Translate

Jumat, 14 September 2012

Filsafat dan Seni

Filsafat dan seni adalah ilmu terpenting yang ada di bumi. Keduanya sama penting, sekaligus saling melengkapi. Filsafat adalah basic segala pengetahuan, sementara seni adalah pengembangannya, aplikasinya. Tanpa filsafat, semua ilmu kehilangan makna, latar belakang, dan tujuan. Sedang pengetahuan tanpa seni sama dengan mengerti sesuatu namun tak tahu bagaimana menjalaninya, bagaimana metodenya.

Jika dimasukkan ke dalam kerangka pemecahan masalah, filsafat adalah WHY dan seni merupakan HOW. Segala ilmu pengetahuan butuh WHY dan HOW tersebut dalam memecahkan setiap permasalahannya. Contoh sehari-hari yang dapat kita lihat misalnya permasalahan sederhana: kempesnya ban sepeda. Untuk memecahkan permasalahan ban kempes tersebut, kita perlu tahu dulu filsafat alias WHY, kenapa ban bisa kempes. Setelah tahu jawabannya bahwa ban kempes karena kekurangan angin, maka kita harus dapat mengaplikasikan  seni atau HOW, yakni bagaimana cara memulihkannya.


Dalam kasus-kasus akademis, di mana setiap ilmu pengetahuan ambil bagian, filsafat dan seni mutlak perlu. Ketika penyusunan skripsi atau thesis misalnya. Kronologi dimulai dengan memahami filsafat bidang ilmu atau kasus yang dikaji itu sendiri, yang disebut juga dengan latar belakang. Setelah latar belakang dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya telah rampung, penulisan berlanjut pada metode. Metode itulah seni. Dibutuhkan kemampuan seni, yaitu kreativitas dan imajinasi dalam menyusun metode pemecahan masalah. Tentunya masih banyak lagi contoh penggunaan filsafat dan seni yang tak dapat saya tulis di sini.

Atas itu, cukup beralasan ketika pada postingan sebelumnya saya pernah bilang, “Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah.” Karena seni itu sendiri, dan juga filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Kedua hal itu adalah intinya. Setiap orang yang cukup memahami baik itu filsafat maupun seni akan dengan mudah pula memahami cabang-cabang ilmu apapun. Dan itulah sifat pemimpin, di mana pengetahuannya harus luas mencakup banyak cabang ilmu pengetahuan. Beda dengan mentri, layaknya profesor dan doktor yang pakar pada satu bidang ilmu, namun mendalam dan ahli.

Maka penting untuk memahami filsafat (esensi) dan seni (aplikasi). Kedua hal tersebut berguna di semua bidang. Tentunya filsafat yang tidak hanya diartikan secara kolot, yakni tentang perenungan, dan juga seni yang tidak melulu dipahami secara sempit, berupa musik, lukisan, tarian, dll. Karena orang yang mengerti substansi akan menyadari bahwa dalam politik, bahkan teknik, dan bidang lain-lainnya, terdapat seni, dibutuhkan seni untuk menjalaninya. Demikian juga halnya dengan filsafat.

Pemimpin Seiman

Tentang pemimpin yang seiman atau tidak seiman dengan warga yang dipimpinnya adalah soal prinsip, sikap, dan profesionalisme. Terlalu kecil membicarakan hal itu cuma pada lingkup Pilgub DKI. Menurut saya, Pilgub DKI bukan soal itu, tapi yang di belakang itu, yakni taktik politik. Pilgub DKI bukan lagi memainkan opsi pro-Foke atau Jokowi, bukan lagi status quo atau perubahan, tapi adu taktik memainkan isu SARA. It’s all about pro-SARA or not. Jika Foke bisa memainkan suara pendukung statement “Pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin” dia akan dengan mudah meraup pemilih, bahkan yang sebelumnya mendukung Jokowi tanpa embel-embel SARA tersebut. Sebaliknya jika Jokowi yang cerdas memutar dadu politik, menggerakkan masa anti-SARA, pendukung Foke pun akan dengan gampangnya beralih pilihan, hanya karena mereka tidak sependapat dengan ide yang mengatakan bahwa pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Itulah sekilas tentang Pilgub DKI, yang hakikinya tidak pure soal SARA, tapi menjadikan SARA sebagai alat. Jadi bisa-bisa pemenangnya adalah siapa yang lebih lihai memainkan “alat” tersebut.
 

Karena itu, yang kini saya tuliskan ngga ada sangkut paut dengan Pilgub DKI. Karena menurut saya tadi, kepemimpinan adalah tentang prinsip, sikap, dan profesionalisme. Tak hanya untuk DKI yang cuma sekelumit, tapi untuk segala aspek, segala bidang. Bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan kesehatan. Pemimpin ngga cuma gubernur DKI aja toh. Ada pemimpin perusahaan, ada pemimpin rapat, ada pemimpin kecamatan, desa, kelurahan. Seorang sopir pun adalah pemimpin untuk para penumpangnya. Penumpang mempercayakan keselamatan mereka di perjalanan kepada si sopir. Seorang dokter juga pastinya pemimpin untuk para pasiennya, dari ruang konsultasi sampai ruang operasi. Pasien mempercayakan keselamatan jiwa raganya kepada dokter tersebut. Dan masih banyak lagi contoh pemimpin yang kepadanya kita “menyerahkan” keadaan kita. Lantas apa iya pemimpin-pemimpin itu harus seiman dengan yang dipimpinnya??? Secara akal sehat, jelas TIDAK. Apa iya, ketika tersesat di suatu tempat, kita mesti bertanya dulu kepada guide yang memimpin kita mencari jalan keluar, “Apa keimanan Anda?”. Itu pula kenapa ayah saya tidak pernah menanyakan apa iman dokter yang memimpin operasi pembedahannya. Karena ayah saya paham benar, pemimpin ngga mesti seiman dengan yang dipimpin. Yang jelas, pemimpin harus kapabel, walau ngga seiman. Itu baru tepat. NB: Pemimpin ngga mesti seiman. Kalo seniman boleh laah, hehe..

Sekali lagi, tak masuk akal kalo pemimpin harus seiman dengan yang dipimpin. Pemimpin ngga harus seiman dengan yang dipimpin. Hal tersebut adalah prinsip dan sikap yang tepat dalam kenyataan kehidupan sosial ini. Buat saya, hanya pemimpin agama (kepercayaan/keimanan) yang harus seiman dengan yang dipimpinnya. Itu logis, karena gimana mau mengajarkan agamanya (kepercayaan/keimanan) kepada umatnya kalo iman si pemimpin tersebut beda dengan umatnya sendiri. Terakhir, saya ingin berucap syukur atas suksesnya operasi pembedahan ayah saya. Tak hanya kesyukuran pribadi yang luar biasa besarnya karena ayah saya menjadi sehat kembali seperti sedia kala. Tetapi juga itu sukses membuktikan bahwa untuk beroleh hasil terbaik, pemimpin (dalam hal ini dokter) tak harus seiman dengan yang dipimpin.

Obrolan Sinar yang Jadi Bias

Intro: Uddin dan Markus bersahabat sejak kecil. Belakangan keduanya tau ternyata mereka masih ada hubungan saudara sepupu, walaupun sepupu jauh. Uddin punya sahabat lain, bernama Ketut, sementara Markus punya sahabat lagi, namanya Chentong. Sewaktu SMA, Uddin maupun Markus saling kenalkan sahabat mereka tersebut. Sejak itu Uddin, Markus, Ketut, dan Chentong pun jadi sahabat hingga kini. Mereka berempat almost kompak. Suatu ketika, istri Markus melahirkan anak pertamanya....
 
 
"Din, istriku baru ngelahirin. Kira-kira bagusnya anakku kukasih nama apa ya?" tanya Markus kepada Uddin.

"Waa, selamet Kus. Akhirnya yang ditunggu-tunggu mbrojol juga, haha.. Anakmu cewek? Cowok Kus?" kata Uddin menimpali.

Markus jawab, "Cewek Din."

"Kalo menurutku seh, Nur bagus tuh Kus." saran Uddin.

Sambil menggeleng, Markus berkata, "Oalaahh, aku kan bukan orang Arab Din." "Nur itu dari bahasa Arab kan?" lanjutnya.

Uddin pun menyindir, "Jadi, mau sok-sokan pake nama British kamu Kus??"

"Ngga juga laahh. Yang pribumi aja, hihi." pinta Markus.

Tiba-tiba Chentong ikut nimbrung dan langsung bilang, "Ya udah, kasih nama Sinar aja. Itu kan Indonesia banget."

"Waah, banyak amat sarannya, hehe." kata Markus berbasa-basi.

"Sebutannya aja yang banyak. Artinya kan sama. Nur kalo dibule-bulein jadi light ato ray. Kalo di sini sinar, cahaya." ujar Chentong.

"Menurutmu kenapa harus sinar? Apa bagusnya?" tanya Markus lagi.

Uddin menjawab dengan antusias, "Sinar itu satu-satunya yang bikin terang Kus. Tiada terang selain sinar." "Bagaimana menurutmu Tut?" lanjut Uddin sambil tiba-tiba bertanya kepada Ketut yang datang ke hadapan mereka.

"Waah ada apa ini? Aku ngga ngerti apa-apa kok sekonyong-konyong ditanya." Ketut heran.

"Itu Tut, masak si Uddin bilang kalo sinar cuma satu." sahut Chentong.

"Owh, ngebahas sinar toh. Tumben banget, wkwk" ucap Ketut. "Tapi kalo menurutku seh, sinar itu banyak loh. Malah ngga bisa terhitung. Tak terhingga." terus Ketut.

"Kenapa bisa gitu Tut?" Chentong menelisik.

"Iya toh. Lampu aja sekali nyala, apa bisa kamu itung sinarnya? Belum lagi sinar yang laen-laen. Pantulan sinar bulan, apalagi sinar matahari. Wuih ga terhingga tuh." Ketut coba menjelaskan.

Markus heran terhadap arah pembicaraan kawan-kawannya yang sudah mulai ngalor ngidul ngulon wetan.

"Lingkupnya yang ngga terbatas. Kalo wujudnya ya tunggal, ya cahaya itu sendiri." timpal Uddin.

"Sinar itu juga kosong lho." sahut Chentong lagi.

Markus ikut saja obrolan yang mulai berpindah haluan itu. Layaknya pembalap moto GP yang tergelincir keluar track balapan. "Awalnya ngomongin nama. Kok sekarang malah bicara tentang sinar.." gumamnya dalam hati.

"Kosong???" sergah Ketut.

"Selama ini kita kan cuma liat benda yang memantulkan sinar itu. Tapi sinar itu sendiri pada dasarnya kosong. Tanpa media yang bisa memantulkan, sinar ga bisa kita alami, apalagi keliatan, ga bisaa.. Hampa bro.." Chentong meneruskan.

Lama kelamaan, Markus yang mulai ngga sabaran, akhirnya menyela pembicaraan. Sontak Markus berkata, "Aduuhh, tadinya kan aku minta saran nama buat anakku. Kok malah sekarang ngobrolin sinar??? Jadi, nama anakku apa nih??"

"Oh, kamu minta pendapat untuk nama anakmu ya kus? Kenapa ga bilang dari tadi, ckckck." kata Ketut.

"Capeekk deehh.." Markus menimpali.

"Hahahaaa, abisnya obrolan kita terlalu seru Kus. Jadi ga terasa ngelanturnya." tukas Uddin.

"Bener tuh Din. So, kalo menurutmu, mana yang bener Kus. Sinar itu satu, ngga terhingga, atau kosong?" sambung Chentong.

Berpikir sejenak, Markus pun menjawab. "Hmm, sinar itu ya tiga." jawab Markus ringan.

"Lho kok?" Uddin dan Chentong heran.

"Wujudnya satu. Ya kan Din?" ujar Markus.

Uddin mengangguk.

"Lingkupnya tak terhingga, seperti yang dibilang Ketut. Tapi keberadaannya kosong. Bukan begitu Tong?" tanya Markus minta kesepakatan.

"Jadi, sinar itu ya tiga." lanjutnya. "Tiga juga sifatnya. Bahwa sinar itu bisa menerangi dan bisa menghangatkan. Membakar juga bisa, jika sinar itu difokuskan. Bener ngga?"

"Haha, ngga ada yang salah Kus. Hanya aja, persepsi kita yang berlainan. Sudut pandang kita beda-beda buat mendefinisikan sinar." ujar Ketut sambil tertawa kecil.

"Chentong menelaah dari segi keberadaannya, kamu ngeliat ruang lingkupnya, sementara aku dari wujudnya. Dan Markus, menilai karakteristik dari sinar itu, hehehe." sambut Uddin kepada Ketut.

"Mungkin karena dari tadi pembicaraan kita ngga ada fokusnya, jadi persepsinya juga bias ke mana-mana." lanjut Chentong.

"Padahal awalnya kita ngomongin nama ya :p" sambung Markus nyindir.

"Ooohhh iyyaaaaa.. Jadiii, nama anakmu bakalan apa Kus???" tanya Uddin, Ketut, dan Chentong serius sambil kelabakan.

"Ga jadi :/" tegas Markus sebel.

Corong Hati Nurani Umat Manusia













Kau manusia
Tapi tak layaknya manusia
Kau tak membenci musuhmu
Seperti manusia membenci musuhnya
Kau mencintai dia
Yang mengakhiri hidupmu
Kau memaafkan

Kau hidup di bumi
Persembahan untuk langit dan bumi
Tuk bumi dengan segala penjurunya
Langit dengan segala dimensinya
Kau bentangkan tubuhmu
Perisai memeluk bumi
Kau abdikan jiwamu
Sebagai tabir penyeka langit

Terlahir dari manusia
Mati demi kemanusiaan
Kau jadikan dirimu
Manusia segala golongan
Manusia segala lapisan
Manusia segala manusia
Kaulah corong hati nurani
Umat manusia

(Tulisan ini saya buat atas kekaguman saya kepada Mahatma Gandhi "Corong Hati Nurani Umat Manusia")

Masalah Galau

Guru saya pernah bilang, "Masalah terjadi ketika kenyataan tidak sesuai harapan." Ketika kita berharap nilai A namun ternyata hasilnya B, itu masalah. Ketika kita ingin makan nasi, sementara yang ada hanya roti, itu juga masalah. Kemudian masalah biasanya berbuntut pada ratapan atau kegalauan. Padahal kalo kata motivator-motivator di TV, masalah itu ada ya untuk dituntaskan, dihadapi, dicari jalan penyelesaiannya. Itu dapat menaikkan kelas kita lho. Bukannya malah diratapi (digalaukan). Tapi nyatanya???

Banyak ABG zaman sekarang, yang lagi-lagi kata motivator, harusnya penuh semangat dalam menjalani hidup, eh malah pada galau karena hal-hal remeh. Putus cinta... galau... Diselingkuhi... galau... Apa-apa serba galau. Di rumah... galau... Di Socmed... galau... Semua kompak galau. Sebagian besar curhatan galau ya memang karena cinta. Padahal seperti yang saya sampaikan tadi, masalah harus dicari jalan untuk menuntaskannya. Itu salah satu cara untuk mengalihkan rasa galau, sekaligus mencegah penyakit galau itu datang lagi. *Sok-sokan jadi motivator, hehe..

Kasus galau sebagian terjadi pada perempuan. Misalnya ada perempuan diselingkuhi yang ujung-ujungnya, putus cinta, bikin galau. Itu harusnya ga perlu digalaukan oleh si perempuan. Kita kembalikan aja pada prinsip dasar dari guru saya tadi. Kenyataan tidak sesuai harapan. Perempuan harus merubah pola pikirnya. Bukankah selama ini perempuan hanya berharap dapat pasangan yang baik. Tapi - tanpa sadar atau sadar - namun tetap enggan untuk berusaha. Lantas bagaimana bisa hasil yang mereka dapat sesuai harapan??? Pola pikir kuno itu yang mesti di-move on. Pola pikir seperti itu masih menjamur di otak para perempuan yang berpikiran kolot. Dari yang cantik sampai yang manis, dari yang seksi sampai yang tajir, pada dasarnya, perempuan itu pasif. Itu inti masalahnya.


Sementara perempuan asyik dengan kepasifannya, laki-laki lebih variatif sikapnya. Ada yang aktif, ada juga yang pasif. Yang aktif tentunya sudah terbiasa dengan permainan cinta, mulai dari trik merebut hati perempuan idaman (dengan sekadar tipu daya hingga kebohongan) sampai pada taktik-taktik perselingkuhan. Lelaki lugu, polos, jujur, dan setia layaknya yang didambakan para perempuan justru kebanyakan pasif karena lebih suka percintaan yang serius, tak ingin ribet dengan permainan-permainannya cinta.

Di sini letak ketidaksinkronannya, antara kenyataan dengan harapan. Di mana wanita yang hanya pasif menunggu mengharapkan datangnya lelaki jujur dan setia menghampiri, tapi kenyataannya?? Ternyata oh ternyata tidak demikian. Yang maju justru laki-laki yang aktif tadi tentunya, dengan seabreg sifat mereka yang justru tidak diidamkan (pembual, tidak setia, dsb). Alhasil, para wanita yang sudah lelah dalam penantian menunggu datangnya sang idaman, mudah saya dipengaruhi muslihat para lelaki itu, yang sebenarnya tak diharapkan. Maklum lah, perempuan kan lemah di "pendengaran", hehehe..

Itulah kenapa kebanyakan perempuan cantik yang kisah cintanya memilukan. Kebanyakan perempuan manis yang cerita asmaranya menyedihkan. Karena tentu saja laki-laki aktif tadi (atau kita sebut saja pejuang cinta) bakal mencari mangsa perempuan-perempuan cantik, manis, tajir, atau paling tidak, seksi laah. Ngapaen juga mereka cari yang jelek, padahal mereka sudah susah payah berjuang. Nah, sekarang problemnya sudah terurai. Tinggal bagaimana para perempuan membenahi pola pikirnya saja untuk sesekali aktif mencari laki-laki idaman, supaya tak keburu jadi mangsa lelaki pejuang cinta itu lagi. Kalau memang ingin serius dan lepas dari wabah galau tentunya :)

Karakter Bangsa di Plank SPBU

Setiap masuk ke area SPBU saya selalu lihat plank bertuliskan “DILARANG KERAS MEROKOK”. Tulisannya besar dengan “huruf besar” pula. Hingga dari jauh pun pasti terbaca oleh orang yang hanya melihat sepintas sekalipun (asalkan orang tersebut udah bisa membaca lho ya..)

Mungkin orang lain merasa biasa aja dengan larangan seperti itu, sehingga kadang tidak terlalu perhatikan secara detail lagi. Tapi buat saya, larangan seperti demikian perlu dapat perhatian lebih. Sangking perhatiannya, suatu ketika saya sempatkan diri datang ke SPBU cuma untuk memotret plank larangan tersebut. Bukan apa-apa, tapi larangan semacam itu menurut saya mencerminkan buruknya karakter bangsa kita, mencerminkan ketidaktegasan bangsa Indonesia dalam menjalankan peraturan.


Kalo udah ada peraturan “DILARANG” seharusnya pembuat aturan tegas dengan larangan itu. DILARANG ya DILARANG aja. Logikanya, kalo ada istilah “DILARANG KERAS” untuk suatu hal, berarti ada “DILARANG AGAK KERAS” untuk hal lainnya. Ada lagi “DILARANG KURANG KERAS.. AGAK LEMAH.. LEMAH.. bahkan LEMAH SEKALI..” donk untuk hal lain-lainnya. Itu kan ngga tegas namanya. Bila pembuat aturan mau tegas, atau bisa tegas, ya kalo sudah DILARANG,, DILARANG aja. Buntut dari ketidaktegasan aturan “DILARANG” itulah yang buat muncul aturan “DILARANG KERAS”. Bila saja aturan DILARANG bisa dijalankan dengan tegas, tak mungkin (dan buat apa juga) keluar aturan tambahan (DILARANG KERAS) seperti itu. Karakter bangsa yang buruk bukan???

Bila pun pembuat aturan tersebut mengadakan pembelaan, bahwa bukan aturannya yang tidak tegas, tapi yang diatur yang keras kepala, berhati batu, ga mau nurut, ya tetap saja kita bangsa yang berkarakter buruk. Sudah ada aturan, dilanggar.. Dibuat aturan baru lagi, dilanggar.. Ada juga aturan yang lebih keras, dilanggar pula. Sementara itu, ngatur diri sendiri ngga bisa. Jadi leader ngga bisa, jadi follower ga mau. Ada LARANGAN, dilanggar, ada LARANGAN AGAK KERAS, dilanggar pula, timbullah LARANGAN KERAS itu (yang kini menyadarkan saya tentang lemahnya karakter kita sebagai bangsa). Itu pun masih dilanggar.

Padahal di Negara ini masih banyak anak bangsa yang ngga bisa ngatur diri sendiri, ngga bisa memimpin diri sendiri. Tapi anehnya, mereka-mereka pun ngga mau diatur, yang secara tidak langsung ngga mau dipimpin. So, kalo ngga mau diatur, ngga mau dipimpin, buat apa milih pemimpin, buat apa pemilu. Bukankah pemimpin hanya perlu untuk orang-orang yang ngga bisa memimpin diri sendiri??? Orang yang sudah bisa memimpin diri sendiri dengan baik jelas ngga perlu yang namanya pemimpin *logika*. Jika memang sudah merasa atau bener-bener bisa memimpin diri sendiri secara baik, pemimpin pastinya tak dibutuhkan lagi. Tapi apa iya, mereka sudah sanggup memimpin diri sendiri dengan baik? *untuk direnungkan* *ngelantur*

Kamis, 13 September 2012

Berdoa dengan Social Media

Di zaman gaul ini, social media (Socmed) sudah ibarat doa. Di tengah gerombolan jejaring sosial yang ada, misalnya Netlog, Google+, Tagged, dan lain-lain, Facebook dan Twitter masih jadi Socmed terdepan. Kalau ibarat doa tadi, kedua social network tersebutlah yang paling banyak dilantunkan, dipanjatkan. Layaknya doa, bangun tidur, online, mau mandi, ngetwit, mau makan, update status. Di sekolah, update, lagi jalan, ngetag. Lagi susah, mention, lagi seneng, ngefav, ngapaen aja, like this. Pokoknya TL banget deh…

Ngomong-ngomong jejaring sosial, menurut saya Facebook itu Socmed paling beradab. Tiap berdoa (baca: online) kita selalu ditanya “What is in your mind?” “Apa yang ada dalam pikiran Anda?” atau “Apa yang Anda pikirkan?” Dibanding Twitter yang selalu nanya “What’s happening?” “Apa yang sedang terjadi?” Facebook lebih menghargai yang namanya pemikiran. Bahwa manusia itu makhluk yang selalu berpikir, paling ngga, punya pikiran laah. Jadi, siapa aja cocok kalo berdoa di Facebook.

Masih berkutat dengan pemikiran, Facebook ngasih ruang lebih luas buat penggunanya yang mau berdoa menuangkan isi pikiran mereka di status. Dibanding Twitter yang membatasi status hanya 140 karakter, status Facebook bisa nampung lebih dari itu. Malah di Facebook, “isi otak” dapat ditulis dalam bentuk note yang panjang. Selain menghargai pemikiran alias “isi otak”, Facebook juga menghargai kesetaraan umat manusia. Facebook pake istilah friend (teman), ngga seperti Twitter yang pake sebutan follower (pengikut).


Tapi kalo dalam hal proaktif, Twitter-lah yang lebih nuntut atau tepatnya mendidik penggunanya untuk proaktif. Karena di Twitter ngga ada notification (pemberitahuan) seperti di Facebook. Di Twitter kalo mau tau mentions, jumlah followers, DM, dan lain-lain, harus lihat sendiri. Singkatnya, berdoa di Twitter harus diimbangi dengan usaha juga, hehe. Mendidik kan? Beda dengan Facebook yang semuanya ada notification, yang bisa-bisa menimbulkan benih kemanjaan buat penggunanya, hoho.. Satu lagi nilai plus dari Twitter, yaitu bisa retweet quote ke para follower dan bisa nyimpen semua tweet di favorite. Sementara Facebook ngga nyimpen status-status yang di-like. Jadi, sewaktu-waktu saat berdoa di Twitter, bisa juga sambil baca quote-quote favorit.

Lepas dari itu semua, ada suatu yang menarik dari maraknya fenomena “Berdoa dengan Social Media” antara Facebook dengan Twitter. Facebook nge-booming lebih dulu daripada Twitter. Sebelum ada Twitter, mayoritas penghuni dunia maya berdoa pake Facobook. Tapi entah karena bosan atau ngerasa Twitter lebih baik, sekarang para pengguna Facebook yang punya Twitter lebih suka berdoa via Twitter alias Twitteran. Karena ngga mungkin cari yang kedua kalo yang pertama masih lebih baik bukan... Ga mungkin exodus ke Twitter jika Facebook dirasa masih lebih baik. So, meaning-nya adalah: Anda tak perlu berkecil hati ketika jadi yang kedua. Karena itu menandakan Anda lebih baik daripada yang pertama.

The last sayings in this note buat tweeps and facebookers: Selamat melantunkan doa-doa Anda, baik Anda memilih menggunakan Facebook atau Twitter ketika berdoa, baik itu Anda lebih suka dengan yang kedua ataupun setia pada yang pertama. Salkomsel, heuheuheu… *Keceplosan pake ketawa khasnya Mbah Jiwo Presiden Jancukers yang saban hari ngetwit. Moga si mbah ngga marah :D

Kamis, 16 Agustus 2012

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila kelima ini adalah tujuan akhir dari terselenggaranya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Karena tanpa keadilan, ketuhanan menjadi hampa. Agama hanya jadi sekadar label. Ibadah hanya terhenti pada batas ritus saja. Dimensi sosial dari jiwa ketuhanan lenyap. Kemanusiaan juga tiada arti jika tidak terwujud keadilan sosial dari sikap kemanusiaan itu. Persatuan pun ditujukan untuk menghimpun keberagaman demi satu tujuan akhir. Tujuan akhir yang baik tentunya, bukan tujuan yang tak jelas. Apa tujuan akhir itu? Itulah keadilan sosial. Dan tanpa adanya keadilan, kemerdekaan politik seperti yang termaktub dalam sila keempat jadi tak berguna lagi. Tak ada guna jika rakyat hidup hanya diberi kemerdekaan politik saja, tanpa dipenuhi kebutuhan akan keadilannya.

Keadilan sosial ini diimplementasikan antara lain dalam bentuk kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Tercukupinya pangan, terpenuhinya sandang, dan juga kebutuhan papan, dalam bingkai kemerdekaan ekonomi. Itu yang diharapkan. Dengan kemakmuran dan kesejahteraan yang ada dalam suatu negara yang merdeka perekonomiannya, akan tercipta iklim demokrasi yang sehat, baik dalam sistem politik maupun kehidupan rakyat. Akan mudah pula dalam menggalang persatuan bangsa. Kedamaian pun tak lagi menjadi khayalan yang sulit untuk dicapai. Baik itu kedamaian antar-sesama manusia, maupun kedamaian antar-umat beragama dalam konteks ketuhanan yang maha-esa.


Sudah banyak contoh bahwa semakin makmur dan sejahtera suatu negara, semakin kecil masalah perpecahan bangsa yang dihadapi. Di lain pihak, makin terpuruk perekonomian suatu negara, makin banyak permasalahan dan cheos yang terjadi, yang berujung pada terganggunya tatanan sosial, instabilitas politik dan yang lainnya. Itulah pentingnya mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Last but not least. Seperti itulah keberadaan sila yang jadi ujung piramida new state order dari bahtera besar bernama Indonesia ini. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

(Kontemplasi di malam 17 Agustus 2012)

Kamis, 12 Juli 2012

Bocah-bocah

Masalah besar, sederhana bagi mereka.
Hidup ini tidak rumit di mata mereka.
Tak ada dendam, tak ada benci.
Yang ada hanya permainan, menyenangkan.
Mengundang tawa, berujung tawa.

Kesedihan mereka tak pernah abadi.
Perkelahian mereka bukanlah benci.
Hidup mereka damai, mimpi mereka damai.
Harusnya kita banyak belajar dari mereka.
Bocah-bocah tak berdosa.

Sabtu, 30 Juni 2012

30 Juni

Pada tanggal ini, 22 tahun yang lalu saya dilahirkan. Sebelum fajar di akhir pekan, tepatnya pukul 01:45 saya hadir di dunia, pada hari Sabtu di Rumah Sakit Umum Mataram. Dan kini, untuk kedua puluh dua kalinya saya berjumpa lagi dengan tanggal yang sama dalam hidup saya, setelah hari kelahiran itu. Tepat di angka 22 usia saya. Dua angka kembar, dua dan dua yang menyatu menjadi bilangan usia dua puluh dua.


Lahir mendahului matahari terbit menjadi motivasi tersendiri buat saya. Perlambang spirit yang hadir bahkan sebelum matahari. Nur Ilahi yang mewujud di dunia sebelum cahaya mentari. Itulah yang memupuk semangat saya untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik yang bisa saya perbuat.

Kebanggaan pula saya rasakan sebab kelahiran saya pun bertepatan dengan bulan yang ditetapkan sebagai "Bulan Soekarno". Bulan di mana terjadi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pemimpin besar, Ir. Soekarno. 1 Juni: Hari Lahir Pancasila, 6 Juni: Tanggal Kelahiran Bung Karno, dan 20 Juni: Tanggal Wafatnya Bung Karno. Hal itu pun memotivasi saya untuk berusaha meneladani kehebatan tokoh idola saya tersebut.

Di luar semua itu, ada hal lain yang membuat bulan Juni di tahun ini lebih spesial dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain tanggal 30 Juni adalah tanggal kelahiran saya, saya pun mendapat keponakan pertama di bulan Juni tahun ini, tepatnya tanggal 10 Juni 2012. Bulan Juni ini pun saya memulai tonggak awal yang semoga dapat menjadi akhir baik untuk perkuliahan saya. Pada 23 Juni lalu saya mengadakan seminar proposal sebagai permulaan dari penyusunan tugas akhir. Walaupun hanya permulaan namun begitu penting. Sebab hasil akhir seluar biasa apapun tentunya takkan terjadi tanpa langkah awal, langkah permulaan. Dan di bulan kelahiran saya inilah saya memulai langkah tersebut.

Hal lain yang cukup membanggakan dan juga membuat bulan ini jadi spesial adalah karena di bulan ini saya mengikuti serangkaian tes BNI Early Recruitment Program. Program beasiswa dan perekrutan yang dilakukan oleh BNI untuk menjaring mahasiswa-mahasiswa berprestasi di seluruh Indonesia, yang kemudian akan diberi beasiswa dan direkrut sebagai pegawai. Serangkaian tes dan kualifikasi telah mampu saya lewati dengan baik. Apabila performa saya dalam tes psikoasesmen pun mampu membuat saya lulus dan akhirnya menjadikan saya sebagai salah satu yang terpilih sebagai penerima beasiswa, bulan Juni ini akan menjadi bulan Juni yang benar-benar istimewa.

Jumat, 18 Mei 2012

Lady Gaga Gagal Tampil?!

Lady Gaga terancam batal konser di Indonesia. Itu inti pemberitaan yang populer di hari-hari belakangan ini. Menjadi top topic di Indonesia, trending topic nomor satu di social network, bahkan menjadi perhatian banyak media internasional. Konser penyanyi kelas dunia asal Amerika yang direncanakan diadakan di stadion utama Gelora Bung Karno pada 3 Juni 2012 tersebut memang terancam batal. Mula-mula saya tidak terlalu ambil pusing terhadap batalnya konser tersebut. Karena memang Lady Gaga bukanlah idola saya. Tapi belakangan, setelah tahu bahwa konser tersebut terancam gagal karena tak mendapat izin resmi dari pihak yang berwajib, dan izin tersebut tidak dikeluarkan karena alasan-alasan yang menurut saya lemah, saya jadi tergugah untuk angkat bicara, protes.

Lady Gaga tidak pantas mengadakan pertunjukan di Indonesia karena diklaim terlalu vulgar untuk disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Dengan alasan itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan masyarakat muslim Indonesia untuk menonton konser Lady Gaga tersebut. Mungkin klaim dari MUI itulah yang jadi salah satu pertimbangan pihak kepolisian untuk tidak memberi izin mengadakan konser tersebut. Namun saya pribadi sangat menyayangkan keputusan tersebut. Karena pada dasarnya, ketetapan MUI hanyalah untuk masyarakat muslim. Ketetapan haram dari MUI tersebut pun tidak memiliki kekuatan hukum formal yang memaksa. Jadi, masyarakat muslim sekalipun, tidak akan pernah dipaksakan untuk ikut ketetapan MUI tersebut kalaupun tetap ingin menonton kenser Lady Gaga. Saya pikir, dengan fatwa haram dari MUI, konser Lady Gaga akan tetap berjalan baik-baik saja, karena memang tidak ada paksaan bagi yang menonton maupun tak menonton. Itulah kenapa saya menyayangkan apabila konser tersebut tidak diberi izin kepolisian. Padahal, all should be fine..


Jadi, saya berpikir, mungkin ada alasan lain yang menyebabkan pihak kepolisian tidak mengizinkan konser Lady Gaga tersebut. Dan belakangan saya mendengar ternyata ada Ormas Islam (yang menurut saya tidak merepresentasikan pandangan masyarakat muslim) yang menolak kehadiran Lady Gaga di Indonesia. Wow, betapa berpengaruhnya Ormas tersebut sehingga bisa mengintervensi kepolisian Indonesia supaya tidak mengizinkan konser Lady Gaga di Indonesia. Saya pribadi sebagai tumpah darah Indonesia yang sangat mencintai bangsa Indonesia berharap anggapan tersebut salah. Saya sangat sangat berharap anggapan bahwa kepolisian dapat diintervensi oleh segelintir Ormas itu, salah. Karena betapa malunya saya, dan mungkin juga banyak rakyat Indonesia yang lain, mengetahui betapa lemahnya aparat negara ini, yang begitu mudah diintervensi segelintir Ormas saja. Itu mencerminkan betapa lemahnya bangsa kita. Apalagi dunia internasional jadi tau itu. Malu..

Lantas apa alasan Ormas tersebut menolak kehadiran Lady Gaga? Selain kerap berpenampilan vulgar, ada kabar bahwa Lady Gaga ditolak karena dikecam sebagai pemuja setan dan penganjur hubungan sejenis. Nah, alasan yang tak mendasar itu yang membuat saya makin tergerak untuk angkat suara. Tidak masuk logika jika ada segelintir orang menjustifikasi orang lain (dalam hal ini Lady Gaga) sebagai pemuja setan. Apa dasarnya? Apa orang-orang yang menuduh tersebut pernah tatap muka dengan setan? Jika dirasa pernah, apa iya mereka bertemu setan sungguhan? Bukankah klaim bahwa Lady Gaga pemuja setan itu sangatlah tidak masuk akal, bahkan gagal logika. Malah menurut saya, orang-orang yang berbicara kasar dan sering menuduh orang lain, itulah “setan” yang sebenarnya. Betapa tidak, klaim pemuja setan terhadap bintang-bintang terkenal dunia tidak sekali ini terjadi. Banyak fenomena tercatat, semisal, The Beatles dan John Lennon dianggap sebagai satanic (pemuja setan). Contoh lain yakni Led Zeppelin, Madonna, Jay Z, Rihanna, dan masih banyak lagi, hingga kini yang jadi buah bibir yaitu Lady Gaga. Bahkan di Indonesia pun ada. Ahmad Dhani dengan Dewa 19-nya dianggap satanic juga. Sejak dulu, hal serupa terjadi pada musisi-musisi terkenal di berbagai belahan dunia. Jadi saya pikir, mungkin sedang mewabah fenomena sirik dan dengki terhadap kesuksesan orang lain.

Di lain hal, tuduhan bahwa Lady Gaga adalah penganjur hubungan sejenis, saya pikir tidaklah jadi ranah pihak yang berwenang untuk lantas menggagalkan konsernya. Karena siapapun memang berhak untuk punya prinsip, asalkan prinsip tersebut tidak menimbulkan efek-efek kriminal. Kasarnya, jika ada orang yang suka sesama jenis, baik homo maupun lesbian, kenapa kita yang mesti ribut sampai antipati?! Bukankah setiap orang punya hak azasi masing-masing yang tidak boleh dipaksakan oleh siapapun. Adapun berkaitan dengan konser Lady Gaga yang ditakutkan akan mewabahkan sikap suka sesama jenis di tengah masyarakat jika konser tersebut jadi diadakan, saya pikir itu adalah ketakutan yang berlebih. Sikap dan karakter manusia tidaklah bisa diubah begitu saja, apalagi oleh sebuah konser yang hanya beberapa jam saja. Sikap dan karakter manusia berubah secara evolusioner, butuh waktu lama, doktrin sejak kecil, dan lingkungan yang mendukung. Begitu pula dengan sikap suka terhadap sesama jenis, tidak bisa terjadi begitu saja karena sebuah konser. Sungguh joke yang sangat menggelikan jika itu terjadi, apalagi sampai diyakini. Tentunya pemahaman tak masuk akal seperti itu, jika dibiarkan, akan membodohkan masyarakat.

Jauh lebih pantas jika pembatalan konser dikarenakan adanya instabilitas politik dalam negeri misalnya, atau karena tiketnya tidak laku, atau mungkin kurangnya dana untuk penyelenggaraan, ataupun alasan-alasan logis lainnya. So, saya harap pihak kepolisian, walaupun akhirnya harus menetapkan untuk membatalkan pertunjukan Lady Gaga di Indonesia, bukan atas alasan-alasan yang menunjukkan kelemahannya, bukan pula atas dasar takhayul dan tidak sesuai dengan logika maupun akal sehat.

Jumat, 20 April 2012

Dua Sejoli

Sebenarnya saya tidak percaya bila secara biologis, asal muasal keberadaan wanita karena diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Akan tetapi saya percaya akan pernyataan tersebut bila dilihat dari kacamata filsafat, bahwa wanita memang diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri laki-laki. Karena secara simbolis, itu berarti wanita diciptakan bukan dari tulang tungkai kaki, sebagai bawahan laki-laki, bukan pula dari tulang tengkorak, untuk memimpin laki-laki. Namun ya memang dari tulang rusuk yang dapat dimaknai sebagai partner sejajar buat laki-laki karena berada di tengah-tengah. Berada dekat dengan badan untuk senantiasa saling menjaga, dan dekat pula dengan organ hati, yang merupakan simbol adanya kasih sayang.

Hikmah lain yang juga bisa dipetik dari pernyataan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki adalah kesetiaan. Betapa tidak, wanita tercipta dari sebuah tulang rusuk kanan yang diambil dari satu orang lelaki. Hanya satu orang lelaki. Jadi, seorang wanita hanya tercipta untuk satu orang lelaki saja. Maka akan jadi tidak wajar jika ada dua atau lebih laki-laki untuk seorang wanita. Tak berbeda dengan laki-laki, di mana laki-laki diibaratkan telah diambil satu tulang rusuknya untuk menciptakan seorang wanita sebagai pasangannya. Hanya satu tulang rusuk yang diambil dari seorang laki-laki untuk menciptakan seorang wanita. Hanya satu tulang rusuk. Maka tidak normal lah jadinya jika seorang laki-laki dalam hidupnya berpasangan dengan lebih dari satu orang wanita. Jika pasangannya lebih dari satu, bahkan mencapai belasan, bisa Anda bayangkan berapa tulang rusuk yang diambil dari tubuhnya??? Bisa-bisa habis tuh tulang rusuk, malah mungkin nombok, hahaha…

Begitu lemah seorang laki-laki dan juga wanita bila dia membutuhkan cinta dari banyak pasangan dalam hidupnya. Satu cinta dari satu pasangan dalam satu masa itu cukup buat laki-laki dan juga perempuan hebat.  Kecuali jika atas alasan-alasan penting, misalnya karena tidak memiliki keturunan, atau untuk meningkatkan harkat dan martabat orang lain. Tentunya bukan berdasar atas alasan nafsu. Karena memilih berpasangan dengan orang yang kita cintai bukan melulu soal nafsu, tapi terlebih kepada rasa cinta itu secara utuh. Itulah yang membuat hubungan percintaan menjadi agung.


Telah banyak sejarah keagungan cinta yang ditorehkan umat manusia di muka bumi ini. Dan dari sekian banyaknya itu, hanya cinta antara satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan lah, yang benar-benar bisa menggoreskan cerita abadi dalam kehidupan manusia. Cerita yang dituliskan sebagai awal mula keberadaan manusia, Adam dan Hawa. Dikisahkan Adam dan Hawa turun dari surga dan saling bertemu di bukit kasih sayang dalam prosesi yang begitu agung. Di sana tak ada yang lain, tak ada wanita lain, tak ada laki-laki lain. Yang ada hanya seorang Adam dan seorang Hawa. Karena seorang Hawa memang diciptakan hanya untuk seorang Adam, dan seorang Adam ada hanya untuk mendampingi seorang Hawa.

Risalah cinta lain datang dari kisah Rama dan Sinta. Banyaknya cobaan dalam kisah cinta mereka tak membuat Rama berpaling, pun tak membuat kasih sayang Sinta luntur. Hingga pada cobaan terberat, dengan kekuatan cinta, Sang Rama justru berhasil menyelamatkan Sinta dari tawanan Rahwana, raksasa dasa muka. Di sana pun hanya ada seorang Rama untuk seorang Sinta, dan hanya ada satu Sinta untuk satu orang Rama. Itulah kesetiaan cinta.

Dan dari dataran Eropa banyak kita temui kisah-kisah cinta fenomenal. Bagaimana Romeo dan Juliet setia,   walau harus sampai sehidup semati. Tak ada dan tak pernah terbersit untuk memiliki orang ketiga. Romeo hanya untuk Juliet, Juliet hanya buat Romeo. Hanya ada seorang laki-laki bernama Romeo untuk seorang wanita bernama Juliet, pun hanya ada satu Juliet untuk satu Romeo. Dan masih banyak lagi cerita-cerita kebesaran cinta yang diciptakan dari keteguhan seorang laki-laki memiliki seorang wanita saja, dan kesetian seorang wanita untuk mendampingi seorang laki-laki saja.

Saya pun ingin seperti itu, memiliki percintaan yang sedemikian agungnya. Dikenal dengan seorang pasangan saja di sisi, menikmati masa muda hanya dengannya, hingga saatnya nanti, menghabiskan masa tua sampai akhir hayat cuma bersamanya saja. Begitu pun pula sebaliknya dengan dia…

Gagal Logika

Saya salah satu dari tak banyak orang Indonesia yang tidak percaya terhadap sesuatu yang ngga ada reason-nya. Karena saya benar-benar yakin bahwa sesuatu itu terjadi karena ada sebab. Apapun itu, pasti terjadi karena sebab. Dan sebab pasti menmbulkan akibat. Tak ada sesuatu yang tak menimbulkan akibat, sekecil apapun akibatnya. Pada dasarnya, saya percaya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Dan bahkan apa yang saya yakini ini tidak serta merta begitu saja hadir sebagai sebuah keyakinan. Keyakinan saya ini pun timbul bukan secara kebetulan, namun karena ada sebab. Saya yakin seyakin-yakinnya terhadap hukum kausalitas, disebabkan karena sejak kecil, saya memang terdidik dalam lingkungan keluarga yang memiliki pemikiran seperti itu.

Buat saya, saya bisa dikatakan orang yang logis, bahkan superlogis. Buat saya lho ya. Saya tidak pernah memaksakan orang lain untuk sependapat dengan saya. Jadi, cukup buat saya saja. Dan saya katakan “buat saya” juga karena logika saya berbeda dengan logika orang-orang kebanyakan. Terkadang yang buat orang lain sangat logis, menurut saya tidak logis. Dan sebaliknya, terkadang yang menurut orang itu tidak logis, buat saya logis-logis aja. Padahl orang tersebut sendiri sudah merasa logis, menurut dia. Hm, logika memang relatif. So, kadang saya berpikir, saya orang yang di atas logis alias superlogis, hehehe. Narsis dikit boleh laahh :D


Salah satu contoh, mungkin menurut kebanyakan orang, anak-anak cerdas lebih layak dapat sekolah yang bergengsi. Betapa tidak, sekolah-sekolah bergengsi menetapkan standar yang tinggi, yang secara tidak langsung diperuntukkan hanya untuk anak-anak cerdas dan di atas cerdas. Pandangan umum menganggap logis bahwa sekolah atau perguruan tinggi bermutu diutamakan buat anak-anak cerdas, buat yang punya prestasi baik, buat yang nilai akademiknya di atas rata-rata, dan sebagainya. Tapi justru buat saya, itu ngga logis sama sekali. Bukankah salah satu tujuan utama negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa? Nah lantas kenapa sekolah-sekolah bermutu itu malah mencari siswa-siswa yang sudah memang cerdas? Padahal siswa yang sudah cerdas tidak terlalu membutuhkan itu dibanding siswa yang biasa-biasa saja, atau malah yang bodoh. Bahkan, ekstremnya, dengan belajar sendiri sekalipun, siswa yang cerdas toh sudah punya kemampuan yang luar biasa. Bukankah kalau mau mencerdaskan segenap kehidupan bangsa, harusnya anak-anak yang bodoh yang mesti diutamakan supaya mereka jadi pintar? Itu baru memenuhi tujuan berbangsa bernegara, biar anak bangsa kita rata jadi cerdas semua. Kalau dengan sistem yang ada sekarang, malah yang cerdas tambah cerdas, yang bodoh tetap bodoh. Cape deeehh…

Hal lain yang menurut saya gagal logika adalah hampir semua orang menganggap setan, iblis, dan makhluk-makhluk halus lainnya itu berada di luar kehidupan kita. Sampai-sampai, kesurupan dianggap karena gangguan iblis. Malah yang lebih konyol lagi, sulap dianggap pake bantuan setan. Waduh, betapa naifnya pemikiran seperti itu. Kalau menurut saya, pemikiran yang kacau seperti itu adalah bentuk kompensasi dari ketidakmampuan mereka untuk berpikir, merenung, dan mencari sebab. Buntut-buntutnya semua yang rada-rada aneh dikit, dianggap kerjaan makhluk halus. Kayak pernah kenalan sama tuh makhluk halus aja. Kebanyakan orang mencari jalan pintas dalam berpikir hingga begitu mudah menganggap hal yang ngga wajar itu sebagai sesuatu yang tidak logis. Ujung-ujungnya, nama setan dan iblis mencuat lagi, mencuat lagi. Saya seh berpikir, setan dan iblis itu tidak terpisahkan dari kehidupan kita, malah dia ada dalam diri kita masing-masih. Jadi sebenarnya ngga perlu susah-susah mencari kambing hitam. Wong yang buat iblis itu diri kita sendiri. Wong setan itu muncul dari dalam diri kita. Adalah pikiran kita sendiri yang mengkondisikan keberadaan segala macam makhluk gaib itu. Semuanya ada di sini (nunjuk kepala). Itulah kenapa orang-orang penakut, sering merasa melihat setan, iblis, atau apa lah namanya, ya karena pikiran mereka terlalu mudah dikondisikan oleh rasa takut itu, sehingga citra gaib itu pun berdatangan di alam pikiran mereka. Dan itu terjadi di alam setengah sadar mereka, ketika logika udah ngga maen lagi.

Itulah alasan (reason) kenapa peristiwa-peristiwa langka, sepeti kesurupan, debus, ilmu supranatural, dan segala macam sulap ataupun magic jadi logis buat saya. Dalam hal debus dan ilmu supranatural lainnya, itu tak ubahnya seperti jika orang sedang mabuk. Ketika kesadaran telah hilang, apapun yang terjadi dengan diri mereka takkan berasa apa-apa. Semua itu bermain pada taraf kesadaran. Hanya saja ada yang tarafnya rendah, ada yang lebih tinggi. Dan tentunya akan panjang jika semua reason-nya saya kemukakan di sini. Untuk lebih jelasnya, tanya aja langsung ke para ahli psikologi atau orang-orang yang lebih berkompeten di bidang tersebut. Atau praktisnya, kalau mau menyaksikan sendiri, lihat aja orang-orang yang lagi mabuk, asal jangan coba-coba untuk ikutan mabuk aja, hehehe..

Sebenarnya masih banyak lagi pertentangan logika yang saya temui. Namun intinya bagaimana kita membiasakan diri untuk berpikir dulu sedalam-dalamnya, sematang-matangnya sebelum menarik kesimpulan untuk menyatakan suatu hal masuk logika atau tidak. Jangan sampai kita hanya membeo pendapat umum, padahal itu bertolak belakang dengan akal sehat. Seperti yang saya ungkapkan di awal tadi, segala sesuatu berlangsung tentu ada sebabnya. Dan semua peristiwa yang terjadi di dunia ini pasti bisa dijelaskan dengan akal sehat, asalkan kita mau dan mampu berpikir.

Senin, 16 April 2012

Di Pengujung Malam (One Night In Gunungsari)

Di pengujung malam, kututup kisah hari ini.
Sedu sedan, gelak tawa, cukup kurasa.
Pun indahnya rasa bangga, tajamnya bilah perjuangan.
Segala warna hari terangkum dan memudar di mataku.

Kupejamkan mata yang meredup.
Kubertanya dalam hati, adakah lagi hari esok.
Adakah lagi cerita di mentari esok pagi.
Adakah kisah hari ini terulang esok kembali.

Dalam angan, kuucap syukur di peraduanku.
Garis-garis yang telah kulewati dengan berbagai rasa.
Atas kesanggupan, atas waktu dan kekuatan.
Di pengujung malam kutitipkan larik syukur ini kepada Tuhan.

(One night in Gunungsari)

Matemusika

Musik adalah bahasa universal. Itu ungkapan yang sangat sering kita dengar. Entah ungkapan itu bukinan siapa, yang pasti menurut saya ungkapan itu benar adanya. Di seluruh dunia, musik punya pakem yang sama. Pola jarak tangga nada mayor diatonis dalam satu oktaf di mana pun tetap sama, yakni 1 – 1 - ½ - 1 - 1 – 1 - ½ . Di mana pun, nada do jika dituliskan ke dalam not angka, dilambangkan dengan angka 1. Itu adalah kesepakatan yang tetap. Demikian juga dengan nada re, mi, fa, sol, la, dan si, secara berturut-turut tetap diwakilkan dengan angka 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Hal yang tak berbeda pun terjadi pada not balok. Bahkan jika manusia dengan pendengaran normal diperdengarkan suatu alunan nada, tiap-tiap orang akan mendengar bunyi yang sama, dan mengartikannya dengan sama pula. Musik juga selalu ada dalam kehidupan sehari-hari kita, di mana pun, kapan pun. Di tengah keramaian suasana jalanan di kota, suara bising kendaraan ialah musiknya. Dalam sunyinya alam pedesaan, suara hewan-hewan dan desiran angin jadi musik. Di senja yang sepi, ada musik. Di siang yang penuh hiruk pikuk pun ada musik. Itulah kenapa bahasa musik disebut universal.

Dengan label universal itu, musik memiliki kesamaan dengan matematika. Di mana matematika, seperti halnya musik, disepakati dengan aturan main yang sama di seluruh penjuru dunia. Di negara mana pun, semua sepakat bahwa angka dengan digit tunggal hanya ada sepuluh jumlahnya, yakni dari angka nol (0) sampai sembilan (9). Secara internasional, tanda tambah (+) bermaksud penjumlahan dan tanda kali (x) bermakna melipatgandakan. Selain itu masih banyak lagi kesepakatan-kesepakatan matematika, dari yang sederhana hingga yang serumit-rumitnya, persis sama dengan musik. Dengan itu, matematika pun adalah bahasa yang universal. Matematika pun senantiasa ada dalam tiap-tiap sendi kehidupan kita, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun keadaannya, matematika selalu menyertai. Mulai bangun tidur hingga tidur pulas lagi, kita tak bisa terpisah dari matematika, di mana ada waktu yang melingkupi kita. Kegiatan yang kita lakukan, mulai dari makan, minum, mandi, berpakaian, belajar, bekerja, istirahat, selalu terhitung dan terukur secara matematika. Makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, pekerjaan yang kita lakukan, dan semuanya punya ukuran matematika masing-masing.


Musik punya kesamaan dengan matematika dalam banyak hal. Walau sepintas tak sama dan dipahami dengan cara berbeda, matematika dan musik sejatinya saling bersisian. Hanya saja matematika dimengerti lewat otak kiri, bersifat analisis dalam penerapannya, sementara musik dimengerti lewat otak kanan, lebih imajinatif. Bilangan, dalam matematika tidak mengenal limitasi. Hal tersebut kemudian dikenal dengan istilah infinity (tak hingga). Begitu juga dengan musik, di mana rentetan nada dalam musik tidaklah terbatas (tak hingga). Persamaan tak hanya ada dalam matematika. Di musik pun ada persamaan. Jika dalam matematika persamaan disarikan ke dalam bentuk umum yang kemudian bersifat fleksibel bergantung variabelnya, musik juga demikian. Persamaan yang umum di musik, antara lain do = C. Karena do = C maka nada do, mi, dan sol pada tangga nada tersebut merupakan chord C (C = 1, 3, 5); nada fa, la, dan juga do di chord F; dan lain sebagainya. Ketika kita bicara dalam variabel C maka itulah penjabarannya. Namun dengan fleksibilitas yang dimiliki, serupa matematika, persamaan tersebut pun fleksibel bergantung variabel yang dipergunakan. Saat variabel C diubah menjadi E misalnya, maka persamaan tadi menjadi do = E hingga E = 1, 3, 5; A = 4, 6, 1; dan lain sebagainya. Begitu pun untuk varian-varian lain.

Bila dijabarkan hal-hal lainnya, memang tak habis-habisnya kesamaan antara musik dan matematika. Satu lagi kesamaan antara musik dan matematika, keduanya sama-sama bisa diintegralkan. Pada matematika, kumpulan garis terintegral menjadi bidang, dan kumpulan bidang terintegral jadi sebuah ruang. Semua berpangkal dari satu titik. Sedangkan dalam musik diawali dengan notasi tunggal. Susunan notasi menjadi sebuah melodi. Melodi yang satu dengan yang lainnya terintegrasi dalam sebuah ritme. Dan ritme-ritme terintegral menjadi beat. Jika keduanya sama-sama bisa diintegralkan, tentunya pula keduanya bisa didiferensiasikan (diturunkan) dengan merunut balik pernyataan di atas. Itulah segelintir dari banyaknya kesamaan antara musik dan matematika. Jika Anda peka, tentunya lebih banyak lagi kesamaan yang dapat Anda temui.

Minggu, 15 April 2012

Awan Suci

Aku bahagia ketika awan suci tampakkan keindahannya.
Dia biarkan mentari sinari tubuhnya yang kupuja.
Putih berseri seolah senyum sambut hari-hari padaku.
Matanya biaskan sinar surya gambaran rasa murninya.
Nurnya sempurna kutangkap penuh pesona.

Pelan dia berarak meniti jarak menujuku.
Menyentuh lembut seakan tuntunku ke puncak kekaguman.
Bergejolak ia indah bak ingin tunjukkan keindahan Pencipta.
Kutak ingin ia hilang, kutak ingin ia menghitam.
Karena ia anugerah Tuhan yang tercipta untuk duniaku.

(Tribute to Holy Cloud wherever)

Agama Cinta

"Semua tradisi keagamaan membawa pesan yang sama bahwa cinta kasih adalah hal terpenting yang 'kan selalu jadi bagian dalam hidup kita."

Begitu kata Dalai Lama. Orang-orang yang berpikir pasti setuju bahwa cinta dalam kacamata kasih sayang memang pesan mendasar dari setiap agama. Kalau ngga percaya, coba aja pelajari semua agama yang ada. Pasti semua mengajarkan cinta kasih. Mengasihi lawan, apalagi kawan. Layaknya Tuhan yang memandang semua dengan sifat ketuhanan-Nya, cinta juga memandang semua dengan cinta. Tak membedakan manusia, hitam ataupun putih. Bahkan tumbuh-tumbuhan atau hewan sekalipun tak ada bedanya dalam hal cinta kasih. Semua berhak merasakan cinta. Semua dipandang sama oleh Tuhan yang Maha-Pecinta.

*Hm, rada-rada sok tau nih. Kayak pernah ketemu sama Tuhan aja, hehe

Tuhan mengenakan cinta sebagai "pakaian-Nya". Sifat-sifat-Nya selalu dilandasi cinta kasih. Tuhan marah karena cinta. Seperti seorang ayah yang memarahi anak yang dicintainya, supaya jadi lebih baik. Tuhan memberi pengampunan atas dasar cinta. Seberapapun kesalahan kita, ampunan Tuhan selalu tersedia, sebab Dia mencintai kita. Maka tak salah jika Tuhan menempatkan cinta pada posisi yang tinggi. Lebih tinggi daripada label dan simbol agama.

Lantas kita sebagai manusia perlu berbuat apa ya? Hm, kalau Bunda Teresa seh pernah bilang, "Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa rasa lelah."

Menurutnya mencinta justru adalah kebutuhan. Selain sandang pangan tentunya. Biar hidup langgeng kan kita mesti jaga kesehatan dan keselamatan. Mungkin itu yang jadi dasar pemikirannya. Untuk jaga kesehatan, perlu hal-hal yang sesuai anjuran dokter, misalnya makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi untuk jaga keselamatan sepertinya anjuran Bunda Teresa itu penting. Biar hidup ini langgeng, keselamatan harus dijaga juga. Biar keselamatan terjaga, cinta mesti ditumbuhkan dalam diri tiap-tiap insan. Ya itulah salah satu cara yang mesti dijalani. Maka, bener juga kalau dikatakan bahwa cinta adalah kebutuhan, hmmm...

Kalau semua sudah saling cinta, ngga akan ada keributan, ngga akan ada penindasan, ngga akan ada pembantaian, ngga akan ada juga pengeboman. Harus diakui, untuk menumbuhkan tatanan sosial yang baik, cinta kasih adalah ornamen terpenting. Dengan cinta kasih, akan timbul kesadaran. Mencintai dan mengasihi sesama akan menimbulkan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Olehnya timbul pula kedamaian. Mencintai dan mengasihi alam akan menimbulkan kesadaran lingkungan. Akan timbul pula kenyamanan hidup. Maka cinta kasih membuat hidup kita jadi lebih langgeng plus berkualitas.


Jika kita telah sadar bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih dan cinta kasih itu sendiri merupakan kebutuhan hidup, maka apa pentingnya buat kita memperdebatkan atribut. Toh juga tujuan agama-agama "diturunkan" sudah jelas. Tujuannya tak lain adalah mewujudkan keselamatan dan kedamaian. Dan cintalah jawabannya. Cinta kasih adalah jawaban untuk merealisasikan semua tujuan suci itu. Melampaui hal-hal sepele yang masih diributkan di tataran agama simbolik. Dalam hal itu, cinta berada di tempat yang lebih tinggi.

Bukan bermaksud mengkultuskan untaian kata hikmah dari para orang besar. Tapi jika memang kata-katanya baik dan bermanfaat maka pantaslah dijadikan pengajaran dalam hidup. Bahwa kita selayaknya belajar dari cinta, untuk memandang seperti cinta memandang. Tidak pandang bulu, tidak tebang pilih. Dalam koridor kemanusiaan, hukum cinta lah yang utama. Maka mengapa tak kita coba pula untuk belajar, membawa cinta ke mana pun dan mengenakan cinta itu di mana pun.

Ngomong-ngomong tentang cinta, saya teringat salah satu syair yang singkat namun sarat pesan cinta dari Ibnu Araby berikut, "Aku memeluk cinta ke mana pun hadap tujuanku. Kendaraanku: Cinta adalah agamaku dan imanku."

Jumat, 13 April 2012

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian V (Michael Jackson)

Seniman melegenda terakhir yang juga memiliki kontroversi besar, yaitu seorang penyanyi yang kerap menciptakan trend. Selain bernyanyi, ia juga menghibur lewat koreografi yang revolusioner pada masanya.  Topi fedora, sarung tangan kerlap kerlip di tangan kanannya, rambut keriting seleher adalah yang biasa menemani penampilannya. Khas lainnya yaitu nyanyiannya yang sering diselingi lengkingannya yang khas, koreografi ala zombie, serta lagu-lagu kemanusiaan dan mencerminkan kecintaannya pada anak-anak. Yang terakhir ini pasti langsung mengingatkan dengan jelas akan sosoknya, yakni tarian khasnya yang disebut moonwalk, tarian yang seolah berjalan maju namun sebenarnya mundur. Ya, dialah King Of Pop, Michael Jackson.

E. Michael Jackson

Kontroversi terbesar seorang Michael Jackson yakni perihal perubahan warna kulitnya yang terjadi secara sporadis. Laki-laki berdarah negro yang jelas-jelas terlahir berkulit hitam ini, justru berubah warna kulitnya pada masa-masa puncak popularitasnya. Pandangan miring berpendapat bahwa Jacko (panggilan akrab Michael Jackson) tidak cukup percaya diri dengan ras kulit hitamnya. Betapa tidak, warna kulit Jacko berubah kala isu rasis dan diskriminasi terhadap warna kulit masih kental, khususnya di Amerika. Ironisnya, warna kulit Jacko secara jelas diketahui berubah oleh publik bertepatan dengan diluncurkannya lagu Black Or White yang justru menyuarakan persamaan ras dan warna kulit. Ironis karena lagu tersebut jelas-jelas mengatakan “Doesn’t matter if you're black or white”, lagu yang anti rasis dan dikotomi warna kulit, namun Jacko justru malah merubah warna kulitnya dari yang semula hitam menjadi putih.

Akan tetapi klarifikasi dari Michael Jackson sendiri, yang kemudian disambut oleh para pendukungnya, bahwa kulitnya bukan dirubah, namun memang berubah secara alami dikarenakan adanya penyakit kulit yang diidap. Penyakit vitiligo yang diidap Jacko sedikit banyak memberi perubahan pada warna kulitnya, begitu ujar Jacko. Tak hanya sampai di situ, pembelaannya terhadap tuduhan yang gencar dihadapkan padanya perihal isu yang menyatakan bahwa ia menjalani bedah plastik hingga berkali-kali pun sempat dibantahnya dengan keras. “Saya hanya dua kali melakukan bedah plastik. Keduanya di bagian hidung,” katanya tegas. “Sedangkan bagian wajah saya lainnya memang seperti ini adanya. Jika memang berubah, setiap orang kan, mengalami pertumbuhan. Bagian wajah saya juga dari proses pertumbuhan saya,” lanjutnya berapi-api. “Jika ada orang yang berkata lain, itu terserah mereka. Saya sudah lelah meladeni tuduhan tentang bedah plastik yang saya jalani,” ujarnya lagi mantap.

Rumor lain yang juga mengundang kontroversi kurang mengenakkan buat Michael Jackson yaitu isu kelainan seksual yang dituduhkan kepadanya. Jacko dituduh sebagai pengidap pedofilia, salah satu jenis kelainan seksual di mana pengidapnya menyukai hubungan intim dengan anak-anak. Dalam wawancara dengan Martin Bashir, seorang jurnalis Inggris, Michael Jackson sempat menandaskan bahwa dia kadang-kadang memang tidur dengan seorang anak. Tapi itu dilakukan dalam rangka berbagi kasih dengan anak-anak. Memang seperti yang diketahui pula oleh khalayak, Jacko memiliki kepedulian lebih dengan dunia anak-anak. Hal itu tercermin lewat lagu-lagunya dan Neverland Ranch yang dibangunnya khusus untuk anak-anak, bak dunia dongeng. “Apakah yang salah dengan membagi kasih?” lanjutnya singkat kepada Martin Bashir.


Tak hanya semasa hidupnya, kontroversi bahkan berlanjut hingga akhir kehidupannya. Kematian Michael Jackson menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari dugaan overdosis mengkonsumsi obat-obatan, hingga disinyalir mengalami gagal jantung. Kontroversi lain adalah seputar cara pemakamannya. Isu yang menyebutkan bahwa Jacko sempat beralih keyakinan menjadi Muslim karena kedekatannya dengan berbagai tokoh spiritual semasa di Abu Dhabi juga menambah gosip yang berkembang. Akankah Jacko dikuburkan secara Islam, dikremasi, atau dibalsam, atau bagaimana? Seorang ahli pembalasaman jenasah dari Jerman bahkan sesumbar bahwa ia akan membalsam jenasah Jacko dalam gaya khasnya, yaitu Moonwalk. Hingga kini tak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana prosesi pemakaman Michael Jackson sebenarnya.

Penyanyi bernama asli Michael Joseph Jackson tersebut terlahir di Gary, Indiana pada 29 Agustus 1958, yang merupakan anak ketujuh dari pasangan Joseph Jackson dan Katherine Jackson. Di usia 5 tahun, ia mengawali kariernya bersama keempat saudaranya dengan membentuk grup vokal Jackson 5 besutan ayahnya. Grup Jackson 5 yang kemudian menjadi besar, berganti nama menjadi The Jackson pada tahun 1976. Kemudian prestasi Michael Jackson berlanjut di dunia musik dengan bersolo karier melalui album pertamanya yang bertajuk Off The Wall pada tahun 1978. Tahun 1982 Jacko mengeluarkan album berjudul Thriller, yang merupakan album terlaris di dunia, sekaligus memantapkan Jacko di puncak karier bermusiknya. Sejak saat itulah berbagai penghargaan berhasil disabetnya, termasuk juga gelar fenomenal sebagai King Of Pop.

Hingga hari kematiannya, tercatat ratusan penghargaan telah diraih. Mulai dari anugerah musik, setaraf Grammy Awards, hingga torehan rekor dunia di Guinness World Records, tak luput dari catatan prestasi Michael Jackson. Tidak cukup sampai di situ, Jacko juga pernah dinobatkan sebagai Artist of the Decade, Generation, and Century sekaligus sebagai Songwriters Hall of Fame tahun 2002 oleh presiden Amerika Serikat kala itu. Menjadi musisi kulit hitam pertama yang lagunya masuk ke dalam chart di Billboard dan sempat berada di papan atas chart tersebut menjadi catatan tersendiri dalam karier bermusik Michael Jackson. Kini prestasi dan kontroversinya telah berlalu seiring berpulangnya sang legenda. Namun pengaruh dan buah bibir atas dirinya akan tetap membahana di bantaran dunia, entah hingga kapan nanti.

*Tamat...

Jumat, 06 April 2012

Sistem Penghancur

Kita lahir, kemudian tumbuh dan berkembang. Setelah mencapai puncak dari perkembangan dan pertumbuhan itu, kita pun sedikit demi sedikit "rusak" secara fisik. Jantung mulai melemah, hati mengalami disfungsi, kinerja organ-organ lain pun mengalami penurunan. Yang muda menjadi tua. Yang kuat jadi makin lemah. Penyakit berdatangan, dan yang hidup mengalami kematian. Tak hanya kita (manusia) namun semua makhluk hidup mengalami fase yang sama. Lahir, tumbuh dan berkembang, kemudian mati. Semua hewan lahir, ada yang melalui proses tetas telur, ada yang membelah dirinya, ada juga yang diberanakkan. Namun intinya semuanya terlahir ke dunia. Semuanya pun berkembang dengan cara masing-masing. Akan tetapi apapun proses yang dijalani, semua berujung pada kerusakan, kemudian mati. Tumbuhan pula demikian. Hidup, baik secara alami maupun buatan, secara fisik tumbuh memanjang dan berkembang membesar. Betapa pun panjang kurun waktu hidupnya, semua berakhir dengan satu kata, mati.

Mati tak hanya terbatas pada yang bernyawa saja. Yang tak bernyawa pun akhirnya mati. Tentunya bukan dalam pengertian berpisahnya jiwa dengan jasad, tapi tak ada lagi kesatuan antara wujud dan kegunaan. Benda-benda di alam dari yang besar hingga sekecil-kecilnya pasti sedikit demi sedikit mengalami reduksi, lalu kemudian musnah. Musnah di sini bukan lenyap tiba-tiba, namun lenyap dari eksistensi awalnya, berupa kesatuan antara wujud dan kegunaannya tadi, dengan cara berproses tentunya. Matahari yang sekarang kita lihat bersinar terang, pada waktunya nanti telah diprediksi akan mati oleh para ilmuwan. Matahari akan menjadi bintang mati, bahkan mungkin juga suatu saat nanti akan hancur, musnah dari eksistensi awalnya. Begitu pun dengan alam semesta tempat kita hidup ini, akan musnah dari eksistensi awalnya. Gunung-gunung, lautan, sungai, batu, bahkan butiran pasir pun berproses menuju musnah.
 

Setali tiga uang dengan hal-hal di atas, benda-benda buatan manusia pun tak pelak dari sebuah kemusnahan. Dari gubuk-gubuk kayu di tepi sawah, hingga gedung yang dibuat dengan baja dan beton, semua musnah. Dari sepeda besi tua, sampai pesawat tempur teknologi canggih, musnah. Perkakas sederhana, musnah. Gadget mutakhir, musnah. Singkat kata, segalanya akan musnah, seolah-olah alam ini adalah sebuah sistem penghancur yang kompleks dan terorganisir. Alam bisa melapukkan, alam bisa mengkorosi, alam pun bisa mendegradasi segala yang mampir kepadanya. Bukan kejam, tapi inilah the law of nature, hukum alam yang memang terus berproses. Hukum alam yang juga menjadi kehendak Tuhan, hukum Tuhan. Sederhananya, segala bentuk materi yang “terlahir” di alam ini, baik terlahir dari proses biologis maupun proses berpikir, pasti akan musnah. Alam ini memusnahkan segala yang dikandungnya. Oleh sebab itu, kita harusnya siap-siap kala jadi bagian dari peristiwa musnah itu.

Rabu, 28 Maret 2012

Benci Tanda Cinta

Cinta datang tanpa pesan
Dia tiba kemudian hinggap
Tak peduli kau sendiri atau berdua
Pun tak pernah pikir dirimu siapa

Cinta datangkan harapan
Hari-hari yang penuh semangat
Walau perjuangan kadang berat
Cinta buat semuanya tiada arti

Cinta adalah membangkitkan
Angan-angan, khayalan, dan impian
Malam yang sepi, manis dalam rindu
Hampa yang toreh keindahan

Cinta kadang datang kadang pergi
Dalam harap yang kosong cinta lebur
Tak jarang dalam wajah kebencian
Cinta hadir bermuka muram

Cinta selalu terpendar
Dalam dada bahkan di angkasa
Tak pernah hilang, dia selalu ada
Bahkan benci, itulah pertanda cinta

Curhatku

Sing: Kuterbangun dari tidur panjang yang lelahkanku....

Tiba-tiba saja saya dengar Indonesia ribut-ribut soal wacana kenaikan harga BBM. Saya lihat para ahli berseliweran di televisi dengan berbagai analisisnya. Mahasiswa turun ke jalan, demo menolak kenaikan harga BBM. Yang pro mendukung dengan argumennya, yang kontra juga demikian, menolak dengan argumen mereka masing-masing. Ada yang bilang menaikkan harga BBM merupakan suatu yang wajib dilakukan kalau tak ingin melihat perekonomian negara ini terpuruk, berhubung meningkatnya harga minyak dunia. Subsidi BBM harus dikurangi sebab APBN yang selama ini digunakan untuk subsidi BBM mesti dialihkan pada hal-hal yang lebih urgen untuk masyarakat banyak, khususnya golongan menengah ke bawah. Berseberangan dengan itu, yang menolak beralasan bahwa kenaikan harga BBM justru akan menyusahkan golongan bawah, sebab dengan naiknya harga BBM, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, semisal sandang dan pangan, akan ikut naik. Hmmm....


Sebenarnya penjelasan dari para ahli, baik yang pro maupun yang kontra, lebih panjang, lebar, dalam, dan luas sekaleee... Tapi yang saya tuliskan di atas hanya inti sarinya saja. Karena sejatinya pokok dari uraian saya kali ini bukanlah pada perdebatan yang panjang, lebar, dalam, dan luas oleh para pakar itu. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit keluh kesah saja, atau kalau dalam bahasa gaul disebut curhat... Presiden aja curhat, masak seh rakyat kecil kayak saya ngga boleh curhat, begitu pikir saya. Karena saya berpikir itulah maka saya memberanikan diri untuk curhat kali ini. Dan lagi-lagi karena saya berpikirlah maka curhatan saya bukan sekadar curhatan dari hati layaknya ABG alay zaman sekarang. Curhatan ini murni dari logika hasil pikir-pikir saya tadi, hehe...

Logikanya sederhana saja, kalau harga BBM dinaikkan dengan alasan untuk mengalihkan subsidi BBM kepada hal-hal yang lebih penting buat rakyat banyak, bukankah lebih baik kita fokus dalam pemberantasan korupsi?? Sebab jika korupsi diberantas, kita tak perlu lagi gembar-gembor menaikkan harga BBM. Uang rakyat yang dikorup dan/atau bakal jadi sasaran korup harusnya diamankan untuk kepentingan rakyat. Di sini perlu ketegasan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya, dan tentunya juga bantuan para ahli dalam penetapan sistem maupun regulasinya. Saya pribadi tak terlalu ambil pusing dengan kenaikan harga BBM. Bukannya bermaksud sok tajir, tapi saya pikir, jika memang korupsi yang banyak merugikan APBN sudah benar-benar diberantas, dan lantas APBN belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan urgen rakyat kecil, BBM tak lagi disubsidi pun tak masalah.

Intinya, saya ingin negara ini bersih-bersih dulu. Sebab jika rakyat melihat negara telah bersih, kebijakan pemerintah akan dinilai positif oleh rakyat itu sendiri. Sejatinya rakyat geram, rakyat marah, dan tersulut emosi kali ini bukan hanya karena kenaikan harga BBM, namun oleh sebab kekesalan bertumpuk-tumpuk terhadap pemerintahan yang tidak bersih. Bahkan mungkin rakyat tak melihat iktikat pemerintah untuk membersihkan itu. Jika dinilai dari sudut pandang itu, wajar jika rakyat mengeraskan suara, sarkatis dalam berdemo. Namun yang harus digarisbawahi yakni demo harus dilakukan tanpa kekerasan, tanpa anarkis, tanpa vandalis...

Sing: Kau biarkan mimpi tetap mimpi yang melengkapi khayalmu. Kau terhenyak dan terbangunkan, dan harapkan keajaiban datang hadir di pundakmu...

Selasa, 27 Maret 2012

Satu Indonesia dalam Indonesia Saja

Lirik lagu yang satu ini sarat akan pesan persatuan. Diciptakan oleh Ahmad Dhani untuk album Dewa 19 yang bertajuk Laskar Cinta di pengujung tahun 2004. Dari judulnya (Indonesia Saja) dapat dilihat suatu semangat pernyataan sikap bahwa dalam berbangsa bernegara tak ada yang lain yang harus dijunjung selain Indonesia. Di atas segala perbedaan yang ada, Indonesia harus tetap dalam kesatuan, baik sosial, politik, maupun spirit.

Aku bukan orang Jawa
Aku juga bukan Sunda

Jawa dan Sunda mewakili suku-suku di Indonesia. Dalam berbangsa bernegara, identitas suku bangsa harus dilepas sejenak demi persatuan. Tak pandang orang Jawa, Sunda, atau apapun juga, semua adalah putra putri Indonesia yang harus diperlakukan sama.

Aku bukan orang Aceh
Aku juga bukan Ambon


Semangat kedaerahan yang kental pada masing-masing daerah harus dibendung ketika kita mulai bicara tentang Indonesia. Orang Aceh, orang Ambon, orang Bali, orang Papua, orang Jakarta, dan semua orang di seluruh Indonesia harus satu suara dalam ke-Indonesia-an.

Aku bukan orang Cina
Aku juga bukan Arab


Budaya Cina dan Arab adalah dua dari beberapa budaya luar yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Indonesia. Maka dalam wawasan kebangsaan, budaya-budaya luar harus dijadikan jalan untuk memperkaya khasanah budaya bangsa, bukan justru untuk saling buruk sangka yang kemudian menimbulkan perpecahan.

Aku bukan hijau
Aku juga bukan merah


Dalam politik, hijau biasanya melambangkan partai Islam (Religius), dan merah melambangkan Nasionalisme. Adapun dalam membangun negara, dikotomi Nasionalis dan Religius itu harus dihilangkan. Bahwa partai yang Nasionalis harus bersatu dengan yang Religius dan bersama-sama membangun bangsa dengan semangat yang sama besarnya.

Aku bukan kiri
Aku juga bukan kanan


Kiri adalah sebutan buat haluan politik sosialis dan komunis, sementara paham liberal dan kapitalis disebut dengan haluan kanan. Tapi apapun paham politiknya, apapun ideologinya, dan bagaimanapun perbedaan di dalamnya, kesemuanya harus satu padu dalam jenjang yang lebih tinggi, yakni kebangsaan Indonesia.


Semua perbedaan, dari suku, daerah, budaya, agama, maupun ideologi, secara tegas mesti dikesampingkan ketika kita sudah berada dalam taraf bangsa dan negara (apapun itu). Demi kepentingan bersama, segala perbedaan mesti dibuang sejenak. Dan dalam hal Bangsa Indonesia, tak ada kata lain selain Indonesia Saja.

Diringkas dalam refrain dan sekaligus menjadi klimaks dari isi lagu tersebut:

Aku hanya merasa
Aku orang Indonesia Saja

Kamis, 19 Januari 2012

Trilogi Evolusi - Bagian III (Evolusi Spiritual)

Ada ungkapan yang mengatakan, “Tak ada yang abadi, kecuali perubahan.” Saya menghayati benar ungkapan itu, apalagi setelah tahu bahwa dalam religiusitas pun, yang diklaim sebagai suatu yang mutlak, toh nyatanya mengalami perubahan. Tak bisa dipungkiri, spiritualitas manusia dari masa ke masa, berubah. Bahkan walau dipropagandakan sebagai suatu ketetapan yang abadi hingga akhir zaman, dan bersumber langsung dari Tuhan, perubahan sedikit demi sedikit menggerus sistem spiritualitas umat manusia, dibawa pada suatu kenyataan, bernama PERUBAHAN.

Perubahan tentu bukan tanpa alasan, karena tentunya pula tak ada satu hal pun yang terjadi tanpa sebab musabab, termasuk dalam hal perubahan spiritual, atau yang kemudian akan saya sebut dengan evolusi spiritual. Selama ratusan ribu tahun manusia hidup di dunia, selama itu pula sistem spiritual manusia selalu berubah. Dipengaruhi oleh cara pandang manusia terhadap lingkungannya dan tingkat peradaban manusia itu sendiri, persepsi manusia terhadap Tuhan pun berubah-ubah, dan berujung pada perubahan sistem spiritual dan beragama.

Pada masa berburu, masa di mana manusia masih nomaden, “bekal” mereka hanyalah insting dan kekuatan fisik, tanpa akal yang memadai. Manusia hidup dari satu hutan ke hutan lainnya, tinggal dari satu goa ke goa yang lain. Mereka rentan bersentuhan dengan kejadian alam yang menakutkan. Tanpa kemampuan berpikir untuk mencerna fenomena alam yang terjadi, ketakutan membuat mereka menganggap kejadian-kejadian itu sebagai Tuhan yang sedang marah. Petir, hujan, badai, dan gelombang adalah Tuhan pada masa itu. Sungai sebagai sumber penghidupan mereka juga dianggap sebagai Tuhan yang sedang pemurah. Pohon-pohon besar adalah Tuhan yang pengasih karena memeberi keteduhan buat mereka, di samping buahnya. Singkat kata, setiap elemen alam yang memberi manfaat adalah Tuhan yang pemurah, dan yang menakutkan dianggap Tuhan yang sedang marah.

Memasuki masa beternak, cara pandang manusia terhadap lingkungan berubah, Tuhan mereka pun berubah. Tuhan pada masa tersebut kebanyakan disimbolkan dengan hewan. Masyarakat yang hidup dengan beternak tentunya menggantungkan nasib mereka pada ternak-ternak mereka. Dengan pikiran yang sederhana, mereka merasa bahwa hidup mati mereka ditentukan oleh keadaan hewan ternak mereka. Oleh karena itulah, pada banyak tempat di belahan dunia ini, sapi, domba, kambing, dan burung disembah sebagai Tuhan. Hingga tak jarang kita lihat sampai saat ini di berbagai belahan dunia terdapat patung-patung peninggalan zaman kuno yang berbentuk hewan untuk disembah, seperti burung, kambing, dan bahkan domba emas.

Beranjak maju, puluhan ribu tahun dari masa beternak, manusia memasuki zaman pertanian. Dari ketergantungan pada hewan ternak, pada era pertanian ketergantungan manusia bergeser pada hasil pertanian. Namun dengan pemikiran yang lebih maju, mereka tak menyembah hasil pertanian sebagai Tuhan layaknya yang terjadi pada masa beternak, di mana manusia menyembah hasil ternaknya. Adapun di masa bertani tersebut, Tuhan umat manusia berupa dewa dan dewi. Dewa dan dewi dianggap sebagai pemberi berkat dari langit, berupa cahaya serta menurunkan hujan, membuat lahan pertanian subur.  Hingga pada masa itu dikenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, dan Dewa Matahari sebagai dewa yang tertinggi. Kepercayaan kepada dewa dewi adalah kebenaran pada masa itu, sampai-sampai ketika masih ada segelintir yang menyembah patung hewan, dianggap suatu yang sesat.


Evolusi spiritual pun terus berlangsung, hingga memasuki masa teknologi sederhana, di mana ilmu pengetahuan berperan lebih banyak. Cara pandang manusia dalam memandang lingkungan sekitarnya berbeda, dari yang sebelumnya mengkultuskan hal-hal yang dapat dijamah secara fisik, (elemen alam, binatang ternak, ataupun dewa dewi yang dipersonifikasi) berubah perlahan. Pola spiritual pada masa tersebut adalah menuhankan hal-hal yang gaib, maya, dan tak tersentuh. Hal tersebut dikarenakan akal manusia tak lagi dapat menerima Tuhan yang berbentuk fisik, layaknya manusia. Kebenaran pun berubah. Yang dahulunya diyakini sebagai sebuah kebenaran, kini diklaim sebagai sebuah kesesatan, sebab asumsi pada masa tersebut bahwa Tuhan sesuai dengan akal pikiran manusia ketika itu, yakni tak tersentuh, tak terjamah.

Hingga kini, keyakinan akan Tuhan yang gaib itu masih dipegang teguh sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian besar umat manusia. Namun pada belahan-belahan dunia tertentu, di mana teknologi kian majunya, ada indikasi bahwa kepercayaan pada Tuhan yang gaib itu mulai terlepas. Teknologi yang semakin mutakhir membuat alam pikiran manusia berubah dalam menilai alam sekitarnya, bahkan Tuhan. Dewasa ini, segalanya seolah bisa diciptakan manusia. Hujan, satelit, bahkan kloning manusia, bisa dibuat. Tak mudah mungkin untuk diterima orang yang masih hidup dalam alam pikiran bahwa Tuhan itu gaib, tapi untuk negara-negara teknologi maju, Tuhan tak lagi merupakan suatu yang berada di luar diri manusia. Gamblangnya, manusia itu adalah Tuhan itu sendiri, karena manusialah yang membuat Tuhan-tuhan mereka. Begitulah garis besar pemikirannya.

Entah pada abad-abad ke depan, seiring perkembangan pemikiran manusia, kepercayaan seperti apa lagi yang terlahir dari peradaban manusia. Yang pasti, spiritualitas akan terus ber-evolusi. Spiritualitas baru menghadirkan sistem ketuhanan yang baru pula. Adapun yang baru akan menggulingkan yang lama, yang mayor akan menilai sesat yang minor, begitu seterusnya. Di sini terlihat jelas relativitas kebenaran. Maka setiap kita yang hidup pada masa kini tak perlu kaget jika suatu saat nanti kita menemui kenyataan bahwa apa yang kita yakini benar saat ini tak lagi dianggap benar oleh pandangan di masa mendatang. Melihat realitas yang terjadi itu, selayaknya kita insyafi bahwa kita boleh saja mengaku benar, namun kita pun harus menghargai kebenaran yang diyakini orang lain. Dan mestinya kita mengerti bahwa kebenaran tak selalu sama buat semua orang. Kebenaran untuk masa ini adalah kebenaran yang masing-masing kita yakini di masa kini, dan kan terus berubah, seiring bergulirnya waktu.