Awalnya adalah puncak. Kemudian nampak. Dan terbentuk kata dari arti yang berserak. Orang menamakannya puncak. Lalu dicari jalan-jalan menuju puncak.
Inilah awal kisah pencarian umat manusia. Puncak yang nampak dan memiliki arti yang berserak tak selalu dinamakan puncak. Ada yang menamainya Tombak, bila ia runcing laksana tombak. Walau masih banyak ciri lain, penamaan selalu tentang pembatasan. Walau terkesan penghargaan, penamaan adalah sesempit satu sisi pandang. Mungkin ada juga menamakan Hijau, apabila pemandang memandang warna, dan warna dinilai representatif untuk mewakili si empunya nama. Bisa juga dibilang Alang-alang jika di sana menjamur alang-alang. Boleh juga dikatakan Jakarta. Mungkin saja sang puncak kokoh berdiri di tengah-tengah Kota Jakarta. Atau disebut curam, karena topografinya yang curam. Aahh, terserah lah dinamai apa. Begitu banyak nama yang bisa kita pikirkan. Yang jelas, semua itu yang dimaksud adalah puncak. That's it. Puncak.
Puncak. Banyak anak manusia bisa melihatnya. Semakin tinggi puncak, semakin banyak yang dapat melihat. Dan yang setinggi-tingginya, tentu mampu dilihat semua, sekalipun rada samar. Semua melihat, semua mengartikan, semua menamakan. Jangan heran kalau seluruh dunia mengambil peran. Setidaknya masing-masing kaum yang mengisi penjuru-penjuru bumi. Dari anak benua India, puncak itu terlihat sebagai sosok Pencipta, Pemelihara, dan Pemusnah yang mewakili siklus kelahiran, kehidupan, kematian, begitu seterusnya. Terciptalah sebutan AUM (terdengar dengan pengucapan OM) yang tiap huruf mewakili Pencipta, Pemelihara, dan Pemusnah itu sendiri. Jika diteropong dari daratan Persia, di mana mengalir Sungai Eufrat dan Tigris, puncak dinamakan Ahura Mazda, yang berarti Cahaya Kebijakan. Maka puncak dipandang layaknya suluh yang menerangi dari kegelapan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam khazanah jazirah Arab, puncak dikenal dengan nama Allah. Dipahami sebagai satu Tuhan maka terbentuk kata Allah yang secara harfiah berasal dari kata Al (satu) dan Illah (Tuhan). Jadilah Allah. Satu contoh lagi. Orang bijak dari Nazareth yang sudah mencapai puncak itu dan karenanya puncak pun dinamai Alfa Omega, lekat dengan tokoh Nazareth tersebut yang digadang-gadang sebagai Awal dan Akhir, Sang Alfa Omega.
Tak habis-habis jika bicara nama. Awal kisah pencarian yang belum berkesudahan. Terus ditemukan nama-nama baru, padahal inti semua adalah puncak. Paling tidak dari nama-nama yang tersebut di atas, malah semuanya diawali dengan kapital A. Ahura Mazda, Allah, AUM, Awal dan Akhir. Jika diteruskan yang awal dan yang akhir, itulah Alfa dan Omega, Alif dan Ya, A dan Z, awal dan akhir. Dan di sinilah akhir dari tulisan singkat ini. Selamat tidur, semoga kita sekalian mencapai puncak mimpi-mimpi yang indah. Zzz...zzZz...zZzZzzZzz...zZzz...Zzzz...
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar