"Semua tradisi keagamaan membawa pesan yang sama bahwa cinta kasih adalah hal terpenting yang 'kan selalu jadi bagian dalam hidup kita."
Begitu kata Dalai Lama. Orang-orang yang berpikir pasti setuju bahwa cinta dalam kacamata kasih sayang memang pesan mendasar dari setiap agama. Kalau ngga percaya, coba aja pelajari semua agama yang ada. Pasti semua mengajarkan cinta kasih. Mengasihi lawan, apalagi kawan. Layaknya Tuhan yang memandang semua dengan sifat ketuhanan-Nya, cinta juga memandang semua dengan cinta. Tak membedakan manusia, hitam ataupun putih. Bahkan tumbuh-tumbuhan atau hewan sekalipun tak ada bedanya dalam hal cinta kasih. Semua berhak merasakan cinta. Semua dipandang sama oleh Tuhan yang Maha-Pecinta.
*Hm, rada-rada sok tau nih. Kayak pernah ketemu sama Tuhan aja, hehe
Tuhan mengenakan cinta sebagai "pakaian-Nya". Sifat-sifat-Nya selalu dilandasi cinta kasih. Tuhan marah karena cinta. Seperti seorang ayah yang memarahi anak yang dicintainya, supaya jadi lebih baik. Tuhan memberi pengampunan atas dasar cinta. Seberapapun kesalahan kita, ampunan Tuhan selalu tersedia, sebab Dia mencintai kita. Maka tak salah jika Tuhan menempatkan cinta pada posisi yang tinggi. Lebih tinggi daripada label dan simbol agama.
Lantas kita sebagai manusia perlu berbuat apa ya? Hm, kalau Bunda Teresa seh pernah bilang, "Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa rasa lelah."
Menurutnya mencinta justru adalah kebutuhan. Selain sandang pangan tentunya. Biar hidup langgeng kan kita mesti jaga kesehatan dan keselamatan. Mungkin itu yang jadi dasar pemikirannya. Untuk jaga kesehatan, perlu hal-hal yang sesuai anjuran dokter, misalnya makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi untuk jaga keselamatan sepertinya anjuran Bunda Teresa itu penting. Biar hidup ini langgeng, keselamatan harus dijaga juga. Biar keselamatan terjaga, cinta mesti ditumbuhkan dalam diri tiap-tiap insan. Ya itulah salah satu cara yang mesti dijalani. Maka, bener juga kalau dikatakan bahwa cinta adalah kebutuhan, hmmm...
Kalau semua sudah saling cinta, ngga akan ada keributan, ngga akan ada penindasan, ngga akan ada pembantaian, ngga akan ada juga pengeboman. Harus diakui, untuk menumbuhkan tatanan sosial yang baik, cinta kasih adalah ornamen terpenting. Dengan cinta kasih, akan timbul kesadaran. Mencintai dan mengasihi sesama akan menimbulkan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Olehnya timbul pula kedamaian. Mencintai dan mengasihi alam akan menimbulkan kesadaran lingkungan. Akan timbul pula kenyamanan hidup. Maka cinta kasih membuat hidup kita jadi lebih langgeng plus berkualitas.
Jika kita telah sadar bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih dan cinta kasih itu sendiri merupakan kebutuhan hidup, maka apa pentingnya buat kita memperdebatkan atribut. Toh juga tujuan agama-agama "diturunkan" sudah jelas. Tujuannya tak lain adalah mewujudkan keselamatan dan kedamaian. Dan cintalah jawabannya. Cinta kasih adalah jawaban untuk merealisasikan semua tujuan suci itu. Melampaui hal-hal sepele yang masih diributkan di tataran agama simbolik. Dalam hal itu, cinta berada di tempat yang lebih tinggi.
Bukan bermaksud mengkultuskan untaian kata hikmah dari para orang besar. Tapi jika memang kata-katanya baik dan bermanfaat maka pantaslah dijadikan pengajaran dalam hidup. Bahwa kita selayaknya belajar dari cinta, untuk memandang seperti cinta memandang. Tidak pandang bulu, tidak tebang pilih. Dalam koridor kemanusiaan, hukum cinta lah yang utama. Maka mengapa tak kita coba pula untuk belajar, membawa cinta ke mana pun dan mengenakan cinta itu di mana pun.
Ngomong-ngomong tentang cinta, saya teringat salah satu syair yang singkat namun sarat pesan cinta dari Ibnu Araby berikut, "Aku memeluk cinta ke mana pun hadap tujuanku. Kendaraanku: Cinta adalah agamaku dan imanku."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar