Suatu pagi, pada sebuah ceramah di sekolah, penceramahnya sangat menarik, menyampaikan materi dengan menyenangkan. Pendengar-pendengarnya jadi merasa terhibur sekaligus beroleh hikmah tanpa menyadari bahwa waktu telah menjelang siang. Sudah hampir satu setengah jam penceramah menyampaikan materi, tetapi pendengarnya tetap saja ceria (bahkan cekikikan), menyimak dengan penuh antusias.
Di tengah gelegar tawa para pendengar, Sang Pencerah,, ehh,, Sang Pencera-ma-h tiba-tiba menyela dan bertanya, “Masih pada senang?”
Sebagian besar pendengar angkat suara, “Yaa,, masiiihh..”
“Seberapa senang dengan ceramah saya?” kata penceramah tersebut.
“Seneeng banget Pak,, lanjuuutt..!!” sambut beberapa pendengar.
Kemudian, tak disangka-sangka, Sang Pencerah (baca: Sang Penceramah) berkata lagi, “Ya sudah, kalo begitu ceramah kali ini kita cukupkan sampai di sini.”
Para pendengar jadi riuh, seolah protes. “Kenapa berhenti Pak??” Tanya salah seorang dari mereka.
“Tadi kalian bilang masih senang dengar ceramah saya. Jadi saya pikir inilah saatnya untuk saya menutup ceramah ini. Sebab ceramah yang diakhiri pada suasana senang gembira akan membuat kita rindu dengan ceramah-ceramah berikutnya, pertemuan berikutnya. Akan beda apabila saya mengakhiri ceramah ini kala kalian telah bosan. Kalian pasti tidak mengharapkan ceramah selanjutnya, pertemuan-pertemuan selanjutnya. Karena citra yang tertanam dari ceramah tersebut ya membosankan itu tadi. Gitu juga yang terjadi atas hal-hal lain, ngga hanya ceramah.” Tutup Sang Pencerah dengan hikmatnya,, ehh,, Sang Pencera-ma-h :/
Note: Saya beri embel-embel Sang Pencerah buat Sang Penceramah itu sebab statement darinya sangat mencerahkan, meaningfull. Di tengah-tengah banyaknya penceramah yang alih-alih mencerahkan, justru jauh dari kata mencerahkan, malah tak jarang menyulut kebencian pada umat yang berbeda.. *yang marah pasti merasa,, but,, Peacee (^_^)v

Tidak ada komentar:
Posting Komentar