Translate

Jumat, 14 September 2012

Pemimpin Seiman

Tentang pemimpin yang seiman atau tidak seiman dengan warga yang dipimpinnya adalah soal prinsip, sikap, dan profesionalisme. Terlalu kecil membicarakan hal itu cuma pada lingkup Pilgub DKI. Menurut saya, Pilgub DKI bukan soal itu, tapi yang di belakang itu, yakni taktik politik. Pilgub DKI bukan lagi memainkan opsi pro-Foke atau Jokowi, bukan lagi status quo atau perubahan, tapi adu taktik memainkan isu SARA. It’s all about pro-SARA or not. Jika Foke bisa memainkan suara pendukung statement “Pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin” dia akan dengan mudah meraup pemilih, bahkan yang sebelumnya mendukung Jokowi tanpa embel-embel SARA tersebut. Sebaliknya jika Jokowi yang cerdas memutar dadu politik, menggerakkan masa anti-SARA, pendukung Foke pun akan dengan gampangnya beralih pilihan, hanya karena mereka tidak sependapat dengan ide yang mengatakan bahwa pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Itulah sekilas tentang Pilgub DKI, yang hakikinya tidak pure soal SARA, tapi menjadikan SARA sebagai alat. Jadi bisa-bisa pemenangnya adalah siapa yang lebih lihai memainkan “alat” tersebut.
 

Karena itu, yang kini saya tuliskan ngga ada sangkut paut dengan Pilgub DKI. Karena menurut saya tadi, kepemimpinan adalah tentang prinsip, sikap, dan profesionalisme. Tak hanya untuk DKI yang cuma sekelumit, tapi untuk segala aspek, segala bidang. Bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan kesehatan. Pemimpin ngga cuma gubernur DKI aja toh. Ada pemimpin perusahaan, ada pemimpin rapat, ada pemimpin kecamatan, desa, kelurahan. Seorang sopir pun adalah pemimpin untuk para penumpangnya. Penumpang mempercayakan keselamatan mereka di perjalanan kepada si sopir. Seorang dokter juga pastinya pemimpin untuk para pasiennya, dari ruang konsultasi sampai ruang operasi. Pasien mempercayakan keselamatan jiwa raganya kepada dokter tersebut. Dan masih banyak lagi contoh pemimpin yang kepadanya kita “menyerahkan” keadaan kita. Lantas apa iya pemimpin-pemimpin itu harus seiman dengan yang dipimpinnya??? Secara akal sehat, jelas TIDAK. Apa iya, ketika tersesat di suatu tempat, kita mesti bertanya dulu kepada guide yang memimpin kita mencari jalan keluar, “Apa keimanan Anda?”. Itu pula kenapa ayah saya tidak pernah menanyakan apa iman dokter yang memimpin operasi pembedahannya. Karena ayah saya paham benar, pemimpin ngga mesti seiman dengan yang dipimpin. Yang jelas, pemimpin harus kapabel, walau ngga seiman. Itu baru tepat. NB: Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah, hehe..

Sekali lagi, tak masuk akal kalo pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Pemimpin ngga harus seiman dengan yang dipimpin. Hal tersebut adalah prinsip dan sikap yang tepat dalam kenyataan kehidupan sosial ini. Buat saya, hanya pemimpin agama (kepercayaan/keimanan) yang harus seiman dengan yang dipimpinnya. Itu logis, karena gimana mau mengajarkan agamanya (kepercayaan/keimanan) kepada umatnya kalo iman si pemimpin tersebut beda dengan umatnya sendiri. Terakhir, saya ingin berucap syukur atas suksesnya operasi pembedahan ayah saya. Tak hanya kesyukuran pribadi yang luar biasa besarnya karena ayah saya menjadi sehat kembali seperti sedia kala. Tetapi juga itu sukses membuktikan bahwa untuk beroleh hasil terbaik, pemimpin (dalam hal ini dokter) tak harus seiman dengan yang dipimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar