Translate

Rabu, 25 Mei 2011

Pencerahan

 
Lukisan di atas adalah lukisan yang saya hadiahkan kepada kakak saya saat peringatan ulang tahunnya. Tanpa tahu siapa pembuatnya, lukisan tersebut langsung menarik perhatian saya ketika pertama melihatnya. Mungkin karena tertarik dengan coraknya, atau juga karena rasa seni yang saya miliki, tanpa tersadari bisa langsung menemukan maknanya. Yang jelas ada sesuatu yang membuat saya menjatuhkan pilihan kepada lukisan itu dibanding lukisan-lukisan lain yang saya lihat.

Setelah membeli dan membawanya pulang, saya memperhatikan lagi lukisan itu dalam-dalam. Bukan bermaksud untuk memberi makna, tapi untuk menyerap makna dari lukisan yang menarik hati itu. Dan tak salah lagi, setelah menyelami dan mencoba menjadi subjek atas lukisan tersebut, saya berhasil menangkap esensi dari kumpulan warna yang membentuk lukisan maknawi itu. Saya pun coba merekonstruksikan prosesinya untuk menyempurnakan apa yang saya tangkap dari lukisan tersebut.

Maka "Pencerahan" adalah kata yang paling tepat untuk saya merepresentasikan lukisan itu. Judul yang singkat namun padat makna. Mencerminkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan dalam segala hal, baik itu kehidupan maupun dalam hal spirit. Dari sekian banyak warna yang tercerap di atas kanvasnya, namun goresan putihlah yang menjadi akhir prosesi pelukisan itu. Goresan yang kemudian dilingkari seolah menegaskan bahwa putih itulah yang membuat lukisan tersebut menjadi paripurna.

Pada lapisan paling awal, kanvas dibubuhi warna gelap yang kemudian dilapisi lagi oleh warna yang lebih terang di atasnya. Hingga diakhiri dengan memberikan warna putih (paling terang) di bagian teratas. Ini menunjukkan bahwa proses penciptaan lukisannya pun merupakan proses "pencerahan" bertahap. Makna esensial yang sangat dalam dari lukisan yang terlihat sederhana. Mengandung semangat perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Pantaslah jika lukisan tersebut saya wakilkan dengan sebuah kata (yang juga) sederhana namun sarat makna, "PENCERAHAN"
 

Minggu, 22 Mei 2011

Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab

Sangat disayangkan ketika superter bola di Indonesia pada anarkis. Gara-gara ngga bisa legowo menerima hasil pertandingan, para suporter yang ngga sportif itu baku hantam dan baku lempar. Bukan hanya peristiwa ricuhnya yang disayangkan, tapi juga kenyataan bahwa ternyata masyarakat kita (dalam hal ini para suporter bola) masih belum bisa menerima kenyataan. Banyak yang masih belum bisa menerima kekalahan sebagai bentuk sportivitas dalam permainan atau pertandingan. Bahwa memang kalah menang itu kan wajar. Itu saja baru dalam hal olahraga, pertandingan sepak bola. Bagaimana jika sikap ngga mau kalah itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang lebih luas ya? Bisa kacau balau negara kita ini. Sedikit-sedikit bentrok, sedikit-sedikit bentrok, ckckck...

Alasan klasik yang mendasari fenomena kericuhan itu ngga jauh-jauh dari pendidikan formal. Pendidikan yang kurang, menyababkan orang-orang jadi ngga logis dalam menyikapi masalah. Ya, bisa dipahami lah, bahwa pendidikan menjadi salah satu penyebabnya. Tapi apa jadinya jika yang ricuh kemudian adalah orang-orang berpendidikan? Seperti belakangan ini, anggota dewan pun pada ricuh. Dan kasus kericuhan yang terbaru justru terjadi pada kongres PSSI, Jumat 20 Mei di Jakarta lalu.

Nah lho, orang-orang yang notabene pinter nan berpendidikan itu juga pada ricuh. Sepertinya bukan lagi pendidikan yang mesti dijadikan "kambing hitam". Tapi lebih-lebih kepada penghayatan dalam mengaplikasikan nilai pendidikan yang dimiliki itu. Karena buktinya banyak orang pinter yang ngga bisa mengaplikasikan kepintarannya dengan pinter juga. Hingga bukan lagi otak yang dipake, tapi otot, hehe...

Sekali saja kita kehilangan pengahayatan terhadap apa yang ada dalam akal sehat kita, maka pengelolaan terhadap masalah kita akan tidak terkontrol lagi. Nah orang yang ngga bisa mengelola permasalahannya secara logis akan melampiaskannya dengan emosi sebagai bentuk pengalihan. So, kita semua, baik yang berpendidikan maupun ngga berpendidikan (secara formal) nampaknya perlu cooling down sejenak untuk menghayati akal sehat yang kita miliki (seberapa pun kecilnya).


Ngomong-ngomong soal kisruh di kongres PSSI nih. Adegan yang memenuhi pemberitaan belakangan karena kehebohannya itu ngga hanya mencoreng nama baik kita sebagai bangsa yang (mencoba untuk) beradab, tapi juga berbuah sanksi logis dari FIFA (Federation International Football Association). Bukan cuma memberi sinyal kepada dunia bahwa mentalitas bangsa kita masih buruk, kisruh yang terjadi itu pun bisa-bisa memperburuk prestasi persepak-bolaan kita di ajang internasional. Betapa tidak, dengan kekacauan yang kita buat sendiri, kita bisa terkena larangan bertanding di ajang internasional minimal selama satu tahun.

Wah, wah, kalo begitu ceritanya, Indonesia bisa terkucil tuch di kancah sepak bola internasional. Ngga bisa ikut SEA games yang sebenarnya jadi target utama untuk meraup prestasi. Tentunya kita semua sangat kecewa. Tapi apa boleh buat. Kalau kita berani bikin kisruh, kita pun harus berani menerima konsekuensinya. Biar ini jadi pelajaran buat kita semua. Khususnya buat yang pada doyan bikin kisruh :p

Sabtu, 21 Mei 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian II (Al-Hallaj)

Tak hanya dari barat, kontroversi pun datang dari timur. Masih dalam karya seni yang "bersebelahan" dengan John Lennon sebagai musisi yang menulis syair-syair dalam lagunya. Kali ini angin kontroversi dihembuskan oleh seorang penyair yang tak diragukan lagi kemampuannya. Penyair sufi yang seolah mampu memberi roh pada setiap karya-karyanya. Hidup di masa jauh sebelum kontroversi Lennon mendunia, yakni pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi.


B. Al-Hallaj

Husain ibn Mansur al-Hallaj. Itulah nama aslinya. Sama-sama sebagai seniman, seperti halnya John Lennon, Al-Hallaj pun menebar pro kontra lewat pernyataan kontrasnya. Namun dengan latar zaman dan konteks yang berbeda dengan apa yang kemudian dinyatakan oleh Lennon.

Al-Hallaj terkenal dengan statement-nya yang dengan lantang mengatakan, "Ana al-Haqq" atau "Akulah Kebenaran Mutlak" atau "Akulah Allah (Tuhan)".

Sebuah kalimat yang pada akhirnya mengantarkannya kepada eksekusi kematian yang brutal di tiang gantungan itu, lekas saja menimbulkan berbagai pemahaman bagi masyarakat yang mendengarkannya kala itu. Khususnya bagi masyarakat muslim Persia. Selain "Ana al-Haqq", banyak lagi ucapan-ucapan tak biasa yang keluar dari mulut Al-Hallaj sendiri.


"Bunuhlah aku wahai sahabat setiaku. Karena dalam kematianku, di sanalah kehidupan sejati..."

"Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, Al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Itulah potongan kata-kata dalam syair sufistik terkenalnya yang memang tidak mudah diterima oleh pemahaman umum. Bagi sebagian ulama muslim, pernyataan-pernyataan yang dikemukakan Hallaj baik dalam pembicaraan maupun syair-syairnya itu adalah bid'ah (melawan ajaran asli suatu agama). Sebab menurut mereka, Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah. Apalagi Hallaj secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah Tuhan. Di samping itu, menurut para ulama penentangnya, menolak kehidupan (seperti yang dilakukan Al-Hallaj) berarti telah mengingkari takdir Tuhan. Hallaj pun dinyatakan sebagai pembangkang.

Ada yang menjustifikasinya sesat, ada pula yang memujinya setinggi langit. Khususnya ulama-ulama dari kalangan sufi dan pengikutnya. Bagi mereka, Hallaj telah mencapai sesuatu yang dinamakan penyatuan kesaksian dengan Tuhan, di mana hijab (tirai) yang menutupi rahasia Ilahi telah tersingkap untuknya melalui jalan spiritual. Hingga diraihlah kesadaran tentang yang Haqq itu (Kebenaran Mutlak). Lanjut mereka menjelaskan, mana kala hijab yang berupa ilusi telah terbuka, tak ada lagi batas antara hamba dan Khalik. Di saat itulah ia mengucapkan "Ana al-Haqq" (Akulah Kebenaran Mutlak). Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada manusia dengan menjadi "hewan qurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukannya dan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia.

Ada juga sufi yang mengungkapkan perumpamaan mengenai apa yang dirasakan oleh Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai yang amaliyah (pelaku) tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam. Bedakan antara amal (perbuatan) dan ilmu. Sebab banyak kesalah-pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalah-pahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

Keberpihakan Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918 M, ia diawasi, dan pada 923 M ia ditangkap. Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, Wazir Khalifah, musuh bebuyutan Al-Hallaj berada di atas angin. Sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas Hallaj dan memerintahkan agar Hallaj dieksekusi. Akibat pergolakan masyarakat dan politik atas pro kontra mengenai Al-Hallaj tersebut, akhirnya, penyair sufi kelahiran Kota Thur, Iran tahun 866 M itu merelakan dirinya menjadi martir. Hidupnya pun diakhiri di tiang gantungan.

Al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangan terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang Wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu. Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Hukuman yang sangat tidak manusiawi untuk membayar sebuah kontroversi yang belum bisa ditakar benar salahnya.

Namun satu hal yang paling berkesan dalam peristiwa eksekusi sadis itu. Saat mendekati prosesi peyalibannya, Hallaj sempat membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku, tolonglah diriku dalam kefanaan. Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakiti-Mu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam diri-Mu. Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagi-Nya”. Lalu ia membaca sebuah ayat.

*Bersambung...

Jumat, 20 Mei 2011

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Bumi ini dihuni kurang lebih 7 milyar umat manusia. Tapi ngga semua manusia itu punya rasa kemanusiaan. Apa mungkin ada manusia jadi-jadian di bumi ini ya, sampai-sampai ada yang ngga punya rasa kemanusiaan? Mungkin bukannya ngga punya, tapi lebih tepat kalau dikatakan rasa kemanusiaannya ditutupi oleh dominasi nafsu yang sangat besar. Penindasan di mana-mana, perang di sana sini. Nafsu kekuasaan dan materi terbukti telah mengikis semangat kemanusiaan yang mestinya dimiliki oleh semua manusia (manusia beneran :D).

Sangat tepat jika Indonesia memaktubkan 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' sebagai salah satu dasar ideologi bangsa. Pandangan Internasionalisme. Itulah sinonim yang tepat untuk azas tersebut. Bukan hanya diimplementasikan untuk manusia-manusia Indonesia, tapi juga manusia-manusia yang ada di seluruh muka bumi ini. Sila yang dengan tegas menyiratkan keadilan bagi seluruh umat manusia dan dijiwai keberadaban di dalamnya. Yang kemudian sila tersebut diintegralkan ke dalam sila pertama (Ketuhanan yang Maha-Esa) menjadi suatu pandangan yang universal. Di mana yang adil dan beradab tak hanya bagi manusia tetapi juga semesta alam.
 

Negara-negara di dunia boleh beragam dengan etnis dan warna kulit yang berbeda-beda. Manusia punya ideologi, kepercayaan, dan pemahaman yang tak sama, pun terbagi dalam benua yang terpisah satu dengan yang lainnya. Tapi di atas semua itu, kita semua tetap sama, kita semua tetap satu, kita semua manusia. Di mana harusnya keragaman dan perbedaan dalam kehidupan bukan untuk memecah belah. Bukan untuk memicu pertikaian dan peperangan. Bukan juga sebagai alasan penindasan bagi sesama. Justru Jika kita menghayati bahwa kita semua punya kesamaan yang mendasar dengan hak-hak azasi yang sama, maka pantaslah bagi kita untuk saling memahami dan bersatu dalam kerangka peri-kemanusiaan.

Ach, mungkin itu semua terlalu idealis diterapkan di tengah manusia-manusia yang telah tumpul rasa kemanusiaannya (mungkin kebanyakan demikian). Malah mungkin ada yang bakal menganggap itu sebagai sampah, omong kosong, atau mimpi belaka. Tapi kita tak boleh apatis, paling tidak, tulisan ini bisa membuat kita sedikit teringat bahwa kita masih punya pegangan 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' tersebut. Sila yang harus diaplikasikan, bukannya hanya dijadikan simbol yang membuat kita bangga pada momen-momen tertentu saja.

Daripada tidak sama sekali, saya pikir lebih baik tulisan yang (mungkin) akan dianggap mimpi kosong ini diterbitkan. Sekali lagi, paling tidak ini akan membuat kita sedikit teringat akan hakikat kita sebagai manusia yang berperi-kemanusiaan dan selanjutnya berbangga atas azas Kemanusiaan kita, tak hanya pada momen tertentu saja, tapi untuk selama hidup kita.
 

Kamis, 19 Mei 2011

Kontroversi dari Sebuah Pesan Damai

Postingan pertama untuk kategori Seni ini saya awali dengan "membedah" sebuah lagu yang sangat fenomenal sekaligus kontroversial. Inilah lagu Imagine karya John Lennon dan Phil Spector, yang terbit pada 1971 dalam album bertajuk sama, Imagine. Lagu ketiga terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone dan menjadi lagu abad ini di berbagai jajak pendapat adalah sisi fenomenal dari lagu ini. Selain berhasil mencapai tangga lagu ketiga dalam Billboard (Amerika Serikat) dan keenam di Britania Raya. Sampai-sampai bekas presiden AS Jimmy Carter mengatakan, "Di banyak negara di seluruh dunia — saya dan istri saya telah mengunjungi sekitar 125 negara — kita dapat mendengar lagu John Lennon 'Imagine' dimainkan hampir sama seringnya dengan lagu kebangsaan."

Itu mencerminkan betapa fenomenalnya lagu tersebut di zamannya. Namun, bagai dua sisi mata uang, di balik pemujaan terhadap lagu ini, ada pula komentar miring seputarnya. Dinyatakan sebagai lagu anti-agama, anti-nasionalistis, dan anti-kapitalistis adalah hal yang menjadi sisi kontroversi dari lagu ini. Al hasil, John Lennon pun sebagai pengarang lagu dituding menganut satanisme (pemuja setan). Di satu sisi didapuk sebagai lagu perdamaian dunia, di sisi lain dicerca sebagai lagu beraroma satanisme.
 

Inilah potongan lirik fenomenal sekaligus kontroversial itu:

"...Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
..."

Kalau sepemahaman saya (yang berupaya untuk positive thinking), lirik itu bukan tercipta dari seorang yang berpaham anti-agama ataupun anti-nasionalisme. Meskipun kabarnya Lennon sendiri selaku penciptanya, terang-terangan mengakui demikian. Tapi disadari atau tidak, lirik tersebut merupakan sebuah harapan akan kehidupan yang damai (living life in peace). Lariknya bersifat induktif dengan ide utama tentang perdamaian dunia.

Hanya saja karena kedamaian yang diimpi-impikan itu tidak jua terwujud maka si penulis pun menuangkan pandangan dan kekecewaannya terhadap sesuatu yang dinilai bertanggung jawab dalam hal pengkotak-kotakan umat manusia, yang kemudian memicu perpecahan. Lirik yang sebenarnya cuma angan-angan kosong buat saya. Sebab pada kenyataannya, bagaimanapun juga pengkotak-kotakan itu tak bisa dihindari karena manusia memang diciptakan berbeda. Dan perdamaian tak akan pernah terwujud secara sempurna sebab manusia dalam segala upayanya memang tak ada yang sempurna. Kita hanya bisa berupaya mendekatinya saja, dan itu pun sudah baik sebagai iktikat kita demi perdamaian.

Saya pikir, dalam hal ini agama dan batasan negara hanya sebagai implikasi dan bukan inti dari tujuan lirik lagu tersebut. Karena memang tak bisa dipungkiri juga bahwa agama yang seharusnya "diturunkan" untuk membawa damai, banyak disimpangkan fungsinya demi ego para pengikutnya. Begitu juga dengan negara yang mestinya mengemban misi perdamaian justru lebih mementingkan pemenuhan diri saja. Alih-alih damai, pertikaianlah yang terjadi.

Seandainya agama benar-benar dihayati saya yakin kedamaian akan tercipta dan pastinya ngga akan ada lirik lagu kekecewaan terhadap agama lagi. Dan jika negara dikembalikan fungsinya sebagai pengemban misi perdamaian dunia, negara pun ngga akan dibawa-bawa dalam lirik lagu yang berisi kekecewaan itu. Kalau dipikir-pikir (buat yang seneng mikir, hehe) perdebatan terhadap kontroversi yang ada hanya akan memperkeruh suasana dan mengaburkan cita-cita bersama yang sebenarnya ingin kita wujudkan, yakni perdamaian. Maka marilah (ketimbang repot memperdebatkan kontroversi) lebih baik kita serukan bersama suara perdamaian itu.

Rabu, 18 Mei 2011

Kuliah Umum Bung Karno

Kutipan kuliah umum Bung Karno tentang Agama di Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun 1958:

"Saya akan menceritakan saudara-saudara sekalian, hikayat seekor gajah dan empat orang buta.


Pada suatu hari, Sri Baginda suatu negara menyuruh mendatangkan gajah beliau di halaman istana dan memerintahkan pada waktu yang sama mendatangkan pula empat orang buta. Setelah gajah dan empat orang buta ini tiba maka Sri Baginda meminta supaya orang-orang tuna-netra itu masing-masing menjawab pertanyaan, 'Apakah gajah itu?'

Untuk menjawab pertanyaan itu, keempat orang buta diminta secara bergilir mendekati dan meraba-raba tubuh gajah itu.

Orang buta pertama maju dan terpeganglah olehnya ekor gajah itu, yang dipegangnya dari pangkal sampai ke ujung. Kemudian ia berkata, 'Gajah menyerupai penghalau lalat, tapi agak lunak dan panjang.'

Orang buta kedua maju dan kebetulan yang dipegangnya adalah kaki si gajah. Berkatalah ia, 'Gajah seperti bambu besar, meski agak lunak.'

Orang buta ketiga maju. Ia diperkenankan naik tangga, maka terpeganglah telinga gajah itu. Berkatalah ia, 'Gajah itu seperti daun besar dan tebal.'

Akhirnya tiba giliran orang buta keempat. Terpegang olehnya belalai gajah, dan diraba-raba. Setelah itu berkatalah ia, 'Gajah itu seperti pipa karet yang besar.'

Nah saudara-saudara, siapakah yang benar di antara keempat orang-orang buta itu? Jawabannya mudah. Mereka semua benar meski jawaban mereka berlainan. Begitulah saudara-saudara, keadaan agama. Di Indonesia ada bermacam-macam agama. Semuanya benar seperti jawaban-jawaban orang buta tentang gajah itu juga benar. Karena manusia itu kecil, ia tidak dapat mengetahui segala sesuatu. Yang dapat dilihat atau dipahaminya hanya sebagian atau beberapa segi alam wujud ini."

Selasa, 17 Mei 2011

Anomali Cinta

Tulisan ini bukan untuk dipahami secara letterlijk. Ini hanya celetukan (atau mungkin ada yang menganggap guyonan) tentang keanehan cinta yang tiba-tiba terpikirkan. Ada banyak penyimpangan-penyimpangan yang ditimbulkan oleh perasaan cinta yang (bisa dikatakan) menumpulkan logika. Beberapa pemahaman umum yang selama ini digunakan ternyata begitu mudahnya dipatahkan karena cinta atau atas alasan cinta. Baik itu disadari atau tidak.


Dalam teori matematika, telah dipahami bahwa 1 + 1 = 2
Tapi dalam hal penyatuan cinta, analisis itu seolah "disanggah". Di mana satu hati yang digabungkan dengan satu hati lainnya akan menyatu dalam cinta. *so sweeeeeett... :D
Maka formulasi cintanya menjadi 1 + 1 = 1
Haha, ternyata cinta bisa dirumuskan juga. Hasilnya berbeda dari rumus matematika. Pastinya karena bahasa cinta berbeda dengan bahasa eksak.

Ngomong-ngomong soal bahasa, ada anomali cinta juga dalam berbahasa. Orang-orang mengerti bahwa ungkapan "Aku cinta kamu" atau "I love you" atau "Ich liebe dich" atau "Aishiteru" ataupun dalam bahasa-bahasa lainnya, itu mengungkapkan perasaan cinta dari seseorang kepada orang lain. Tapi dalam bahasa cinta, itu ngga kepake. Tidak mesti menyatakan cinta secara harfiah. Cinta sudah bisa dimengerti dari gelagat dan dipahami dalam rasa satu sama lain. Ajaib seh, tapi itu nyata :D

Ada lagi nih keajaiban yang disebabkan oleh cinta. Secara ilmu kedokteran, kebutaan dikarenakan pasokan darah ke saraf mata yang bertugas menghantar hasil pengelihatan mata ke otak terhambat. Hambatan pasokan darah menyebabkan sel-sel saraf mati secara progresif. Hal tersebut bisa disebabkan oleh infeksi, katarak, glaukoma, atau penyakit-penyakit lainnya. Itu teorinya...
Namun di luar segala teori yang ribet-ribet itu, ada hal lain yang tanpa disadari dapat menyebabkan kita buta. Itulah cinta, ckckck...

Karena cinta itu buta, maka banyak simpangan-simpangan yang terjadi karenanya. Dalam hukum juga demikian. Orang yang bersalah akan dimpuni hanya karena orang tersebut dicintai. Padahal hukumnya sudah jelas bahwa yang bersalah harus diadili. Kalau diampuni begitu saja kan justru ngga adil toh. Subjektif. Itulah cinta yang buta. Tapi tenang aja. Ngga semua orang jadi subjektif karena cinta, hehe.. So, asyikin aja lah tu cinta...

Hm, mungkin masih banyak lagi anomali-anomali yang disebabkan oleh suatu hal yang disebut cinta ini. Setiap orang mungkin punya pikiran-pikiran lain dalam benaknya. Itulah cinta, dengan segala keanehannya. Agung, ajaib, dan terkadang subjektif. Semoga kita bisa menikmatinya dan mengambil positifnya.

Bahagiaku

Setelah menceritakan tentang diri saya, kini saya akan menuliskan tentang kebahagiaan yang saya rasakan. Ya, saya sangat bahagia. Bukan karena mendapat undian 1 milyar. Bukan karena memperoleh gelar cum laude. Bukan juga karena jalan-jalan keliling dunia.
*Padahal kalau dipikir-pikir pengen banget seh, hehe.

Tapi bukan itu semua yang membuat betapa bahagianya saya. Cuma ada satu kata. Kata yang sederhana namun punya makna dalam (setidaknya buat saya). Semua orang memilikinya namun tidak semua memperhatikannya (mungkin karena begitu sederhananya). Itulah yang disebut KELUARGA. Kata yang indah bukan? Terang saja saya bahagia karenanya.

Bukan keluarga yang kaya raya. Bukan pula keluarga yang punya pengaruh besar. Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana, keluarga yang sedang-sedang saja. Keluarga kecil yang terdiri dari dua orangtua (maksudnya: tidak menganut sistem poligami) dan tiga orang anak (dua lelaki dan seorang perempuan). Namun ada satu hal yang unik dalam keluarga saya dan saya pikir itulah yang membuatnya istimewa. Penuh dengan kombinasi, baik secara fisik maupun kepribadian.


Dengan berbagai kombinasi itu, keluarga saya menjadi sebuah keluarga yang lengkap. Bapak adalah seorang yang tenang dan bijaksana, sementara Mama ekspresif dan lugas. Dari segi pemikiran, perpaduan antara religius dan sekuler, itulah Mama dan Bapak. Bapak lebih mengutamakan rasio sementara Mama lebih kepada perasaan. Selain itu, tipe fisik mereka pun berbeda. Mama lebih putih dan Bapak cenderung sawo matang (warna kulitnya). Dengan kombinasi genotipe dan fenotipe itu, jelaslah bahwa putra-putri yang terlahir kemudian memiliki kombinasi yang juga beragam.

Nampaknya itu sudah sungguh disadari dan sangat dihayati. Hingga kami anak-anaknya diajarkan untuk menghormati karakter-karakter yang berbeda itu. Tak hanya dalam keluarga, tapi juga di lingkungan sekitar. Bahkan dalam disiplin ilmu pun saya dan kedua kakak saya dianjurkan untuk berbeda. Kakak sulung saya (laki-laki) mengambil bidang Ekonomi dan kakak yang kedua (perempuan) di bidang Keguruan. Sementara saya sedang menjalani studi di Fakultas Teknik. Tentunya perbedaan di antara kami itu dipupuk atas dasar bahwa perbedaan itu indah bila saling melengkapi dan dengan perbedaan, kita akan kuat bila terus bersatu. Hal itu membuat saya bangga dalam keluarga ini. Walaupun keluarga yang sederhana namun sangat luar biasa buat saya.

Mungkin sebagian orang menganggap saya terlalu berlebihan menceritakan semua itu. Karena bukankah setiap orang memang terlahir dalam keluarganya masing-masing? Tentunya. Tapi tidak semua orang bisa berbahagia dan bangga dengan keberadaan keluarganya. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya menulis postingan ini. Agar setiap orang yang mungkin sedang mengalami persoalan itu bisa "berdamai" dengan diri dan kehidupannya. Hingga mampu turut berbahagia bersama keluarganya sebagaimana yang saya rasakan.

This note especially dedicated to all "my happiness":
Derlan Mustika (My Father)
Budiarti (My Mother)
Wira Patria (My Brother)
Nurma Sinanten (My Sister)

Senin, 16 Mei 2011

Bahagiaku di Sisi-Mu

Begitu besar cinta-Mu kepadaku.
Sedetik pun tak luput dari kasih-Mu.
Tak ingin ada kata cukup untuk bersama-Mu.

Seperti warna yang tak lekang oleh waktu.
Nafas-Mu telah menjadi nyawa bagiku.
Kau tebarkan cinta-Mu seiring laju darahku.

Tak ada cinta lain di hati ini.
Bahagiaku selalu dekat di sisi-Mu.

Sabtu, 14 Mei 2011

Logika Pembohong

Berhati-hatilah jika Anda berbicara dengan seorang yang mengaku sebagai pembohong! Sebab apapun sikap Anda pasti akan membuat Anda terlihat konyol di hadapannya. Apalagi jika dia benar-benar mengerti tentang Logika Pembohong ini. Coba Anda perhatikan dan pahami baik-baik logika sederhana di bawah ini, yang saya sebut sebagai Logika Pembohong.

"Jika seseorang berkata bahwa ia adalah pembohong dan Anda PERCAYA, berarti Anda telah MEMPERCAYAI kata-kata seseorang yang juga Anda yakini sebagai PEMBOHONG (dalam waktu bersamaan)."

"Jika seseorang berkata bahwa ia adalah pembohong dan Anda TIDAK PERCAYA, berarti Anda TIDAK MEMPERCAYAI kata-kata seseorang yang juga Anda yakini JUJUR (dalam waktu bersamaan)."




Bayangkan betapa tidak konsistennya atau menduanya semua sikap Anda jika telah dihadapkan dengan pernyataan seseorang yang mengaku sebagai pembohong. Ingat lho, hanya mengaku...

Semoga Anda tidak kebingungan dengan jalan pikiran di atas. Sebab semakin Anda bingung, semakin Anda akan terlihat konyol di hadapannya. Karena memang jalan pikiran itu merupakan logika yang sangat sederhana. Dan tak perlu mengalaminya sendiri untuk mengetahui itu. Pun tak perlu jadi pembohong untuk memahaminya :D

Sekarang bila saya yang bertanya kepada Anda, "Percayakah Anda jika saya adalah seorang pembohong?"
:DD

Rabu, 11 Mei 2011

Pengen Jadi Anggota Dewan yang (katanya) Terhormat

Semalam saya bermimpi. Mimpinya buruuuk sekali. Sampai-sampai saya kaget dan terbangun karena terkejut. Saya memimpikan anggota dewan yang ada di sebuah negara bernama Indonesia. Dalam mimpi itu, para anggota dewan mengajukan permohonan untuk membangun gedung baru buat mereka. Sebelumnya, kurang dari seminggu yang lalu saya pun bermimpi tentang anggota DPR di negeri yang sama. Waktu itu saya bermimpi para anggota DPR ingin mengadakan program "jalan-jalan" ke luar negeri (mereka seh nyebutnya studi banding). Di tengah rakyat yang pada boring dan bokek, para anggota dewan yang (katanya) terhormat itu malah asyik memanjakan diri. Bukannya "menghibur" rakyat, eh malah menghibur diri pakai uang rakyat.

Hufh, belum aja lupa dengan mimpi studi banding, datang lagi mimpi konyol tentang pembangunan gedung baru itu. Bukan hanya wacananya yang konyol. Tapi alasan mengeluarkan wacana itu pun konyol. Alasan pertama, karena gedung lama telah mengalami kemiringan kurang lebih 7 derajat. Nah lho, Menara Pisa aja yang kemiringannya cuma sekitar 3.9 derajat udah bikin heboh dunia. Apa iya seh, gedung DPR sampai miring 7 derajat?? Tapi dalam mimpi saya itu, alasan kemiringan 7 derajat itu kemudian diuji kebenarannya oleh pihak ITB (Institut Teknologi Bandung). Setelah dilakukan pengukuran terhadap gedung yang diklaim miring itu, hasilnya NO. Gedung itu cuma miring 0.12 derajat. Dengan demikian, berarti alasan pertama sudah jelas mengada-ada.

Fakta lapangan berhasil mementahkan alasan pertama tadi. Mungkin karena alasan pertama itu gagal atau mungkin karena para anggota dewan yang terhormat memang punya alasan lain (entahlah), maka muncul alasan kedua. Gedung yang ada kini telah sesak dan tidak kondusif. Itulah alasan keduanya. Lalu parameter sesak dan kondusif itu kira-kira seperti apa ya?? Alasan yang sangat subjektif saya pikir (walaupun mimpi tapi tetep bisa mikir ternyata, hehe). Apa mesti dilengkapi kolam renang biar ngga sesak?? Atau mungkin perlu fasilitas spa supaya anggota dewannya bisa merasa kondusif?? Ckckck, sangat berlebihan. Sebab setahu saya, tugas anggota dewan kan membuat undang-undang, mengatur anggaran, dan pengawasan terhadap pelaksanaan perundang-undangan. Yang intinya mewakili rakyat yang sudah mempercayakannya lah. Bukannya atlet renang yang perlu kolam. Tidak sesuai dengan profesionalismenya juga bila gedungnya mesti dilengkapi sarana spa. Sungguh kekonyolan yang nyata :DD
 

Setelah kaget karena dicekoki dengan banyaknya kekonyolan itu, akhirnya saya pun terbangun dari tidur. Mimpi itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Tapi saya berpikir, seandainya mimpi itu jadi nyata, sungguh ironisnya. Di tengah banyknya rakyat yang masih melarat, anggota dewan justru "minggat" ke luar negeri. Di saat gedung sekolah masih banyak yang roboh, anggota dewan malah pengen gedung DPR baru.

Keinginan itu tidak salah bila manfaat dan tujuannya tepat. Studi banding bila dilakukan dengan sebenar-benarnya studi banding, tentunya itu hal yang baik. Namun fakta yang ada selama ini, studi banding hanya berakhir dengan jalan-jalan dan shopping. Sementara manfaat untuk rakyat dari hasil studi bandingnya tidak bisa dirasakan secara nyata. Dan perihal pembangunan gedung baru yang ada juga dalam mimpi saya itu, tentunya sangat membanggakan bagi rakyat. Rakyat akan sangat bahagia bila pembangunan di negerinya berjalan dengan pesat, termasuk juga dengan pembangunan gedung DPR. Akan tetapi, perlu dilihat apakah pembangunan sudah merata di seluruh negeri. Bila sekolah masih banyak yang rusak, pasar-pasar rakyat hancur di mana-mana, dan kaum-kaum miskin masih banyak yang tidur di pinggir jalan, apa perlu pembangunan gedung mewah nan glamor itu dilakukan?? Apalagi dengan alasan yang tidak masuk akal secara fakta maupun proporsinya. Lebih baik pembangunan dilakukan secara merata dulu, baru setelah itu, diintensifkan.

Mimpi yang saya alami itu memang buruk. Tapi setidaknya itu membuat saya sadar betapa "enaknya" jadi anggota DPR. Tak heran jika banyak yang ingin menjadi anggota dewan yang (katanya) terhormat itu, termasuk saya, hehe.

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan Dewan Perwakilan Rakyat tapi tulisan ini hanya bentuk kekecewaan saya (rakyat kecil) terhadap tingkah polah oknum wakil-wakilnya yang (kalo bisa dibilang) sudah kebablasan. Karena, jujur saya sendiri pengen lho jadi anggota dewan (seperti yang saya katakan tadi). So, akan lebih baik jika saat saya menjadi anggota dewan nanti, keadaan mentalitas para anggota dewan sudah lebih baik dari saat ini. Biar saya ngga ikut-ikutan kebablasan, hehe.

Harapan saya, semoga mimpi-mimpi yang saya ceritakan tadi tidak menjadi nyata. Dan semoga segala keinginan "nyeleneh" para wakil rakyat kita tetap jadi mimpi belaka. Biarlah kali ini mimpi tetap mimpi.
 

Selasa, 10 Mei 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian I (John Lennon)

Sejarah telah membuktikan bahwa manusia-manusia kontroversial lebih melegenda dibanding yang lainnya. Dengan kontroversi, seseorang jadi tampil beda, mudah diingat, maka susah pula untuk dilupakan. Itulah yang terjadi pada beberapa seniman berikut, yang menurut saya berani tampil beda dengan kontroversinya masing-masing. Di satu sisi diagung-agungkan bak pahlawan, di sisi lain dicela sebagai "pemberontak zaman".


A. John Lennon

Mulai dari celotehnya yang mengatakan bahwa dirinya lebih terkenal daripada Yesus, hingga pemikirannya untuk membuat “Negara Utopia” di mana orang bisa hidup bebas tanpa ada aturan dan setiap orang adalah negara itu sendiri, menimbulkan pro dan kontra. Entah hanya pernyataan polosnya atau sebuah kritikan, yang jelas, pernyataan-pernyataan itu adalah kontroversi John Lennon yang sangat "sukses". Boikot atas diri dan bandnya (The Beatles) terjadi di mana-mana. Karya-karya sang legenda dibakar. Tingkah lakunya pun membuat Presiden Amerika Serikat kala itu, Presiden Nixon “kebakaran jenggot”. Tidak tanggung-tanggung, badan intelijen Amerika Serikat juga dibuat kalang kabut. Ini sangat menarik karena Lennon bukan warga negara AS. Tapi kedekatannya dengan aktivis-aktivis flower generation dan juga statement yang Lennon keluarkan di media cukup untuk membuat pemerintah AS berulang kali menangguhkan keinginan Lennon untuk menjadi warga negara Amerika Serikat.


Tak hanya dikenal sebagai musisi jenius, Lennon juga besar dalam kiprahnya sebagai aktivis politik. Di tahun-tahun itu (1960-an dan 1970-an), pemerintah AS sedang getol mengirim anak muda mereka untuk berperang ke Vietnam. Lennon menentang perang itu. Bersama istrinya, Yoko Ono, ia berkampanye menyuarakan sikap anti-perang. Sebuah kamar hotel mereka sulap jadi ajang pernyataan politik. ”Make Love Not War” begitu semboyan mereka. Kali lain Lennon bersenandung ”All We Are Saying Give Peace A Chance” atau "War Is Over, If You Want It". Lennon menyuarakan perdamaian lewat lagu dan slogan-slogan rock n roll era psychedelic dengan cara yang berbeda. Buat pemerintah Amerika Serikat, cara-cara yang digunakan Lennon terlalu radikal dan mengganggu ketertiban umum. Yang pasti, suara Lennon terlalu "nyaring" dalam mengungkapkan idenya. Senyaring suaranya dalam menyanyikan lagu-lagunya.

John Winston Lennon nama aslinya, lahir pada tanggal 9 Oktober 1940 di Liverpool, dari pasangan Julia Stanley dan Alfred Lennon. Kejadian menyedihkan dialami Lennon ketika ibunya meninggal tertabrak mobil di dekat rumah Mimi Smith (kakak tertua ibunya), di depan mata Lennon yang saat itu masih berusia 17 tahun. Sifat anti-pihak penguasa mungkin bermula dari peristiwa ini. Ibunya meninggal dunia karena kecerobohan seorang polisi mengendara dalam keadaan mabuk, kendati demikian polisi tersebut lepas dari segala tuntutan. John Lennon memulai karier musiknya dengan membentuk band The Quarrymen di tahun 1957. Di tanggal 6 Juli 1957, Quarrymen tampil pada sebuah acara gereja di Gereja St. John, Woolton. Di acara inilah Lennon pertama kali bertemu dengan Paul McCartney. Quarrymen dalam perjalanannya beberapa kali mengganti nama, dan personel-personelnya datang dan pergi. Band itu kemudian bernama The Beatles, nama yang konon ditemukan oleh Lennon di tahun 1960, beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Stuart Sutcliffe, dan Pete Best.

Saat ia masih bergabung dengan The Beatles, Lennon bersama Yoko Ono (istrinya) merekam tiga album eksperimental, Unfinished Music No. 1: Two Virgins, Unfinished Music No. 2: Life With The Lions, dan Wedding Album. Album Imagine menyusul di tahun 1971, dan lagu dengan judul yang sama menjadi anthem bagi gerakan anti-agama dan anti-perang. Videonya direkam serba putih (pakaian putih, piano putih, ruangan putih). Sometime In New York City (1972) lantang dan secara eksplisit berbau politik, dengan lagu mengenai pemberontakan di penjara, diskriminasi rasial, peran Inggris terhadap Irlandia Utara, dan permasalahannya sendiri dalam memperoleh Green Card di Amerika Serikat. Lennon telah tertarik pada politik sayap kiri sejak akhir tahun 1960. The Beatles dan John Lennon begitu fenomenal di zamannya. Bahkan sempat menjadi sesuatu yang paling populer di masa itu karena pada setiap konser, The Beatles berhasil menarik perhatian begitu banyak orang dan saat itu mereka pernah memecahkan rekor penonton terbanyak.

Di lorong pintu masuk bangunan dimana ia menetap, The Dakota, tanggal 8 Desember 1980, John Lennon meninggal setelah ditembak empat kali oleh penggemarnya yang "gila" (Mark David Chapman). Lennon diumumkan meninggal di kedatangan di St. Luke's - Roosevelt Hospital Center, di mana telah dinyatakan bahwa tak seorang pun yang dapat hidup lebih lama setelah mengalami peristiwa seperti itu.  Meskipun telah pergi sejak 30-an tahun silam, nama Lennon masih tetap dikenang berkat sepak terjang, kontroversi, dan karyanya. Slogan seperti “Make Love, Stop War!” dan juga kata “Peace” beserta logonya yang masih sering digunakan sampai saat ini adalah bentuk protes Lennon terhadap zamannya. Tahun 2000, John Lennon Museum dibuka di Saitama Super Arena di Saitama, Jepang, dan dua hari kemudian Liverpool mengubah nama bandar udaranya menjadi Bandar Udara John Lennon Liverpool, dan mengambil motto "Above Us Only Sky". Tanggal 9 Oktober 2007, yang merupakan ulang tahun Lennon ke-67, Ono memutuskan untuk membuat tugu peringatan bernama Imagine Peace Tower, terletak di pulau Videy, Islandia. Setiap tahun, antara 9 Oktober dan 8 Desember, tugu ini menyalakan sinar lampu lurus ke langit.

*Bersambung...

Selasa, 03 Mei 2011

Sumber Cahaya

Sumber Cahaya itu satu.
Namun Ia dipantulkan oleh berbagai cermin
dengan bentuk dan warna yang berbeda.
Sehingga warna cahaya yang terpantul pun berbeda-beda.
Padahal Sumber Cahayanya sama.

Jika ingin mendapat penerangan yang murni,
jangan terlalu berfokus pada cerminnya.
Lihatlah ke Sumber Cahayanya.
Tapi jika itu tak bisa dilakukan,
perhatikan saja cahaya yang terpantul dari cerminmu.
Jangan merusak cermin orang lain
hanya karena warna dan bentuknya beda dengan cerminmu.

Sebab tujuan kita adalah cahayanya, bukan cerminnya.
Maka jangan permasalahkan cermin yang beda-beda itu.
Karena sebenarnya setiap spektrum cahaya
yang dipantulkan oleh semua cermin itu
berasal dari Sumber Cahaya yang sama.
Satu Sumber Cahaya.

Mesin Waktu

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi sudah membuat ruang kehidupan kita terasa lebih sempit. Kita bisa ke mana saja dengan mudah, seolah tak ada jarak yang begitu jauh. Sebab teknologi ciptaan manusia sudah memberi fasilitas untuk itu. Maka keluangan waktu pun kian besar. Semua bisa dikerjakan dengan singkat oleh bantuan teknologi. Ke mana saja, dari yang dulunya jauh, kini terasa dekat. Dari yang dulunya membuang banyak waktu, kini lebih singkat. Semua bergantung pada perbandingan antara kecepatan cahaya dengan kecepatan medium yang kita pakai.

Menurut teori Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya. Jadi, seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300.000 km/detik maka ruang bisa diperpendek dan waktu bisa diperlambat. Semakin dekat kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya maka semakin pendek pula ruang dan waktu yang ada. Maka bukan mustahil bila waktu justru akan berputar ke belakang jika suatu saat ada medium yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya, bukan? Lalu yang jadi pertanyaan selanjutnya, "apakah mungkin media seperti itu diciptakan?" Jika kita berkeyakinan bahwa tak ada yang tak mungkin (nothing is impossible) maka jawaban yang pasti adalah, "mungkin saja".

Berdasarkan info yang saya dapat dari berbagai sumber, secara teori, waktu yang berputar kembali atau kembali ke masa lalu bukan tidak memungkinkan. Seorang fisikawan dari California of University menuturkan hal terkait, setelah mengkalkulasinya. Manusia perlu waktu 200 ribu tahun untuk bisa tiba di Andromeda dari bumi, sedangkan di atas kapal dengan kecepatan cahaya hanya perlu 20 tahun. Para ilmuwan pun sudah menemukan partikel "gaib" yang terdapat di alam semesta yang bahkan jauh lebih cepat dibanding dengan kecepatan cahaya. Dalam penelitiannya para ilmuwan mendapati, ketika pesawat antariksa melewati gravitasi, gaya tarik medan gravitasi diubah menjadi tenaga pendorong, maka dalam waktu itu, pesawat antariksa bisa terbang dengan kecepatan cahaya bahkan dengan kecepatan cahaya ultra.

Para ahli dari Badan Antariksa Nasional Amerika telah membentuk “teori resonansi medan waktu”. Teori ini dibentuk berdasarkan “teori medan kesatuan” Einstein dan fisikawan asal Jerman sebagai dasar teori. Intinya adalah, dengan bantuan elastisitas perkembangan bersama elektromagnet, gravitasi, kecepatan cahaya, dan ruang, sesaat melintasi ruang antarbintang. Sampai saat itu, waktu berputar kembali tidak lagi merupakan sebuah misteri yang ditunggu pemecahannya. Terbetik berita, bahwa apabila kecepatan melampaui kecepatan cahaya, maka waktu akan berputar kembali.


Lalu apakah bisa teori-teori di atas diaplikasikan untuk saat ini? Dengan menimbang bahwa tubuh manusia tidak bisa menerima dorongan dengan kecepatan yang terlampau tinggi (sampai melebihi kecepatan cahaya) maka mutlak dibutuhkan kajian yang lebih mendalam tentang penciptaan wahana mesin waktu ini. Bukan hanya yang terkait kemampuannya, tapi juga keamanannya bagi manusia. So, walaupun bukan saat ini, mungkin di masa yang akan datang mesin waktu bisa saja diwujudkan, demi pemanfaatannya untuk keperluan manusia.

Semoga saja kita yang hidup sekarang ini bisa menikmati teknologi mesin waktu (bila memang ada) suatu saat nanti. Dan meskipun penuh kontroversi di kalangan publik bahkan ilmuwan, tapi asyik juga kalau mesin waktu suatu saat benar-benar terwujud. Kita semua bisa dengan mudah jadi penjelajah waktu. Hmm....
*Sambil membayangkan kalau-kalau ada mesin waktu, mau ke mana dan ke zaman apa yaa...