Translate

Jumat, 20 April 2012

Dua Sejoli

Sebenarnya saya tidak percaya bila secara biologis, asal muasal keberadaan wanita karena diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Akan tetapi saya percaya akan pernyataan tersebut bila dilihat dari kacamata filsafat, bahwa wanita memang diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri laki-laki. Karena secara simbolis, itu berarti wanita diciptakan bukan dari tulang tungkai kaki, sebagai bawahan laki-laki, bukan pula dari tulang tengkorak, untuk memimpin laki-laki. Namun ya memang dari tulang rusuk yang dapat dimaknai sebagai partner sejajar buat laki-laki karena berada di tengah-tengah. Berada dekat dengan badan untuk senantiasa saling menjaga, dan dekat pula dengan organ hati, yang merupakan simbol adanya kasih sayang.

Hikmah lain yang juga bisa dipetik dari pernyataan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki adalah kesetiaan. Betapa tidak, wanita tercipta dari sebuah tulang rusuk kanan yang diambil dari satu orang lelaki. Hanya satu orang lelaki. Jadi, seorang wanita hanya tercipta untuk satu orang lelaki saja. Maka akan jadi tidak wajar jika ada dua atau lebih laki-laki untuk seorang wanita. Tak berbeda dengan laki-laki, di mana laki-laki diibaratkan telah diambil satu tulang rusuknya untuk menciptakan seorang wanita sebagai pasangannya. Hanya satu tulang rusuk yang diambil dari seorang laki-laki untuk menciptakan seorang wanita. Hanya satu tulang rusuk. Maka tidak normal lah jadinya jika seorang laki-laki dalam hidupnya berpasangan dengan lebih dari satu orang wanita. Jika pasangannya lebih dari satu, bahkan mencapai belasan, bisa Anda bayangkan berapa tulang rusuk yang diambil dari tubuhnya??? Bisa-bisa habis tuh tulang rusuk, malah mungkin nombok, hahaha…

Begitu lemah seorang laki-laki dan juga wanita bila dia membutuhkan cinta dari banyak pasangan dalam hidupnya. Satu cinta dari satu pasangan dalam satu masa itu cukup buat laki-laki dan juga perempuan hebat.  Kecuali jika atas alasan-alasan penting, misalnya karena tidak memiliki keturunan, atau untuk meningkatkan harkat dan martabat orang lain. Tentunya bukan berdasar atas alasan nafsu. Karena memilih berpasangan dengan orang yang kita cintai bukan melulu soal nafsu, tapi terlebih kepada rasa cinta itu secara utuh. Itulah yang membuat hubungan percintaan menjadi agung.


Telah banyak sejarah keagungan cinta yang ditorehkan umat manusia di muka bumi ini. Dan dari sekian banyaknya itu, hanya cinta antara satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan lah, yang benar-benar bisa menggoreskan cerita abadi dalam kehidupan manusia. Cerita yang dituliskan sebagai awal mula keberadaan manusia, Adam dan Hawa. Dikisahkan Adam dan Hawa turun dari surga dan saling bertemu di bukit kasih sayang dalam prosesi yang begitu agung. Di sana tak ada yang lain, tak ada wanita lain, tak ada laki-laki lain. Yang ada hanya seorang Adam dan seorang Hawa. Karena seorang Hawa memang diciptakan hanya untuk seorang Adam, dan seorang Adam ada hanya untuk mendampingi seorang Hawa.

Risalah cinta lain datang dari kisah Rama dan Sinta. Banyaknya cobaan dalam kisah cinta mereka tak membuat Rama berpaling, pun tak membuat kasih sayang Sinta luntur. Hingga pada cobaan terberat, dengan kekuatan cinta, Sang Rama justru berhasil menyelamatkan Sinta dari tawanan Rahwana, raksasa dasa muka. Di sana pun hanya ada seorang Rama untuk seorang Sinta, dan hanya ada satu Sinta untuk satu orang Rama. Itulah kesetiaan cinta.

Dan dari dataran Eropa banyak kita temui kisah-kisah cinta fenomenal. Bagaimana Romeo dan Juliet setia,   walau harus sampai sehidup semati. Tak ada dan tak pernah terbersit untuk memiliki orang ketiga. Romeo hanya untuk Juliet, Juliet hanya buat Romeo. Hanya ada seorang laki-laki bernama Romeo untuk seorang wanita bernama Juliet, pun hanya ada satu Juliet untuk satu Romeo. Dan masih banyak lagi cerita-cerita kebesaran cinta yang diciptakan dari keteguhan seorang laki-laki memiliki seorang wanita saja, dan kesetian seorang wanita untuk mendampingi seorang laki-laki saja.

Saya pun ingin seperti itu, memiliki percintaan yang sedemikian agungnya. Dikenal dengan seorang pasangan saja di sisi, menikmati masa muda hanya dengannya, hingga saatnya nanti, menghabiskan masa tua sampai akhir hayat cuma bersamanya saja. Begitu pun pula sebaliknya dengan dia…

Gagal Logika

Saya salah satu dari tak banyak orang Indonesia yang tidak percaya terhadap sesuatu yang ngga ada reason-nya. Karena saya benar-benar yakin bahwa sesuatu itu terjadi karena ada sebab. Apapun itu, pasti terjadi karena sebab. Dan sebab pasti menmbulkan akibat. Tak ada sesuatu yang tak menimbulkan akibat, sekecil apapun akibatnya. Pada dasarnya, saya percaya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Dan bahkan apa yang saya yakini ini tidak serta merta begitu saja hadir sebagai sebuah keyakinan. Keyakinan saya ini pun timbul bukan secara kebetulan, namun karena ada sebab. Saya yakin seyakin-yakinnya terhadap hukum kausalitas, disebabkan karena sejak kecil, saya memang terdidik dalam lingkungan keluarga yang memiliki pemikiran seperti itu.

Buat saya, saya bisa dikatakan orang yang logis, bahkan superlogis. Buat saya lho ya. Saya tidak pernah memaksakan orang lain untuk sependapat dengan saya. Jadi, cukup buat saya saja. Dan saya katakan “buat saya” juga karena logika saya berbeda dengan logika orang-orang kebanyakan. Terkadang yang buat orang lain sangat logis, menurut saya tidak logis. Dan sebaliknya, terkadang yang menurut orang itu tidak logis, buat saya logis-logis aja. Padahl orang tersebut sendiri sudah merasa logis, menurut dia. Hm, logika memang relatif. So, kadang saya berpikir, saya orang yang di atas logis alias superlogis, hehehe. Narsis dikit boleh laahh :D


Salah satu contoh, mungkin menurut kebanyakan orang, anak-anak cerdas lebih layak dapat sekolah yang bergengsi. Betapa tidak, sekolah-sekolah bergengsi menetapkan standar yang tinggi, yang secara tidak langsung diperuntukkan hanya untuk anak-anak cerdas dan di atas cerdas. Pandangan umum menganggap logis bahwa sekolah atau perguruan tinggi bermutu diutamakan buat anak-anak cerdas, buat yang punya prestasi baik, buat yang nilai akademiknya di atas rata-rata, dan sebagainya. Tapi justru buat saya, itu ngga logis sama sekali. Bukankah salah satu tujuan utama negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa? Nah lantas kenapa sekolah-sekolah bermutu itu malah mencari siswa-siswa yang sudah memang cerdas? Padahal siswa yang sudah cerdas tidak terlalu membutuhkan itu dibanding siswa yang biasa-biasa saja, atau malah yang bodoh. Bahkan, ekstremnya, dengan belajar sendiri sekalipun, siswa yang cerdas toh sudah punya kemampuan yang luar biasa. Bukankah kalau mau mencerdaskan segenap kehidupan bangsa, harusnya anak-anak yang bodoh yang mesti diutamakan supaya mereka jadi pintar? Itu baru memenuhi tujuan berbangsa bernegara, biar anak bangsa kita rata jadi cerdas semua. Kalau dengan sistem yang ada sekarang, malah yang cerdas tambah cerdas, yang bodoh tetap bodoh. Cape deeehh…

Hal lain yang menurut saya gagal logika adalah hampir semua orang menganggap setan, iblis, dan makhluk-makhluk halus lainnya itu berada di luar kehidupan kita. Sampai-sampai, kesurupan dianggap karena gangguan iblis. Malah yang lebih konyol lagi, sulap dianggap pake bantuan setan. Waduh, betapa naifnya pemikiran seperti itu. Kalau menurut saya, pemikiran yang kacau seperti itu adalah bentuk kompensasi dari ketidakmampuan mereka untuk berpikir, merenung, dan mencari sebab. Buntut-buntutnya semua yang rada-rada aneh dikit, dianggap kerjaan makhluk halus. Kayak pernah kenalan sama tuh makhluk halus aja. Kebanyakan orang mencari jalan pintas dalam berpikir hingga begitu mudah menganggap hal yang ngga wajar itu sebagai sesuatu yang tidak logis. Ujung-ujungnya, nama setan dan iblis mencuat lagi, mencuat lagi. Saya seh berpikir, setan dan iblis itu tidak terpisahkan dari kehidupan kita, malah dia ada dalam diri kita masing-masih. Jadi sebenarnya ngga perlu susah-susah mencari kambing hitam. Wong yang buat iblis itu diri kita sendiri. Wong setan itu muncul dari dalam diri kita. Adalah pikiran kita sendiri yang mengkondisikan keberadaan segala macam makhluk gaib itu. Semuanya ada di sini (nunjuk kepala). Itulah kenapa orang-orang penakut, sering merasa melihat setan, iblis, atau apa lah namanya, ya karena pikiran mereka terlalu mudah dikondisikan oleh rasa takut itu, sehingga citra gaib itu pun berdatangan di alam pikiran mereka. Dan itu terjadi di alam setengah sadar mereka, ketika logika udah ngga maen lagi.

Itulah alasan (reason) kenapa peristiwa-peristiwa langka, sepeti kesurupan, debus, ilmu supranatural, dan segala macam sulap ataupun magic jadi logis buat saya. Dalam hal debus dan ilmu supranatural lainnya, itu tak ubahnya seperti jika orang sedang mabuk. Ketika kesadaran telah hilang, apapun yang terjadi dengan diri mereka takkan berasa apa-apa. Semua itu bermain pada taraf kesadaran. Hanya saja ada yang tarafnya rendah, ada yang lebih tinggi. Dan tentunya akan panjang jika semua reason-nya saya kemukakan di sini. Untuk lebih jelasnya, tanya aja langsung ke para ahli psikologi atau orang-orang yang lebih berkompeten di bidang tersebut. Atau praktisnya, kalau mau menyaksikan sendiri, lihat aja orang-orang yang lagi mabuk, asal jangan coba-coba untuk ikutan mabuk aja, hehehe..

Sebenarnya masih banyak lagi pertentangan logika yang saya temui. Namun intinya bagaimana kita membiasakan diri untuk berpikir dulu sedalam-dalamnya, sematang-matangnya sebelum menarik kesimpulan untuk menyatakan suatu hal masuk logika atau tidak. Jangan sampai kita hanya membeo pendapat umum, padahal itu bertolak belakang dengan akal sehat. Seperti yang saya ungkapkan di awal tadi, segala sesuatu berlangsung tentu ada sebabnya. Dan semua peristiwa yang terjadi di dunia ini pasti bisa dijelaskan dengan akal sehat, asalkan kita mau dan mampu berpikir.

Senin, 16 April 2012

Di Pengujung Malam (One Night In Gunungsari)

Di pengujung malam, kututup kisah hari ini.
Sedu sedan, gelak tawa, cukup kurasa.
Pun indahnya rasa bangga, tajamnya bilah perjuangan.
Segala warna hari terangkum dan memudar di mataku.

Kupejamkan mata yang meredup.
Kubertanya dalam hati, adakah lagi hari esok.
Adakah lagi cerita di mentari esok pagi.
Adakah kisah hari ini terulang esok kembali.

Dalam angan, kuucap syukur di peraduanku.
Garis-garis yang telah kulewati dengan berbagai rasa.
Atas kesanggupan, atas waktu dan kekuatan.
Di pengujung malam kutitipkan larik syukur ini kepada Tuhan.

(One night in Gunungsari)

Matemusika

Musik adalah bahasa universal. Itu ungkapan yang sangat sering kita dengar. Entah ungkapan itu bukinan siapa, yang pasti menurut saya ungkapan itu benar adanya. Di seluruh dunia, musik punya pakem yang sama. Pola jarak tangga nada mayor diatonis dalam satu oktaf di mana pun tetap sama, yakni 1 – 1 - ½ - 1 - 1 – 1 - ½ . Di mana pun, nada do jika dituliskan ke dalam not angka, dilambangkan dengan angka 1. Itu adalah kesepakatan yang tetap. Demikian juga dengan nada re, mi, fa, sol, la, dan si, secara berturut-turut tetap diwakilkan dengan angka 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Hal yang tak berbeda pun terjadi pada not balok. Bahkan jika manusia dengan pendengaran normal diperdengarkan suatu alunan nada, tiap-tiap orang akan mendengar bunyi yang sama, dan mengartikannya dengan sama pula. Musik juga selalu ada dalam kehidupan sehari-hari kita, di mana pun, kapan pun. Di tengah keramaian suasana jalanan di kota, suara bising kendaraan ialah musiknya. Dalam sunyinya alam pedesaan, suara hewan-hewan dan desiran angin jadi musik. Di senja yang sepi, ada musik. Di siang yang penuh hiruk pikuk pun ada musik. Itulah kenapa bahasa musik disebut universal.

Dengan label universal itu, musik memiliki kesamaan dengan matematika. Di mana matematika, seperti halnya musik, disepakati dengan aturan main yang sama di seluruh penjuru dunia. Di negara mana pun, semua sepakat bahwa angka dengan digit tunggal hanya ada sepuluh jumlahnya, yakni dari angka nol (0) sampai sembilan (9). Secara internasional, tanda tambah (+) bermaksud penjumlahan dan tanda kali (x) bermakna melipatgandakan. Selain itu masih banyak lagi kesepakatan-kesepakatan matematika, dari yang sederhana hingga yang serumit-rumitnya, persis sama dengan musik. Dengan itu, matematika pun adalah bahasa yang universal. Matematika pun senantiasa ada dalam tiap-tiap sendi kehidupan kita, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun keadaannya, matematika selalu menyertai. Mulai bangun tidur hingga tidur pulas lagi, kita tak bisa terpisah dari matematika, di mana ada waktu yang melingkupi kita. Kegiatan yang kita lakukan, mulai dari makan, minum, mandi, berpakaian, belajar, bekerja, istirahat, selalu terhitung dan terukur secara matematika. Makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, pekerjaan yang kita lakukan, dan semuanya punya ukuran matematika masing-masing.


Musik punya kesamaan dengan matematika dalam banyak hal. Walau sepintas tak sama dan dipahami dengan cara berbeda, matematika dan musik sejatinya saling bersisian. Hanya saja matematika dimengerti lewat otak kiri, bersifat analisis dalam penerapannya, sementara musik dimengerti lewat otak kanan, lebih imajinatif. Bilangan, dalam matematika tidak mengenal limitasi. Hal tersebut kemudian dikenal dengan istilah infinity (tak hingga). Begitu juga dengan musik, di mana rentetan nada dalam musik tidaklah terbatas (tak hingga). Persamaan tak hanya ada dalam matematika. Di musik pun ada persamaan. Jika dalam matematika persamaan disarikan ke dalam bentuk umum yang kemudian bersifat fleksibel bergantung variabelnya, musik juga demikian. Persamaan yang umum di musik, antara lain do = C. Karena do = C maka nada do, mi, dan sol pada tangga nada tersebut merupakan chord C (C = 1, 3, 5); nada fa, la, dan juga do di chord F; dan lain sebagainya. Ketika kita bicara dalam variabel C maka itulah penjabarannya. Namun dengan fleksibilitas yang dimiliki, serupa matematika, persamaan tersebut pun fleksibel bergantung variabel yang dipergunakan. Saat variabel C diubah menjadi E misalnya, maka persamaan tadi menjadi do = E hingga E = 1, 3, 5; A = 4, 6, 1; dan lain sebagainya. Begitu pun untuk varian-varian lain.

Bila dijabarkan hal-hal lainnya, memang tak habis-habisnya kesamaan antara musik dan matematika. Satu lagi kesamaan antara musik dan matematika, keduanya sama-sama bisa diintegralkan. Pada matematika, kumpulan garis terintegral menjadi bidang, dan kumpulan bidang terintegral jadi sebuah ruang. Semua berpangkal dari satu titik. Sedangkan dalam musik diawali dengan notasi tunggal. Susunan notasi menjadi sebuah melodi. Melodi yang satu dengan yang lainnya terintegrasi dalam sebuah ritme. Dan ritme-ritme terintegral menjadi beat. Jika keduanya sama-sama bisa diintegralkan, tentunya pula keduanya bisa didiferensiasikan (diturunkan) dengan merunut balik pernyataan di atas. Itulah segelintir dari banyaknya kesamaan antara musik dan matematika. Jika Anda peka, tentunya lebih banyak lagi kesamaan yang dapat Anda temui.

Minggu, 15 April 2012

Awan Suci

Aku bahagia ketika awan suci tampakkan keindahannya.
Dia biarkan mentari sinari tubuhnya yang kupuja.
Putih berseri seolah senyum sambut hari-hari padaku.
Matanya biaskan sinar surya gambaran rasa murninya.
Nurnya sempurna kutangkap penuh pesona.

Pelan dia berarak meniti jarak menujuku.
Menyentuh lembut seakan tuntunku ke puncak kekaguman.
Bergejolak ia indah bak ingin tunjukkan keindahan Pencipta.
Kutak ingin ia hilang, kutak ingin ia menghitam.
Karena ia anugerah Tuhan yang tercipta untuk duniaku.

(Tribute to Holy Cloud wherever)

Agama Cinta

"Semua tradisi keagamaan membawa pesan yang sama bahwa cinta kasih adalah hal terpenting yang 'kan selalu jadi bagian dalam hidup kita."

Begitu kata Dalai Lama. Orang-orang yang berpikir pasti setuju bahwa cinta dalam kacamata kasih sayang memang pesan mendasar dari setiap agama. Kalau ngga percaya, coba aja pelajari semua agama yang ada. Pasti semua mengajarkan cinta kasih. Mengasihi lawan, apalagi kawan. Layaknya Tuhan yang memandang semua dengan sifat ketuhanan-Nya, cinta juga memandang semua dengan cinta. Tak membedakan manusia, hitam ataupun putih. Bahkan tumbuh-tumbuhan atau hewan sekalipun tak ada bedanya dalam hal cinta kasih. Semua berhak merasakan cinta. Semua dipandang sama oleh Tuhan yang Maha-Pecinta.

*Hm, rada-rada sok tau nih. Kayak pernah ketemu sama Tuhan aja, hehe

Tuhan mengenakan cinta sebagai "pakaian-Nya". Sifat-sifat-Nya selalu dilandasi cinta kasih. Tuhan marah karena cinta. Seperti seorang ayah yang memarahi anak yang dicintainya, supaya jadi lebih baik. Tuhan memberi pengampunan atas dasar cinta. Seberapapun kesalahan kita, ampunan Tuhan selalu tersedia, sebab Dia mencintai kita. Maka tak salah jika Tuhan menempatkan cinta pada posisi yang tinggi. Lebih tinggi daripada label dan simbol agama.

Lantas kita sebagai manusia perlu berbuat apa ya? Hm, kalau Bunda Teresa seh pernah bilang, "Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa rasa lelah."

Menurutnya mencinta justru adalah kebutuhan. Selain sandang pangan tentunya. Biar hidup langgeng kan kita mesti jaga kesehatan dan keselamatan. Mungkin itu yang jadi dasar pemikirannya. Untuk jaga kesehatan, perlu hal-hal yang sesuai anjuran dokter, misalnya makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi untuk jaga keselamatan sepertinya anjuran Bunda Teresa itu penting. Biar hidup ini langgeng, keselamatan harus dijaga juga. Biar keselamatan terjaga, cinta mesti ditumbuhkan dalam diri tiap-tiap insan. Ya itulah salah satu cara yang mesti dijalani. Maka, bener juga kalau dikatakan bahwa cinta adalah kebutuhan, hmmm...

Kalau semua sudah saling cinta, ngga akan ada keributan, ngga akan ada penindasan, ngga akan ada pembantaian, ngga akan ada juga pengeboman. Harus diakui, untuk menumbuhkan tatanan sosial yang baik, cinta kasih adalah ornamen terpenting. Dengan cinta kasih, akan timbul kesadaran. Mencintai dan mengasihi sesama akan menimbulkan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Olehnya timbul pula kedamaian. Mencintai dan mengasihi alam akan menimbulkan kesadaran lingkungan. Akan timbul pula kenyamanan hidup. Maka cinta kasih membuat hidup kita jadi lebih langgeng plus berkualitas.


Jika kita telah sadar bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih dan cinta kasih itu sendiri merupakan kebutuhan hidup, maka apa pentingnya buat kita memperdebatkan atribut. Toh juga tujuan agama-agama "diturunkan" sudah jelas. Tujuannya tak lain adalah mewujudkan keselamatan dan kedamaian. Dan cintalah jawabannya. Cinta kasih adalah jawaban untuk merealisasikan semua tujuan suci itu. Melampaui hal-hal sepele yang masih diributkan di tataran agama simbolik. Dalam hal itu, cinta berada di tempat yang lebih tinggi.

Bukan bermaksud mengkultuskan untaian kata hikmah dari para orang besar. Tapi jika memang kata-katanya baik dan bermanfaat maka pantaslah dijadikan pengajaran dalam hidup. Bahwa kita selayaknya belajar dari cinta, untuk memandang seperti cinta memandang. Tidak pandang bulu, tidak tebang pilih. Dalam koridor kemanusiaan, hukum cinta lah yang utama. Maka mengapa tak kita coba pula untuk belajar, membawa cinta ke mana pun dan mengenakan cinta itu di mana pun.

Ngomong-ngomong tentang cinta, saya teringat salah satu syair yang singkat namun sarat pesan cinta dari Ibnu Araby berikut, "Aku memeluk cinta ke mana pun hadap tujuanku. Kendaraanku: Cinta adalah agamaku dan imanku."

Jumat, 13 April 2012

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian V (Michael Jackson)

Seniman melegenda terakhir yang juga memiliki kontroversi besar, yaitu seorang penyanyi yang kerap menciptakan trend. Selain bernyanyi, ia juga menghibur lewat koreografi yang revolusioner pada masanya.  Topi fedora, sarung tangan kerlap kerlip di tangan kanannya, rambut keriting seleher adalah yang biasa menemani penampilannya. Khas lainnya yaitu nyanyiannya yang sering diselingi lengkingannya yang khas, koreografi ala zombie, serta lagu-lagu kemanusiaan dan mencerminkan kecintaannya pada anak-anak. Yang terakhir ini pasti langsung mengingatkan dengan jelas akan sosoknya, yakni tarian khasnya yang disebut moonwalk, tarian yang seolah berjalan maju namun sebenarnya mundur. Ya, dialah King Of Pop, Michael Jackson.

E. Michael Jackson

Kontroversi terbesar seorang Michael Jackson yakni perihal perubahan warna kulitnya yang terjadi secara sporadis. Laki-laki berdarah negro yang jelas-jelas terlahir berkulit hitam ini, justru berubah warna kulitnya pada masa-masa puncak popularitasnya. Pandangan miring berpendapat bahwa Jacko (panggilan akrab Michael Jackson) tidak cukup percaya diri dengan ras kulit hitamnya. Betapa tidak, warna kulit Jacko berubah kala isu rasis dan diskriminasi terhadap warna kulit masih kental, khususnya di Amerika. Ironisnya, warna kulit Jacko secara jelas diketahui berubah oleh publik bertepatan dengan diluncurkannya lagu Black Or White yang justru menyuarakan persamaan ras dan warna kulit. Ironis karena lagu tersebut jelas-jelas mengatakan “Doesn’t matter if you're black or white”, lagu yang anti rasis dan dikotomi warna kulit, namun Jacko justru malah merubah warna kulitnya dari yang semula hitam menjadi putih.

Akan tetapi klarifikasi dari Michael Jackson sendiri, yang kemudian disambut oleh para pendukungnya, bahwa kulitnya bukan dirubah, namun memang berubah secara alami dikarenakan adanya penyakit kulit yang diidap. Penyakit vitiligo yang diidap Jacko sedikit banyak memberi perubahan pada warna kulitnya, begitu ujar Jacko. Tak hanya sampai di situ, pembelaannya terhadap tuduhan yang gencar dihadapkan padanya perihal isu yang menyatakan bahwa ia menjalani bedah plastik hingga berkali-kali pun sempat dibantahnya dengan keras. “Saya hanya dua kali melakukan bedah plastik. Keduanya di bagian hidung,” katanya tegas. “Sedangkan bagian wajah saya lainnya memang seperti ini adanya. Jika memang berubah, setiap orang kan, mengalami pertumbuhan. Bagian wajah saya juga dari proses pertumbuhan saya,” lanjutnya berapi-api. “Jika ada orang yang berkata lain, itu terserah mereka. Saya sudah lelah meladeni tuduhan tentang bedah plastik yang saya jalani,” ujarnya lagi mantap.

Rumor lain yang juga mengundang kontroversi kurang mengenakkan buat Michael Jackson yaitu isu kelainan seksual yang dituduhkan kepadanya. Jacko dituduh sebagai pengidap pedofilia, salah satu jenis kelainan seksual di mana pengidapnya menyukai hubungan intim dengan anak-anak. Dalam wawancara dengan Martin Bashir, seorang jurnalis Inggris, Michael Jackson sempat menandaskan bahwa dia kadang-kadang memang tidur dengan seorang anak. Tapi itu dilakukan dalam rangka berbagi kasih dengan anak-anak. Memang seperti yang diketahui pula oleh khalayak, Jacko memiliki kepedulian lebih dengan dunia anak-anak. Hal itu tercermin lewat lagu-lagunya dan Neverland Ranch yang dibangunnya khusus untuk anak-anak, bak dunia dongeng. “Apakah yang salah dengan membagi kasih?” lanjutnya singkat kepada Martin Bashir.


Tak hanya semasa hidupnya, kontroversi bahkan berlanjut hingga akhir kehidupannya. Kematian Michael Jackson menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari dugaan overdosis mengkonsumsi obat-obatan, hingga disinyalir mengalami gagal jantung. Kontroversi lain adalah seputar cara pemakamannya. Isu yang menyebutkan bahwa Jacko sempat beralih keyakinan menjadi Muslim karena kedekatannya dengan berbagai tokoh spiritual semasa di Abu Dhabi juga menambah gosip yang berkembang. Akankah Jacko dikuburkan secara Islam, dikremasi, atau dibalsam, atau bagaimana? Seorang ahli pembalasaman jenasah dari Jerman bahkan sesumbar bahwa ia akan membalsam jenasah Jacko dalam gaya khasnya, yaitu Moonwalk. Hingga kini tak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana prosesi pemakaman Michael Jackson sebenarnya.

Penyanyi bernama asli Michael Joseph Jackson tersebut terlahir di Gary, Indiana pada 29 Agustus 1958, yang merupakan anak ketujuh dari pasangan Joseph Jackson dan Katherine Jackson. Di usia 5 tahun, ia mengawali kariernya bersama keempat saudaranya dengan membentuk grup vokal Jackson 5 besutan ayahnya. Grup Jackson 5 yang kemudian menjadi besar, berganti nama menjadi The Jackson pada tahun 1976. Kemudian prestasi Michael Jackson berlanjut di dunia musik dengan bersolo karier melalui album pertamanya yang bertajuk Off The Wall pada tahun 1978. Tahun 1982 Jacko mengeluarkan album berjudul Thriller, yang merupakan album terlaris di dunia, sekaligus memantapkan Jacko di puncak karier bermusiknya. Sejak saat itulah berbagai penghargaan berhasil disabetnya, termasuk juga gelar fenomenal sebagai King Of Pop.

Hingga hari kematiannya, tercatat ratusan penghargaan telah diraih. Mulai dari anugerah musik, setaraf Grammy Awards, hingga torehan rekor dunia di Guinness World Records, tak luput dari catatan prestasi Michael Jackson. Tidak cukup sampai di situ, Jacko juga pernah dinobatkan sebagai Artist of the Decade, Generation, and Century sekaligus sebagai Songwriters Hall of Fame tahun 2002 oleh presiden Amerika Serikat kala itu. Menjadi musisi kulit hitam pertama yang lagunya masuk ke dalam chart di Billboard dan sempat berada di papan atas chart tersebut menjadi catatan tersendiri dalam karier bermusik Michael Jackson. Kini prestasi dan kontroversinya telah berlalu seiring berpulangnya sang legenda. Namun pengaruh dan buah bibir atas dirinya akan tetap membahana di bantaran dunia, entah hingga kapan nanti.

*Tamat...

Jumat, 06 April 2012

Sistem Penghancur

Kita lahir, kemudian tumbuh dan berkembang. Setelah mencapai puncak dari perkembangan dan pertumbuhan itu, kita pun sedikit demi sedikit "rusak" secara fisik. Jantung mulai melemah, hati mengalami disfungsi, kinerja organ-organ lain pun mengalami penurunan. Yang muda menjadi tua. Yang kuat jadi makin lemah. Penyakit berdatangan, dan yang hidup mengalami kematian. Tak hanya kita (manusia) namun semua makhluk hidup mengalami fase yang sama. Lahir, tumbuh dan berkembang, kemudian mati. Semua hewan lahir, ada yang melalui proses tetas telur, ada yang membelah dirinya, ada juga yang diberanakkan. Namun intinya semuanya terlahir ke dunia. Semuanya pun berkembang dengan cara masing-masing. Akan tetapi apapun proses yang dijalani, semua berujung pada kerusakan, kemudian mati. Tumbuhan pula demikian. Hidup, baik secara alami maupun buatan, secara fisik tumbuh memanjang dan berkembang membesar. Betapa pun panjang kurun waktu hidupnya, semua berakhir dengan satu kata, mati.

Mati tak hanya terbatas pada yang bernyawa saja. Yang tak bernyawa pun akhirnya mati. Tentunya bukan dalam pengertian berpisahnya jiwa dengan jasad, tapi tak ada lagi kesatuan antara wujud dan kegunaan. Benda-benda di alam dari yang besar hingga sekecil-kecilnya pasti sedikit demi sedikit mengalami reduksi, lalu kemudian musnah. Musnah di sini bukan lenyap tiba-tiba, namun lenyap dari eksistensi awalnya, berupa kesatuan antara wujud dan kegunaannya tadi, dengan cara berproses tentunya. Matahari yang sekarang kita lihat bersinar terang, pada waktunya nanti telah diprediksi akan mati oleh para ilmuwan. Matahari akan menjadi bintang mati, bahkan mungkin juga suatu saat nanti akan hancur, musnah dari eksistensi awalnya. Begitu pun dengan alam semesta tempat kita hidup ini, akan musnah dari eksistensi awalnya. Gunung-gunung, lautan, sungai, batu, bahkan butiran pasir pun berproses menuju musnah.
 

Setali tiga uang dengan hal-hal di atas, benda-benda buatan manusia pun tak pelak dari sebuah kemusnahan. Dari gubuk-gubuk kayu di tepi sawah, hingga gedung yang dibuat dengan baja dan beton, semua musnah. Dari sepeda besi tua, sampai pesawat tempur teknologi canggih, musnah. Perkakas sederhana, musnah. Gadget mutakhir, musnah. Singkat kata, segalanya akan musnah, seolah-olah alam ini adalah sebuah sistem penghancur yang kompleks dan terorganisir. Alam bisa melapukkan, alam bisa mengkorosi, alam pun bisa mendegradasi segala yang mampir kepadanya. Bukan kejam, tapi inilah the law of nature, hukum alam yang memang terus berproses. Hukum alam yang juga menjadi kehendak Tuhan, hukum Tuhan. Sederhananya, segala bentuk materi yang “terlahir” di alam ini, baik terlahir dari proses biologis maupun proses berpikir, pasti akan musnah. Alam ini memusnahkan segala yang dikandungnya. Oleh sebab itu, kita harusnya siap-siap kala jadi bagian dari peristiwa musnah itu.