Translate

Minggu, 22 Mei 2011

Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab

Sangat disayangkan ketika superter bola di Indonesia pada anarkis. Gara-gara ngga bisa legowo menerima hasil pertandingan, para suporter yang ngga sportif itu baku hantam dan baku lempar. Bukan hanya peristiwa ricuhnya yang disayangkan, tapi juga kenyataan bahwa ternyata masyarakat kita (dalam hal ini para suporter bola) masih belum bisa menerima kenyataan. Banyak yang masih belum bisa menerima kekalahan sebagai bentuk sportivitas dalam permainan atau pertandingan. Bahwa memang kalah menang itu kan wajar. Itu saja baru dalam hal olahraga, pertandingan sepak bola. Bagaimana jika sikap ngga mau kalah itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang lebih luas ya? Bisa kacau balau negara kita ini. Sedikit-sedikit bentrok, sedikit-sedikit bentrok, ckckck...

Alasan klasik yang mendasari fenomena kericuhan itu ngga jauh-jauh dari pendidikan formal. Pendidikan yang kurang, menyababkan orang-orang jadi ngga logis dalam menyikapi masalah. Ya, bisa dipahami lah, bahwa pendidikan menjadi salah satu penyebabnya. Tapi apa jadinya jika yang ricuh kemudian adalah orang-orang berpendidikan? Seperti belakangan ini, anggota dewan pun pada ricuh. Dan kasus kericuhan yang terbaru justru terjadi pada kongres PSSI, Jumat 20 Mei di Jakarta lalu.

Nah lho, orang-orang yang notabene pinter nan berpendidikan itu juga pada ricuh. Sepertinya bukan lagi pendidikan yang mesti dijadikan "kambing hitam". Tapi lebih-lebih kepada penghayatan dalam mengaplikasikan nilai pendidikan yang dimiliki itu. Karena buktinya banyak orang pinter yang ngga bisa mengaplikasikan kepintarannya dengan pinter juga. Hingga bukan lagi otak yang dipake, tapi otot, hehe...

Sekali saja kita kehilangan pengahayatan terhadap apa yang ada dalam akal sehat kita, maka pengelolaan terhadap masalah kita akan tidak terkontrol lagi. Nah orang yang ngga bisa mengelola permasalahannya secara logis akan melampiaskannya dengan emosi sebagai bentuk pengalihan. So, kita semua, baik yang berpendidikan maupun ngga berpendidikan (secara formal) nampaknya perlu cooling down sejenak untuk menghayati akal sehat yang kita miliki (seberapa pun kecilnya).


Ngomong-ngomong soal kisruh di kongres PSSI nih. Adegan yang memenuhi pemberitaan belakangan karena kehebohannya itu ngga hanya mencoreng nama baik kita sebagai bangsa yang (mencoba untuk) beradab, tapi juga berbuah sanksi logis dari FIFA (Federation International Football Association). Bukan cuma memberi sinyal kepada dunia bahwa mentalitas bangsa kita masih buruk, kisruh yang terjadi itu pun bisa-bisa memperburuk prestasi persepak-bolaan kita di ajang internasional. Betapa tidak, dengan kekacauan yang kita buat sendiri, kita bisa terkena larangan bertanding di ajang internasional minimal selama satu tahun.

Wah, wah, kalo begitu ceritanya, Indonesia bisa terkucil tuch di kancah sepak bola internasional. Ngga bisa ikut SEA games yang sebenarnya jadi target utama untuk meraup prestasi. Tentunya kita semua sangat kecewa. Tapi apa boleh buat. Kalau kita berani bikin kisruh, kita pun harus berani menerima konsekuensinya. Biar ini jadi pelajaran buat kita semua. Khususnya buat yang pada doyan bikin kisruh :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar