Translate

Rabu, 27 November 2013

Mogok

Kita harus menghayati bahwa segala hal yang terjadi barang tentu sudah dikehendaki kejadiannya oleh Tuhan. Jangankan kelahiran dan kematian. Pertemuan, kesenangan, kegalauan, pengetahuan yang kita dapat, makanan yang masuk ke perut kita, motor yang tiba-tiba mogok, bahkan debu yang jatuh dari daun-daun di atas pohon pun tak akan terjadi tanpa restu Tuhan. Itu hakikatnya. Bahwa semua hal terjadi karena Tuhan. Tuhan adalah alasan utama.

Namun dalam menjalani kehidupan sosial, interaksi dengan orang lain, apalagi dalam hal profesi, kita harus bersikap profesional. Kendati kita hayati sedalam-dalamnya bahwa tak ada satu pun hal yang bisa terjadi tanpa izin Tuhan, tapi kita harus tetap berupaya melakukan yang terbaik dari kemampuan terbaik yang kita punya. Perkara gagal atau berhasil itu memang urusan Tuhan. Akan tetapi, itu jangan kita jadikan alibi untuk membela diri ketika terjadi kesalahan dalam menjalani tugas profesi kita. Kegagalan yang terjadi dalam tugas kita haruslah kita pertanggungjawabkan. Itu baru profesional.

Hingga ketika sayup-sayup terdengar dari televisi ada dokter-dokter yang demo dan mengatakan bahwa dokter hanya bisa mengupayakan kesembuhan pasien, namun mengenai hasilnya itu urusan Tuhan. Memang benar, tapi di mana tanggung jawab dokter tersebut yang telah diberi kepercayaan sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit? Dalam kerangka profesionalisme apa elok jika semua kesalahan gampang saja dilimpahkan kepada Tuhan? Kalaupun demikian, bisa saja nanti ada guru yang masa bodoh dengan murid-murid yang dicetaknya. Guru-guru bisa saja mengatakan bahwa guru hanya bisa berupaya untuk mengajari murid, perkara murid tersebut jadi pintar atau bodoh itu urusan Tuhan. Tuhan akan mudah saja dijadikan sebagai legitimasi buat orang-orang yang tidak profesional dalam menjalankan profesinya, buat orang-orang yang malas. Nanti bisa juga montir-montir di bengkel bilang, "kita cuma bisa berusaha, kalo motornya tetep mogok itu karena Tuhan" hahaha. Toh motor yang mogok juga pasti atas ridho Tuhan kan?


Balik lagi ke euforia suara-suara demo di televisi. Ternyata para dokter yang demo bukan sembarang demo tapi juga beraksi mogok kerja 24 jam. Lah, bukankah (katanya) dokter adalah pekerjaan yang mulia karena melayani demi kesembuhan orang banyak? Tapi ironis kalo cuma demi kepentingan membela golongan eh banyak dokter yang mogok kerja. Mogok kerja kan berarti mengabaikan kewajibannya terhadap orang banyak. Apabila mogok melayani masyarakat karena membela golongannya, saya pikir bukan begitu sikap dokter sebenarnya.

Mungkin mereka khilaf. Asalkan jangan kalap saja. Sebab jika dalam bingkai kekalapan bisa saja para dokter mogok karena ada rasa angkuh, seolah dokter adalah segala-galanya. Bila aksi-aksi tersebut dilatarbelakangi motif negatif seperti itu, bisa saja jadi boomerang buat para dokter. Bagaimana andainya masyarakat balas mogok ke dokter? Ngga mau pake dokter melainkan pindah haluan ke dukun. Dokter juga yang rugi, hehehe. Atau mungkin karena udah kepikiran efek domino tersebut maka dokter-dokter yang mogok cuma bilang akan mogok selama 24 jam. Mungkin dokter-dokter tersebut sangsi juga atas efek yang bisa saja merugikan mereka bila mereka kebablasan mogok. Jadi, sedari awal para dokter cuma bersiap diri untuk mogok 24 jam (saja) :D

Atau mungkin dokter yang mogok terinspirasi dari motor mogok. Mogok lalu dibawa ke bengkel, lantas montir di bengkel bilang "Saya cuma bisa berusaha mengupayakan kesembuhan motor Anda, kalo motornya malah ancur itu karena Tuhan!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar