Translate

Jumat, 09 Desember 2011

Trilogi Evolusi - Bagian I (Evolusi Teknologi)

Manusia adalah makhluk yang dibekali dengan akal pikiran. Tapi ada yang bilang, manusia hanya menggunakan 1% dari kapasitas otaknya. Entah data itu valid atau tidak, pointnya adalah, selama ini manusia hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan berpikir yang dimilikinya. Mengapa demikian, karena permasalahan yang dihadapi manusia belum mencapai tingkat kompleksitasnya. Maklum, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang "mau enaknya saja", enggan berpikir bila belum berhadapan langsung dengan masalah. Semakin tinggi kompleksitas masalahnya, semakin besar tingkat pemikiran alias penggunaan akalnya.

Coba kita flash back ke zaman dulu, saat masalah yang dihadapi manusia hanya berkutat pada urusan perut, manusia cuma bisa berburu saja. Kalau lapar, makan, kalau haus, minum. Tak ada masalah lain.  Maka pikirannya pun "manja" serta sederhana. Untuk makan, cara paling mudah yang terpikirkan adalah mencari makan. Berhubung yang ada hanya hewan dan tumbuhan yang hidup secara liar, maka berburulah mereka. Tak pernah terpikirkan untuk mengolah atau membudidayakannya.

Akan tetapi, ketika timbul masalah baru, yakni berburu, berlari-larian mengejar binatang sepanjang hari ternyata melelahkan juga, maka timbul pula upaya pemikiran baru. Dengan upaya berpikir itu, ada ide dan pemikiran untuk membudidayakan hewan, yang sekarang kita sebut dengan beternak. Melalui usaha peternakan itu, manusia tak perlu lagi lari-larian di hutan untuk mencari hewan buruan. Cukup dengan menangkap sepasang saja, kemudian mengembangbiakkannya. Itulah hasil dari sebuah pemikiran. Manusia hanya tinggal mencari dedaunan di hutan untuk makanan ternaknya saja.

Kendati tak lagi berburu, berlari-larian, tapi lama-kelamaan, keliling hutan untuk mencari pakan ternak pun dirasa cukup melelahkan. maklum lah, semakin maju peradabannya, fisik manusia jadi semakin manja. Masalah baru lagi. Masalah baru menuntut pemecahan baru. Maka selain beternak, terbersit pemikiran untuk membudidayakan tumbuhan, atau yang sekarang dikenal dengan bercocok tanam. Awalnya bercocok tanam hanya untuk makanan ternak, tapi setelah lama, manusia merasa masih "buang-buang tenaga" jika harus bercocok tanam hanya untuk ternaknya saja. Timbullah ide menyandingkan tanaman bagi ternak dengan tanaman untuk dikonsumsi sehari-hari oleh manusia itu sendiri. Sejak itu, pertanian pun berkembang, malah dengan berbagai variasinya. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Yang dulunya bertani di lahan terbatas, seiring waktu, kian meluas, karena memang sifat dasar manusia yang tak pernah puas. Namun dengan meluasnya lahan pertanian dan banyaknya tanaman yang diusahakan, timbul lagi masalah baru. Lahan yang dulunya sempit dan bisa digarap secara manual by hands, kini meluas hingga sangat melelahkan jika tetap diberlakukan cara-cara lama. Solusi baru mutlak perlu. Karenanya manusia kembali mendayagunakan pikirannya. Wal hasil, ditemukan teknik-teknik membuat perkakas guna mempermudah aktivitas manusia. Diawali dengan perkakas pertanian, kemudian semakin mahir hingga menciptakan peralatan-peralatan rumah tangga, bahkan alat-alat untuk hiburan sehari-hari. Itulah awal dari adanya teknologi, walau dalam taraf yang paling sederhana.


Dengan semakin luasnya bidang pekerjaan manusia, secara fisik, kemampuannya tak mampu lagi mengakomodir semuanya, dari beternak, bertani, hingga membuat perkakas sehari-hari. Lalu terpikirkan ide spesialisasi pekerjaan. Jadi, tak semua dilakukan oleh setiap orang, namun sebaliknya, satu bidang pekerjaan ditekuni oleh sekelompok orang saja. Maka ada sekelompok peternak, sekelompok petani, dan sebagainya. Dengan demikian, kondisi membuat kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, saling membutuhkan. Peternak butuh hasil pertanian untuk pakan ternaknya, petani butuh pembuat perkakas untuk memperlancar aktivitas pertanian, dan pembuat perkakas butuh peternak demi memperoleh makanan, demikian sebaliknya dan seterusnya.

Mau tak mau sistem tukar menukar alat dan kebutuhan sehari-hari bertumbuh pesat pada keadaan seperti itu. Inilah permulaan dari sistem barter yang kita kenal sekarang. Tetapi seiring berjalannya waktu, sistem barter jadi merepotkan, karena berat dan kadang besarnya barang-barang yang dibawa membuatnya tidak praktis. Timbul lagi ide untuk membuat alat tukar yang lebih simpel namun tetap berharga. Maka diupayakanlah perbuatan uang dari logam, berukuran kecil, mudah dibawa ke mana-mana, namun tetap berharga. Pada kondisi itulah, perdagangan dan pertambangan mulai dikenal.

Dengan pesatnya pertambangan, logam tak hanya dibuat untuk alat tukar (uang) saja. Seiring makin banyak kebutuhan hidup manusia, makin diperluas pula usaha memenuhinya. Hasil tambang pun diolah untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan manusia, tentunya dengan skala yang lebih besar. Mesin dibuat, pabrik dibangun, dan akhirnya berpuncak pada suatu peristiwa yang dinamakan Revolusi Industri.

Revolusi Industri sebuah titik tolak di mana berbagai penemuan kian membeludak di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski bernama Revolusi Industri, namun proses sebelumnya sesungguhnya tidak singkat. Revolusi Industri hanyalah sebuah ujung persinggahan sementara dari proses yang saya namakan Evolusi Teknologi, yang begitu panjang, jutaan tahun. Yang karenanya, sekarang kita bisa menikmati penciptaan di dunia teknologi yang bermanfaat. Teknologi yang kian berkembang seiring berkembangnya pemikiran manusia. Di mana pemikiran itu pun berkembang beriringan dengan meningkatnya permasalahan yang dihadapi.

Entah sampai kapan penggunaan pikiran manusia itu bisa benar-benar dimaksimalkan. Tak terbayangkan betapa luar biasanya wajah masa depan kala penggunaan otak manusia sudah benar-benar maksimal seperti itu, hehe. Tapi paling tidak, untuk saat ini saja, berkat proses Evolusi Teknologi itu, hidup kita jadi sedemikian mudahnya. Kita bisa ke mana saja dalam waktu singkat karena ada pesawat terbang. Kita bisa bertatap muka dengan siapa saja di muka bumi ini, sebab adanya satelit. Akhirnya yang terpenting, karena ada teknologi internet, saya bisa mempublikasikan tulisan ini kepada pembaca semua, hehe..

Semoga bermanfaat :D

Rabu, 07 Desember 2011

Berkaca pada Hewan

Begitu banyak kekhasan sifat hewan yang menarik untuk diamati. Agaknya sederhana buat sebagian orang karena hampir semua orang tahu. Tapi saya yakin tidak semua orang benar-benar menghayatinya. Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa saya katakan tidak semua orang menghayatinya? Hmm, sebelum lanjut menjelaskan penghayatan apa yang saya maksud, lebih baik kita amati dulu keunikan apa seh yang dimiliki hewan-hewan, seperti berikut ini...



A. Anjing

Anjing adalah binatang yang cerdas dan punya rasa kesetiaan yang dalam pada pemiliknya. Anjing selalu mengutamakan kepentingan tuannya daripada kepentingannya sendiri. Ia akan bersikukuh pada orang yang dikasihinya. Meski termasuk binatang galak, anjing jarang menunjukkan amarahnya. Tidak semua anjing suka berkelahi. Mereka lebih tepat disebut sebagai tipe yang berpikiran awas. Umumnya, anjing menyukai hidup sederhana. Ia melihat sesuatu di balik motif orang yang dikenalnya. Dalam usia muda, anak anjing sudah mampu "mencium" mana orang yang baik dan mana orang yang jahat.


B. Kuda

Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Kuda adalah binatang yang banyak membantu manusia sepanjang sejarah. Kaki kuda diciptakan tidak hanya untuk dapat membawa beban berat tetapi juga untuk berlari cepat. Tidak seperti binatang-binatang lainnya, kuda tidak memiliki tulang selangka, suatu ciri yang memungkinkan mereka melangkah lebih lebar.


C. Gajah

Gajah mempunyai ingatan yang sangat baik dan jarang melupakan perintah–perintah yang telah diajarkan. Seekor gajah mampu mengingat 25 perintah atau aba–aba. Selain itu, gajah bersifat mandiri, mampu membuat alat untuk digunakan sendiri, sebagai contoh, gajah akan mematahkan tonggak kayu untuk menggaruk punggungnya.


D. Semut

Semut tahu apa artinya bekerja sama secara sinergis dalam sebuah team yang solid untuk mencapai sebuah tujuan. Mereka menyadari kekecilan dan keterbatasan tubuh mereka, sehingga salah satu cara untuk bertahan hidup adalah membangun sebuah koloni dengan struktur kepemimpinan yang jelas. Ada yang menjadi ratu atau pemimpin dan ada juga yang menjadi prajurit dan pekerja. Semuanya bekerja sama dan bertanggung jawab sesuai tugas dan porsinya masing-masing. Jiwa sosial semut juga sangat tinggi dan mereka juga solider dengan sesamanya.


E. Ular

Walaupun tergolong hewan yang mematikan, namun sifat ular secara umum tidak akan menyerang jika tidak merasa terpojok atau terdesak. Ular jarang sekali menyerang musuhnya tanpa mengambil ancang-ancang (peringatan terlebih dulu). Biasanya ular akan menegakkan lehernya dan mengembangkan tulang rusuknya hingga tingginya sepertiga badannya. Ular adalah hewan yang cekatan, ia mampu bergerak dengan cepat dan tanpa mengeluarkan suara. Kadang terlihat lemah dan tenang namun ia selalu siap untuk menyerang.


F. Ulat

Kadang orang merasa jijik dengan ulat, padahal justru ulat yang bermetamorfosis dari yang sebelumnya dianggap menjijikkan menjadi kupu-kupu indah yang malah banyak disukai orang. Kemudian kupu-kupu yang indah itu menjadi hewan penyerbuk tanaman, yang membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah. Sehingga bagi petani, dan orang pada umumnya, kupu-kupu ini sangat bermanfaat untuk membantu jalannya penyerbukan tanaman.


Itulah beberapa dari begitu banyaknya hewan yang punya sifat khas. Tak hanya khas, tapi juga memiliki nilai plus bila dihayati dengan baik. Ngomong-ngomong tentang penghayatan, seperti yang sudah saya "janjikan" di awal postingan, penghayatan yang saya maksudkan adalah supaya kita berkaca pada sifat-sifat hewan di atas. Jangan kira karena mereka hewan maka kita tak bisa mengambil pelajaran dari mereka. Ambillah hikmah walau dari seekor hewan sekalipun. Sebab sekalipun hewan nyatanya ada sisi-sisi positif yang dapat kita ambil manfaatnya, seperti sifat-sifat di atas (yang point-pointnya telah saya garis bawahi).

Hmm, akhir kata, selamat berkaca :D
*sambil memandangi diri di depan cermin...

Selasa, 06 Desember 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian IV (Leonardo da Vinci)

Manusia pengukir kontroversi berikutnya adalah maestro seni lukis yang "haus" akan ilmu pengetahuan. Terkenal sebagai seorang jenius, seniman yang kali ini tak hanya mendedikasikan lukisan-lukisannya untuk dunia seni. Pemikiran dan idenya jauh merambah bidang-bidang lain yang juga dituangkan lewat lukisan. Sebut saja bidang teknologi, anatomi, astronomi, bahkan kuliner. Dialah Leonardo da Vinci, si jenius yang selalu memulai karya dengan "berkobar-kobar" namun tak banyak yang dirampungkan sebagaimana mestinya.


D. Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci bernama lengkap Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci. Kepalanya diloloskan bidan dari rahim sang ibu tahun 1452 dekat kota Florence, Italia. Dan kepalanya dimasukkan ke liang kubur tahun 1519. The Last Supper, Monalisa, Virgin of the Rocks, dan Virtuvian Man adalah beberapa dari segudang karyanya yang masih jadi misteri. Misteri yang kian belum terpecahkan itulah yang mengundang kontroversi dan perdebatan, utamanya selepas kepergian da Vinci.

Maestro seni yang selalu berambisi mencipta mahakarya ini nampaknya memang "hobi" pula mencipta kontroversi dalam hidupnya. Dimulai dari penyimpangan seksual, yakni dituduhnya ia sebagai gay, hingga indikasi keterlibatannya dengan organisasi "bawah tangan", Priory of Sion yang menggemparkan. Kasus homoseksualnya dengan seorang model laki-laki berusia belasan tahun bernama Jacopo Saltarelli, sedikit tidak "mencoreng" kehidupan sosialnya, mengingat kehidupan gay masih dianggap sebagai aib di masyarakat. Adapun organisasi Priory of Sion yang disinyalir ikut diketuainya adalah organisasi rahasia yang menjaga ketat sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Pandangannya mencakup pemahaman keagaman yang lebih bebas dan mendewakan rasionalitas dan logika. Organisasi yang kemudian dipandang miring karena berlawanan dengan otoritas yang ada pada masa itu.

Beranjak dari kontroversi dalam hidupnya, satu per satu karya seni ciptaannya pun demikian adanya. Keistimewaan yang secara jenius tergores di atas kanvas memang tak perlu dipertanyakan lagi. Namun di balik setiap karya itu masih menyimpan banyak pertanyaan secara historis. Semua karyanya dikatakannya sendiri sebagai persembahan yang setinggi-tingginya kepada Tuhan. Setiap karya memiliki komposisi warna yang begitu indah dengan detail yang nyaris sempurna seperti aslinya, sehingga semua yang melihatnya terpesona dan tersentuh hatinya. Begitu indahnya, sampai seakan-akan Tuhan pun akan senang hati melihatnya. Uniknya lagi, tak hanya mengenai seni, lukisan-lukisannya juga banyak menggambarkan ide-ide brilian di otaknya tentang teknologi, anatomi, dan ilmu-ilmu lain yang "digilainya".


Lukisannya yang paling terkenal adalah Monalisa, yang menurut beberapa kalangan merupakan citra wajah da Vinci sendiri. Menjadi tanda tanya karena Monalisa secara jelas terlihat seperti sesosok wanita. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang. Namun pandangan yang lebih serius mengungkapkan bahwa Monalisa berkaitan dengan ideologi Biarawan Sion, organisasi rahasianya itu. Menggambarkan sintesis antara lelaki dan wanita, dewa Amon dan dewi Isis, atau yang lebih umum lagi, gabungan sikap maskulin dan feminin, juga yin dan yang, yang merupakan sifat-sifat ketuhanan. Makna ideologis serupa yang juga ditangkap pada The Last Supper yang terlihat menggambarkan suasana jamuan terakhir Yesus dengan kedua belas murid-Nya.

Sementara itu, paradoks dengan pro kontra yang besar tentang makna lukisan itu sendiri, dalam seninya, Monalisa merupakan puncak dari segala ilmunya tentang pewarnaan, cahaya, perspektif, dan tidak lupa anatomi tubuh manusia. Pada lukisan itu, ia menggunakan teknik melukis yang sangat tinggi dan sulit ditiru. Sfumato, sebuah teknik yang membuat lukisan terlihat seperti berkabut, tidak fokus, dengan transisi antarwarna yang luar biasa lembut dan halus. Dengan menggunakan X-ray fluorescence (XRF) spektrometri untuk menentukan komposisi dan ketebalan setiap lapisan cat, para ilmuwan menemukan ada beberapa lapisan tipis, satu atau dua mikrometer dan bahwa peningkatan ketebalan lapisan untuk 3-40 mikrometer di bagian-bagian yang lebih gelap dari lukisan itu, yang menyebabkan hampir tidak kelihatan perubahan warna dari terang ke gelap. Hal ini juga menandai adanya satu teknik lukisan yang menggunakan lapisan es, memiliki lapisan yang sangat tipis, untuk membangun bayangan di wajah.

Lukisan da Vinci yang terkenal lainnya adalah Virtuvian Man, masterpiece yang membuktikan kedalaman pengetahuan da Vinci dalam hal anatomi. Gambaran tubuh manusia yang dibuatnya begitu presisi. Bahkan disebutkan bahwa dialah yang menemukan bilangan phi (berbeda dengan pi) yang dikenal sebagai proporsi agung (1.618), bilangan hasil penemuannya dari penelusuran tentang komposisi rangka makhluk hidup. Namun di balik penemuan cemerlangnya itu, ada suatu proses tidak biasa yang berkali-kali dilakukannya. Saat mempelajari anatomi, ia suka pergi malam-malam, membongkar kuburan, dan mengambil mayat orang tidak dikenal yang sudah hampir busuk dan mem­bedahnya. Kadang ia melakukannya di rumah sakit yang memberinya izin. Ia benar-benar ingin tahu mengapa tubuh manusia berbentuk seperti itu. Dengan begitu, ia bisa makin detail dalam membuat lukisannya.

Tak hanya tentang anatomi, dari lukisan-lukisannya, banyak penemuan di bidang keilmuan lain yang dihasilkannya. Sebut saja mesin terbang seperti helikopter, kendaraan dengan pelindung besi (tank), atau kapal yang bisa bergerak di bawah laut. Ia bahkan mendesain manusia mekanik yang dikenal sebagai Robot Leonardo, rancangan “robot” yang sering dianggap robot pertama dalam sejarah. Namun ironi di balik segala kegemilangan penemuan itu, bahwa semuanya hanya sebatas konsep pemikiran, yang kemudian dirancangnya dalam sebuah sketsa dan lukisan. Tak ada satu pun dari konsep-konsep itu yang berhasil diwujudkan secara konkrit. Dia gagal melaksanakan rancangannya, gagal membuat imajinasi yang digagasnya menjadi sebuah realita.

Satu lagi karya besar da Vinci yang tak kalah kontroversialnya, Virgin of the Rocks. Lukisan tersebut merupakan gubahan ulang dari lukisan bertajuk Madonna of the Rocks yang berada di Museum Louvre Paris. Tugas utama da Vinci membuat Madonna of the Rocks datang dari himpunan Confraternity of the Immaculate Conception yang memerlukan lukisan tersebut sebagai penghias bagian tengah altar gereja mereka, San Francesco di Milan. Namun karena hasil akhir Madonna of the Rocks lebih mewakili ide da Vinci yang sedikit "mengganggu" pandangan gereja mereka yang ortodoks, maka lukisan serupa tapi tak sama dibuat ulang, dengan judul Virgin of the Rocks. Lukisan versi kedua itu tentunya dibuat lebih "halus" sesuai dengan kehendak pemesannya.

Masih banyak mahakarya-mahakarya sang maestro yang gemilang dan tak lepas dari kontroversi. Pastinya takkan ada habisnya bila dibahas dan ditelisik lebih dalam. Kekaguman akan selalu menyeruak di tiap sisi kehidupan serta karyanya. Nilai seni yang sangat mendalam, dibalut dengan balutan pemikiran yang luas, dan dibumbui kontroversi-kontroversi yang membuatnya selalu jadi buah bibir. Itulah sang maestro, yang besar dan menginspirasi banyak orang pada generasi-generasi berikutnya, terlepas dari hitam putih kehidupan dan hasil karyanya.

*Bersambung...

Senin, 05 Desember 2011

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

“Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara, semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia adalah permusyawaratan, perwakilan.”

Itulah potongan isi pidato Bung Karno di Rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan pada 1 Juni 1945. Pidato yang diberi judul Lahirnya Pancasila itu menawarkan konsep dasar negara Indonesia merdeka. Konsep yang kemudian (pada tanggal 18 Agustus 1945) disahkan sebagai dasar negara dengan susunan yang sudah kita ketahui bersama. Kutipan di atas adalah potongan isi pidato pada bagian di mana Bung Karno sedang membahas tentang mufakat atau demokrasi. Sila tersebut sekarang dikenal dengan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Sila ini memberi jaminan demokrasi politik bagi setiap warga negara. Yang bila kita kupas lebih dalam lagi, sila ini didasari oleh semangat persamaan dan kebersamaan tiap-tiap warga negaranya. Semua golongan, baik yang nasionalis maupun religius, berhak mengutarakan tuntutan-tuntutannya melalui jalan musyawarah. Dan melalui perjuangan dari perwakilan masing-masing, tuntutan-tuntutan yang disuarakan itu bisa menjadi kenyataan dalam peraturan-peraturan negara yang real. Benarlah jika sistem permusyawaratan perwakilan ini merupakan sistem yang paling tepat untuk tata kenegaraan di Indonesia yang rakyatnya majemuk ini.


Kerakyatan...

Diawali dengan kata kerakyatan. Ini menyimbolkan bahwa negara Indonesia yang diangan-angankan oleh para pendiri bangsa adalah suatu negara dengan sistem kerakyatan, yang mengacu pada kepentingan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di mana semua punya hak bersuara yang sama secara demokratis. Dalam berusaha, semua berjuang bersama dan bersama pula dalam beroleh hasilnya. Semua dilakukan buat satu kepentingan, kepentingan rakyat. Semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.

...yang Dipimpin...

Rakyat Indonesia yang ratusan juta jumlahnya itu haruslah dipimpin. Dipimpin agar rakyat demokrasi yang begitu heterogen ini teratur dengan baik. Setiap golongan punya kepentingan berbeda-beda, bahkan setiap kepala punya keinginan yang berlainan pula. Maka untuk rakyat yang memang tak kuasa mengorganisir kepentingan yang satu dengan lainnya, pemimpin mutlak perlu. Di negara demokrasi, pemimpin ada untuk mewujudkan keteraturan, bukannya untuk mengatur secara otoriter. Untuk itu dalam memimpin, pemimpin harus punya yang namanya hikmat kebijaksanaan.

...oleh Hikmat Kebijaksanaan...

Hikmat Kebijaksanaan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki pemimpin (seharusnya). pemimpin harus cukup pengetahuan untuk melaksanakan penyelenggaraan negara dengan tepat sesuai dengan yang diamanatkan rakyat. Pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan demi kemaslahatan bangsa dan negara. Suatu syarat yang harus dimiliki pemimpin yang baik. Tentunya hanya rakyatlah yang pantas menilai. Atas dasar itulah maka Kepala Negara ditentukan secara demokratis, bukannya turun-temurun sebagaimana sistem monarki, yang hasilnya belum tentu dikehendaki rakyat umum.

...dalam Permusyawaratan...

Musyawarah adalah salah satu ciri kearifan lokal bangsa Indonesia.  Di mana putusan dihasilkan dari proses penyatuan pendapat bersama. Pembicaraan dengan kepala dingin dan hati yang hangat sehingga diperoleh kata mufakat. Sesuai sistem musyawarah, semua golongan berhak memperjuangkan pendapatnya "mati-matian". "Mati-matian" di sini bukan dengan kekerasan atau adu jotos, tetapi dengan argumen. Dengan hasil akhir berupa persetujuan paham, itulah permusyawaratan yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita.

...Perwakilan

Mengingat jumlah rakyat yang ratusan juta ini, sistem permusyawaratan yang dibangun tak mungkin dapat diaplikasikan jika hanya dengan permusyawaratan saja. Perlu ada sistem perwakilan sebagai ikutannya. Rakyat yang banyak ini harus diwakilkan guna mempermudah pelaksanaan permusyawaratannya. Namun wakil-wakil rakyat haruslah ditentukan oleh rakyat yang diwakilkan itu sendiri, yang sesuai dengan harapan rakyat, sesuai dengan hati nurani rakyat. Lagi-lagi harus ditentukan secara demokratis agar memenuhi syarat sebagaimana pemimpin, yakni memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Hanya rakyat yang berhak menentukan.

Itulah sistem politik yang paling pas dan fair alias adil untuk rakyat Indonesia. Seperti yang diamanatkan Bung Karno dalam pidato yang sama, “Dengan cara mufakat kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan dalam Badan Perwakilan Rakyat... Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi Badan Perwakilan Rakyat yang kita adakan diduduki oleh utusan-utusan Islam... Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari Badan Perwakilan Rakyat itu hukum Islam pula... Dalam perwakilan nanti ada perjuangan yang sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah candradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik dalam staat Islam maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada... Di dalam perwakilan rakyat, saudara-saudara Islam dan saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar daripada utusan yang masuk Badan Perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil – fair play!”

Cinta Telah Tiada

Cinta telah tiada
Ketika yang rumit tak mampu dihadapi
Bukankah cinta membuat kita kuat?
Bukankah masalah jadi mudah dijalani dengan cinta?

Cinta telah tiada
Ketika perbedaan tak lagi bersatu
Bukankah cinta tak pandang bulu?
Bukankah tak ada batasan untuk anugerah bernama cinta?

Cinta telah tiada
Ketika penderitaan membawa kesedihan
Bukankah cinta itu menerima apa adanya?
Bukankah keikhlasan hadir atas nama cinta?

Mungkinkah cinta memang benar-benar telah tiada?

(Kupersembahkan untuk sang pecinta)
 

Rabu, 30 November 2011

Lagu Cinta Universal

Satu sisi cinta adalah keagungan. Sisi yang harus diasah lebih dari yang lainnya. Sebuah lagu telah menyadarkan akan keagungan cinta itu. Menggambarkan cinta yang memandang secara menyeluruh. Mengartikan cinta dalam pengertian yang universal. Menegaskan kembali bahwa selain tinggi, cinta itu pun suci.

Flying Without Wings

Everybody's looking for that something
One thing that makes it all complete
You'll find it in the strangest places
Places you never knew it could be

Some find it in the face of their children
Some find it in their lover's eyes
Who can deny the joy it brings
When you've found that special thing
You're flying without wings

Some find it sharing every morning
Some in their solitary lives
You'll find it in the words of others
A simple line can make you laugh or cry

You'll find it in the deepest friendship
The kind you cherish all your life
And when you know how much that means
You've found that special thing
You're flying without wings






 
















So, impossible as they may seem
You've got to fight for every dream
Cos who's to know which one you let go
Would have made you complete

Well, for me it's waking up beside you
To watch the sunrise on your face
To know that I can say I love you
In any given time or place

It's little things that only I know
Those are the things that make you mine
And it's like flying without wings
Cos you're my special thing
I'm flying without wings

And you're the place my life begins
And you'll be where it ends
I'm flying without wings
And that's the joy you bring
I'm flying without wings



~by Westlife

Hidup yang penuh cinta akan menemukan cinta di mana saja kapan saja. Dalam senang cinta adalah anugerah, dalam tangis cinta adalah pelajaran berharga. Hidup diawali dengan cinta dan sudah seharusnya juga berakhir dengan cinta. Perasaan yang siap membuat siapa saja seolah terbang tanpa sayap.

Kejadian

Saya sering berpikir (tepatnya bertanya-tanya) bagaimana seh alam semesta ini diciptakan? Kalau diciptakan, berarti dulunya alam ini sempat ngga ada, dan kemudian diadakan donk? Nah, kalo alam semesta diadakan, berarti ada sesuatu atau hal yang mengadakannya. Lalu bagaimana sesuatu atau hal yang mengadakan itu ada? Pertanyaan yang beranak-pinak dan terus terngiang di benak saya ketika berpikir tentang itu. Ngga pernah ada jawaban ilmiah yang pasti.

Kadang saya bertanya, mungkinkah alam semesta ini ngga pernah diciptakan? Jika demikian, berarti alam ini selalu ada sejak dulu (entah kapan). Benarkan alam ini abadi seperti itu? Bagaimana keabadian itu bisa dijelaskan? Jika ruang alam ini abadi, maka bagaimana dengan waktu? Apakah waktu juga abadi? Lantas bagaimana keberlangsungannya? Pertanyaan yang juga belum bisa terjawab oleh ilmu pengetahuan masa kini. Panjang dan membingungkan.

Ilmu dan filsafat pun belum punya jawaban yang memuaskan tentang kejadian kosmos ini. Jawaban yang belum punya landasan ilmiah yang kokoh. Masih banyak perdebatan, masih banyak pro dan kontranya. Para ilmuan dan filosof belum semuanya sepakat tentang itu. Teori-teori yang pernah mengemuka, secara umum dapat dibedakan menjadi dua. Kaum materialis menyodorkan Teori Materialismenya. Di pihak lain ada Teori Big Bang (Ledakan Besar) yang didukung oleh dalil-dalil agama.

 
Gagasan yang umum di abad 19 adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Inilah yang disebut Teori Materialisme yang juga menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Dalam teori ini, materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan keberadaan apapun selain materi, ditolak. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme Dialektika Karl Marx. Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak berhingga. Konsep yang menyatakan bahwa alam semesta bersifat statis dan bukanlah sesuatu yang diciptakan dari ketiadaan.

Yang masih jadi misteri kemudian selain model keabadian itu sendiri adalah dimensi seperti apa yang bisa melingkupi alam semesta ini sehingga keberadaannya kekal tanpa awal dan akhir? Sebuah tanda tanya besar yang butuh penjabaran panjang dan detail. Paling tidak, saat ini belum ada yang bisa menjawabnya.

Paham yang berseberangan dengan Materialisme yakni Teori Ledakan Besar. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mengalami proses penciptaan. Berawal dari satu titik dengan volume nol dan kepadatan tak hingga, partikel alam semesta kemudian meledak akibat desakan materinya yang tak berhingga padat. Ledakan itulah yang disebut Big Bang sebagai awal dari terciptanya alam semesta. Seiring waktu, alam semesta kian mengembang dalam dimensi ruangnya. Bertolak belakang dengan pemikiran bahwa alam ini statis, penganut teori yang juga dikenal dengan Teori Penciptaan ini meyakini bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Dan sesuai konsep dalam agama-agama, Tuhan dijadikan jawaban atas pertanyaan tentang sebab musabab utama dari proses penciptaan itu.

Jika alam ini berawal dari ketiadaan, maka yang jadi pertanyaan lanjutannya adalah, apakah ketiadaan itu juga memiliki awal sebelum alam materi ini ada? Lalu kapankah awal dari ketiadaan itu? Apakah yang ada sebelum ketiadaan itu ada? Bagaimana pula ketiadaan itu bisa dijelaskan secara ilmiah?

Teori-teori yang saling menentang di atas, keduanya masih memiliki misteri yang memang belum terjawabkan hingga kini. Keduanya masih diembel-embeli pertanyaan yang justru lebih rumit daripada jawaban atas pertanyaan awal, yakni "bagaimanakah kejadian alam semesta ini?"

Rupanya inilah tugas para ilmuan masa kini. Kalau ngga bisa terpecahkan di masa kini, pastinya estafet "kewajiban" untuk menjawabnya mesti diemban oleh ilmuan masa depan. Kalau masih tetap ngga bisa juga (karena mungkin sedemikian sulitnya) biarlah misteri jadi misteri :D
 

Minggu, 10 Juli 2011

Buku Kehidupan

Lewat kamu kukelilingi dunia, kulintasi dimensi ruang dan waktu
Menjadi saksi sejarah dan jelajahi alam semesta kudapati bersamamu
Darimu kukenal orang-orang besar di seluruh muka bumi ini.
Kau buatku saksikan fenomena-fenomena, menyertai jalannya dunia ini


Saya bukan orang yang hobi membaca. Malah kadang membaca jadi sangat menjemukan buat saya. Saya hanyalah orang yang ingin tahu banyak hal dan mudah penasaran. Salah satu cara yang mau ngga mau harus dijalani untuk memenuhi rasa penasaran saya ya dengan membaca. Jadi, suka ngga suka, saya harus membaca supaya tahu.

Buku jadi benda yang penting sebab lewat buku kita bisa tahu banyak hal, seperti yang saya tuliskan di awal postingan ini. Tak hanya penting tapi juga berharga dan perlu dihormati karena salah satu sumber ilmu ya buku. Kalau saya mengartikannya bahwa buku adalah alat penghubung antara Tuhan (Yang Maha-Tahu) dengan manusia, berkaitan dengan penyampaian ilmu pengetahuan-Nya. Singkat kata, ilmu pengetahuan dari Tuhan disampaikan kepada manusia lewat buku.

Selain jadi penghubung manusia dengan Tuhan, buku juga menjadi simbol alam semesta. Buku adalah bagian kisah perjalanan alam semesta yang maha-luas ini. Ringkasan kisah yang diceritakan berdasarkan pengetahuan dan pemahaman manusia. Mengingat alam semesta adalah pengejawantahan Tuhan maka buku pun memiliki peranan yang sama. Alam membuat manusia mengenal Tuhan dan dari alam pula manusia mendapat ilmu-Nya. Sama halnya dengan buku. Alam dan buku memiliki peran yang sama sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhannya.

Buat saya, buku pun tak hanya bisa diartikan secara harfiah. Pengertian buku tidaklah sesempit bahwa buku adalah kumpulan lembar-lembar yang berisi tulisan atau gambar belaka. Saya lebih memaknai buku sebagai segala sesuatu yang bisa membuat kita tahu dan mengerti. Alam sekitar kita, peristiwa yang terjadi sehari-hari, pengajaran yang kita terima dari orang lain, dan lain sebagainya dalam kehidupan ini adalah buku. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan pada hakikatnya adalah buku. Karena dari itu semua kita bisa beroleh pelajaran. Kita pun bisa "membacanya" hanya saja dengan cara yang berbeda. Dan orang-orang yang mau belajar pasti bisa mengambil makna dari buku kehidupannya itu.

Trinitas Duniawi

Kalau istilah trinitas (trinity) dan trimurti sering kita dengar dalam bidang teologi, kali ini agak sedikit beda. Ternyata trinitas juga ada dalam kehidupan kita sehari-hari di dunia ini. Bukan hanya di awang-awang, di surga, di nirwana, di alam pikiran atau apa lah namanya. Tanpa kita sadari, kita sedang "bermain" dalam "aturan" trinitas duniawi ini. Saya sebut dengan trinitas duniawi karena trinitas yang ini berbeda dengan trinitas dalam agama dan teologi.

Sekadar info, trinitas dan trimurti yang mengacu pada konsep Tuhan dalam teologi pada dasarnya adalah tiga sifat/karakter/kepribadian/kekuatan Tuhan dalam satu kesatuan esensi-Nya. Ini adalah soal keyakinan, jadi boleh percaya, boleh tidak. Karena memang ada yang percaya dan ada yang tidak. Tapi bukan itu yang akan ditilik dalam postingan ini. Hanya saja, kata trinitas itu "dipinjam" untuk kebutuhan analogi. Berhubung kata itu sangat populer dan dikenal baik oleh masyarakat.
*Intinya biar postingan ini ikutan tenar alias untuk numpang tenar gitu deh, hehe..

Harta, Tahta, dan Wanita (ataupun Pria). Itulah tiga hal yang telah menjelma jadi trinitas dalam kehidupan manusia. Mungkin sejak dulu, sejak manusia pertama kali ada. Harta, tahta, dan wanita adalah istilah populernya. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan Materi, Prestise, dan Cinta. Karena menurut saya istilah itu lebih general. Menjadi sebuah kewajaran ketika manusia memang berlomba-lomba untuk mendapatkannya (sebanyak-banyaknya). Karena lagi-lagi memang manusia diciptakan dengan dilengkapi kebutuhan-kebutuhan akan ketiga hal itu.



A. Materi

Untuk bertahan hidup, kita butuh materi berupa makanan, uang, dan sarana penunjang kehidupan. Kalau zaman dulu, makanan didapat dari berburu, bercocok tanam, dan saling barter. Malah untuk dapat makanan pun, semua membutuhkan benda/alat/materi (berupa senjata untuk berburu, peralatan untuk cocok tanam, ataupun benda lain untuk dibarter) dan begitu seterusnya.
*Mungkin ada juga seh orang-orang purba yang mungut makanan di hutan atau tinggal nyolong makanan tetangga, jadi ngga pake alat apa-apa, hehe.

Sekarang, karena "aturan permainannya" sudah beda, kita butuh uang untuk bisa makan. Untuk dapetin uang, kita perlu kerja menggunakan berbagai sarana (materi). Aturan mainnya memang beda tapi pada dasarnya, tetap, kita butuh materi untuk menghasilkan materi.
*Pengecualian untuk yang dapet uang dari hibah, sedekah, pemberian orang lain, ato ngemis ya, hehe. But basicly, materi adalah kebutuhan primer dalam hidup.

Ngga cuma sampai di situ. Materi ini juga banyak mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya. Meskipun memang ada parameter lainnya, tapi peran materi cukup dominan. Mulai dari memilih sekolah sampai memilih pekerjaan. Dan mungkin masih banyak lagi pilihan-pilihan manusia yang dipengaruhi oleh materi ini.

Selain untuk beroleh ilmu, sekolah juga diproyeksikan untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya (di masa depan). Bahkan mungkin lebih banyak orang yang sekolah hanya berorientasi untuk uang (materi) ya, hehe.  Itu wajar lah karena manusia memang butuh yang namanya uang. Dalam hal memilih pekerjaan pun sudah jelas bahwa penghasilan (materi) yang akan didapat, menjadi salah satu hal utama yang berpengaruh. Itu  juga wajar-wajar saja selama ngga kebablasan.

Materi ini sangat bermanfaat jika dijadikan sebagai motivasi positif. Orang jadi giat bekerja dan berdaya upaya untuk meningkatkan produktivitas dirinya. Tak hanya bermanfaat buat dirinya, tapi juga lingkungan kerja dan masyarakatnya. Orang-orang pun jadi lebih memilih sekolah ketimbang menganggur di rumah yang buntut-buntutnya cuma bisa jadi "sampah masyarakat" alias merugikan orang lain. Pilihan positif ini pun akhirnya akan meningkatkan kualitas dan taraf hidup seseorang. Karena bagaimana pun juga, bagi orang-orang yang berkecimpung di sekolah atau dunia kerja, selain mendapat output berupa materi, pasti ada juga ilmu yang "kecantol" di dalamnya.

Tapi materi ini pun bisa berbahaya. Untuk orang-orang yang ngga siap dengan tuntutan hidup, akan mudah tergoda untuk melakukan tindak pelanggaran. Mencuri dan merampok pun akhirnya jadi pilihan mereka. Waspadalah!! Waspadalah!! Selain itu, Sudah bukan rahasia lagi bahwa ijazah instan bisa diperoleh di beberapa sekolah atau perguruan tinggi. Bukan rahasia juga kalau orang berbondong-bondong untuk korupsi hanya demi uang. Dan masih banyak lagi bukan rahasia-bukan rahasia lainnya, hehehe. Itulah bahayanya bila keinginan yang berlebihan akan materi hingga menimbulkan sikap tamak. Hmm, itu baru ngga wajar..


B. Prestise

Setiap orang menginginkan kebanggaan dalam dirinya. Kebanggaan ini tak hanya yang terkait materi saja, tapi terlebih-lebih yang bersifat pengaruh. Tahta, pangkat, jabatan, gelar, dan kecerdasan merupakan beberapa kebanggaan yang diidam-idamkan setiap orang. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan gengsi dan percaya diri seseorang di hadapan orang lain.

Namun akan menjadi mudarat bila gengsi itu telah menjadi berlebihan sampai-sampai menyebabkan kesombongan. Di mana orang yang berpangkat dan jabatan tinggi akan menganggap rendah orang lain yang berada di bawahnya. Tak jarang ini berujung pada sikap sewenang-wenang terhadap orang lain. Tak heran jika timbul perpecahan antara golongan atas dan golongan bawah. Dan dalam hal bernegara, ini sering mengakibatkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin-pemimpinnya.

Orang-orang yang cerdas dan punya gelar tinggi pun kerap bersikap angkuh kepada orang lain. Tentu ini dikarenakan tidak cukup bijaknya seseorang dalam mengelola gengsinya itu. Mereka kadang memandang sebelah mata orang lain dan kerap dengan sengaja menunjukkan kehebatannya untuk tujuan pamer. Bukankah lebih baik jika kecerdasan seseorang itu disertai sikap rendah hati :)

Tak melulu berefek negatif, prestise ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya semua bergantung kepada kebijaksanaan dari si empunya prestise itu. Dengan kebijaksanaan, seseorang bisa mengarahkan prestise yang dimilikinya ke arah yang jauh lebih baik. Seorang pejabat yang bijak, misalnya, akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan orang banyak. Dengan itu, seorang yang menjabat sebagai pemegang kendali pemerintahan dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.

Masih banyak lagi contoh manfaat positif lain dari prestise yang diarahkan dengan baik. Misalkan prestise dalam bentuk kecerdasan. Dengan kecerdasannya, orang yang bijak tak akan lekas sombong. Justru dia akan meningkatkan penghidupan orang banyak dengan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dengan menyumbangkan penemuan atau pemikirannya, tanpa diberi embel-embel keangkuhan :)


C. Cinta

Cinta adalah hal ketiga yang paling berpengaruh dalam hidup manusia. Manusia terlahir karena adanya cinta antara sang ayah dengan sang ibu. Manusia mencari nafkah karena cinta, yakni untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang dicintainya. Karena cinta, apa saja bisa dilakukan. Sejarah pun sudah membuktikan bahwa banyak kejadian maha-dahsyat yang terjadi hanya karena alasan cinta. Taj Mahal di India dibangun oleh Mumtaz Mahal, Kaisar Shah Jahan atas dasar cinta kepada mendiang istrinya.

Tapi cinta bisa berbuah kebencian. Tak jarang kita temui perkelahian karena cinta. Misalnya cinta segitiga. Berita kriminal di koran maupun televisi pun sering memuat tindakan amoral yang terjadi karena cinta. Pemerkosaan, serta pembunuhan karena cinta yang ditolak. Contoh-contoh peristiwa tersebut menggambarkan betapa besarnya pengaruh cinta dalam hidup manusia. Bisa positif, bisa juga negatif.

Cinta adalah gabungan kasih sayang dan nafsu birahi. Dalam kasih sayangnya cinta ada keinginan untuk berbagi dan saling memberi. Dalam hal itulah cinta mengambil peran yang baik dalam kehidupan manusia. Cinta berbagi tanpa syarat terhadap apa yang dicintainya. Tanpa harap menerima apapun, cinta bahkan memberi segalanya demi sesuatu yang dicintainya. Salah satu contoh nyata yang telah terjadi adalah bahwa Kaisar Shah Jahan telah membangun Taj Mahal yang sampai kini menjadi salah satu keajaiban dunia. Atas dasar cinta, Taj Mahal berdiri. Maka karena cinta pula keajaiban itu tercipta.

Cinta pun bisa membangkitkan semangat yang tiada taranya. Semangat kerja orang tua untuk mencukupi nafkah bagi keluarga tercinta. Semangat belajar anak-anak untuk membahagiakan orang tua yang dicintainya. Dan semangat juang seorang kekasih untuk mendapatkan cinta dari pasangannya. Dalam banyak hal kekuatan cinta yang penuh kasih sayang telah memberi efek positif.

Namun jika cinta yang ada lebih dikuasai nafsu birahi maka contoh terakhirlah yang terjadi. Nafsu untuk menguasai orang lain menyebabkan adanya harapan yang membumbung tinggi dan tak terkendali. Dan sekali saja harapan yang dipenuhi nafsu itu tidak terpenuhi, maka implikasi negatif lah yang terjadi. Kebencian. Ketika seseorang tak kuasa mengontrol nafsu berlebihannya, sudah pasti tindakannya tak dilandasi akal sehat. Pada akhirnya, terjadilah tindakan keji yang sebenarnya tidak diinginkan oleh kesadaran seseorang.


Satu hal yang bisa diambil adalah bahwa Trinitas Duniawi (Materi, Prestise, dan Cinta) itu penting karena memang tak bisa dipungkiri bahwa itu merupakan kebutuhan hidup manusia. Namun penting juga bagi kita untuk mengetahui pengaruh positif maupun negatifnya. Dalam aplikasinya, kita harus bisa mengembangkan segi positif, sekaligus menekan sisi negatifnya. Agar materi yang kita punya dapat bermanfaat, prestise yang kita miliki bisa berguna, dan cinta yang ada selalu teratur, berimbang, dan berbuah kebaikan.

Sabtu, 25 Juni 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian III (Maradona)

Buat saya, seni itu universal. Tak terbatas pada musik, lukisan, atau syair. Seni adalah segala kreativitas yang menghasilkan keindahan. Maka selain seniman musik dan penyair yang telah kita bahas kontroversinya, kini ada seniman lapangan yang tak kalah menggemparkan dunia. Baik dari prestasi maupun kontroversi.


C. Maradona

Siapa yang tak kenal pemain bola yang satu ini. Seniman lapangan hijau yang lahir di Buenos Aires, Argentina, 30 Oktober 1960 dengan nama Diego Armando Maradona. Sejak usia 10 tahun, bakat sepak bolanya sudah terlihat. Dimulai dengan bergabung di klub Argentinos Juniors, ia pun menjadi maskot klub tersebut dan diberi julukan Los Cebollitas (Bawang Kecil). Sejak itu prestasinya terus meningkat hingga pada tahun 1981, ia dibeli klub Boca Juniors seharga 1 juta poundsterling di mana klubnya menjadi juara liga untuk pertama kalinya.

Setelah Piala Dunia 1982, ia kemudian ditransfer ke FC Barcelona dengan harga 5 juta pounsterling, yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Di sana bersama pelatih César Luis Menotti, Maradona memenangkan Copa del Rey, mengalahkan musuh bebuyutan Barcelona, Real Madrid, dan Piala Super Spanyol, mengalahkan Athletic de Bilbao. Pada tahun 1984 Maradona ditransfer ke SSC Napoli dan mencapai puncak kariernya dalam sepak bola di mana ia membawa tim tersebut menjadi juara Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah Napoli. Musim 1988-1989, Napoli mengalahkan VFB Stuttgart untuk menjadi juara Piala UEFA. Maradona menjadi pencetak gol terbanyak dalam Liga Italia Serie A dengan 15 gol. Maradona juga meraih penghargaan Guerin d'Oro sebagai pemain dengan rating terbaik menurut majalah Italia, Guerin Sportivo.

Di kancah internasional, Maradona memulai debutnya pada usia 16 tahun saat Argentina melawan Hongaria pada 27 Februari 1977. Pada usia 18 tahun Maradona berpartisipasi dalam Piala Dunia Junior yang diselenggarakan di Jepang, di mana Argentina sempat berhadapan dengan Indonesia dan menang dengan hasil 5-0. Maradona mencetak 2 gol bersama Ramón Díaz yang mencetak hattrick. Pertunjukan kehebatan Maradona yang ketika itu ditunjuk menjadi kapten tim adalah pada saat berlangsungnya Piala Dunia 1986 di Meksiko, di mana hampir sendirian ia mengantarkan Argentina keluar sebagai Juara Dunia untuk kedua kalinya, setelah yang pertama pada tahun 1978 di Argentina sendiri. Pada Piala Dunia di Meksiko tersebut, Maradona membuat gol terbaik sepanjang masa versi FIFA yaitu ketika Argentina bertemu Inggris di babak perempat final. Pada saat itu Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati 5 orang pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Semua itu dilakukan Maradona hanya dalam rentang waktu kurang lebih 10 detik.

Prestasi gilang gemilangnya berimbang dengan catatan-catatan buruknya. Kebiasaannya mengonsumsi kokain dan doping menyebabkan kariernya menurun di tahun 1990-an. Bahkan di saat Piala Dunia 1994 sedang berlangsung, ia diberi sanksi larangan bertanding selama 15 bulan karena diketahui doping. Maradona kemudian sempat menyangkal dirinya sengaja memakai doping dan menuduh adanya konspirasi melawan dirinya oleh Amerika Serikat. Keluarnya Maradona secara tak hormat berimbas buruk pula pada prestasi Argentina pada waktu itu. Raksasa sepak bola tersebut hanya mampu bertahan di turnamen hingga putaran kedua, setelah dikalahkan Rumania dengan skor 3-2. Dengan serangkaian prestasi buruk di akhir-akhir karier sepak bolanya, pemain eksentrik itu akhirnya gantung sepatu pada 30 Oktober 1997.


Namun dari sekian banyaknya buah bibir yang heboh atas ulahnya, peristiwa "Gol Tangan Tuhan" adalah yang paling fenomenal. Sampai-sampai di setiap perhelatan Piala Dunia, peristiwa itu tetap saja jadi perbincangan. Gol kontroversial yang disarangkan Maradona ke gawang Inggris pada pertandingan perempat final, 22 Juni di Piala Dunia Meksiko 1986.  Gol yang dicetak dengan menggunakan tangan itu terjadi di Estadio Azteca, Mexico City. Gol tersebut tercipta di menit ke-51 pada pertandingan yang sama ketika dia mencatatkan gol terbaik sepanjang masa. Sungguh ironis karena prestasinya dengan gol terbaik beriringan dengan kontroversi gol tangan Tuhannya. Sayangnya, teknologi saat itu belum secanggih sekarang, sehingga golnya kurang teramati dengan jelas. Wasit asal Tunisia yang memimpin pertandingan pun mengesahkan gol meski beberapa pemain Inggris memprotes masalah ini.

Berkat keajaibannya itu, El Pibe de Oro alias The Golden Boy (julukannya) sangat dielu-elukan oleh para pengagumnya. Bahkan untuk sebagian yang fanatik terhadapnya, tak jarang pemain bertubuh gempal yang kerap dipanggil El Diego ini, disebut sebagai Tuhan Diego. Hingga saat ini begitu banyak kontroversi yang menyelingi pencapaiannya di dunia sepak bola. Prestasinya paripurna dengan terpilihnya ia bersama Pele sebagai pemain terbaik abad ini. Dalam jajak pendapat, Maradona unggul dengan 53,60% sedang Pele di posisi kedua dengan 18,53%. Namun tetap saja, prestasi luar biasanya itu diikuti pro konta atas dirinya yang menolak Pele dimenangkan bersama-sama dengannya. Atas unggulnya Maradona di jajak pendapat, FIFA kemudian memutuskan membentuk Komite Sepak Bola yang menetapkan Pele juga sebagai juara. Maradona yang tak terima langsung meninggalkan acara penghargaan itu setelah menerima trofi dan sebelum Pele naik ke podium.

Di atas segala kekurangan dan kelebihannya, Diego Maradona telah dan memang layak dicatat sebagai legenda dalam sejarah, khususnya di bidang olah raga. Pencapaiannya yang fenomenal bisa jadi pelajaran dan inspirasi generasi penerusnya. Di balik itu, segala kontroversinya dapat dijadikan cerita yang tak pernah menjemukan sebagai warna lain dalam euforia sepak bola dunia.

*Bersambung...

Sabtu, 18 Juni 2011

Persatuan Indonesia

Kita semua tahu bahwa kita (baca: Indonesia) ini kaya. Tanah kita kaya, air kita pun kaya. Sampai-sampai ada lagu yang bilang kalau tanah kita ini tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, dan perairan kita bukanlah lautan melainkan kolam susu, katanya. Udara kita pun sebenarnya kaya raya. Sampai saat ini kita masih jadi paru-parunya dunia. Dan kabar baiknya, penduduk kita juga kaya-kaya lho, hehe. Maksudnya, populasi penduduk kita yang kaya, alias jumlahnya banyak. Saat ini kita berada di urutan keempat dunia dalam hal jumlah penduduk. Satu lagi nih dari sekian banyak kekayaan kita yakni kebudayaan. Dari budaya lemah lembut ala Jawa, sampai budaya yang tangkas ala Papua, semua ada di negeri kita.

Karena kekayaan yang luar biasa itu maka keaneka-ragaman pun tumbuh pesat di negeri kita ini. Dan bahwa keragaman itu pasti adanya, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Negeri kita dihampari ribuan pulau dan tentunya terpisahkan selat dan laut yang tak kecil. Itu menyebabkan satu wilayah cukup susah untuk mengakses wilayah lain, termasuk dalam hal informasi. Itulah salah satu faktor yang memperuncing perbedaan antara yang satu dengan lainnya. Mungkin sekarang mandegnya arus informasi sudah bisa teratasi dengan kemajuan teknologi yang ada. Ini bisa jadi angin segar untuk saling mengakrabkan semua hal yang beda di negeri ini. Paling ngga, biar tahu sama tahu lah. Karena tak kenal maka tak sayang bukan?

Jadi teringat kata-kata Bung Karno, "Bentuk negara kesatuan adalah tepat untuk kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan."
 

Mungkin itulah salah satu yang melatar-belakangi munculnya ide sila ketiga, "Persatuan Indonesia". Karena keragaman dan perbedaan sudah menjadi hal yang mau tak mau pasti ada, suka tak suka tapi niscaya, maka persatuan adalah pilihan yang tepat untuk menjembataninya. Ada sebagian orang yang "malas" untuk bersatu, maka mereka sekuat tenaga membendung perbedaan dengan caranya sendiri. Bentrok di mana-mana. Antar-suku berperang, antar-agama bertikai, daerah yang satu mencerca daerah yang lain, bahkan antar-kampung dan sekolah pun tawuran.

Padahal para pendiri bangsa sudah mewariskan amanat Persatuan Kebangsaan kepada kita. Dari azas yang merupakan turunan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab itu, segala sesuatu yang ada di bumi Indonesia diamanatkan untuk bersatu dalam Persatuan Indonesia. Semua daerah harus bersatu dalam Persatuan Indonesia. Setiap suku yang hidup di negeri Indonesia harus bersatu dalam Persatuan Indonesia. Setiap agama yang berkembang di ibu pertiwi ini harus bersatu dalam Persatuan Indonesia. Tiap-tiap partai dan organisasi yang meramaikan kehidupan sosial politik negara ini harus bersatu dalam Persatuan Indonesia. Dan segala apapun yang ada di bawah panji Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bersatu dalam Persatuan Indonesia.

Harus, karena tanpa adanya rasa "satu" itu, selamanya kita akan berpecah belah. Alih-alih hidup dalam damai, yang ada malah kekacauan, kerusuhan, pertikaian, dan perang saudara (semoga saja itu ngga terjadi lagi). Mungkin lagi-lagi karena terbatasnya informasi yang menyebabkan tiap-tiap golongan, keras atas egonya masing-masing. Atau mungkin (karena ego yang keras itu) justru kita yang jadi "malas" mengakses informasi yang sebenarnya sudah ada untuk kita. Maka menghayati arti Persatuan Indonesia dalam kehidupan sangatlah penting. Paling tidak untuk menggerus egoisme yang memicu perpecahan di antara kita.

Salam Persatuan!

Jumat, 03 Juni 2011

Tuhan Adalah Tuhan

Tuhan adalah Tuhan. Sebenarnya tak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan apa itu Tuhan. Sebab dengan memberi definisi, kita hanya akan membatasi Tuhan itu sendiri dengan definisi yang kita buat. Maka pencarian akan Tuhan belum juga usai sejak dulu sampai kini, dan entah mau sampai kapan lagi. Mungkin takkan pernah usai.

Memang kita hanya bisa mencari tanpa bisa menemukan-Nya. Kita hanya mampu mendekati tanpa mampu menyentuh-Nya. Karena Dia di luar kata-kata, di luar materi, dan di luar segala yang terpikirkan. Pikiran yang tertuang (salah satunya dalam tulisan ini) hanya sekadar untuk mendekati-Nya lewat logika manusia saja. Karena manusia dibekali dengan logika, manusia bisa saja membuat pendekatannya masing-masing.


Ada sebagian yang menggunakan logika sederhana untuk memahami Tuhan. Mereka menggambarkan Tuhan layaknya manusia, yang memiliki bentuk fisik, bisa terlihat, dan bertempat di ruang yang tinggi layaknya pemimpin. Analoginya bisa dipahami karena memang Tuhan adalah Pemimpin di atas pemimpin. Ada juga yang mendekati-Nya dengan logika yang lebih rumit. Bahwa Tuhan adalah konsep dari sebuah mekanisme alam semesta (fisik maupun nonfisik) yang melingkupi segala sesuatu dan terejawantahkan di dalamnya. Pemahamannya karena Tuhan itu tidak mungkin terbatasi oleh ruang dan waktu.

Dalam konteks pemahaman Tuhan yang layaknya manusia (secara fisik), maka dikatakan bahwa Dia bukanlah laki-laki dan bukan pula perempuan. Di lain pihak, lewat kacamata yang lebih spiritual, Tuhan dihayati sebagai integrasi dari segala dualisme kehidupan ini. Dia bersifat mutlak.

Dari kedua pendekatan itu, kita bisa melihat semangat yang sama, roh yang sama, spirit yang sama. Bahwa Tuhan tidak terbagi dalam pihak-pihak. Yang diwakilkan dalam pernyataan bahwa Tuhan bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Kalimat simbolis yang kemudian menyiratkan makna bahwa Tuhan bukan juga kanan bukan kiri, bukan juga hitam bukan putih, bukan juga nyata bukan maya, selain bukan laki-laki dan bukan perempuan tadi. Pada dasarnya kalimat itu adalah pesan umum bahwa Tuhan bukanlah bagian dari segala dualisme.

Berangkat dari inti pemahaman yang sama pula maka para mistikus melalui pandangan spiritualnya menyatakan bahwa Tuhan adalah integrasi dari segala dualisme. Penyatuan dari segala yang mendua (berpihak-pihak). Maka dalam Tuhan, tak ada lagi kanan tak ada lagi kiri, tak ada hitam tak ada putih, tak ada nyata tak ada maya, pun tak ada laki-laki dan perempuan. Pada hakikatnya, dalam Tuhan tak ada lagi segala dualisme. Semua tercerap dalam satu. Bahwa Tuhan itu mutlak. Maka jelas bahwa dari pola pikir yang berbeda itu ditemukan pengertian yang sama, kendati dengan penyampaian yang berlainan.

Inilah mungkin maksud dari petuah bijak yang mengatakan bahwa ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada, kita akan senantiasa kembali kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali. Baik jiwa raga, maupun dalam pola pikir dan pemahaman.

Kamis, 02 Juni 2011

Konservasi Air Tanah dengan Sistem Drainase Berpori

Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi makhluk hidup. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan air, masyarakat pun mengeksploitasinya dengan cara membuat sumur-sumur aquifer. Namun tingginya intensitas pemompaan air tanah dengan pembuatan sumur-sumur aquifer dapat berdampak buruk juga bagi masyarakat dan lingkungannya. Secara teknis dampak pemompaan air tanah yang berlebihan adalah terjadinya intrusi air laut, penurunan tanah, penurunan muka air tanah, kekeringan, dan penurunan kualitas air tanah.

Oleh karena itu, pemakaian air tanah haruslah dibarengi dengan konservasi atau pelestarian sumber daya air tanah tersebut. Upaya pelestarian tersebut dapat dilakukan lewat dua arah. Masyarakat sebagai pengguna maupun air tanah itu sendiri sebagai objeknya. Pemakaian air tanah oleh masyarakat mesti dilakukan secara hemat dan efisien. Adapun ketersediaan air tanah juga harus dijaga dari kelangkaan.
Pada dasarnya, konservasi untuk menjaga ketersediaan air tanah ini dilakukan dengan meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah. Cepat lambatnya infiltrasi air oleh oleh tanah dipengaruhi oleh beberapa hal sebagaai berikut:

1. Tekstur Tanah
Semakin halus tekstur tanah (tekstur liat) maka semakin banyak air yang diadsorpsi oleh tanah. Dan sebaliknya semakin kasar tekstur tanah (tekstur pasir) maka semakin sedikit air yang diadsorpsi. Hal ini disebabkan karena makin halusnya tekstur tanah, semakin luas permukaannya sehingga kapasitas simpan airnya bertambah banyak.

2. Struktur Tanah
Tanah yang berstruktur granular atau lebih terbuka akan menyerap air lebih cepat daripada tanah yang berstruktur lebih rapat (liat). Hal ini terjadi karena tanah yang lebih terbuka memiliki luas permukaan lebih besar sehingga kapasitas simpanan airnya lebih banyak.

3. Kedalaman Tanah (Solum)
Kedalaman tanah menentukan banyaknya air yang dapat diserap tanah. Makin dalam kedalaman tanah maka akan semakin banyak jumlah air yang dapat diserap. Sebaliknya bila kedalaman tanah dangkal maka jumlah air yang dapat diserap semakin sedikit. Ini berkaitan pula dengan luas permukaan tanah sebagai bidang penyerapan air.

4. Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air yang tinggi. Bahan organik dapat menyerap air sebesar dua sampai tiga kali beratnya. Pengaruh bahan organik ini dapat mengurangi aliran permukaan, peningkatan infiltrasi, dan pemantapan agregat tanah.

Berdasarkan poin-poin di atas maka dapat disimpulkan bahwa secara umum, laju infiltrasi (penyerapan) air ke dalam tanah dipengaruhi oleh luas permukaan tanah dan kandungan bahan organik tanah. Maka dalam upaya mempercepat penyerapan air dalam rangka konservasi air tanah, perlu dibuat sebuah sistem yang setidaknya mengakomodir kedua hal tersebut.

Salah satu hal yang dapat dilakukan yakni dengan membuat sistem drainase berpori. Khususnya di daerah perkotaan yang lahan hijau untuk penyerapan airnya terbatas, sistem ini dapat diaplikasikan. Drainase berpori ini sama seperti saluran drainase biasa. Namun di tengah-tengah saluran diberi lubang kecil yang langsung ditembuskan ke dalam tanah. Lubang dibuat dengan diameter kurang lebih 10 cm dengan kedalaman sekitar 1 m. Hal tersebut dilakukan untuk memperluas permukaan tanah dan sekaligus memperluas bidang penyerapan pada tanah.


Setiap jarak 1 m sampai 2 m pada saluran drainase, dibuat lubang yang sama. Setiap lubang diisi dengan bahan organik secara berkala. Bahan organik sebagai pengisinya dapat berupa kompos yang dibentuk dari dedaunan dan alang-alang yang tentunya mudah diperoleh. Kompos berguna sebagai katalisator penyerapan air. Kemudian lubang tersebut diberi tutup dari kawat kasa yang dapat dibuka sewaktu-waktu. Hal ini dilakukan agar lubang tidak kemasukan sampah.

Dengan adanya lubang-lubang peresapan di saluran drainase diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air tanah. Sistem saluran drainase berpori ini selain berguna untuk menambah kandungan air di dalam tanah, juga dapat bermanfaat sebagai pengendali banjir. Di mana banjir biasanya disebabkan oleh luapan air dari saluran yang tak dapat tertampung secara optimal. Maka dengan melubangi saluran sampai tembus ke tanah, selain berfungsi mengalirkan air, saluran tersebut akan berfungsi juga sebagai tempat peresapan air. Dengan demikian, laju infiltrasi dan perkolasi air tanah dapat ditingkatkan.

Note: 
Tulisan itu sebenarnya tugas kuliah yang saya posting ke blog. Tujuan awalnya sih buat nge-rame-in blog aja. Syukur-syukur kalau ada manfaatnya buat yang baca :D

Rabu, 25 Mei 2011

Pencerahan

 
Lukisan di atas adalah lukisan yang saya hadiahkan kepada kakak saya saat peringatan ulang tahunnya. Tanpa tahu siapa pembuatnya, lukisan tersebut langsung menarik perhatian saya ketika pertama melihatnya. Mungkin karena tertarik dengan coraknya, atau juga karena rasa seni yang saya miliki, tanpa tersadari bisa langsung menemukan maknanya. Yang jelas ada sesuatu yang membuat saya menjatuhkan pilihan kepada lukisan itu dibanding lukisan-lukisan lain yang saya lihat.

Setelah membeli dan membawanya pulang, saya memperhatikan lagi lukisan itu dalam-dalam. Bukan bermaksud untuk memberi makna, tapi untuk menyerap makna dari lukisan yang menarik hati itu. Dan tak salah lagi, setelah menyelami dan mencoba menjadi subjek atas lukisan tersebut, saya berhasil menangkap esensi dari kumpulan warna yang membentuk lukisan maknawi itu. Saya pun coba merekonstruksikan prosesinya untuk menyempurnakan apa yang saya tangkap dari lukisan tersebut.

Maka "Pencerahan" adalah kata yang paling tepat untuk saya merepresentasikan lukisan itu. Judul yang singkat namun padat makna. Mencerminkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan dalam segala hal, baik itu kehidupan maupun dalam hal spirit. Dari sekian banyak warna yang tercerap di atas kanvasnya, namun goresan putihlah yang menjadi akhir prosesi pelukisan itu. Goresan yang kemudian dilingkari seolah menegaskan bahwa putih itulah yang membuat lukisan tersebut menjadi paripurna.

Pada lapisan paling awal, kanvas dibubuhi warna gelap yang kemudian dilapisi lagi oleh warna yang lebih terang di atasnya. Hingga diakhiri dengan memberikan warna putih (paling terang) di bagian teratas. Ini menunjukkan bahwa proses penciptaan lukisannya pun merupakan proses "pencerahan" bertahap. Makna esensial yang sangat dalam dari lukisan yang terlihat sederhana. Mengandung semangat perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Pantaslah jika lukisan tersebut saya wakilkan dengan sebuah kata (yang juga) sederhana namun sarat makna, "PENCERAHAN"
 

Minggu, 22 Mei 2011

Berani Berbuat, Berani Bertanggung Jawab

Sangat disayangkan ketika superter bola di Indonesia pada anarkis. Gara-gara ngga bisa legowo menerima hasil pertandingan, para suporter yang ngga sportif itu baku hantam dan baku lempar. Bukan hanya peristiwa ricuhnya yang disayangkan, tapi juga kenyataan bahwa ternyata masyarakat kita (dalam hal ini para suporter bola) masih belum bisa menerima kenyataan. Banyak yang masih belum bisa menerima kekalahan sebagai bentuk sportivitas dalam permainan atau pertandingan. Bahwa memang kalah menang itu kan wajar. Itu saja baru dalam hal olahraga, pertandingan sepak bola. Bagaimana jika sikap ngga mau kalah itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang lebih luas ya? Bisa kacau balau negara kita ini. Sedikit-sedikit bentrok, sedikit-sedikit bentrok, ckckck...

Alasan klasik yang mendasari fenomena kericuhan itu ngga jauh-jauh dari pendidikan formal. Pendidikan yang kurang, menyababkan orang-orang jadi ngga logis dalam menyikapi masalah. Ya, bisa dipahami lah, bahwa pendidikan menjadi salah satu penyebabnya. Tapi apa jadinya jika yang ricuh kemudian adalah orang-orang berpendidikan? Seperti belakangan ini, anggota dewan pun pada ricuh. Dan kasus kericuhan yang terbaru justru terjadi pada kongres PSSI, Jumat 20 Mei di Jakarta lalu.

Nah lho, orang-orang yang notabene pinter nan berpendidikan itu juga pada ricuh. Sepertinya bukan lagi pendidikan yang mesti dijadikan "kambing hitam". Tapi lebih-lebih kepada penghayatan dalam mengaplikasikan nilai pendidikan yang dimiliki itu. Karena buktinya banyak orang pinter yang ngga bisa mengaplikasikan kepintarannya dengan pinter juga. Hingga bukan lagi otak yang dipake, tapi otot, hehe...

Sekali saja kita kehilangan pengahayatan terhadap apa yang ada dalam akal sehat kita, maka pengelolaan terhadap masalah kita akan tidak terkontrol lagi. Nah orang yang ngga bisa mengelola permasalahannya secara logis akan melampiaskannya dengan emosi sebagai bentuk pengalihan. So, kita semua, baik yang berpendidikan maupun ngga berpendidikan (secara formal) nampaknya perlu cooling down sejenak untuk menghayati akal sehat yang kita miliki (seberapa pun kecilnya).


Ngomong-ngomong soal kisruh di kongres PSSI nih. Adegan yang memenuhi pemberitaan belakangan karena kehebohannya itu ngga hanya mencoreng nama baik kita sebagai bangsa yang (mencoba untuk) beradab, tapi juga berbuah sanksi logis dari FIFA (Federation International Football Association). Bukan cuma memberi sinyal kepada dunia bahwa mentalitas bangsa kita masih buruk, kisruh yang terjadi itu pun bisa-bisa memperburuk prestasi persepak-bolaan kita di ajang internasional. Betapa tidak, dengan kekacauan yang kita buat sendiri, kita bisa terkena larangan bertanding di ajang internasional minimal selama satu tahun.

Wah, wah, kalo begitu ceritanya, Indonesia bisa terkucil tuch di kancah sepak bola internasional. Ngga bisa ikut SEA games yang sebenarnya jadi target utama untuk meraup prestasi. Tentunya kita semua sangat kecewa. Tapi apa boleh buat. Kalau kita berani bikin kisruh, kita pun harus berani menerima konsekuensinya. Biar ini jadi pelajaran buat kita semua. Khususnya buat yang pada doyan bikin kisruh :p

Sabtu, 21 Mei 2011

Yang Kontroversi yang Melegenda - Bagian II (Al-Hallaj)

Tak hanya dari barat, kontroversi pun datang dari timur. Masih dalam karya seni yang "bersebelahan" dengan John Lennon sebagai musisi yang menulis syair-syair dalam lagunya. Kali ini angin kontroversi dihembuskan oleh seorang penyair yang tak diragukan lagi kemampuannya. Penyair sufi yang seolah mampu memberi roh pada setiap karya-karyanya. Hidup di masa jauh sebelum kontroversi Lennon mendunia, yakni pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi.


B. Al-Hallaj

Husain ibn Mansur al-Hallaj. Itulah nama aslinya. Sama-sama sebagai seniman, seperti halnya John Lennon, Al-Hallaj pun menebar pro kontra lewat pernyataan kontrasnya. Namun dengan latar zaman dan konteks yang berbeda dengan apa yang kemudian dinyatakan oleh Lennon.

Al-Hallaj terkenal dengan statement-nya yang dengan lantang mengatakan, "Ana al-Haqq" atau "Akulah Kebenaran Mutlak" atau "Akulah Allah (Tuhan)".

Sebuah kalimat yang pada akhirnya mengantarkannya kepada eksekusi kematian yang brutal di tiang gantungan itu, lekas saja menimbulkan berbagai pemahaman bagi masyarakat yang mendengarkannya kala itu. Khususnya bagi masyarakat muslim Persia. Selain "Ana al-Haqq", banyak lagi ucapan-ucapan tak biasa yang keluar dari mulut Al-Hallaj sendiri.


"Bunuhlah aku wahai sahabat setiaku. Karena dalam kematianku, di sanalah kehidupan sejati..."

"Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, Al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Itulah potongan kata-kata dalam syair sufistik terkenalnya yang memang tidak mudah diterima oleh pemahaman umum. Bagi sebagian ulama muslim, pernyataan-pernyataan yang dikemukakan Hallaj baik dalam pembicaraan maupun syair-syairnya itu adalah bid'ah (melawan ajaran asli suatu agama). Sebab menurut mereka, Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah. Apalagi Hallaj secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah Tuhan. Di samping itu, menurut para ulama penentangnya, menolak kehidupan (seperti yang dilakukan Al-Hallaj) berarti telah mengingkari takdir Tuhan. Hallaj pun dinyatakan sebagai pembangkang.

Ada yang menjustifikasinya sesat, ada pula yang memujinya setinggi langit. Khususnya ulama-ulama dari kalangan sufi dan pengikutnya. Bagi mereka, Hallaj telah mencapai sesuatu yang dinamakan penyatuan kesaksian dengan Tuhan, di mana hijab (tirai) yang menutupi rahasia Ilahi telah tersingkap untuknya melalui jalan spiritual. Hingga diraihlah kesadaran tentang yang Haqq itu (Kebenaran Mutlak). Lanjut mereka menjelaskan, mana kala hijab yang berupa ilusi telah terbuka, tak ada lagi batas antara hamba dan Khalik. Di saat itulah ia mengucapkan "Ana al-Haqq" (Akulah Kebenaran Mutlak). Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada manusia dengan menjadi "hewan qurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukannya dan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia.

Ada juga sufi yang mengungkapkan perumpamaan mengenai apa yang dirasakan oleh Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai yang amaliyah (pelaku) tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam. Bedakan antara amal (perbuatan) dan ilmu. Sebab banyak kesalah-pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalah-pahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

Keberpihakan Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918 M, ia diawasi, dan pada 923 M ia ditangkap. Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, Wazir Khalifah, musuh bebuyutan Al-Hallaj berada di atas angin. Sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas Hallaj dan memerintahkan agar Hallaj dieksekusi. Akibat pergolakan masyarakat dan politik atas pro kontra mengenai Al-Hallaj tersebut, akhirnya, penyair sufi kelahiran Kota Thur, Iran tahun 866 M itu merelakan dirinya menjadi martir. Hidupnya pun diakhiri di tiang gantungan.

Al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangan terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang Wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu. Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Hukuman yang sangat tidak manusiawi untuk membayar sebuah kontroversi yang belum bisa ditakar benar salahnya.

Namun satu hal yang paling berkesan dalam peristiwa eksekusi sadis itu. Saat mendekati prosesi peyalibannya, Hallaj sempat membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku, tolonglah diriku dalam kefanaan. Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakiti-Mu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam diri-Mu. Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagi-Nya”. Lalu ia membaca sebuah ayat.

*Bersambung...

Jumat, 20 Mei 2011

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Bumi ini dihuni kurang lebih 7 milyar umat manusia. Tapi ngga semua manusia itu punya rasa kemanusiaan. Apa mungkin ada manusia jadi-jadian di bumi ini ya, sampai-sampai ada yang ngga punya rasa kemanusiaan? Mungkin bukannya ngga punya, tapi lebih tepat kalau dikatakan rasa kemanusiaannya ditutupi oleh dominasi nafsu yang sangat besar. Penindasan di mana-mana, perang di sana sini. Nafsu kekuasaan dan materi terbukti telah mengikis semangat kemanusiaan yang mestinya dimiliki oleh semua manusia (manusia beneran :D).

Sangat tepat jika Indonesia memaktubkan 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' sebagai salah satu dasar ideologi bangsa. Pandangan Internasionalisme. Itulah sinonim yang tepat untuk azas tersebut. Bukan hanya diimplementasikan untuk manusia-manusia Indonesia, tapi juga manusia-manusia yang ada di seluruh muka bumi ini. Sila yang dengan tegas menyiratkan keadilan bagi seluruh umat manusia dan dijiwai keberadaban di dalamnya. Yang kemudian sila tersebut diintegralkan ke dalam sila pertama (Ketuhanan yang Maha-Esa) menjadi suatu pandangan yang universal. Di mana yang adil dan beradab tak hanya bagi manusia tetapi juga semesta alam.
 

Negara-negara di dunia boleh beragam dengan etnis dan warna kulit yang berbeda-beda. Manusia punya ideologi, kepercayaan, dan pemahaman yang tak sama, pun terbagi dalam benua yang terpisah satu dengan yang lainnya. Tapi di atas semua itu, kita semua tetap sama, kita semua tetap satu, kita semua manusia. Di mana harusnya keragaman dan perbedaan dalam kehidupan bukan untuk memecah belah. Bukan untuk memicu pertikaian dan peperangan. Bukan juga sebagai alasan penindasan bagi sesama. Justru Jika kita menghayati bahwa kita semua punya kesamaan yang mendasar dengan hak-hak azasi yang sama, maka pantaslah bagi kita untuk saling memahami dan bersatu dalam kerangka peri-kemanusiaan.

Ach, mungkin itu semua terlalu idealis diterapkan di tengah manusia-manusia yang telah tumpul rasa kemanusiaannya (mungkin kebanyakan demikian). Malah mungkin ada yang bakal menganggap itu sebagai sampah, omong kosong, atau mimpi belaka. Tapi kita tak boleh apatis, paling tidak, tulisan ini bisa membuat kita sedikit teringat bahwa kita masih punya pegangan 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' tersebut. Sila yang harus diaplikasikan, bukannya hanya dijadikan simbol yang membuat kita bangga pada momen-momen tertentu saja.

Daripada tidak sama sekali, saya pikir lebih baik tulisan yang (mungkin) akan dianggap mimpi kosong ini diterbitkan. Sekali lagi, paling tidak ini akan membuat kita sedikit teringat akan hakikat kita sebagai manusia yang berperi-kemanusiaan dan selanjutnya berbangga atas azas Kemanusiaan kita, tak hanya pada momen tertentu saja, tapi untuk selama hidup kita.
 

Kamis, 19 Mei 2011

Kontroversi dari Sebuah Pesan Damai

Postingan pertama untuk kategori Seni ini saya awali dengan "membedah" sebuah lagu yang sangat fenomenal sekaligus kontroversial. Inilah lagu Imagine karya John Lennon dan Phil Spector, yang terbit pada 1971 dalam album bertajuk sama, Imagine. Lagu ketiga terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone dan menjadi lagu abad ini di berbagai jajak pendapat adalah sisi fenomenal dari lagu ini. Selain berhasil mencapai tangga lagu ketiga dalam Billboard (Amerika Serikat) dan keenam di Britania Raya. Sampai-sampai bekas presiden AS Jimmy Carter mengatakan, "Di banyak negara di seluruh dunia — saya dan istri saya telah mengunjungi sekitar 125 negara — kita dapat mendengar lagu John Lennon 'Imagine' dimainkan hampir sama seringnya dengan lagu kebangsaan."

Itu mencerminkan betapa fenomenalnya lagu tersebut di zamannya. Namun, bagai dua sisi mata uang, di balik pemujaan terhadap lagu ini, ada pula komentar miring seputarnya. Dinyatakan sebagai lagu anti-agama, anti-nasionalistis, dan anti-kapitalistis adalah hal yang menjadi sisi kontroversi dari lagu ini. Al hasil, John Lennon pun sebagai pengarang lagu dituding menganut satanisme (pemuja setan). Di satu sisi didapuk sebagai lagu perdamaian dunia, di sisi lain dicerca sebagai lagu beraroma satanisme.
 

Inilah potongan lirik fenomenal sekaligus kontroversial itu:

"...Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
..."

Kalau sepemahaman saya (yang berupaya untuk positive thinking), lirik itu bukan tercipta dari seorang yang berpaham anti-agama ataupun anti-nasionalisme. Meskipun kabarnya Lennon sendiri selaku penciptanya, terang-terangan mengakui demikian. Tapi disadari atau tidak, lirik tersebut merupakan sebuah harapan akan kehidupan yang damai (living life in peace). Lariknya bersifat induktif dengan ide utama tentang perdamaian dunia.

Hanya saja karena kedamaian yang diimpi-impikan itu tidak jua terwujud maka si penulis pun menuangkan pandangan dan kekecewaannya terhadap sesuatu yang dinilai bertanggung jawab dalam hal pengkotak-kotakan umat manusia, yang kemudian memicu perpecahan. Lirik yang sebenarnya cuma angan-angan kosong buat saya. Sebab pada kenyataannya, bagaimanapun juga pengkotak-kotakan itu tak bisa dihindari karena manusia memang diciptakan berbeda. Dan perdamaian tak akan pernah terwujud secara sempurna sebab manusia dalam segala upayanya memang tak ada yang sempurna. Kita hanya bisa berupaya mendekatinya saja, dan itu pun sudah baik sebagai iktikat kita demi perdamaian.

Saya pikir, dalam hal ini agama dan batasan negara hanya sebagai implikasi dan bukan inti dari tujuan lirik lagu tersebut. Karena memang tak bisa dipungkiri juga bahwa agama yang seharusnya "diturunkan" untuk membawa damai, banyak disimpangkan fungsinya demi ego para pengikutnya. Begitu juga dengan negara yang mestinya mengemban misi perdamaian justru lebih mementingkan pemenuhan diri saja. Alih-alih damai, pertikaianlah yang terjadi.

Seandainya agama benar-benar dihayati saya yakin kedamaian akan tercipta dan pastinya ngga akan ada lirik lagu kekecewaan terhadap agama lagi. Dan jika negara dikembalikan fungsinya sebagai pengemban misi perdamaian dunia, negara pun ngga akan dibawa-bawa dalam lirik lagu yang berisi kekecewaan itu. Kalau dipikir-pikir (buat yang seneng mikir, hehe) perdebatan terhadap kontroversi yang ada hanya akan memperkeruh suasana dan mengaburkan cita-cita bersama yang sebenarnya ingin kita wujudkan, yakni perdamaian. Maka marilah (ketimbang repot memperdebatkan kontroversi) lebih baik kita serukan bersama suara perdamaian itu.

Rabu, 18 Mei 2011

Kuliah Umum Bung Karno

Kutipan kuliah umum Bung Karno tentang Agama di Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun 1958:

"Saya akan menceritakan saudara-saudara sekalian, hikayat seekor gajah dan empat orang buta.


Pada suatu hari, Sri Baginda suatu negara menyuruh mendatangkan gajah beliau di halaman istana dan memerintahkan pada waktu yang sama mendatangkan pula empat orang buta. Setelah gajah dan empat orang buta ini tiba maka Sri Baginda meminta supaya orang-orang tuna-netra itu masing-masing menjawab pertanyaan, 'Apakah gajah itu?'

Untuk menjawab pertanyaan itu, keempat orang buta diminta secara bergilir mendekati dan meraba-raba tubuh gajah itu.

Orang buta pertama maju dan terpeganglah olehnya ekor gajah itu, yang dipegangnya dari pangkal sampai ke ujung. Kemudian ia berkata, 'Gajah menyerupai penghalau lalat, tapi agak lunak dan panjang.'

Orang buta kedua maju dan kebetulan yang dipegangnya adalah kaki si gajah. Berkatalah ia, 'Gajah seperti bambu besar, meski agak lunak.'

Orang buta ketiga maju. Ia diperkenankan naik tangga, maka terpeganglah telinga gajah itu. Berkatalah ia, 'Gajah itu seperti daun besar dan tebal.'

Akhirnya tiba giliran orang buta keempat. Terpegang olehnya belalai gajah, dan diraba-raba. Setelah itu berkatalah ia, 'Gajah itu seperti pipa karet yang besar.'

Nah saudara-saudara, siapakah yang benar di antara keempat orang-orang buta itu? Jawabannya mudah. Mereka semua benar meski jawaban mereka berlainan. Begitulah saudara-saudara, keadaan agama. Di Indonesia ada bermacam-macam agama. Semuanya benar seperti jawaban-jawaban orang buta tentang gajah itu juga benar. Karena manusia itu kecil, ia tidak dapat mengetahui segala sesuatu. Yang dapat dilihat atau dipahaminya hanya sebagian atau beberapa segi alam wujud ini."