Translate

Kamis, 19 Mei 2011

Kontroversi dari Sebuah Pesan Damai

Postingan pertama untuk kategori Seni ini saya awali dengan "membedah" sebuah lagu yang sangat fenomenal sekaligus kontroversial. Inilah lagu Imagine karya John Lennon dan Phil Spector, yang terbit pada 1971 dalam album bertajuk sama, Imagine. Lagu ketiga terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone dan menjadi lagu abad ini di berbagai jajak pendapat adalah sisi fenomenal dari lagu ini. Selain berhasil mencapai tangga lagu ketiga dalam Billboard (Amerika Serikat) dan keenam di Britania Raya. Sampai-sampai bekas presiden AS Jimmy Carter mengatakan, "Di banyak negara di seluruh dunia — saya dan istri saya telah mengunjungi sekitar 125 negara — kita dapat mendengar lagu John Lennon 'Imagine' dimainkan hampir sama seringnya dengan lagu kebangsaan."

Itu mencerminkan betapa fenomenalnya lagu tersebut di zamannya. Namun, bagai dua sisi mata uang, di balik pemujaan terhadap lagu ini, ada pula komentar miring seputarnya. Dinyatakan sebagai lagu anti-agama, anti-nasionalistis, dan anti-kapitalistis adalah hal yang menjadi sisi kontroversi dari lagu ini. Al hasil, John Lennon pun sebagai pengarang lagu dituding menganut satanisme (pemuja setan). Di satu sisi didapuk sebagai lagu perdamaian dunia, di sisi lain dicerca sebagai lagu beraroma satanisme.
 

Inilah potongan lirik fenomenal sekaligus kontroversial itu:

"...Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
..."

Kalau sepemahaman saya (yang berupaya untuk positive thinking), lirik itu bukan tercipta dari seorang yang berpaham anti-agama ataupun anti-nasionalisme. Meskipun kabarnya Lennon sendiri selaku penciptanya, terang-terangan mengakui demikian. Tapi disadari atau tidak, lirik tersebut merupakan sebuah harapan akan kehidupan yang damai (living life in peace). Lariknya bersifat induktif dengan ide utama tentang perdamaian dunia.

Hanya saja karena kedamaian yang diimpi-impikan itu tidak jua terwujud maka si penulis pun menuangkan pandangan dan kekecewaannya terhadap sesuatu yang dinilai bertanggung jawab dalam hal pengkotak-kotakan umat manusia, yang kemudian memicu perpecahan. Lirik yang sebenarnya cuma angan-angan kosong buat saya. Sebab pada kenyataannya, bagaimanapun juga pengkotak-kotakan itu tak bisa dihindari karena manusia memang diciptakan berbeda. Dan perdamaian tak akan pernah terwujud secara sempurna sebab manusia dalam segala upayanya memang tak ada yang sempurna. Kita hanya bisa berupaya mendekatinya saja, dan itu pun sudah baik sebagai iktikat kita demi perdamaian.

Saya pikir, dalam hal ini agama dan batasan negara hanya sebagai implikasi dan bukan inti dari tujuan lirik lagu tersebut. Karena memang tak bisa dipungkiri juga bahwa agama yang seharusnya "diturunkan" untuk membawa damai, banyak disimpangkan fungsinya demi ego para pengikutnya. Begitu juga dengan negara yang mestinya mengemban misi perdamaian justru lebih mementingkan pemenuhan diri saja. Alih-alih damai, pertikaianlah yang terjadi.

Seandainya agama benar-benar dihayati saya yakin kedamaian akan tercipta dan pastinya ngga akan ada lirik lagu kekecewaan terhadap agama lagi. Dan jika negara dikembalikan fungsinya sebagai pengemban misi perdamaian dunia, negara pun ngga akan dibawa-bawa dalam lirik lagu yang berisi kekecewaan itu. Kalau dipikir-pikir (buat yang seneng mikir, hehe) perdebatan terhadap kontroversi yang ada hanya akan memperkeruh suasana dan mengaburkan cita-cita bersama yang sebenarnya ingin kita wujudkan, yakni perdamaian. Maka marilah (ketimbang repot memperdebatkan kontroversi) lebih baik kita serukan bersama suara perdamaian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar