmu cewek? Cowok Kus?" kata Uddin menimpali.
Markus jawab, "Cewek Din."
"Kalo menurutku seh, Nur bagus tuh Kus." saran Uddin.
Sambil menggeleng, Markus berkata, "Oalaahh, aku kan bukan orang Arab Din." "Nur itu dari bahasa Arab kan?" lanjutnya.
Uddin pun menyindir, "Jadi, mau sok-sokan pake nama British kamu Kus??"
"Ngga juga laahh. Yang pribumi aja, hihi." pinta Markus.
Tiba-tiba Chentong ikut nimbrung dan langsung bilang, "Ya udah, kasih nama Sinar aja. Itu kan Indonesia banget."
"Waah, banyak amat sarannya, hehe." kata Markus berbasa-basi.
"Sebutannya aja yang banyak. Artinya kan sama. Nur kalo dibule-bulein jadi light ato ray. Kalo di sini sinar, cahaya." ujar Chentong.
"Menurutmu kenapa harus sinar? Apa bagusnya?" tanya Markus lagi.
Uddin menjawab dengan antusias, "Sinar itu satu-satunya yang bikin terang Kus. Tiada terang selain sinar." "Bagaimana menurutmu Tut?" lanjut Uddin sambil tiba-tiba bertanya kepada Ketut yang datang ke hadapan mereka.
"Waah ada apa ini? Aku ngga ngerti apa-apa kok sekonyong-konyong ditanya." Ketut heran.
"Itu Tut, masak si Uddin bilang kalo sinar cuma satu." sahut Chentong.
"Owh, ngebahas sinar toh. Tumben banget, wkwk" ucap Ketut. "Tapi kalo menurutku seh, sinar itu banyak loh. Malah ngga bisa terhitung. Tak terhingga." terus Ketut.
"Kenapa bisa gitu Tut?" Chentong menelisik.
"Iya toh. Lampu aja sekali nyala, apa bisa kamu itung sinarnya? Belum lagi sinar yang laen-laen. Pantulan sinar bulan, apalagi sinar matahari. Wuih ga terhingga tuh." Ketut coba menjelaskan.
Markus heran terhadap arah pembicaraan kawan-kawannya yang sudah mulai ngalor ngidul ngulon wetan.
"Lingkupnya yang ngga terbatas. Kalo wujudnya ya tunggal, ya cahaya itu sendiri." timpal Uddin.
"Sinar itu juga kosong lho." sahut Chentong lagi.
Markus ikut saja obrolan yang mulai berpindah haluan itu. Layaknya pembalap moto GP yang tergelincir keluar track balapan. "Awalnya ngomongin nama. Kok sekarang malah bicara tentang sinar.." gumamnya dalam hati.
"Kosong???" sergah Ketut.
"Selama ini kita kan cuma liat benda yang memantulkan sinar itu. Tapi sinar itu sendiri pada dasarnya kosong. Tanpa media yang bisa memantulkan, sinar ga bisa kita alami, apalagi keliatan, ga bisaa.. Hampa bro.." Chentong meneruskan.
Lama kelamaan, Markus yang mulai ngga sabaran, akhirnya menyela pembicaraan. Sontak Markus berkata, "Aduuhh, tadinya kan aku minta saran nama buat anakku. Kok malah sekarang ngobrolin sinar??? Jadi, nama anakku apa nih??"
"Oh, kamu minta pendapat untuk nama anakmu ya kus? Kenapa ga bilang dari tadi, ckckck." kata Ketut.
"Capeekk deehh.." Markus menimpali.
"Hahahaaa, abisnya obrolan kita terlalu seru Kus. Jadi ga terasa ngelanturnya." tukas Uddin.
"Bener tuh Din. So, kalo menurutmu, mana yang bener Kus. Sinar itu satu, ngga terhingga, atau kosong?" sambung Chentong.
Berpikir sejenak, Markus pun menjawab. "Hmm, sinar itu ya tiga." jawab Markus ringan.
"Lho kok?" Uddin dan Chentong heran.
"Wujudnya satu. Ya kan Din?" ujar Markus.
Uddin mengangguk.
"Lingkupnya tak terhingga, seperti yang dibilang Ketut. Tapi keberadaannya kosong. Bukan begitu Tong?" tanya Markus minta kesepakatan.
"Jadi, sinar itu ya tiga." lanjutnya. "Tiga juga sifatnya. Bahwa sinar itu bisa menerangi dan bisa menghangatkan. Membakar juga bisa, jika sinar itu difokuskan. Bener ngga?"
"Haha, ngga ada yang salah Kus. Hanya aja, persepsi kita yang berlainan. Sudut pandang kita beda-beda buat mendefinisikan sinar." ujar Ketut sambil tertawa kecil.
"Chentong menelaah dari segi keberadaannya, kamu ngeliat ruang lingkupnya, sementara aku dari wujudnya. Dan Markus, menilai karakteristik dari sinar itu, hehehe." sambut Uddin kepada Ketut.
"Mungkin karena dari tadi pembicaraan kita ngga ada fokusnya, jadi persepsinya juga bias ke mana-mana." lanjut Chentong.
"Padahal awalnya kita ngomongin nama ya :p" sambung Markus nyindir.
"Ooohhh iyyaaaaa.. Jadiii, nama anakmu bakalan apa Kus???" tanya Uddin, Ketut, dan Chentong serius sambil kelabakan.
"Ga jadi :/" tegas Markus sebel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar