Translate

Jumat, 20 April 2012

Gagal Logika

Saya salah satu dari tak banyak orang Indonesia yang tidak percaya terhadap sesuatu yang ngga ada reason-nya. Karena saya benar-benar yakin bahwa sesuatu itu terjadi karena ada sebab. Apapun itu, pasti terjadi karena sebab. Dan sebab pasti menmbulkan akibat. Tak ada sesuatu yang tak menimbulkan akibat, sekecil apapun akibatnya. Pada dasarnya, saya percaya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Dan bahkan apa yang saya yakini ini tidak serta merta begitu saja hadir sebagai sebuah keyakinan. Keyakinan saya ini pun timbul bukan secara kebetulan, namun karena ada sebab. Saya yakin seyakin-yakinnya terhadap hukum kausalitas, disebabkan karena sejak kecil, saya memang terdidik dalam lingkungan keluarga yang memiliki pemikiran seperti itu.

Buat saya, saya bisa dikatakan orang yang logis, bahkan superlogis. Buat saya lho ya. Saya tidak pernah memaksakan orang lain untuk sependapat dengan saya. Jadi, cukup buat saya saja. Dan saya katakan “buat saya” juga karena logika saya berbeda dengan logika orang-orang kebanyakan. Terkadang yang buat orang lain sangat logis, menurut saya tidak logis. Dan sebaliknya, terkadang yang menurut orang itu tidak logis, buat saya logis-logis aja. Padahl orang tersebut sendiri sudah merasa logis, menurut dia. Hm, logika memang relatif. So, kadang saya berpikir, saya orang yang di atas logis alias superlogis, hehehe. Narsis dikit boleh laahh :D


Salah satu contoh, mungkin menurut kebanyakan orang, anak-anak cerdas lebih layak dapat sekolah yang bergengsi. Betapa tidak, sekolah-sekolah bergengsi menetapkan standar yang tinggi, yang secara tidak langsung diperuntukkan hanya untuk anak-anak cerdas dan di atas cerdas. Pandangan umum menganggap logis bahwa sekolah atau perguruan tinggi bermutu diutamakan buat anak-anak cerdas, buat yang punya prestasi baik, buat yang nilai akademiknya di atas rata-rata, dan sebagainya. Tapi justru buat saya, itu ngga logis sama sekali. Bukankah salah satu tujuan utama negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa? Nah lantas kenapa sekolah-sekolah bermutu itu malah mencari siswa-siswa yang sudah memang cerdas? Padahal siswa yang sudah cerdas tidak terlalu membutuhkan itu dibanding siswa yang biasa-biasa saja, atau malah yang bodoh. Bahkan, ekstremnya, dengan belajar sendiri sekalipun, siswa yang cerdas toh sudah punya kemampuan yang luar biasa. Bukankah kalau mau mencerdaskan segenap kehidupan bangsa, harusnya anak-anak yang bodoh yang mesti diutamakan supaya mereka jadi pintar? Itu baru memenuhi tujuan berbangsa bernegara, biar anak bangsa kita rata jadi cerdas semua. Kalau dengan sistem yang ada sekarang, malah yang cerdas tambah cerdas, yang bodoh tetap bodoh. Cape deeehh…

Hal lain yang menurut saya gagal logika adalah hampir semua orang menganggap setan, iblis, dan makhluk-makhluk halus lainnya itu berada di luar kehidupan kita. Sampai-sampai, kesurupan dianggap karena gangguan iblis. Malah yang lebih konyol lagi, sulap dianggap pake bantuan setan. Waduh, betapa naifnya pemikiran seperti itu. Kalau menurut saya, pemikiran yang kacau seperti itu adalah bentuk kompensasi dari ketidakmampuan mereka untuk berpikir, merenung, dan mencari sebab. Buntut-buntutnya semua yang rada-rada aneh dikit, dianggap kerjaan makhluk halus. Kayak pernah kenalan sama tuh makhluk halus aja. Kebanyakan orang mencari jalan pintas dalam berpikir hingga begitu mudah menganggap hal yang ngga wajar itu sebagai sesuatu yang tidak logis. Ujung-ujungnya, nama setan dan iblis mencuat lagi, mencuat lagi. Saya seh berpikir, setan dan iblis itu tidak terpisahkan dari kehidupan kita, malah dia ada dalam diri kita masing-masih. Jadi sebenarnya ngga perlu susah-susah mencari kambing hitam. Wong yang buat iblis itu diri kita sendiri. Wong setan itu muncul dari dalam diri kita. Adalah pikiran kita sendiri yang mengkondisikan keberadaan segala macam makhluk gaib itu. Semuanya ada di sini (nunjuk kepala). Itulah kenapa orang-orang penakut, sering merasa melihat setan, iblis, atau apa lah namanya, ya karena pikiran mereka terlalu mudah dikondisikan oleh rasa takut itu, sehingga citra gaib itu pun berdatangan di alam pikiran mereka. Dan itu terjadi di alam setengah sadar mereka, ketika logika udah ngga maen lagi.

Itulah alasan (reason) kenapa peristiwa-peristiwa langka, sepeti kesurupan, debus, ilmu supranatural, dan segala macam sulap ataupun magic jadi logis buat saya. Dalam hal debus dan ilmu supranatural lainnya, itu tak ubahnya seperti jika orang sedang mabuk. Ketika kesadaran telah hilang, apapun yang terjadi dengan diri mereka takkan berasa apa-apa. Semua itu bermain pada taraf kesadaran. Hanya saja ada yang tarafnya rendah, ada yang lebih tinggi. Dan tentunya akan panjang jika semua reason-nya saya kemukakan di sini. Untuk lebih jelasnya, tanya aja langsung ke para ahli psikologi atau orang-orang yang lebih berkompeten di bidang tersebut. Atau praktisnya, kalau mau menyaksikan sendiri, lihat aja orang-orang yang lagi mabuk, asal jangan coba-coba untuk ikutan mabuk aja, hehehe..

Sebenarnya masih banyak lagi pertentangan logika yang saya temui. Namun intinya bagaimana kita membiasakan diri untuk berpikir dulu sedalam-dalamnya, sematang-matangnya sebelum menarik kesimpulan untuk menyatakan suatu hal masuk logika atau tidak. Jangan sampai kita hanya membeo pendapat umum, padahal itu bertolak belakang dengan akal sehat. Seperti yang saya ungkapkan di awal tadi, segala sesuatu berlangsung tentu ada sebabnya. Dan semua peristiwa yang terjadi di dunia ini pasti bisa dijelaskan dengan akal sehat, asalkan kita mau dan mampu berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar