Translate

Kamis, 28 November 2013

Banyak Jalan Menuju Puncak

Awalnya adalah puncak. Kemudian nampak. Dan terbentuk kata dari arti yang berserak. Orang menamakannya puncak. Lalu dicari jalan-jalan menuju puncak.

Inilah awal kisah pencarian umat manusia. Puncak yang nampak dan memiliki arti yang berserak tak selalu dinamakan puncak. Ada yang menamainya Tombak, bila ia runcing laksana tombak. Walau masih banyak ciri lain, penamaan selalu tentang pembatasan. Walau terkesan penghargaan, penamaan adalah sesempit satu sisi pandang. Mungkin ada juga menamakan Hijau, apabila pemandang memandang warna, dan warna dinilai representatif untuk mewakili si empunya nama. Bisa juga dibilang Alang-alang jika di sana menjamur alang-alang. Boleh juga dikatakan Jakarta. Mungkin saja sang puncak kokoh berdiri di tengah-tengah Kota Jakarta. Atau disebut curam, karena topografinya yang curam. Aahh, terserah lah dinamai apa. Begitu banyak nama yang bisa kita pikirkan. Yang jelas, semua itu yang dimaksud adalah puncak. That's it. Puncak.


Puncak. Banyak anak manusia bisa melihatnya. Semakin tinggi puncak, semakin banyak yang dapat melihat. Dan yang setinggi-tingginya, tentu mampu dilihat semua, sekalipun rada samar. Semua melihat, semua mengartikan, semua menamakan. Jangan heran kalau seluruh dunia mengambil peran. Setidaknya masing-masing kaum yang mengisi penjuru-penjuru bumi. Dari anak benua India, puncak itu terlihat sebagai sosok Pencipta, Pemelihara, dan Pemusnah yang mewakili siklus kelahiran, kehidupan, kematian, begitu seterusnya. Terciptalah sebutan AUM (terdengar dengan pengucapan OM) yang tiap huruf mewakili Pencipta, Pemelihara, dan Pemusnah itu sendiri. Jika diteropong dari daratan Persia, di mana mengalir Sungai Eufrat dan Tigris, puncak dinamakan Ahura Mazda, yang berarti Cahaya Kebijakan. Maka puncak dipandang layaknya suluh yang menerangi dari kegelapan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam khazanah jazirah Arab, puncak dikenal dengan nama Allah. Dipahami sebagai satu Tuhan maka terbentuk kata Allah yang secara harfiah berasal dari kata Al (satu) dan Illah (Tuhan). Jadilah Allah. Satu contoh lagi. Orang bijak dari Nazareth yang sudah mencapai puncak itu dan karenanya puncak pun dinamai Alfa Omega, lekat dengan tokoh Nazareth tersebut yang digadang-gadang sebagai Awal dan Akhir, Sang Alfa Omega.

Tak habis-habis jika bicara nama. Awal kisah pencarian yang belum berkesudahan. Terus ditemukan nama-nama baru, padahal inti semua adalah puncak. Paling tidak dari nama-nama yang tersebut di atas, malah semuanya diawali dengan kapital A. Ahura Mazda, Allah, AUM, Awal dan Akhir. Jika diteruskan yang awal dan yang akhir, itulah Alfa dan Omega, Alif dan Ya, A dan Z, awal dan akhir. Dan di sinilah akhir dari tulisan singkat ini. Selamat tidur, semoga kita sekalian mencapai puncak mimpi-mimpi yang indah. Zzz...zzZz...zZzZzzZzz...zZzz...Zzzz...

Rabu, 27 November 2013

Mogok

Kita harus menghayati bahwa segala hal yang terjadi barang tentu sudah dikehendaki kejadiannya oleh Tuhan. Jangankan kelahiran dan kematian. Pertemuan, kesenangan, kegalauan, pengetahuan yang kita dapat, makanan yang masuk ke perut kita, motor yang tiba-tiba mogok, bahkan debu yang jatuh dari daun-daun di atas pohon pun tak akan terjadi tanpa restu Tuhan. Itu hakikatnya. Bahwa semua hal terjadi karena Tuhan. Tuhan adalah alasan utama.

Namun dalam menjalani kehidupan sosial, interaksi dengan orang lain, apalagi dalam hal profesi, kita harus bersikap profesional. Kendati kita hayati sedalam-dalamnya bahwa tak ada satu pun hal yang bisa terjadi tanpa izin Tuhan, tapi kita harus tetap berupaya melakukan yang terbaik dari kemampuan terbaik yang kita punya. Perkara gagal atau berhasil itu memang urusan Tuhan. Akan tetapi, itu jangan kita jadikan alibi untuk membela diri ketika terjadi kesalahan dalam menjalani tugas profesi kita. Kegagalan yang terjadi dalam tugas kita haruslah kita pertanggungjawabkan. Itu baru profesional.

Hingga ketika sayup-sayup terdengar dari televisi ada dokter-dokter yang demo dan mengatakan bahwa dokter hanya bisa mengupayakan kesembuhan pasien, namun mengenai hasilnya itu urusan Tuhan. Memang benar, tapi di mana tanggung jawab dokter tersebut yang telah diberi kepercayaan sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit? Dalam kerangka profesionalisme apa elok jika semua kesalahan gampang saja dilimpahkan kepada Tuhan? Kalaupun demikian, bisa saja nanti ada guru yang masa bodoh dengan murid-murid yang dicetaknya. Guru-guru bisa saja mengatakan bahwa guru hanya bisa berupaya untuk mengajari murid, perkara murid tersebut jadi pintar atau bodoh itu urusan Tuhan. Tuhan akan mudah saja dijadikan sebagai legitimasi buat orang-orang yang tidak profesional dalam menjalankan profesinya, buat orang-orang yang malas. Nanti bisa juga montir-montir di bengkel bilang, "kita cuma bisa berusaha, kalo motornya tetep mogok itu karena Tuhan" hahaha. Toh motor yang mogok juga pasti atas ridho Tuhan kan?


Balik lagi ke euforia suara-suara demo di televisi. Ternyata para dokter yang demo bukan sembarang demo tapi juga beraksi mogok kerja 24 jam. Lah, bukankah (katanya) dokter adalah pekerjaan yang mulia karena melayani demi kesembuhan orang banyak? Tapi ironis kalo cuma demi kepentingan membela golongan eh banyak dokter yang mogok kerja. Mogok kerja kan berarti mengabaikan kewajibannya terhadap orang banyak. Apabila mogok melayani masyarakat karena membela golongannya, saya pikir bukan begitu sikap dokter sebenarnya.

Mungkin mereka khilaf. Asalkan jangan kalap saja. Sebab jika dalam bingkai kekalapan bisa saja para dokter mogok karena ada rasa angkuh, seolah dokter adalah segala-galanya. Bila aksi-aksi tersebut dilatarbelakangi motif negatif seperti itu, bisa saja jadi boomerang buat para dokter. Bagaimana andainya masyarakat balas mogok ke dokter? Ngga mau pake dokter melainkan pindah haluan ke dukun. Dokter juga yang rugi, hehehe. Atau mungkin karena udah kepikiran efek domino tersebut maka dokter-dokter yang mogok cuma bilang akan mogok selama 24 jam. Mungkin dokter-dokter tersebut sangsi juga atas efek yang bisa saja merugikan mereka bila mereka kebablasan mogok. Jadi, sedari awal para dokter cuma bersiap diri untuk mogok 24 jam (saja) :D

Atau mungkin dokter yang mogok terinspirasi dari motor mogok. Mogok lalu dibawa ke bengkel, lantas montir di bengkel bilang "Saya cuma bisa berusaha mengupayakan kesembuhan motor Anda, kalo motornya malah ancur itu karena Tuhan!"

Jumat, 22 November 2013

Kosong





































Jika Aku Presiden

Haduuh, mobil murah?! Alasannya seh untuk masyarakat miskin. Biar masyarakat miskin bisa nikmati rasanya naek mobil. Masyarakat miskin kan pengen juga punya mobil, bukan orang kaya aja, hihihi.. Ciyuss? Benarkah masyarakat miskin, seandainya mereka pengen punya mobil, bener-bener bisa beli mobil murah? Demi Tuhaaaannn (ala Arya Wiguna) semurah-murahnya mobil, tetep aja ngga bakal terjangkau bagi rakyat miskin yang beli sembakonya aja susah, perlu ngutang sana sini, malah perlu mulung dulu, ckckck.. Hmm, timbul khayalku.. Tuing..tuing..tuing..

*Jika Aku Presiden* Kalo pro rakyat miskin itu harusnya beras murah, sembako murah. Bukannya mobil murah. Karena semurah-murahnya mobil, tetep aja rakyat miskin ngga sanggup beli. Jadi gregetan sama pemerintah. Mungkin sesuai namanya, pemerintah ya tukang perintah. So, kerjanya ngga efektif malah banyak yang salah sasaran, wong cuma bisa merintah. Ngga bisa ngontrol, apalagi ngelola. Hadeehh.. Dari feel greget itu, pengen rasanya gantiin posisi presiden, biar saya aja presidennya, hahaha.. Biarkanlah saya menghayal lagi.. Tuing..tuing..tuing..


*Jika Aku Presiden* Ekonomi maju kalo Indonesia punya spesialisasi kegiatan di tiap-tiap zona wilayah. Ekonomi kita terpuruk karena sesama bangsa Indonesia "rebutan makan", ngga ada spesialisasi. Andai kegiatan di Indonesia ini dibagi zona-zona, ngga akan ada "rebutan makan". Sekarang mah semua kegiatan, dari ekonomi, hiburan, industri, hingga pemerintahan ada di Jakarta. Jakarta maju tapi makin berat bobotnya, makin penuh, makin hiruk pikuk, bahkan crowded. Lah, lantas daerah laen di-tancep kromo ngerjain pertanian, perkebunan, dan perikanan, paling banter kehutanan. Jadi, semua yang di luar Jakarta lomba untuk beberapa bidang itu, padahal daerah-daerah luar Jakarta luasnya minta ampyuunn.. Itulah yang "rebutan makan". Buntut-buntutnya saling sikut antarsaudara, trus ada yang maju duluan, ada yang tertinggal, ada yang jauh di belakang, hiks..hiks..

*Jika Aku Presiden* Solusinya gini, Jakarta tetep pusat pemerintahan, Jawa Barat pusat hiburan, Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur pusat seni budaya, Bali-Nusra pusat wisata, Indonesia Timur pusat perkebunan, Sulawesi pusat kelautan dan perikanan, Kalimantan pusat industri dan kehutanan, Sumatra pusat bisnis. Walau itu cuma khayalan yang mungkin konyol karena belum lewat riset terlebih dulu. Aahh, yang penting intinya, kita sesama anak bangsa harus ada pembagian lahan untuk cari makan masing-masing. Jadi, ngga ada saling bersaing antarsesama bangsa Indonesia. Maka terwujudlah pemerataan yang jadi hajat kita bersama, cieee...

*Jika Aku Presiden* Masalah banjir dan macet Jakarta juga bukan masalah Jakarta, tapi masalah nasional. Jakarta macet itu karena Jakarta terlalu penuh sesak. Jakarta penuh sesak karena semua kegiatan berpusat di Jakarta, seperti yang saya ocehin tadi, itu penyebab jadi berat bobotnya. Karena di mana ada gula, di situ ada semut. Wajar para semut dari berbagai daerah, blaassss, ngumpul di Jakarta. Jakarta rame, semua tinggal di Jakarta, semua membangun di Jakarta, Jakarta jadi hutan beton, lahan dilapis beton semua, byuuuurr, hujan datang, dan akhirnya...banjir melandaaaa.. Itu jelas-jelas bukan problem Jakarta doank, tapi problem nasional karena hulu permasalahannya itu ya seperti tadi yang saya bilang, negara ini terlalu terpusat, ngga ada spesialisasi kegiatan di daerah-daerah, ngga tercipta pemerataan.. So, khayalan saya berlanjut ke... Tuing..tuing..tuing..

*Jika Aku Presiden* Masalah banjir dan macet Jakarta ngga cuma perlu disikapi dengan pendekatan pembangunan infrastruktur, tapi lebih-lebih pada pendekatan ekonomi. Huuh, tapi sekarang pemerintah yang di Jakarta pada repot bangun MRT, relokasi masyarakat ke rumah susun, revitalisasi sungai, de el el sebagainya yang bernuansa Sarpras. Itu perlu, tapi ngga cuma itu. Mau sampai kapan jalan di Jakarta akan disusun-susun biar ngga macet. Mau disusun sampe langit pun kalo penduduk mbludak ya ngga akan jadi solusi jangka panjang. Jakarta ini ibarat rumah mewah. Kalo rumah itu penuh sesak, boleh-boleh aja ditingkatkan sampe tingkat dua atau tiga biar agak lengang. Tapi kalo udah makin tinggi, hati-hati, rumah bakal ambruk karena tanahnya bisa-bisa ambles. Perlu ide-ide jangka panjang, misalnya perlahan pindahkan penghuni rumah itu. Kalo penghuninya ngga mau pindah karena terlanjur keasyikan tinggal di rumah mewah, ya renovasi rumah lainnya supaya jadi mewah juga, supaya semua orang enjoy juga tinggal di sana. Nah, kalo rumah-rumah di Indonesia mewah semua, orang-orang bakal suka tinggal di mana aja, ngga cuma di rumah mewah yang namanya Jakarta. Itu manfaatnya pemerataan cuuuy..

Oalaahh, terlalu banyak ngomongin Jakarta, padahal saya ini Presiden Indonesia. Nanti lawan politik punya banyak bahan untuk meng-counter, seolah-olah saya cuma ngurusin Jakarta. Padahal Jakarta memang perlu dikurusin lho, doi kan sudah terlalu "gemuk", buanyaak penduduk. Aahh, makin lama stagnan bicarain Jakarta ntar makin ngelantur, ntar malah diprotes rakyat luar Jakarta. Padahal cuap-cuap tentang Jakarta tadi pun untuk kepentingan nasional, berimbas positif untuk bangsa. Oke, biar ngga kepanjangan kalo gitu sekarang saya lanjutkan khayalan yang kali ini bukan soal Jakarta.. Hmm.. Tuing..tuing..tuing..

*Jika Aku Presiden* Ngga cuma tersangka korupsi yang dihukum, tapi terduga korupsi pun sudah dihukum, biar ngga ada yang berani deket-deket dengan yang namanya korupsi. Saya pikir sudah jelas dan tegas. Walaupun orang itu ngga korup, tapi dengan dia mencurigakan saja, itu sudah kena hukuman. Karena ngga mungkin tu orang terlihat mencurigakan kalo dia kagak dekat, paling engga nyium baunya korupsi itu. Semua harus kena libas..bas..bas.. Bukan Ibas lho ya, tapi libas (^_^)v

*Jika Aku Presiden* Ku akan buat hutan jadi destinasi wisata. Selama ini kita lengah pada hutan dan pada akhirnya hutan kita dibabat. Lihat aja di facebook atau twitter, para facebooker dan tweeps pasang foto profil atau ava kebanyakan bernuansa pantai. Kalo ngga di tepi pantai ya di view pantai, paling engga di jalan menuju pantai deh. Itu kan seolah-olah seperti sebuah konspirasi global biar pandangan dan kemudian perhatian kita terfokus ke pantai, ceileeehh konspirasi global ni yee, kehkehkeh.. Karena terlalu fokus ke pantai, kita jadi lupa hutan, lengah deh terhadap para garong yang babat hutan kita. Coba kalo hutan dijadikan objek wisata kayak pantai, paling engga, kita ada perhatian untuk hutan, minimal nengok hutan. Bagus kalo mau fotoan di hutan. Sebenarnya mudah buat hutan jadi tujuan wisata. Hutan juga punya potensi keindahan yang mencengangkan kok bila dikemas..mas..mas.. Bukan Taufik Kiemas lho ya, tapi kemas.. Peacee..

Hoaaamm, sampe situ dulu deh khayalan saya malem ini. Besok-besok ngayalnya lagi. Tapi jangan khawatir pemirsahh, selama pemerintah masih banyak error-nya, saya bakal tetep ngayal buat jadi presiden. Ups, tapi kok bahasanya "jangan khawatir" ya, ckck. Harusnya kita khawatir kalo pemerintah kita error.. Hhhh, intinya sampe di sini khayalan saya malem ini, sampai ketemu di khayalan-khayalan saya selanjutnya.. Tetap di term *Jika Aku Presiden* hehehe..

Kamis, 21 November 2013

Extra Terrestrial

Saya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan. Tak perlu daya imajinasi yang luar biasa. Cuma perlu membuka sedikit keran logika dan secuil imajinasi saja. Saya awali dari sebuah kenyataan bahwa kita ini, yang disebut dengan manusia, tinggal di sebuah planet yang bernama Bumi. Planet Bumi ini berada pada sebuah Sistem Tata Surya atau Solar System, di mana Sang Surya, Matahari, adalah pusat Tata Surya tersebut. Selain sebagai pusatnya Tata Surya, Matahari juga merupakan salah satu Bintang di antara miliaran Bintang yang ada pada Galaksi Bima Sakti. Setiap Bintang punya pengorbitnya masing-masing yang serupa dengan Planet pada Solar System kita.


Ketika ada miliaran Bintang di Galaksi tempat kita hidup ini, maka ada bermiliar-miliar Planet di Bima Sakti ini selain delapan Planet di Tata Surya yang kita kenal. Coba bayangkan lagi. Di Tata Surya saja yang jumlah Planetnya hanya delapan, sudah ada sebuah Planet yang demikian sempurnanya untuk tempat hidup makhluk bernama Manusia. Bagaimana dengan miliaran atau mungkin bahkan triliunan Planet di luar sana yang mengitari miliaran Bintang? Bukan hal aneh jika mungkin saja jauh di luar sana ada Planet serupa Bumi yang bisa dihuni oleh makhluk sejenis manusia. Atau bahkan makhluk yang lebih canggih daripada manusia. Jika ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu menelisik jauh ke luar Solar System, mungkin saja kelak ditemukan kehidupan makhluk lain layaknya manusia di luar angkasa sana.

Yang kita bicarakan atau bayangkan itu baru pada scope Galaksi Bima Sakti saja. Sementara di alam ini setidaknya dikenal seribu miliar Galaksi. Maka sudah bisa pembaca bayangkan berapa ribu triliun Bintang yang ada, dan berapa juta triliun atau bahkan lebih Planet bertebaran di semesta raya. Dan dari jumlah yang begitu banyak itu, hampir pasti ada kehidupan-kehidupan lain di luar Bumi kita, di luar Tata Surya kita, pun di luar Galaksi kita. Itu jika kita tarik logika linear dari bingkai kenyataan bahwa pada Solar System yang terdiri dari delapan Planet ini saja, sudah ada sebuah Bumi di mana umat manusia hidup.

Rabu, 20 November 2013

Pengamat Intelijen

Saya bukan pakar intelijen. Saya cuma pengamat intelijen. Menurut saya semua orang sah-sah saja kalau dikatakan sebagai pengamat asalkan dia sedang berkegiatan mengamati. Karena secara harfiah, pengamat itu berarti orang yang memperhatikan dengan teliti. Memperhatikan apapun. Ketika dia memperhatikan lingkungan dengan teliti, maka sah jika dia dinyatakan sebagai pengamat lingkungan. Jika dia memperhatikan keadaan perbankan secara teliti, dia sah dinyatakan sebagai pengamat perbankan secara harfiah. Begitu juga dengan sebutan sebagai pengamat sosial, infrastruktur, dan yang lainnya, termasuk pengamat intelijen.

Maka sebagai pengamat intelijen, saya ingin angkat bicara perihal isu yang sedang berkembang di Indonesia, yaitu aksi penyadapan oleh intelijen Australia terhadap Presiden Indonesia dan orang-orang penting di sekelilingnya. Menurut hemat saya, karena prinsip intelijen berbeda dengan prinsip hukum, maka sadap menyadap itu hal yang biasa dalam dunia intelijen. Prinsip hukum adalah praduga tak bersalah. Prinsip intelijen adalah sebaliknya, yakni praduga bersalah. Secara intelijen, kita mestinya tak percaya begitu saja dengan negara yang di permukaan seolah bersahabat dengan kita. Maka selayaknya jauh-jauh hari kita melakukan aksi intelijen untuk menindaklanjuti kewaspadaan itu, atas praduga bersalah itu.


Tugas intelijen adalah mencari dan menemukan informasi rahasia yang diperlukan oleh negara. Salah satu caranya adalah melakukan penyadapan, bila diperlukan. Maka sekali lagi saya katakan, sadap menyadap adalah aktivitas yang wajar-wajar saja dalam hubungan antarnegara. Tak jauh berbeda dengan tentara yang bertugas menjaga kedaulatan negara. Dalam menjalankan kewajibannya menjaga kedaulatan negara tersebut, kalau harus perang ya berperang merupakan hal yang sah buat tentara. Kira-kita begitu jula dengan intelijen. Jadi kita tak perlu kaget, apalagi kebakaran jenggot bila ada yang menyadap. Harusnya penyadapan itu kita sikapi dengan aksi intelijen yang lebih baik lagi.

Kinerja intelijen kita pernah sangat baik pada zaman Bung Karno. Saat itu hasil kerja intelijen kita pernah membuat kagum Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy setelah Presiden Sukarno mengetahui program rudal balistik Amerika Serikat yang sedang dijalankan oleh Pemerintahan John F. Kennedy. Akan tetapi pada waktu itu John F. Kennedy tidak kaget. Karena memang sadap menyadap informasi itu tugas intelijen. Jadi terkesan naif kalo saat ini kita kaget, bahkan protes begitu tahu kita telah disadap. Kalaupun tetap ingin protes tanpa aksi intelijen tindak lanjut, saya sebagai pengamat intelijen hanya bisa berpesan: Kalau ngga mau disadap ya mesti shut up!

Jumat, 08 November 2013

Sang Pencerah,, Ehh,, Sang Pencera-ma-h



Suatu pagi, pada sebuah ceramah di sekolah, penceramahnya sangat menarik, menyampaikan materi dengan menyenangkan. Pendengar-pendengarnya jadi merasa terhibur sekaligus beroleh hikmah tanpa menyadari bahwa waktu telah menjelang siang. Sudah hampir satu setengah jam penceramah menyampaikan materi, tetapi pendengarnya tetap saja ceria (bahkan cekikikan), menyimak dengan penuh antusias.

Di tengah gelegar tawa para pendengar, Sang Pencerah,, ehh,, Sang Pencera-ma-h tiba-tiba menyela dan bertanya, “Masih pada senang?”

Sebagian besar pendengar angkat suara, “Yaa,, masiiihh..”

“Seberapa senang dengan ceramah saya?” kata penceramah tersebut.

“Seneeng banget Pak,, lanjuuutt..!!” sambut beberapa pendengar.

Kemudian, tak disangka-sangka, Sang Pencerah (baca: Sang Penceramah) berkata lagi, “Ya sudah, kalo begitu ceramah kali ini kita cukupkan sampai di sini.”

Para pendengar jadi riuh, seolah protes. “Kenapa berhenti Pak??” Tanya salah seorang dari mereka.

“Tadi kalian bilang masih senang dengar ceramah saya. Jadi saya pikir inilah saatnya untuk saya menutup ceramah ini. Sebab ceramah yang diakhiri pada suasana senang gembira akan membuat kita rindu dengan ceramah-ceramah berikutnya, pertemuan berikutnya. Akan beda apabila saya mengakhiri ceramah ini kala kalian telah bosan. Kalian pasti tidak mengharapkan ceramah selanjutnya, pertemuan-pertemuan selanjutnya. Karena citra yang tertanam dari ceramah tersebut ya membosankan itu tadi. Gitu juga yang terjadi atas hal-hal lain, ngga hanya ceramah.” Tutup Sang Pencerah dengan hikmatnya,, ehh,, Sang Pencera-ma-h :/

Note: Saya beri embel-embel Sang Pencerah buat Sang Penceramah itu sebab statement darinya sangat mencerahkan, meaningfull. Di tengah-tengah banyaknya penceramah yang alih-alih mencerahkan, justru jauh dari kata mencerahkan, malah tak jarang menyulut kebencian pada umat yang berbeda.. *yang marah pasti merasa,, but,, Peacee (^_^)v

Kematian-kematian

Aku tidak menyayangkan kematian..
Aku menyayangkan pedihnya jalan menuju kematian..

Aku tidak menyayangkan kepergianmu..
Aku menyayangkan perginya segala peranmu..

Aku tidak menyayangkan karena kau meninggalkanku..
Aku menyayangkan karena aku ditinggalkanmu..

Aku tidak menyayangkan masa depanmu..
Aku menyayangkan memori kenangan bersamamu..

(Tribute to the one who were gone)

Masa Indah, Masa Sekolah

Antara kelahiran sampai kematian terdapat suatu proses yang dinamakan proses kehidupan. Pada dasarnya kelahiran adalah fase awal dari proses kehidupan menuju kematian itu. Dengan terlahir, kita sudah dipastikan akan mati. Setidaknya itulah kebenaran untuk saat ini. Maka, jika tak tepat dikatakan sebagai kematian itu sendiri, bisakah dikatakan, kelahiran adalah kematian yang tertunda?


Antara peristiwa kelahiran – kematian itu jua saya berproses. Lahir sebagaimana yang telah saya ceritakan pada postingan “30 Juni”, saya dibesarkan oleh keluarga yang saya tuturkan di postingan “Bahagiaku”. Masa kanak-kanak saya habiskan di Kota Mataram, awal pendidikan formal di TK YPRU. Masa Taman Kanak-kanak, yang bisa saya ingat hanyalah bermain bersama, makan-makan bersama di TK maupun saat pesta ulang tahun teman. Setiap hari, kegiatan selalu diakhiri dengan lagu “Sayonara..sayonara.. sampai berjumpa lagi..” menjelang pulang (saya lupa lirik bahkan judul lagu itu). Lagu yang sangat optimistis dan penuh impian, khas dengan sikap anak-anak.

Di masa sekolah dasar, yang masih saya ingat adalah keluguan-keluguan dalam pergaulan bersama teman-teman. Jika diingat-ingat kini jadi suatu hal yang lucu. Selain belajar, mencari markas bersama Isan, Topan, Indra, dan Oni adalah kegiatan sehari-hari saya. Saya dan teman-teman keliling kampung di jam istirahat, mencari tempat-tempat yang nyaman, kemudian itu kami jadikan markas, tempat kumpul-kumpul. Selain keempat teman itu, Yudo juga adalah salah satu teman dekat saya sewaktu sekolah di SDN 6 Mataram (sekarang jadi SDN 13 Mataram). Kita selalu bersepeda bersama, saya biasanya dibonceng dia. Oya, dia anak yang istimewa, dari kelas I sampe kelas VI ga pernah ga dapet ranking 1. Saluutt..

Lalu fase SMP. Masih terbersit serunya kala itu. Perang-perangan di kelas, saya ingat itu waktu kelas I sering saya dan teman-teman lakukan (bareng Robby, Lian si ketua kelas, Afrial, dll). Bebi (Bemo Biadab) itu nama permainan kami di kelas II. Kami juga buat Kerajaan Nyumpax. Saya yakin teman-teman, antara lain Santana (Sang Raja Nyumpax, dengan julukan aneh: Trempungsing Tabung Tampang Tempedak) masih ingat itu. Begitu juga Abi, Aji, Emil, dan Ramli. Selain banyaknya permainan, kesan masa di SMPN 6 Mataram jadi berlipat-lipat karena di sekolah unggulan tersebut saya menjadi salah satu langganan juara kelas dan juara umum sekolah. Teman seperjuangan di masa SMP yang ga terlupakan juga, khususnya di kelas III, Boyke dan Bayu. Kami bertiga sangat kompak, termasuk dalam hal bermain, belajar, dan jahil.


Masa SMA lain lagi. Kalo sebelumnya lebih banyak bermain, di SMA kebanyakan diisi dengan hang out bareng temen-temen. Teman terdekat saya sewaktu SMA antara lain, Yogi, Rizal, dan Mayzar. Di kelas I saya malah duduk sebangku dengan mereka. Hm, walaupun prestasi akademis semasa SMA ngga pernah tembus ke lima besar, tapi ada hal lain yang bisa saya banggakan di kala SMA itu. Saya menjadi "ketua kelas seumur hidup" (dari pra-MOS, bahkan sampai pasca-kelulusan, ckckck). Catatan tersendiri buat saya karena saya pun sering dilabeli sebagai ketua kelas terdisiplin dan paling rajin. Itu bukan kata saya lho, tapi kata guru-guru. Narsis dikit boleh donk, hehe.. Itulah sekilas masa sekolah saya, masa yang penuh kenangan, sejak awal mengecap pendidikan formal sampai  saat menuntut ilmu di SMAN 5 Mataram tercinta..

Kamis, 07 November 2013

Zaman Berlari

...Inilah mozaik kisahku yang kutulis di setiap perhentian selama mengarungi jalan ini...

Kata-kata di atas adalah potongan prolog di blog ini. Penggalan kalimat pembuka yang menjelaskan apa isi dan bagaimana saya mengisi blog ini. Isinya jelas adalah "kisahku", yakni kisah dalam hidup saya yang kemudian saya sarikan ke dalam sebuah tulisan singkat, baik dalam bentuk narasi, syair, dialog, eksposisi, dan sebagainya. Mengenai bagaimana saya mengisi blog ini bisa dicermati dari iringan kata "kutulis di setiap perhentian". Memang wajar ketika saya hanya sempat berbagi kisah ketika ada perhentian sejenak selama mengarungi jalan di padatnya lalu lintas hidup ini.. Sekali lagi...ini.. Kalo kata Mario Teguh, "Itu", kalo saya bilang, "Ini". Sekali lagi...ini..

Kali ini (sekali lagi...ini..) adalah perhentian saya untuk kesekian kalinya setelah setahun lebih sejak perhentian yang terakhir sebelum ini (lagi-lagi...ini..). Sudah lama. Karena seperti yang saya katakan tadi bahwa lalu lintas hidup ini kian padat. Tidak seperti dulu, kini zaman sudah berlari. Untuk mengimbangi zaman maka kita tanpa terkecuali harus mengejar bila tak ingin tertinggal. Kita harus ikut berlari, siap mengejar, dan implikasinya adalah mengurangi perhentian. Zaman seolah memaksa kita untuk mengurangi perhentian, mengurangi ramah tamah, mengurangi basa basi. Miris..!!!


Kita alami di tahun 2005 komputer masih perlu meja, perlu perangkat CPU yang besar, dan untuk mengoperasikannya, user mesti duduk dengan posisi tegak, persis hakim yang sedang memimpin persidangan. Kurang dari lima tahun, yakni tahun 2008 sudah booming laptop dan notebook yang ukurannya tidak lebih besar daripada map. Memainkannya pun bisa sambil jongkok, bahkan tengkurep. Kemudian zaman berlari ke dua tahun setelah itu. Bermunculan ipad, tablet, smartphone, dan lain-lain, yang besarnya hanya seukuran telapak tangan. Jangankan sambil tengkurep, sembari tidur telentang pun bisa mudah dimainkan. Bahkan sebangun tidur, ketika mata kita belum terbuka penuh, tangan bisa meraba-raba meja sebelah kasur, mengambil ipad, dan menggunakannya sambil setengah sadar dari tidur.

Mungkin tak sampai setahun ke depan zaman sudah sprint lagi ke arah penemuan gadget yang tak perlu dipegang untuk mengoperasikannya, cukup dengan sentuhan jari di screen yang inheren di udara. Padahal di tahun 1990-an kita lihat zaman masih berjalan. Tahun 1995 sampai 2005, selama satu dekade zaman masih berkutat dengan personal computer. Kini dalam hal komputer saja sudah ada pembaruan tiap tahunnya. Belum lagi bila kita bicara perangkat-perangkat atau teknologi lain yang tak terkira jumlahnya.

Ada mirisnya, karena kita tak lagi sempat menikmati perhentian dan senda gurau dalam langgengnya suatu masa. Ada juga prestisiusnya, sebab di masa yang singkat telah banyak pencapaian teknologi yang kita kecap. Hhhhh.. Meski sambil terus berlari, saya mencoba menyampaikan mozaik kisah ini (ini lagi..ini lagi) hingga akhir tulisan dalam perhentian yang singkat ini (dan sudah tak terhitung berapa banyaknya "ini" yang terucap). Hehehe..

Dan tulisan saya akhiri dengan kata-kata mutiara: Sesingkat-singkatnya, kita tetap butuh sebuah perhentian. Karena selayaknya tak ada satu pun guru yang mengajarkan muridnya kencing berlari.. ITU.. ups.. INI..