...Inilah mozaik kisahku yang kutulis di setiap perhentian selama mengarungi jalan ini...
Kata-kata di atas adalah potongan prolog di blog ini. Penggalan kalimat pembuka yang menjelaskan apa isi dan bagaimana saya mengisi blog ini. Isinya jelas adalah "kisahku", yakni kisah dalam hidup saya yang kemudian saya sarikan ke dalam sebuah tulisan singkat, baik dalam bentuk narasi, syair, dialog, eksposisi, dan sebagainya. Mengenai bagaimana saya mengisi blog ini bisa dicermati dari iringan kata "kutulis di setiap perhentian". Memang wajar ketika saya hanya sempat berbagi kisah ketika ada perhentian sejenak selama mengarungi jalan di padatnya lalu lintas hidup ini.. Sekali lagi...ini.. Kalo kata Mario Teguh, "Itu", kalo saya bilang, "Ini". Sekali lagi...ini..
Kali ini (sekali lagi...ini..) adalah perhentian saya untuk kesekian kalinya setelah setahun lebih sejak perhentian yang terakhir sebelum ini (lagi-lagi...ini..). Sudah lama. Karena seperti yang saya katakan tadi bahwa lalu lintas hidup ini kian padat. Tidak seperti dulu, kini zaman sudah berlari. Untuk mengimbangi zaman maka kita tanpa terkecuali harus mengejar bila tak ingin tertinggal. Kita harus ikut berlari, siap mengejar, dan implikasinya adalah mengurangi perhentian. Zaman seolah memaksa kita untuk mengurangi perhentian, mengurangi ramah tamah, mengurangi basa basi. Miris..!!!
Kita alami di tahun 2005 komputer masih perlu meja, perlu perangkat CPU yang besar, dan untuk mengoperasikannya, user mesti duduk dengan posisi tegak, persis hakim yang sedang memimpin persidangan. Kurang dari lima tahun, yakni tahun 2008 sudah booming laptop dan notebook yang ukurannya tidak lebih besar daripada map. Memainkannya pun bisa sambil jongkok, bahkan tengkurep. Kemudian zaman berlari ke dua tahun setelah itu. Bermunculan ipad, tablet, smartphone, dan lain-lain, yang besarnya hanya seukuran telapak tangan. Jangankan sambil tengkurep, sembari tidur telentang pun bisa mudah dimainkan. Bahkan sebangun tidur, ketika mata kita belum terbuka penuh, tangan bisa meraba-raba meja sebelah kasur, mengambil ipad, dan menggunakannya sambil setengah sadar dari tidur.
Mungkin tak sampai setahun ke depan zaman sudah sprint lagi ke arah penemuan gadget yang tak perlu dipegang untuk mengoperasikannya, cukup dengan sentuhan jari di screen yang inheren di udara. Padahal di tahun 1990-an kita lihat zaman masih berjalan. Tahun 1995 sampai 2005, selama satu dekade zaman masih berkutat dengan personal computer. Kini dalam hal komputer saja sudah ada pembaruan tiap tahunnya. Belum lagi bila kita bicara perangkat-perangkat atau teknologi lain yang tak terkira jumlahnya.
Ada mirisnya, karena kita tak lagi sempat menikmati perhentian dan senda gurau dalam langgengnya suatu masa. Ada juga prestisiusnya, sebab di masa yang singkat telah banyak pencapaian teknologi yang kita kecap. Hhhhh.. Meski sambil terus berlari, saya mencoba menyampaikan mozaik kisah ini (ini lagi..ini lagi) hingga akhir tulisan dalam perhentian yang singkat ini (dan sudah tak terhitung berapa banyaknya "ini" yang terucap). Hehehe..
Dan tulisan saya akhiri dengan kata-kata mutiara: Sesingkat-singkatnya, kita tetap butuh sebuah perhentian. Karena selayaknya tak ada satu pun guru yang mengajarkan muridnya kencing berlari.. ITU.. ups.. INI..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar